
Sarah tiba di depan lapas bersama Anjas. Permintaan keluarga suaminya untuk mencabut tuntutan hukuman sang ibu. Serta meminta Sarah memaafkan perlakuan mama Melani membuat dia bimbang. Pasalnya keluarganya sendiri melarang Sarah mencabut tuntutan itu, mereka masih marah atas apa yang di lakukan mama Melani.
"Untuk kali ini aku datang bukan untuk membahas soal tuntutan hukuman mama Melani, Bang. Aku mau jenguk dia sebagai seorang menantu. Ya, mungkin bagi Abang apa yang aku lakukan saat ini tidak sesuai keinginan kalian. Tapi aku mau lihat dulu bagaimana reaksi mama Melani kepadaku. Apakah masih membenciku atau dia sudah mau menerimaku. Aku juga harus diskusi pada keluargaku yang lain." kata Sarah lirih.
"Mama memang salah karena sudah membuat calon anak kita meninggal dunia. Tapi mama juga manusia biasa, kamu tidak lupa bulan lalu papa Ahmad menalak mama. Mungkin ini adalah titik lelah papa Ahmad selama menjadi suami mama. Aku rasa itu sudah menjadi pukulan yang berat untuk mama. Jangan sampai dia down karena kamu belum memaafkan kesalahannya." kata Anjas.
Sarah melepaskan tangan suaminya. Masih berat bahkan sangat berat dia memaafkan mama mertuanya. Setelah apa yang dulu di lakukan wanita itu. Memang mama Melani bersikap seperti itu karena sikap Sarah di masa lalu. Sarah sadari itu, cuma untuk membebaskan mama mertuanya perlu diskusi dengan keluarga yang lain.
"Bang, aku mau ngobrol sama mama berdua. Boleh?"
"Tapi kamu nggak apa-apa cuma berdua saja. Aku temani, ya." Sarah menggeleng. Dia yakin mama Melani bisa diajak bicara dari hati ke hati. Itu sisi wanita mengatakan hal itu. " Aku tahu mama pasti akan menerima kedatangan menantunya. Seburuk-buruknya hubungan kami paling tidak dia pernah sayang sama aku. Menerima aku saat kabur dari rumah nenek Seruni. Mama itu sebenarnya baik. Cuma aku yang membuatnya seperti ini." lirih Sarah.
"Bang, aku pengen mama mencicipi masakan perdana. Selama ini kan aku selalu bikin dia jantungan. Selama ..." Sarah terdiam saat Anjas menempelkan sedikit bibirnya. Mukanya memerah sesaat, lalu keduanya saling menautkan jemari.
"Tidak ada yang sempurna dalam dunia fana ini. Kamu, aku dan mama juga pernah melakukan kesalahan baik fatal maupun tidak. Terpenting saat ini kita menatap ke depan. Di mana ada kamu dan aku saat ini. Jadi please jangan nengok ke belakang lagi."
Sarah pun berjalan meninggalkan suaminya. Memasuki ruang jenguk lapas Malabero. Setelah di selidiki, kasus yang dialami Sarah termasuk kasus kriminal. Di mana Sarah sudah pernah menolak di urut tapi mama Melani tetap memaksa. Setelah keterangan yang di sampaikan Sarah dan juga Bu Siti. Mama Melani di jatuhkan hukuman penjara selama satu tahun. Terlalu ringan sebenarnya karena ada makhluk hidup yang terpaksa batal hidup di dunia.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ma." sapa Sarah sudah duduk di kursi.
"Sarah," Bu Melani masih menundukkan kepalanya.
"Mama apa kabar? maaf ya, Sarah baru sempat jenguk ke sini. Sarah sekarang kerja, Ma. Itu juga atas izin bang Anjas. Sarah sekarang ngurusin loket bersama bang Anjas. Sore bang Anjas antar kuliah. Emang sayang sih sudah semester pertengahan malah pindah kuliah. Tapi Sarah juga mau bantu suami.
Mama sudah makan belum? ini Sarah buatin sop iga asli buatan aku. Di coba, ma. Walaupun tidak seenek buatan mama." Sarah membuka rantang nasi tiga tingkat.
Melani melihat perlakuan Sarah pada dirinya merasa malu. Dulu saat Sarah meminta pendapat soal masakan Melani selalu menolak dengan alasan buatan dirinya lebih enak. Melani selalu membandingkan masakan Sarah dengan masakan Ira salah satu staf kerja loketnya Anjas. "Enak sekali, Nak." lirih Melani.
"Sarah suapin, ya, Ma" Melani mengangguk kecil. Air matanya menetes di pipi. Dia malu sama wanita muda di hadapannya. Sarah masih memperlakukannya dengan baik. Masih telaten menyuapi mertuanya. Melani pun memberi tanda kalau dia bisa makan sendiri. Sarah tersenyum melihat sang mama lahap memakan masakannya.
Sarah kaget saat mama Melani bersujud di kakinya. Dengan cepat Sarah menaikkan tubuh mama Melani. Tidak enak di lihat orang sekitar lapas.
"Maafkan Sarah juga, Ma. Selama ini aku belum menjadi menantu idaman buat mama. Sering nyusahin mama dan bang Anjas. Saat terjebak banjir di rumah Kandang Limun Banyak yang Sarah renungkan termasuk sudah membuat mama kecewa. Sarah juga manusia biasa, Ma. Tidak luput dari khilaf dan dosa." Sarah menundukkan kepalanya.
Anjas memandang momen itu dari balik pintu. Air matanya menetes terharu dengan apa yang dilihatnya kali ini. Bersyukur mereka sudah saling memaafkan. Tinggal meminta Sarah mencabut tuntutan untuk mama Melani.
__ADS_1
"Mama akan tetap menjalani hukuman sampai selesai. Mama sudah membuat calon cucu ku meninggal dunia. Ini yang harus mama pertanggungjawaban sama kamu, sama Anjas dan juga sama keluarga yang lain." kata mama Melani setelah melepaskan pelukan dari menantunya.
"Sarah pulang dulu, ya, Ma. Soalnya di rumah mau ada aqiqah anaknya kak Mila. Bertepatan kak Danu di nyatakan sembuh dari kankernya. Nanti Sarah bakal main ke sini lagi. Bareng bang Anjas."
Mama Melani baru menyadari kalau menantunya datang tanpa Anjas. "Apa Anjas mau ketemu sama mama? dia saja tidak menemani kamu." Sarah tersenyum kecil. Sudah pasti hati seorang ibu merasa kecil saat anaknya tidak datang menjenguk.
"Bang," panggil Sarah.
"Bang Anjas ada kok di depan. Sengaja aku masuk sendiri karena aku pengen ketemu sama mama." kata Sarah.
"Ma," Anjas langsung muncul memeluk mama Melani.
"Maafkan Mama, Jas. Sudah buat kamu malu."
"Anjas juga minta maaf sama mama. Karena sudah jarang nengokin mama disini. Tapi Rudi katanya sering kesini jenguk mama."
"Iya, mama sama Rudi. Dulu mama sempat mengancam dia untuk merelakan Sarah buat kamu. Mengancam mencabut biaya pendidikan kuliahnya. Rudi sudah banyak mengalah sama kamu selama ini. Mama tidak menyangka Rudi masih baik walaupun papanya sudah tidak mau sama mama lagi." Isak mama Melani.
__ADS_1
Perjalanan hidup manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan, baik disengaja ataupun tidak, baik yang teringat maupun yang terlupakan. "Karena itu, perlu upaya penyadaran dan mengembalikan nilai kemanusian pada kondisi fitrah sebagaimana asal kejadian manusia. Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga.
Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Seperti aku yang pernah salah dalam melangkah. Lalu aku menjadi takut pada orang-orang dan mulai membenci kehidupan. Maka rumah adalah benteng kokoh tempatku bersembunyi dari ketakutan itu. Aku mulai introspeksi diri dan perlahan mulai bangkit karena mereka yang selalu ada: keluarga.Ia lebih mengharapkan ridho Allah SWT ketimbang menyimpan dendam dari orang yang telah menyakitinya. Karena ia sadar menyimpan dendam hanya akan menimbulkan dosa belaka.