Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 93


__ADS_3

"Mila kamu tidak ada niat mau jualan lagi?" tanya Bu Nurmala.


"Belum, Bu. Tunggu kondisi Mas Danu sudah agak lebih baik baru bisa melakukan kegiatan lain, lagian saya sudah minta izin sama mas Danu. Dia bilang tunggu kandungan naik sedikit. Mas Danu juga janji mau bantu jualan. Biasanya ada Eva yang menolong, sekarang dia ada usaha sendiri,"


"Iya, benar juga kita harus fokus yang lebih penting yaitu kandungan kamu dan suamimu. Terlebih kandungan kamu harus di perhatikan lebih ekstra, tidak boleh banyak pikiran," kata Bu Nurmala.


Mila menganggukkan kepalanya. Sudah dua hari Mila dan Danu menginap di panti, karena malam ini akan ada pengajian menyambut bulan Ramadhan. Itu juga di barengi dengan rasa syukur atas kehamilan Mila. Bukan bermaksud untuk riya' tapi karena Danu anak tertua di panti dan juga satu-satu yang sudah menikah, Bu Nurmala mau berbagi rasa syukur bersama anak-anaknya yang lain.


"Sayang, ibu minta kita menginap di rumahnya untuk puasa pertama. Kamu mau kan?" Danu muncul di tengah obrolan dengan Mila dan Bu Nurmala.


"Bagaimana ya, Mas? aku sebenarnya keberatan soalnya ada Ammar disana. Mas tahu kan Ammar itu siapa? aku cuma takut dia cari kesempatan,"


"Sayang, aku kan sudah bilang sama kamu, Ammar itu sedang amnesia. Jadi mana mungkin dia ingat sama kamu, la wong kata Ando jangankan kamu, Vika saja dia nggak kenal. Dia malah ingat sama Fera. Jadi kamu tidak usah takut,"


"Entahlah, Mas. Aku kenal Ammar yang suka tipu menipu. Dia saja pernah pura-pura dekati aku, dia saja pernah... Ya Allah, maafkan aku. Tapi entah kenapa aku tidak percaya Ammar itu amnesia, sulit rasanya percaya hal itu,"


"Demi mertua kamu, Mila. Hormati keinginan dia untuk lebih dekat dengan anaknya. Abaikan saja ada sosok Ammar disana. Mau tidak mau kamu harus terima Ammar sekarang adalah saudara suamiku," Bu Nurmala ikut meyakinkan Mila.


"Yasudah kalau kamu masih berat bertemu dengan Ammar. Biar aku yang bilang sama ibu kalau saat ini belum bisa menginap disana. Aku tahu kok perasaan kamu saat ini, aku tahu kamu masih trauma dengan Ammar," Danu menarikan tangannya di atas layar pipih.


"Eh, Mas," Mila menarik handphone suaminya. Lalu memperhatikan layar tersebut ternyata masih gelap. Matanya melotot seketika saat tahu tengah di kerjai suaminya. Danu menutup mulutnya sambil tertawa kecil.


"Oh, jadi kamu mau ngerjain aku tadi," tangan Mila menggerayangi ketiak Danu. Lelaki itu berlari memutar ruang tengah panti. Bu Nurmala yang berada di tengah mereka hanya menggelengkan kepalanya ikut tertawa melihat kelakuan dua anaknya.


Danu langsung bersembunyi di belakang Bu Nurmala. Mila pun mencari siasat membalas kejahilan suaminya.


"Kalian ini, Ya. Kayak anak kecil saja," kata Bu Nurmala.


"Dia, Bu, ngerjain aku. Pakai mau ngadu ke ibu Rubiah segala. Marahin,Bu," mata Mila semakin keluar saat Danu menjulurkan lidahnya di belakang punggung Bu Nurmala.

__ADS_1


"Tuh, Bu lihat dia terus meledek aku," adu Mila seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.


"Aaaawwww, Bu ampun, Bu ampun," Danu merasa telinganya panas ketika tangan wanita paruh baya itu menjalar ke daun telinganya.


"Ini hukuman buat yang suka gangguin anak perempuan ibu," Mila tertawa riang karena dapat pembelaan dari Bu Nurmala.


"Sudahlah, kalian ini. Ibu mau mengerjakan berkas dulu. Kalian akur ya, jangan kayak anak kecil seperti tadi,"


"Mas, sakit ya," Mila memeriksa telinga suaminya.


"Enggak sakit karena ada dengan ngelus dengan penuh cinta," tangan Danu sudah membelit pinggang Mila. Merasa sedikit risih dengan sikap bucin suaminya, pelan-pelan melepaskan diri dari kegilaan Danu.


"Masssss, turunin!" pandangan Mila serasa berbalik. Tubuhnya sudah berada di bahu suaminya. Layaknya panggul beras dengan entengnya Danu membawa Mila ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Mila menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Tangan kekar itu mengelus helaian rambut panjang Mila. Sesekali mengecup kening istrinya. Mila mendongakkan kepalanya kearah Danu. Keduanya saling melempar senyum di hujani serangan bibir. Tangan Mila terus mencengkeram rambut Danu. Semakin kuat cengkeraman semakin dalam keduanya.


"Mas," cicit Mila.


"Undang Lala dan Sarah, Mas. Aku merasa bersalah sama Lala, akhir-akhir kita sibuk tanpa tahu keadaan Lala. Akibat kecemburuan aku pada Lala, membuat dia malah kabur ke rumah Sarah. Maaf aku baru cerita sekarang,"


"Aku sudah tahu soal itu. Kenapa kamu sekarang gampang sekali berprasangka pada orang lain termasuk keluarga sendiri. Nggak bagus itu, sayang. Begini ya, kamu tahu usia Lala itu sedang masa mencari jati diri, belum tahu tujuan ke depan kalau tidak ada yang membimbingnya,


Rasanya tidak wajar kalau kamu nuduh dia yang aneh-aneh, seperti saat dia membersihkan rambut di baju. Jangankan dia, kalau ada suster yang lihat pun akan melakukan hal yang sama," kata Danu.


"Maaf, Mas. Aku sudah di penuhi hawa panas saat itu. Ingat saat Anjas tanpa memutuskan hubungan tiba-tiba mau melamar Sarah. Ingat saat Ammar ternyata mendekati aku karena di suruh Vika. Rasanya kepercayaan soal itu sedikit terkikis,"


"Jadi kamu juga tidak percaya sama aku?"


"Aku percaya sama kamu,Mas. Percaya sekali, tapi aku sering takut kamu ninggalin aku juga. Apalagi saat tahu aku hamil, ketakutan itu semakin menjadi, aku takut tidak bisa melewati semua ini sendirian,Mas."

__ADS_1


"Mas,"


"Iya, Sayang,"


"Aku punya permintaan untuk kamu,"


"Apa itu?" Danu memposisikan duduknya.


"Kamu kemo ya, Mas. Berobat baik medis maupun alternatif. Soal biaya kamu jangan takut aku ada tabungan sedikit, kerja juga terus di tambah dengan tabungan kamu. Rasanya sudah cukup. Demi aku dan anak kita, Mas," Mila meletakkan tangan Danu ke perutnya yang masih rata.


"Ini yang aku takutkan. Seharusnya aku yang menjadi pelindung buat kalian. Seharusnya aku yang kerja atau mencari uang, bukan Mila. Tabunganku yang sedang terkumpul untuk berobat," batin Danu.


"Mas, mau kan kamu kemo," Mila menatap Danu dengan puppy eyes.


"Aku mau, sayang. Aku akan berusaha sembuh demi kamu dan anak kita," keduanya saling berpelukan erat.


"Terimakasih, Mas. Kita akan melaluinya sama-sama. Apapun hasilnya, yang penting kita sudah berusaha,"


"Ini maksudnya apa? mau telepon siapa?" Mila menyerahkan handphone pada Danu.


"Sekarang mas telepon Wisnu di depan aku,"


"Nantilah aku bisa ke rumah sakit untuk menemui Wisnu,"


"Sekarang!" mata Mila melotot.


"Iya, Iya, aku telepon sekarang. Aduh, kan bisa besok atau hari-hari berikutnya. Masih banyak waktu," keluh Danu.


"Kalau besok kamu kenapa-kenapa gimana, Mas. Kamu cuma mikirin diri sendiri, nggak mikir aku dan anak kita," Mila membalikkan badannya. Danu hanya mengelus dada melihat sikap istrinya.

__ADS_1


"Apakah ini sifat ibu hamil? sebentar manis sebentar mendung," batin Danu


__ADS_2