
Mila sudah bangun mempersiapkan bekal untuk suaminya. Katanya hari ini akan kerja sebagai perawat wanita lumpuh. Mila menanyakan di daerah mana tempat suaminya bekerja. Siapa tahu dia akan mengantarkan bekal siang. Kalau di bawa sekarang takut bekalnya dingin.
"Kamu dapat kerja di daerah mana, Mas?" tanya Mila sambil menyiapkan segelas kopi untuk suaminya.
"Daerah Citarum, sayang. Kalau lihat alamatnya kalau tidak salah dekat Bapelkes." Danu mengecek kembali alamat yang dia simpan di handphone.
"Owh. Katanya orangtua ya, Mas. Kalau mengasuh orang tua apalagi sedang stroke harus berlipat sabarnya." jelas Mila.
"Iya, sama kayak waktu sama nenek Seruni" sambung Danu.
"Tapi waktu nenek Seruni kamu cuma kontrol makannya, kontrol obatnya. Selebihnya aku yang mengerjakan. Ya bukan mau pamer sih, cuma itu yang bisa aku berikan sebagai bakti seorang cucu."
Danu mendekati Mila, menggenggam erat jemari istrinya. Paham apa yang di jelaskan Mila sangat sensitif. Apalagi sampai akhir hayatnya nenek Seruni masih membenci Mila.
"Sudahlah, tidak usah diingat lagi. Kita cukup doakan nenek Seruni di setiap sholat. Agar di jauhkan dari api neraka. Karena doa anak Sholehah seperti kamu akan cepat di ijabah oleh Allah"
"Amin. Terimakasih, Mas. Lala kamu sudah siap belum" panggil Mila.
"Sudah, kak. Ini lagi pakai sepatu." sahut Lala.
"Loh, kok pakai sepatu. Sarapan dulu, nanti kamu sakit."
"Ini sudah jam berapa nggak keburu, kak. Aku makan di kantin saja nanti"
"Lala ini masih jam tujuh kurang sepuluh menit. Masih terkejar buat sarapan." Danu pun ikut menimbrung.
"Lala baru tahu di grup WhatsApp kalau ada ujian fisika, kak. Mana semalam Lala nyiapin belajar ujian bahasa Inggris. Baru dapat pengumuman ujiannya tadi pagi. Harusnya lusa ujiannya. Tapi malah di tukar sama pelajaran lain." cerocos Lala.
"Yasudah dek. Ini kak Mila masukkan bekal kamu di dalam tas."
__ADS_1
"Terimakasih, kak." Lala menyalami Mila. Gadis muda itu langsung naik ke motor Danu lalu melambaikan tangan ke arah Mila yang berdiri di depan pagar rumah.
Mila melihat beberapa tetangganya sedang berjalan melewati rumahnya. Sebisa mungkin dia mencoba ramah pada wanita sepantaran ibunya.
"Mila, tadi suamimu ngantar Lala, ya?" tanya Bu Endah
"Iya, Bu. Setiap pagi dia antar adikku."
"Lala kan masih muda, jangan di biasakan dekat sama kakak iparnya. Kamu tidak lupa kejadian di gang merawan adiknya Nengsih ke gerebek sama suaminya Nengsih. Itu awalnya juga sama kayak Lala dan suamimu sering antar jemput."
"Ya nggak mungkin, Bu. Lala itu masih kecil mana mungkin dia suka sama suamiku."
"Eh, kamu ini di kasih tahu malah ngeyel. Kejadian benar baru nangis kamu. Lala saja sering pulang bareng anak warung depan. Itu yang kamu bilang masih kecil."
"Oh, Aris maksud ibu. Mereka sudah berteman sejak SD, Bu. Maaf saya kedalam dulu"
"Kau sejak menikah tidak jualan lagi, Mila."
"Oh iya kan katanya si Boro mau nikah. Ada juga ya yang mau sama bujang lapuk." gelak Bu Kitty.
Mila hanya menggelengkan kepalanya. Dia percaya kalau adiknya tidak akan seperti itu. Apalagi usia Lala masih muda untuk memikirkan percintaan. Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah. Tanpa pamit pada wanita-wanita yang berdiri di depan rumahnya.
Selesai mengantar Lala di SMPN SATU BENGKULU yang lokasi di tengah kota. Danu langsung menancapkan mesin motornya menuju ke rumah pasiennya. Melajukan motornya ke perumahan Citarum. Dari daerah tengah pada lalu memasuki arah Suprapto. Dimana Suprapto menjadi pusat ekonomi kota Bengkulu. Motor pun berhenti di jalan Anggut, mengisi bensin motornya di salah satu depot Pertamina kecil.
Danu akhirnya sampai di tempat tujuan. Dimana ada rumah dua tingkat berdiri di hadapannya. Pagi ini Danu mendapat tugas menjadi perawat menangani orang lumpuh. Dia mendengar rumor kalau si pemilik rumah rada sedikit cerewet. Banyak yang tidak tahan, belum lagi katanya anak si pemilik rumah juga stroke karena kecelakaan. Bahkan si anaknya ini suka marah marah dan suka membuat para perawat tidak betah.
Danu pun mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Lama tak ada respon dari si pemilik rumah. Danu kembali mengulangi salam.
Ceklek!
__ADS_1
Terdengar suara decitan pintu masuk. Seorang wanita paruh baya pun tersenyum menatap dirinya. Masih mencoba sopan Danu pun menunggu masuk. Sayangnya wanita itu mematung seakan terpesona dengan dirinya.
"Ibu Rubiah," Danu masih mencoba menyapa.
"Ya Allah, maaf. Kamu mengingatkan saya pada seseorang. Maaf sekali lagi."
"Tidak apa, Bu"
"Apa saya bisa melihat saudara ibu yang sedang sakit?"
"Oh, Iya. Sini nak Danu, saya antar ke kamarnya."
Danu mengikuti kemana ibu Rubiah melangkahkan kakinya. Langkahnya terhenti saat melihat figura seorang lelaki.
"Jadi ini rumah Ammar? Apa jangan-jangan yang sakit adalah ibunya Ammar?"
"Danu ini adalah adik ipar saya, namanya Diana. Dia sudah dua bulan sakit stroke sejak anaknya hilang."
"Jadi Ammar belum kembali? kenapa aku takut kalau Ammar bisa saja mengintai Mila saat aku sedang bekerja."
"Assalamualaikum ibu Diana, ibu masih ingat saya?"
"Apakah kamu mengenal adik saya?" tanya Rubiah.
"Tentu saja saya mengenal dia sebagai ibunya Ammar." kata Danu mantap.
"Wah, kamu temannya Ammar. Kejutan sekali."
"Bukan teman. Tapi saingan" Danu hanya bisa bicara dalam hati.
__ADS_1
"Mila tidak boleh tahu soal mereka. Yang ada mereka akan kembali menginjak harga diri istriku."