
"Bagaimana, apa kamu sudah bisa menghubungi Vika?" tanya mbak Yuni pada temannya yang membantunya membawa Ida ke rumah sakit.
"Belum, Ayuk. Nomornyo Idak pacak di hubungi."
(Belum Ayuk, nomornya tidak bisa di hubungi)
jawab Lela, temannya Yuni.
"Ya Allah, bagaimana ini. Prosedur penanganan Bu Ida harus menunggu persetujuan keluarga. Saya nggak ngerti mengurus yang begini." keluh mbak Yuni.
"Jadi bagaimana? Apa bisa anda tanda tangan untuk penanganan lebih lanjut? kalau anda setuju langsung saja ke administrasi untuk pembayaran." kata petugas kesehatan.
"Sebenarnya Bu Ida sakit apa, Dok?" tanya Yuni.
"Bu Ida terkena serangga jantung. Sepertinya belum terlalu parah." kata dokter.
"Ya, Allah. Jadi harus bagaimana?"
"Seperti yang saya bilang tadi. Kalau sudah di urus prosedur administrasinya, akan di lakukan penanganan terbaik." Kata dokter.
Mendengar kata pembayaran sudah membuat Yunj pusing kepala. Membayangkan uang yang tidak sedikit untuk membayar biaya rumah sakit majikannya. Mereka bukan orang kaya seperti saat Yuni kerja pertama kali di keluarga itu. Ketika adik Vika bernama Joya masih berseragam putih biru. Tragedi di mana saat baru menginjak SMA gadis kecil itu kedapatan overdosis bersama beberapa temannya.
Ketika itu pak Jalal masih sehat. Yuni sudah berkerja dengan keluarga itu. Dia juga tahu majikan lelakinya punya hubungan tak baik dengan keluarga mendiang istri pertamanya. Itu yang dia pernah dengar dari mulut ke mulut tetangga kanan kiri.
Saat itu memang sudah ada perjanjian antara pak Jalal dengan keluarga Ammar atas perjodohan tersebut. Itu yang Yuni tahu baik majikannya dan juga calon besannya sangat berambisi menikahkan Vika dan Ammar. Entah ada angin apa Vika yang tadinya menentang perjodohan itu berbalik menerima calon suami dari orangtua mereka.
"Bu, ini mungkin karma buat anda. ibu ingat saat non Vika depresi, ibu malah mengirim Vika ke Jakarta berdua dengan saya. Padahal dalam kondisi seperti ini, harusnya ibu yang menguatkan non Vika. Tapi nyatanya ibu membebankan semua ini ke saya. Setelah non Vika sehat ibu baru turun tangan untuk membawa pulang kembali."
Yuni mengalihkan pandangannya ke arah majikannya. Suara detak jantung di monitor terdengar sangat jelas. Tubuh Ida yang bongsor di penuhi alat medis. Jika dalam monitor deteksi jantung masih bergelombang tandanya masih ada kehidupan.
"Astaga, aku kan punya kontak mbak Fera. Siapa tahu bisa membantu." Yuni mengambil handphone di tas selempang bermotif batik.
Tangan Yuni berselancar di layar pipih tersebut. Berharap ada secerah harapan setelan menghubungi Fera. Yuni menutup telepon, ada kekecewaan karena Fera tidak mengangkat teleponnya. Padahal dia dan Fera sudah bertukar nomor.
"Ya Allah bagaimana ini?" Yuni sedih memikirkan nasib majikannya.
"Mbak Yuni, kan?" sapa seorang wanita muda.
"Neng Ela bukan sih?" Yuni menebak wanita di hadapannya.
"Iya, saya Ela temannya Vika. Mbak Yuni ngapain di sini? Siapa yang sakit?" tanya Ela bertubi-tubi.
__ADS_1
"Bu Ida, Non."Yuni pun menceritakan permasalahan yang di hadapi majikannya.
"Kalau tidak salah aku dengar Vika pacaran sama chef selebgram itu kan? Kok Tante Ida gitu, sih?"
"Mungkin ibu mau yang terbaik untuk anaknya. Ibu mana sih yang mau lihat anaknya susah. Cuma caranya salah. Sekarang non Vika kabur bareng mas Revo." cerita Mbak Yuni.
Mbak Yuni tidak tahu kalau Ela merekam suara lawan bicaranya. Dia juga tidak tahu ada senyum penuh arti dari teman bicaranya. Setelah pamit, Ela melakukan aksinya. Mengatakan kalau Revo mempengaruhi Vika untuk durhaka sama ibunya. Sampai Ida bisa drop dan masuk rumah sakit.
"Maaf sepertinya kami tidak bisa menangani Bu Ida." suara salah staf rumah sakit. Mbak Yuni hanya bisa pasrah setelah penolakan dari rumah sakit.
"Ya Allah kasihan Bu Ida. Di saat seperti ini aku tidak bisa menolongnya." kata Yuni.
Karma selalu berlaku bagi mereka yang tidak percaya apa yang mereka lakukan, jadi mereka mendapatkannya. Tidak benci atau dendam, saya tenang, karena tahu karma itu pasti ada. Sadarkah kita jika karma itu ada, karena setiap perbuatan akan kembali kepada pelakunya.
Terbentuk dari akumulasi sifat yang ada di dalam menjalani kehidupan di masa lalu atau saat ini. Apabila kita menjalani kehidupan sebelumnya dengan cara yang baik, maka semua orang akan memperoleh karma dari sifat baik mereka.
Setiap anak wajib menghormati kedua orangtuanya. Berbakti kepada kedua orangtua artinya tidak menyakiti hati orangtua dan senantiasa mematuhi perintahnya. Orangtua yang menyakiti hati anak ditambah dengan menelantarkan anaknya tersebut mengartikan bahwa orangtua sudah berdosa pada anak-anaknya. Para orangtua agar berbuat adil dan tidak menyakiti hati anak-anak mereka. Sebab perbuatan pilih kasih menjadi salah satu penyebab pemutus silaturahmi anak dengan orangtua dan pangkal permusuhan saudara.
Jika orangtua menginginkan anak-anak mereka berbakti kepadanya, maka jangan pilih kasih jika memberikan kasih sayang, baik dalam perbuatan dan ucapan.
Yuni masuk ke musholla rumah sakit. Berwudhu lalu membentang sajadah. Memohon agar mempermudah urusan majikannya. Seburuk-buruknya sifat Ida, beliau tetap orang yang memberinya pekerjaan. Saat Vika depresi harta keluarga mereka terkuras, Yuni bersyukur tidak di pecat.
"Ya Allah, hamba hanya meminta satu hal pada-Mu. Sembuhkan lah ibu Ida, bukakan pintu hatinya untuk bertaubat. Kami semua hanya manusia biasa yang tak luput dari kekhilafan. Hanya kepadamu hamba memohon." Yuni menutup doanya.
"Bagaimana, Uda sudah siap untuk operasi sore ini?" tanya Mila.
"Siap, sayang asal ada kamu yang selalu menguatkan aku. Tentu semua yang kita lalui terasa indah. Aku juga ingin lihat Sada tumbuh besar dan dewasa." Keduanya saling berpegangan tangan. Saling menguatkan satu sama lain.
Mila dan Danu serta keluarga besar yang lain berkumpul di rumah sakit M. Yunus. Di mana hari ini Danu akan melakukan transplantasi sumsum tulang belakang. Dia akan menerima donor yang katanya orang itu enggan di sebutkan jati dirinya.
"Apa mungkin orang itu Ammar? Karena hanya dia yang dulu cocok dengan punyaku. Tapi kalau memang dia kenapa harus sembunyi seperti ini." Danu hanya bisa membatin. Dia sangat berterimakasih pada siapapun yang mau menyumbangkan sumsum tulang belakangnya.
"Kamu sudah siap, Danu?" tanya dokter Heidy, dokter senior diatas Wisnu.
"Siap, Dok. Terimakasih." jawab Danu mantap.
Danu sudah berbaring di atas brankar pasien. Diiringi Mila yang terus menggenggam tangannya. Ada Sarah, Anjas, Lala dan keluarga besar Mila yang lainnya. Tampak juga ibu Rubiah ikut mendampingi Mila. Hanya saja saat Mila menanyakan Ammar dan Ando, Rubiah beralasan mereka masih di keluarga ibu Diana.
Dalam proses pengambilan cairan sumsum tulang belakang, dokter akan melakukan pembedahan dengan memberikan anestesi atau bius total terlebih dahulu kepada pendonor. Setelah itu, dokter akan menusukkan beberapa jarum untuk menarik sel-sel sumsum dari belakang tulang panggul. Proses itu berlangsung sekitar 1 jam.
Pria itu sedikit mengeryit kala jarum suntik mulai menembus kulitnya dan sedetik kemudian ia mulai merasakan kantuk, semakin mengantuk, lalu matanya terpejam sempurna. Baik Ammar maupun Danu di bius total agar tidak merasakan sakit saat proses transplantasi dilakukan.
__ADS_1
****
Danu melihat sebuah cahaya yang menyinari wajahnya. Terlihat sosok amar di depannya. Semua serba putih.
"Apakah aku sudah meninggal dunia."
"Apakah aku di surga?"
"Danu ....."
"Aaaamar" Danu memeluk Amar
"Apa kah kita di surga atau akhirat."
"Bukan. Kamu belum waktunya meninggal."
"Aku titip Mila ya, Danu. Jaga dia dan jangan sakiti hatinya."Amar berjalan makin lama makin menjauh lalu hilang di tutupi cahaya putih. Danu merasa tubuhnya ada yang menyedotnya.
Danu terbangun dan melihat semua sudah berkumpul.
"Alhamdulillah Kamu sudah sadar." Suara Mila sambil menyeka air matanya.
"Ammar?!? Mana Ammar!"
"Kenapa menanyakan Ammar, ada aku dan Sada disini." Danu teringat putri kecilnya. Dia rindu pada putri kecilnya.
" Alhamdulillah ya,nak." Ibu 6 senang menantunya melewati masa kritisnya
"Ibu." Danu melirik ke arah ibu mertuanya
"Tolong telpon dokter Wisnu, bilang kalo Danu sudah sadar." perintah Mila.
"Sada mana?"
"Sada sama Eva. Dia kan belum bisa di bawa keluar."
Tak lama kemudian dokter yang datang. Dia memeriksa Danu.
"Subhanallah, dia sudah sadar dari masa kritisnya."
****
__ADS_1
Mendekati ending ya.