
Danu baru saja keluar dari ruang rawat nenek Seruni. Pemuda itu berencana kembali ke tempat kerjanya setelah tadi izin akan masuk dinas siang. Bertukar ship kerja dengan salah seorang temannya. Baru selangkah memasuki toilet Danu merasa kepalanya sedikit pusing. Tangan menahan ke dinding, dengan cepat dia memasuki toilet.
Duduk diatas closed, menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dia pejamkan mata. Pandangannya menerawang ke langit-langit dinding. Seakan dia tahu ada yang mengintainya. Maut? iya maut, itu yang selalu mengintainya, setiap ada yang di rasa sakit, setiap itulah dia merasa malaikat maut akan datang. Dia bukan takut mati, hanya saja ada banyak hal yang perlu dia lakukan sebelum pergi.
Pertama dia ingin tahu, apakah hidupnya benar-benar yatim-piatu, atau orangtuanya masih ada. Dan mungkin mereka membuang dirinya. Atau mungkin dia lahir dari rahim tanpa pernikahan. Sehingga ibunya malu dan membuang dirinya.
Beruntung Danu pernah merasakan kasih sayang dari orangtua walaupun bukan kandung. Pertama dari ibu Nurmala, pemilik pantai yang merawat dirinya bersama anak-anak panti yang lain. Kasih sayang ibu Nurmala terasa sangat berlimpah. Dia mengajarkan pada anak-anaknya nilai norma dalam kehidupan sehari-hari. Tak pernah dia melihat kemarahan dalam sikap ibu Nurmala kepada anak-anak panti.
Pasangan keluarga keturunan China yang mengadopsi dirinya. Meskipun turunan Tionghoa tapi kedua orangtua angkatnya adalah muslim. Keluarga itu mengadopsi Danu ketika usia 10 tahun. Mereka memperlakukan Danu seperti anak sendiri. Keluarga Aliong bukanlah keluarga kaya, orangtua angkatnya adalah keluarga sederhana. Mereka memperlakukan Danu layaknya anak sendiri.
Danu memegang kepalanya terasa sakit. Tatapannya nanar saat melihat tetesan darah keluar dari hidungnya. Target berikutnya adalah gulungan tisu toilet yang Masih penuh. Danu membersihkan hidungnya hingga tisunya habis. Setelah di rasa tubuhnya tenang, Danu pun meninggalkan toilet.
Danu membersihkan mukanya agar tidak terlihat pucat. Tampak seorang lelaki masuk blok toilet bekas tempatnya tadi.
"Aih, siapa yang pake tisu toilet? apa ada perempuan yang masuk sini?" pekik si pengguna toilet.
Danu hanya tersenyum tipis dan pergi meninggalkan toilet.
"Kak Danu?" sapa Lala.
"Eh, kamu, Lala. Sudah pulang sekolah?"
"Kak Danu lupa kan sekarang libur semester."
"Oh, iya. Kakak lupa. Maklum kakak dah lama nggak sekolah. Jadi sudah tidak ingat kapan hari libur. Lala mau ke ruangan nenek."
Lala menggeleng. Dari belum lama dari kamar nenek Seruni. Sejenak dia merasa bosan ingin mencari angin segar. Lala pamit sama ayahnya untuk mencari makanan. Dia merasa bukan lapar saja, tapi masih risih di dekat rohim.
"Lala justru sudah dari sana. Mau cari makanan."
__ADS_1
"Yasudah, kakak mau cari makanan terus kembali ke rumah sakit M. Yunus. Soalnya tadi kakak izin minta ship sore."
"Kak Danu kok baik banget sama keluarga kami? apa karena kak Mila? kak Danu suka sama kak Mila."
"Waktu kak Danu tinggal di dekat rumah kalian saat masih kecil. Kakak sudah mengenal kak Mila. Sudah berteman dengan Mila. Kakak juga dulu sering di belanjain sama ibu Aminah. Hutang budi kakak sangat besar dengan ibu Aminah.
Dulu kakak sering di ledek anak pungut sama anak-anak komplek, ibu Aminah dan Mila yang bela kakak." cerita Danu.
"Jadi kak Danu suka nggak sama kak Mila?" lagi-lagi Lala menodong pertanyaan yang susah dia jawab.
Iya, dia suka sama Mila, sudah lama cinta itu ada. Sejak zaman putih biru dia mencintai Mila. Tapi sekarang Danu tahu kalau hati Mila masih ke Ammar. Walaupun Mila mengatakan hubungan mereka berakhir, tapi Danu melihat sorot mata gadis itu. Masih ada cinta yang tertanam di hati Mila.
Danu suka tidak tega melihat Mila sedih setiap berurusan dengan Ammar.
"Kak, Lala duluan ya. Lapar, nih."
"La, kamu mau makan di memo ( Mega Mall). Kakak traktir deh."
Lala dan Danu pun meninggalkan lorong rumah sakit. Mereka pun menuruni tangga melihat Mila sedang berdebat dengan Vika.
"Kamu!" tangan Vika hendak melayang ke wajah Mila.
"Vika!" suara bentakan muncul di belakang Mila.
"Apa, mar! kamu mau bela perempuan ini. Perempuan yang sudah menikung aku dari belakang. Perempuan yang juga menikung kamu bersama lelaki perawat itu."
"Kak Vika!" suara gadis muda berasal dari belakang.
"Lala," ucap Mila lirih.
__ADS_1
"Hey, anak kecil. Kamu diam saja. Nggak akan kamu ngerti dengan apa yang kamu lihat. Jadi kamu pergi dari sini, jangan ganggu urusan orang dewasa." Vika mendorong tubuh Lala.
PLAAAAAK!
Mila yang sedari tadi diam saja akhirnya bertindak. Dia tidak suka ada yang kasar sama adiknya. Tangannya terlalu ringan hanya untuk memberi shock terapi buat Vika.
"Jangan kamu sentuh adik saya! kamu boleh hina saya, tapi kalau kamu menghina keluarga saya. Saya akan bongkar rahasia kamu." ancam Mila.
"Rahasia apa?" suara Ammar masih terdengar meski sudah jauh di belakang Mila.
"Mar, mama kamu sudah sadar. Dari tadi nyari kamu." Vika menarik Ammar.
"Jawab dulu! apa rahasia kamu yang di simpan Mila?" Ammar melepaskan tangan Vika dengan kasar.
"Mila tolong telepon Sarah, bilang nenek Seruni tiba-tiba drop."
"Apa nenek drop! kok bisa tadi dia baik-baik saja." Mila berlari meninggalkan Vika dan Ammar. Ammar melihat Danu memilih mengikuti Mila. Takut lelaki itu mencari kesempatan dengan mendekati Mila.
Tak peduli dengan Vika yang terus memanggil dirinya.
Saat Sarah sampai di rumah sakit. Dia melihat orang-orang sudah berkumpul di ruang rawat nenek Seruni. Sudah ada Anjas dan Rudi berdiri diantara mereka. "kak Eva." Sarah memanggil Eva karena masih kesal pada Mila dan Anjas.
"Kamu yang sabar ya, Sarah."
"Kenapa kak? Apa yang terjadi dengan nenek?" tanya Sarah.
Eva yang masih sesenggukan mencoba menjelaskan pada Sarah "Nenek ... Nenek sudah tidak ada lagi, Sarah."
Sarah terkejut, bagai petir di siang bolong, nenek yang selama ini selalu menomorsatukan dirinya sudah tidak ada lagi. Eva terus menenangkan Sarah yang lebih terguncang daripada Mila dan Lala. Sambil menuntun Sarah, Eva lalu mengajak Sarah ke ruangan nenek, tak lama terlihat Mila yang menangis dan di tenangkan oleh Anjas.
__ADS_1
Sarah panas, dia merasa Mila cari kesempatan begitu juga Anjas yang dianggapnya modus. Sarah tidak tahu yang dia rasakan seperti pusing, dan gelap. Sarah pingsan, diiringi teriakan keluarganya termasuk Mila dan Lala juga Anjas.