Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 114


__ADS_3

"Harusnya kita disana dekat sport center, bukan di area pantai Berkas yang sepi seperti ini," omel Wiwit saat Vika mengajak dirinya jalan-jalan ke pantai.


"Rame banget, Wit. Aku mau cari ketenangan bukan cari keramaian," jawab Vika.


"Jangan bilang kamu kambuh lagi? aduh, Vika jangan bikin aku puyeng, dong. Kamu tahu aku ini masih muda, belum nikah, pacar saja nggak punya," Vika hanya menyunggingkan senyum mendengar celotehan teman SMA nya.


Vika duduk di salah satu kursi kayu sekitar pantai. Memang kursi tersebut bukan milik lapak salah satu penjual di sekitar pantai. Kursi yang di maksud adalah kayu besar bekas tumbangan pohon. Angin semilir pantai Berkas.


Pesisir pantainya masih asri, meski ada sampah dedaunan yang masih berserakan karena jarang dibersihkan. Pantai ini juga cocok untuk tempat liburan anak. Sudah ada fasilitas berupa taman bermain anak-anak juga. Kamu bisa menikmati liburan apa pun di pantai ini. Namun, paling pas kalau ke sini ramai-ramai. Bisa bersama keluarga atau teman-teman.


Sambil menunggu waktunya buka puasa. Vika pun berencana buka puasa di salah satu cafe dekat pantai panjang. Rencananya mau ke angkringan Ashila, Vika kenal sama owner yang dulu sering bekerja sama dengan counter Ammar Cell.


"Ka, aku dengar Ilham sudah cerai sama istrinya. Katanya sih Ilhamnya buntingin cewek lain. Beruntung kamu nggak jadi sama dia, kalau enggak rusaklah kamu," Vika menggenggam erat ujung bajunya. Entah kenapa ada desiran darah saat mendengar cerita temannya. Sekali lagi dia mencoba menepis pikirannya. Bodoh amat soal Ilham, dia sudah tidak peduli lagi. Apapun keadaannya sekarang dia harus menatap ke depan. Kalau memang dia harus tidak menikah itu tidak masalah.


"Yasudahlah, Ngapain juga bahas Ilham lagi. Biarkan Vika menata masa depannya tanpa harus mengingat soal Ilham," timpal Endah pada Wiwit.


"Aku bukan ungkit, soalnya Nanda kan pernah bilang Ilham mau ajak Vika balikan lagi. Katanya Vika nggak akan bisa ke lelaki lain,"


"Itu mah Ilham nya saja yang terobsesi sama Vika. Lagian Vika nggak akan mau balikan sama Ilham, ya kan?" Vika hanya mengangguk kecil. Tatapannya masih kearah laut lepas. Dengan ombak-ombak kecil bersama batu karang di pinggir pantai.


"Ka, kamu sudah tahu soal mantan kamu yang kabur dari pernikahan?"Vika menggelengkan kepalanya.


"Kira-kira tuh orang masih hidup nggak, ya?" sahut Wiwit.


"Emang kalau dia masih hidup kenapa?" Endah pun ikut kepo.


"Mau lihat dia dapat karma apa? terus cewek yang diajak lari nggak akan bahagia hidupnya,"


"Guys, aku mohon jangan di bahas lagi soal mereka. Mungkin saat ini mereka hidupnya bahagia, aku juga malas ingat soal mereka,"


"Nah, kan? kalian mau kalau Vika kumat lagi traumanya? enggak kan? kita sebagai sahabat harusnya saling mengerti,"

__ADS_1


"Yuk kita ke cafe, nanti nggak dapat tempat," ajak Wiwit.


"Aku sudah booking tempat,Wit. Jadi kamu nggak usah takut," sahut Vika.


Saat mereka sudah berada di angkringan, Vika melihat sosok lelaki yang dia kenal. Karena malas menyapa duluan Vika membalikkan badannya, sayangnya sosok itu sudah melihat Vika dan menyapa gadis itu.


"Kak Vika," Vika mencari arah suara yang memanggilnya.


" Hei,kak apa kabar?" Ternyata Ando yang menyapanya. Vika merasa kikuk di sapa adik dari mantan tunangannya.


Vika kaget dan memilih menghindar. Dia malas bertemu sesuatu yang bersangkutan dengan Ammar.


"Kak! tolong kak, Bang Ammar lumpuh. Dia ingin ketemu kak Vika,"


Vika terhenti, dia terkejut ketika Ando mengatakan kondisi Amar. Ando memohon pada Vika untuk membantu kesembuhan Ammar.


"Itu sudah karma dia! Kenapa tidak minta sama Sarmila? Bukankah amar Sangat mencintai Mila,"


"Kak Mila sudah menikah dengan orang lain. Bahkan dia adalah kakak sepupu saya,"


"Ka, si chef apa kabar?" tanya Wiwit.


"Nggak tahu, handphoneku sempat hilang pas ketemu kayaknya mama yang ganti nomor. Sepertinya mama nggak suka aku dekat sama Revo,"


"Jadi namanya Revo? ada photo nya nggak?" Vika memberikan photo Revo dari handphonenya. Dia bersyukur meskipun ganti nomor memori photo Revo masih ada.


"Ini kan chef yang viral itu?" pekik Endah.


Vika tertawa mendengar ocehan temannya. Mana mungkin Revo viral, orang setahu dia lelaki itu hanya chef biasa.


"Benar! dia mau buka acara demo masak di Bengkulu Indah mall setelah lebaran," jelas Endah.

__ADS_1


"Revo lain mungkin?" Vika masih tidak percaya ucapan temannya. Selama dia kenal Revo di Jakarta, belum pernah mendengar lelaki itu heboh sampai di sosmed. Memang sih, Revo beberapa kali dapat undangan juri tamu lomba masak kecil.


"Coba kamu buka endeus TV, dia beberapa kali jadi koki masak disana. Dan sudah satu minggu ini dia viral," kata Endah bersemangat.


"By the way, mama kamu masih gitu, ya. Nggak lihat dari pengalaman sebelumnya, eh tapi kamu sama yang kemarin pacaran apa di jodohkan sih?"


"Di jodohkan," kata Vika mengecil volume.


Suara sirine pertanda buka puasa sudah di mulai. Vika dan kedua temannya menikmati menu yang di hidangkan. Kebetulan mereka mengambil satu pake seharga 80 ribu untuk dua-tiga orang.


****


Sementara di restoran Ummi Bia, seorang pemuda datang sebagai pembeli, dia tidak sendiri memulai bersama temannya. Sudah satu minggu dia berada di kota Bengkulu. Rencananya dia mau bekerja sekaligus mencari seseorang yang tinggal di sana.


"Gimana?" Ucok menanyakan respon Revo saat mencicipi lobster asam pedas yang mereka pesan.


"Kurang hot rasanya. Sini biar aku yang bantu di dapur."


"Ngapain! Jangan aneh aneh deh. Kita ini pembeli bukan pegawai disana," Ucok menahan temannya untuk tidak mengacak dapur orang.


"Ini tempatnya bagus dan strategis harganya pun terjangkau. Cuma, masakannya kurang enak."


"Enak kalau di lidah aku, Vo. Kamu jangan lupa tujuan kita kesini buat mencari Vika. Sudah cepat makannya, rezeki jangan di anggurin.


Heyyyyy!" Ucok kaget temannya sudah masuk ke dapur resto.


Revo nekat masuk dapur. Dan memaksa meracik sendiri lobster asam pedasnya, lalu membandingkan dengan buatan chef cafe.


"Ini chef Revolusi kan." Salah seorang staf cafe mengenali Revo


" Hey! Disini ada chef Revolusi." Teriak staf cafe.

__ADS_1


Semua yang di cafe berbondong melihat chef idaman kaum hawa.


Ucok menepuk jidatnya "Astaga, sebentar lagi bakal ada kehebohan,"


__ADS_2