Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 158 (Final part)


__ADS_3

Sore itu semua berkumpul di kediaman nenek Seruni. Memang sengaja Rohim ingin anak dan cucu nya datang ke rumah. Sejak Sarah dan Anjas punya rumah sendiri, begitu juga Mila dan Danu. Rumah serasa sepi, bahkan Rohim berencana menyerahkan rumah itu ke Boro.


Akan tetapi bagi Boro, rumah itu memang akan di wariskan ke Sarah dan Lala. Karena mereka cucu asli nenek Seruni. Sementara Mila dan Danu akan meneruskan usaha dari ibu Rubiah. Sementara kost-kostan punya nenek Seruni memang sudah di kasih tanda jual atau di kontrakan. Sayangnya sampai saat ini belum ada yang berminat untuk membelinya.


Ida tampak menyudutkan diri dari keramaian. Orang-orang di sana seperti keluarga bahagia sementara dirinya merasa asing dengan mereka. Dahlia melihat hal itu datang menyambangi adik iparnya. Mungkin Ida masih minder bersama keluarga besarnya. Dahlia juga maklum karena tidak ada yang mengenal Ida kecuali Mila dan Sarah.


"Da, ayo ikut aku bergabung dengan mereka." ajak Dahlia.


"Aku disini saja." elak Ida.


"Kenapa?"


"Tidak ada yang aku kenal dan mereka pun tidak begitu mengenal aku. Rasanya seperti asing disini. Andai saja Yuni tidak pulang kampung mungkin aku tidak merasa sendiri."


"Tante tidak sendirian kok, ada aku dan Intan. Ada mama Dahlia, ada kak Mila juga beserta keluarga yang lain. Asal bucik mau aktif mereka pasti akan ramah sama bucik." Fera menyambangi mama dan Tantenya.


"Tuh, benar kata Fera. Ayolah, kita sudah terlanjur disini jadi nikmati momennya." kata Dahlia.


Mau tidak mau Ida pun ikut berbaur bersama keluarga besar lainnya. Saling bertukar cerita satu sama lain.


"Mila," panggil Dahlia pada Putri sulungnya.


Mila yang sedang asyik bercengkerama bersama Sada pun mendatangi ibu beserta bibinya. Ya walaupun bukan bibi kandung, karena statusnya bibi tiri. Tak masalah buat Mila, makin banyak keluarga barunya. Sekarang dia sudah duduk di samping sang ibu. Kursi berbahan rotan menghiasi ruang tamunya.


"Kau tahu Mila, kalau ibu bekerja kamu selalu ibu titipkan sama Tante Ida. Ya walaupun saat itu dia masih gadis tingting. Cukup berbakat dalam mengasuh bayi." cerita ibu Dahlia.


"Iyakah, Tante. Wah, berarti aku waktu kecil sudah kenal sama Tante, dong. Aku bandel nggak waktu masih kecil?"


"Bukan bandel lagi, cengeng iya. Tangan Tante selalu dapat hadiah dari Mila. Kayak orang Stretch Mark, kadang ibumu pulang sudah malam. Sabtu Minggu ibumu juga harus kerja keliling jadi sales rokok, kadang sales minuman mineral. Banyak deh, untung aku selalu stok makanan banyak dan susu bayi." Kenang Ida.


"Mila maafkan Tante atas apa yang saya lakukan selama ini. Mungkin apa terjadi antara kamu dan Vika adalah salah satu hasutan Tante. Karena sebenarnya Vika sudah menolak pertunangan atau menikah dengan Ammar. Tapi karena kekerasan kepala kami sebagai orangtua pada endingnya terjadilah apa yang dialami Vika dan juga Ammar."


"Kita sebagai manusia terkadang perlu cambuk agar belajar dari masa lalu. Waktu aku tahu Ammar di jodohkan dan akan menikah dengan Vika. Aku sudah ikhlas Tante, seperti kata pepatah kalau jodoh tidak akan kemana. Dan nyatanya sekuat apapun kita berjuang Tuhan tidak memberi jalannya. Dari itu aku hanya mengikuti alur yang di tuliskan, dan endingnya aku bahagia bersama Danu."


"Saya tidak pernah menaruh kebencian pada Tante ataupun Vika. Aku juga sudah memaafkan Tante Ida, ibu Diana, Ammar dan juga Vika. Tuhan saja bisa memaafkan umatnya masa kita tidak. Oleh karena itu kita buka lembaran baru."


Di teras depan, para lelaki bertugas sebagai koki. Hanya ayah Rohim dan tulang Boro yang di minta tidak melakukan apapun. Bagi para pria muda, dua pria paruh baya tersebut harus menikmati masa tuanya. Walaupun Boro menolak di bilang tua. Usianya saja masih kepala lima, masih kuat mengerjakan pekerjaan baik ringan maupun berat. Tetapi para pria tetap memintanya untuk menemani ayah Rohim.


"Lihat mereka jadi ingat masa muda dulu. Tubuh sehat 45, bekerja pun makin semangat. Kau ingat Rohim saat aku meminta Aminah untuk menggantikan kamu. Tapi Aminah menolak karena tidak ada talak darimu."


"Jadi selama ini kau mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan, Boro." jawab Rohim sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Waktu Aminah hamil Lala, aku merasa tergerak menjadi tulang punggung untuknya. Untuk Mila dan juga Sarah. Mila yang selalu mengalah pada Sarah dan ibu Seruni. Sarah yang selalu di benarkan kelakuannya sama ibu Seruni. Aminah yang mencoba kuat membesarkan anak yang bukan darah dagingnya. Itu yang membuat aku simpatik pada Aminah. Setelah anak-anak dewasa, Dahlia datang di susul kamu."


Sementara Lala bersama Intan dan juga beberapa anak panti yang lain bermain dengan Sada. Bayi lima bulan itu di kelilingi beberapa gadis cantik. Mereka bergantian menggendong Sada.


"Pelan-pelan gendongnya, kak Lala." protes Caca gadis kecil berusia lima tahun.


"Kamu tenang saja, Cha. Kakak sudah khatam pegang Sada. Hmmm ... sepertinya aku kalau selesai SMA jadi guru TK saja."


"Kemarin ada yang bilang kalau kamu mau jadi apoteker. Terus katanya mau jadi bidan, sekarang mau jadi guru TK. Huh, kayak anak SD kamu, la." protes Aris.


"Biarin yang penting punya cita-cita. Daripada kamu, nggak punya cita-cita." Lala menjulurkan lidahnya.


"Emang cita-cita kamu apa, Ris?" tanya Neta.


"Jadi suami dan ayah untuk anak-anakku nanti." jawab Aris bangga.


"Eleh, masih kecil sudah punya cita-cita jadi suami. Sekolah yang bener." Cakra menoyor kepala Aris.


"Kalian berdua kok jadi akrab sekarang?" tanya Lala.


Pasalnya dimana ada Aris pasti bertemu dengan Cakra. Kedua pemuda beda generasi selalu berdebat setiap bertemu.


"Karena kamu yang buat kita bertemu, La." ucap Aris dan Cakra bersamaan.


"Ya, karena kak Cakra nggak mau kamu terlalu sering dekat sama Aris. Nggak bagus juga laki dan perempuan terlalu akrab. Nanti bisa timbul cinta, kalian masih kecil untuk mikir urusan cinta. Dan lagi jatuh cinta sama sahabat nggak enak. Karena bisa merusak semuanya." sahut Neta.


"Hahaha .... Aku sama Aris? Enggaklah kayak tidak ada laki-laki lain saja. Nanti saat kuliah atau mungkin saat sudah berkerja aku pasti akan bertemu lelaki yang lebih tampan dari Aris. Dia? jauh dari tipe ku."


"Puput apa kabarnya, kak? kok nggak pernah kelihatan." Lala mengalihkan pembicaraan.


"Puput di bawa pulang saudara ibunya dari Jakarta. Sudah sekitar enam bulan dia pindah. Setelah bagi raport ada keluarga yang mengaku famili dari ibunya. Kata ibu Nurmala, Puput di titipkan sama ayahnya setelah ibu kandungnya meninggal sehabis melahirkan." kata Neta.


"Lalu kemana ayahnya?"


"Tidak tahu, karena bahkan sampai sekarang ayahnya belum pernah menampakkan diri. Sikap Puput yang rada bikin pusing orang-orang panti sebagai pengalihan perasaannya. Biasanya anak-anak seperti Puput merasa kesepian. Padahal di panti banyak anak-anak seumuran dia."


Lala memandang anak-anak panti bergantian memegang Sada. Ada rasa syukur di rasakannya. Sore ini banyak hal yang menjadi pelajaran hidup bagi Lala. Tentang bagaimana melihat keadaan orang lain, tentang melihat bahwa masih ada orang yang hidupnya kurang beruntung dari dirinya.


Di sebuah sudut rumah, sepasang anak sedang duduk di kursi. Keduanya saling melempar pandangan lalu senyum-senyum sendiri. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Bahkan kepalanya sudah berlabuh di dada lelaki itu.


"Kamu tahu, Sayang. Sumber kebahagiaanku melihat mereka berkumpul penuh canda tawa. Tidak ada air mata lagi, dan aku berharap dengan sumsum seseorang di tubuhku ini bisa melanjutkan hidup hingga Sada dewasa."

__ADS_1


"Amin. Aku rasa kita harus berterimakasih pada dia. Karena pada akhirnya dia lah yang menyelamatkan nyawa kamu, Sayang." tangan Mila mengelus pipi kanan suaminya.


"Kita ziarah ke makam Ammar,Yuk?"


"Iya, Uda."


Seperti yang di janjikan keesokan harinya mereka mendatangi makam Ammar. Danu membersihkan makam sepupunya yang sudah banyak di penuhi rumput.


Flashback on


Mila masih penasaran siapa yang mendonorkan sumsum tulang belakang untuk suaminya. Mila nekat ke rumah sakit dan menemui dokter Wisnu.


"Kami diminta menjaga rahasia ini, Kak."


"Tolong saya Wisnu, saya ingin sekali berterimakasih pada orang itu. Itu sebagai bentuk nazarku."


"Baiklah, Sebenarnya pendonor jantung untuk Danu adalah saudara Amar Nur Zidan."


Mila kaget. Tak bisa berkata apa-apa. Dia tak menyangka amar mengorbankan dirinya untuk Danu.


Mila menemui Ando setelah mengetahui kabar ini. Ando menyerahkan surat untuk Danu.


Assalamualaikum, Danu.


Semoga tetap sehat wal afiat, semoga bahagia bersama Mila ku.


Danu


Dengan surat ini saya mau bilang terimakasih sudah membuat Mila bahagia.


Terimakasih sudah membuat Mila tidak menangis lagi.


Sebenarnya aku sudah lama tahu tentang penyakitmu.


Kamu ingat saat aku menginap di rumahmu, aku melihat beberapa obat dan aku meminta Ando memeriksa tentang obat itu.


Aku kaget kalo kamu mengalami leukimia


Maaf, Danu. Kalo aku terkesan lancang, tapi demi Mila, aku ingin kalian bahagia.


Flashback off

__ADS_1


Mila menceritakan pada Danu soal donor yang di berikan Ammar. Danu berterima kasih pada Ammar di depan makam. Mereka meninggalkan makam Ammar.


TAMAT


__ADS_2