Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 80


__ADS_3

"Apa! jadi kak Danu masuk rumah sakit? sakit apa?'


"Bukan sakit parah sepertinya cuma capek saja. Oh ya tolong cek rumah dong. Tadi Lala pulang nggak pamit. Kata tulang Boro rumah masih di kunci jadi Lala pasti tidak pulang. Danu malam ini menginap di rumah sakit. Coba kamu dan Anjas memeriksa rumah siapa tahu ada Lala yang sudah pulang.


Sementara ini dia menginap di tempat kamu saja, Sarah."


Sarah menarik nafas dengan kasar. Pagi tadi ada saudara dari Anjas menitipkan anaknya yang bernama Safa. Karena kedua orang tuanya akan ada urusan pekerjaan di luar kota. Mereka bukan hanya sekedar menitipkan tapi memberikan uang tips yang begitu banyak. Serta makanan untuk anak mereka dan si empunya rumah.


Senang? tentu saja dia senang. Karena apa yang dia kerjakan ada pamrihnya. Bukan sekedar datang tanpa memberi timbal baliknya.


Tapi kalau menampung Lala, otomatis akan ada biaya yang harus di keluarkan. Mulai dari masaknya, membersihkan pakainya. Dia saja meletakkan pakaian di laundry. Kalau di tambah biaya Lala. Sarah sudah pusing memikirkannya.


"Sayang," Sarah di kejutkan dengan sapaan suaminya.


"Iya, Bang." Anjas tampak gagah dengan mengenakan kemeja putih. Tentu dengan tas selempang andalannya.


"Kamu kenapa? apa kamu keberatan sama keponakanku? kalau begitu biar aku antarkan sama tantenya. Cuma ya itu, Tante nya lagi hamil besar. Takut nggak enak."


"Enggak, kok, abang. aku suka sama anak kecil. Kalau ada dia kan rumah jadi rame. Oh ya, abang sudah tahu kalau kak Danu masuk rumah sakit. Malah kata Eva, dia pingsan di kamar mandi."


"Yang benar. Kapan? kita jenguk yuk."


Sarah melihat suaminya sangat semangat mau jenguk Danu. Entah kenapa setiap yang berurusan dengan Mila, suaminya cepat bereaksi.

__ADS_1


"Kamu tahu, Sarah. Kalau kamu begini terus bisa jadi kak Anjas bakal nengok perempuan lain. Kamu nggak bisa masak, terus jarang di rumah, banyak kelayapan. Ingat Sarah kamu itu sudah nikah. Bang Anjas akan habis masa sabarnya dan dia meninggalkan kamu. Sama seperti dia meninggalkan kak Mila" Kata Rudi ketika mereka bertemu di kampus.


"Kamu bicara seperti itu karena masih belum move on dari aku. Mau kamu menakuti pakai cara apapun tidak akan mempan. Lagian kamu sudah punya Elda. Ngapain masih ngusik kehidupan aku."


"Ya, aku bicara seperti untuk abangku. Jujur tadinya aku pikir kamu akan banyak belajar dari kak Mila. Tapi ternyata kamu makin hari makin aneh. Terlalu idealis padahal untuk diri sendiri saja kamu belum bisa.


Maaf aku bicara seperti ini karena kita sudah saling kenal sejak zaman sekolah. Jadi pikirkan kalau kamu tidak mau kak Anjas berpaling."


"Sejatinya barang yang sudah diambil biasanya akan hilang tanpa bekas kalau tidak bisa di jaga dengan baik. Kamu tidak mau kan apa yang kak Mila alami dulu berbalik ke kamu"


"Ya nggak mungkin, Rudi. Kak Mila sudah ikhlaskan Bang Anjas. Jadi dia pasti akan mendoakan yang baik untuk adiknya. Kak Mila bukan tipe pendendam. Jadi kamu nggak usah deh sok-sok nasehat."


Sarah mengingat apa yang di ucapkan Rudi. Sejak saat itu Sarah enggan minta gulai sama Mila. Karena suaminya sudah hapal sama masakan Mila. Sarah memilih enggan terlalu dekat dengan Mila.


"Mimpi apa semalam si anak manja datang ke sini."


"Nggak mimpi kak. Ini nyata kok. Aku lagi pengen nginap disini. Kak Danu masuk rumah sakit. Kayaknya bakal nginap satu malam."


"Kak Mila tahu?" selidik Sarah.


"Tahu." Kilah Lala. Dia tidak mungkin bilang kalau sedang salah paham sama Mila.


"Kok nggak diantar kesini."

__ADS_1


"Kan aku sudah bilang kak Danu masuk rumah sakit. Kak Mila masih sibuk ngurusin kak Danu." jelas Lala.


"Oke, kalau begitu. Selama kamu disini, cuci piring sebelum makan. Cuci baju sendiri dan jangan pakai mesin cuci. Kalau mau makan tunggu selesai kami saja. Terus kamu langsung cuci piring."


"Kak aku cuma satu malam disini. Bukan mau nginap bulanan." protes Lala.


"Kalau tidak mau ya kamu pulang saja ke rumah Kak Mila. Gampang kan?"


"Ini anak siapa? lucu sekali." Lala mencubit pipi Safa.


"Ini anak sepupu mas Anjas. Dia akan menginap beberapa hari. Jangan pegang pipi nya. Kamu itu lagi basah. Nanti malah bikin Safa sakit. Kamu di kamar belakang, ya?" Lala hanya mengangguk kecil.


"Eh, ada lala ternyata. Mau nginap sini, ya. Kamu tidur sama Sarah saja. Saya rencana mau menginap di rumah ibu. Soalnya ayah sakit. Nggak apa kan?"


"Kok aku tidak diajak, Bang?" rengek Sarah.


"Kan kamu ada Lala dan Safa. Masa kamu mau bawa Safa ke tempat ibu. Kan nggak mungkin. Sudah kamu di rumah ada Lala yang menemani."


"Aku pinjam baju kakak dulu, ya. Soalnya tidak bawa ganti."


"Gimana sih mau nginap tapi nggak bawa apa-apa?" Omel Sarah.


Lala hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Kalau sama Mila, kakaknya dengan sigap memberikan baju ganti untuk adiknya. Bukan datang langsung di marahi.

__ADS_1


__ADS_2