
"Sudah balik Mila?" tanya Mbak Emi, tetangganya.
Mila hanya menyengir kecil. Baru saja pulang dari rumah sakit. Tadi malam Mila agar Sarah pulang ke rumah. Sementara dirinya menemani nenek Seruni di rumah sakit.
"Iya, Mbak Emi."
"Kalo aku jadi kau, tak mau aku pulang. Udah dihina hina, pilih kasih, ku biarkan mati saja tu nenek" timpal Mbak Emi.
Mila cuma nyengir saja, toh dia tidak dendam dengan neneknya. Mereka ini juga dulu mengejek Mila dengan sebutan perawan tua. Mila sudah kenyang dengan nyinyiran mereka.
Mila pulang kerumah untuk membersihkan diri. Sejak dia pulang dari Lampung kemarin sore. Lanjut membersihkan diri lalu pergi ke rumah sakit. Dia hanya bisa istirahat di sofa saja. Itu pun tak begitu nyenyak. Sikap nenek Seruni yang enggan di layani dirinya membuat Mila sedikit kewalahan. Tapi dia mencoba untuk bermuka tebal. Biarpun sang nenek mengamuk karena kehadiran Mila.
"Kenapa kamu kesini? mau nyumpahi saya mati! atau kamu mau buat saya mati supaya bisa menguasai rumah saya!" pekik nenek Seruni.
"Nek, saya ini cucu tertua. Ini sudah kewajiban saya merawat nenek!"
"Kamu bukan cucu saya! ibu kandungmu juga bukan anak saya! jadi saya minta keluar! pembawa sial! keluar!"
Nenek Seruni mengamuk sambil memegang dadanya yang terasa sakit. Mila memanggil dokter yang bertugas untuk menangani sang nenek.
Sementara saat nenek sedang di periksa. Mila duduk di koridor rumah sakit. Menarik nafas dalam-dalam, masih sedikit syok dengan kejadian barusan.
"Mbak Mila, neneknya sudah di beri obat penenang." lapor salah satu suster.
"Terimakasih, suster."
Mila masuk kedalam ruang rawat nenek Seruni. Sesaat dia merebahkan tubuhnya di sofa. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Mila mencoba memejamkan matanya perlahan-lahan. Dia sangat lelah.
Kepulangan Ammar di sambut baik oleh adik dan juga mamanya. Mama Diana sangat senang ketika putra sulungnya akhirnya pulang setelah beberapa hari liburan ke Lampung.
"Mama pikir kamu lama pulangnya "
"Emang kenapa, ma?"
"Ada yang mau mama omongin"
"Soal apa?"
Ando menyela. Dia tahu arah pembahasan yang akan dibicarakan.
__ADS_1
"Mama nih, nantilah ngobrol nya suruh lah bang Ammar istirahat dulu."
Ando mengajak amar ke kamar dan meninggalkan Amar. Mama masak masakan kesukaan amar yaitu ayam pop dan kalio. Ando keluar membawa motor
"Kamu mau kemana, nak. Abang mu baru pulang kamu udah kelayapan lagi."
"Ngumpul sama temen sebentar, Ma. Bang Ammar biar dulu dia istirahat. Jangan ajak dia bahas soal lamaran dulu. Entar kabur lagi"
Mama diam saja. Ya, wajarlah kalo dia mau bahas lamaran, umur Ammar sudah 29 tahun, sudah pantas Ammar menikah. Mama sudah punya calon menantu idaman.
Saat Ammar sedang istirahat di kamar. Tiba-tiba handphonenya berdering. Ammar menatap malas ketika tahu siapa yang menelepon.
"Halo, assalamualaikum, kak Ammar" Suara Vika dari seberang.
"Iya, ada apa Vika?"
"Kak Ammar sudah pulang?"
"Sudah" Ammar menjawab dengan datar.
"Kita ke rumah sakit yuk kak liat neneknya Mila" ajak Vika.
Mendengar nama Mila, Ammar yang tadinya setengah malas kembali bersemangat. "Kapan?"
Ammar bangun dari rebahannya, lalu pergi ke ruang tamu. Disana Vika sudah duduk bareng mamanya, ngobrol akrab. Entah kenapa amar melihat Vika tidak sesemangat seperti dulu.
"Jadi nggak?
"Jadi dong, udah jauh datang masa nggak jadi?"
"Nah gitu dong,mar. Kan senang mama liatnya"
Ammar yakin mama udah pasti mendukung dengan Vika. Mama sudah lama meminta Amar mendekati Vika. Tapi kenapa sekarang amar merasa biasa saja saat bertemu dengan Vika sekarang.
"Gimana pendekatan dengan Mila?" Tanya Vika.
"Lumayan, sih. Dia anaknya unik, nggak baperan, mandiri. Juteknya itu Lo..."
"Bikin aku kangen," batin Ammar.
__ADS_1
"Dimana mana yang namanya perempuan punya sifat jutek" balas Vika
"Termasuk kamu?" Amar melirik Vika sambil nyetir, yang dilirik ternyata membalas lirikannya juga.
"Kamu kenal Fera?" Ammar mengubah arah pembicaraan.
"Kenal dong, itu kan kakak sepupuku, kenapa?"
"Nggak papa sih, aku pernah dekat dengan Fera"
"Pacaran maksudnya? Ih, sempit banget ya dunia ini" sahut Vika dengan suara manja.
Vika terdiam sesaat, ingat percakapannya tadi malam bareng Mila, Vika mengatakan kalo dia mulai jatuh cinta pada Amar, Vika merasa dia kehilangan saat amar ke Lampung, dan sempat berharap amar tidak jadi mendekati Mila.
...******...
Mila duduk di luar teras rumah sakit. Barusan nenek Seruni kembali menolak kehadirannya. netranya tak bisa menahan air matanya untuk keluar.
Sebuah sapu tangan muncul di depan mata. Mila menoleh melihat siapa pemberinya. Senyum seorang pria yang dia kenal, lalu duduk disampingnya.
"Kok sedih?" tanya pria tersebut.
"Eh, Danu. Maaf." Mila menghapus air matanya memakai tangan.
"Pakai ini. Nanti bisa iritasi matanya." Danu pun duduk di samping Mila.
"Sudah lama, ya. Kita akhirnya bertemu kembali. Aku baru tahu kalau nenek Seruni itu nenekmu."
"Iya, sudah lama. Tapi nenek Seruni sepertinya lupa sama kamu."
Danu menunduk malu-malu. 15 tahun yang lalu dia di adopsi oleh sebuah keluarga yang baik hati. Keluarga yang sayang padanya setelah dari kecil hidup di panti asuhan.
Danu teman sekolah Mila sejak SD hingga SMP. Mereka dulu sering pulang bareng. Karena nenek Seruni tahu Danu anak pungut, dia membatasi semua cucunya main sama Danu. Hingga saat tamat SMP Danu pindah. Dan Mila tak tahu bagaimana kabar temannya itu.
Ammar baru saja sampai di rumah sakit. Dia berjalan tanpa memperdulikan Vika yang beriringan dengannya. Entah karena dia sudah tak punya rasa dengan Vika. Atau mungkin karena akan bertemu dengan Mila.
Sesemangat itukah dirinya!
Langkah kakinya terhenti melihat Mila tertawa lepas pada seorang lelaki. Sementara pada dirinya masih bersikap cuek.
__ADS_1
"Kak Ammar, kayaknya Kak Mila sudah punya seorang pengganti Anjas." sahut Vika tahu kemana tatapan lelaki itu.
Syukurlah kalau Mila sudah dekat dengan lelaki lain. Jadi tidak ada yang akan mengganggu aku dan kak Ammar. batin Vika.