Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 38


__ADS_3

Semua makhluk hidup suatu saat akan bertemu dengan hari akhir. Sebab, dunia ini hanyalah sementara. Kamu hanya singgah sebentar, semakin hari umur terus berkurang, makin dekat pula dengan kematian.Tak sedikit orang masih lalai akan kematian. Terlalu sibuk dengan urusan dunia. Padahal, kehidupan di bumi ini hanya bersifat sementara.


Pahami makna kehidupanmu sekarang ini dengan membaca beragam kata kata kematian yang penuh makna ini.


Karena pada akhirnya semua orang akan mengalami kematian suatu saat nanti. Semua makhluk hidup di bumi pasti akan mengalami kematian suatu saat nanti. Tidak ada orang yang bisa mengetahui kapan ajal mereka akan datang karena ajal tidak memandang usia, jenis kelamin, atau derajat seseorang.


Hal ini membuat semua orang tidak boleh sombong dan harus lebih mengapresiasi kehidupan mereka sekarang.


Sore ini setelah di mandikan di rumah sakit. Jenazah nenek Seruni di bawa ke rumah duka. Warga gang sepakat sawah lebar berdatangan silih berganti. Walaupun nenek Seruni mempunyai pandangan negatif Dimata warga sekitar. Apalagi kalau bukan perlakuannya pada Mila. Dia di kenal sosok yang judes pada orang-orang sekitar.


Kemunculan Lia dan Rohim di rumah nenek Seruni menjadi perbincangan kalangan tetangga. Mereka malah berspekulasi kalau meninggalnya nenek Seruni ada hubungannya dengan sepasang mantan itu. Siapa yang tidak tahu dengan Dahlia yang katanya kakak tiri Aminah sekaligus yang buat rumah tangga adiknya hancur. Siapa yang tidak tahu Dahlia yang katanya punya anak bersama Rohim.


Semua juga tahu kalau Rohim adalah ayah biologis Sarmila.


Spekulasi dugaan-dugaan itu muncul saat Rohim dan Dahlia ada diantara keluarga. Mila yang menangis di pelukan Dahlia membuat para tetangga bertanya-tanya. Apa Mila tahu siapa Dahlia? meskipun sebenarnya bukan urusan mereka tapi jiwa kekepoannya terbuka.


"Mereka masih punya muka muncul di keluarga ini. Setelah semua yang mereka buat pada Aminah dan Mila." kata Bu Indri kesal.


"Kan itu masih rumah mereka juga. Jadi biarkan saja." sahut Bu Riri.


"Itu rumah ibu Seruni. Rohim kan cuma menantu dan Dahlia itu cuma anak tiri. Jadi rumah itu balik ke hak ibu Seruni. Paling tidak jatuh ke Sarah dan Lala. Bukan ke tangan Mila."


Mila Berdiri di depan pintu rumah yang dia diami saat ini. Udara sore itu terasa sejuk, bokongnya di sandarkan pada sebuah kursi rotan. Masih memakai setelah kaos, dia menikmati udara sore di perumahan tengah kota. Namun dalam suasana duka seperti ini tak membuat Mila tenang. Kesedihan yang mendalam karena meninggalnya sang nenek.


"Sudah mau masuk ashar, sebaiknya kita langsung makamkan jenazah di pemakaman merawan." usul salah satu perangkat RW.


"Iya, sebentar lagi mau hujan. Akan susah kita gali lobang kalau becek." kata warga yang lain.

__ADS_1


Akhirnya saat waktu Azhar jenasah nenek Seruni di kebumikan. Banyak warga yang datang ikut mendoakan nenek Seruni.


Mila dan keluarga lainnya pulang ke rumah. Beberapa pelayat ada yang sudah pulang ke rumah, sebagian tetap berkumpul di rumah nenek Seruni. Mereka siap membantu kebutuhan keluarga yang di tinggalkan.


Malam setelah nenek Seruni di makamkan. Suasana rumah nenek Seruni masih ramai dengan kedatangan kerabat terdekat. Tak hanya itu, Danu juga datang bersama ibu panti.


"Jadi kamu namanya, Mila. Cantik sekali kamu, nak. Danu sudah banyak cerita yang kamu."


"Terimakasih, Bu. Ibu juga cantik, kok. Ah, iya aku lupa. Ibu silahkan masuk dulu." ajak Mila.


"Assalamualaikum," Mila terhenyak mendengar pemilik suara itu.


"Ammar, Bu Diana, silahkan masuk. Ibu kapan keluar dari rumah sakit?" sapa Mila.


"Mama tadi siang keluar dari rumah sakit. Dia merengek mau ketemu sama kamu. Mungkin ini jalan buat kita Mila untuk memperbaikinya hubungan." sahut Ammar.


Mila pun duduk menemani Bu Diana dan juga ibu pantinya Danu. Mila lebih banyak berbicara pada ibu Nurmala dari mama nya Ammar. Bukan maksud menyueki ibu dari Ammar. Hanya saja dia bingung apa yang mau di bahas dengan mama Diana.


"Mila, bisakah kita bicara berdua saja."


"Bisa, Bu."


"Pertama-tama saya turut berdukacita atas meninggalnya nenek kamu, Mila. Saya tahu kalau bahasan kita terlalu sensitif. Kamu wanita yang baik, saya doakan agar mendapat seseorang yang bisa menerima kamu apa adanya.


Kamu tahu kan kalau pernikahan Ammar dan Vika tinggal dua lagi. Saya cuma minta kamu satu, tolong tinggalkan Ammar."


Mila duduk di sebelah Bu Diana. Dia sudah menebak arah pembicaraan wanita usia 50-an itu. Masih mencoba bersikap ramah pada tamunya, apalagi suasana rumah masih ramai dengan pelayat.

__ADS_1


"Pertama-tama saya berterimakasih pada ibu Diana yang sudah mau datang ke gubuk kami. Sudah mau melayat ke rumah kami.


Saya tahu pernikahan Ammar dan Vika memang sudah dekat. Saya juga tahu diri,Bu. kalau ibu tidak akan pernah menerima saya untuk Ammar.


Tapi saya mau tanya sama ibu? apa dasar ibu tidak suka sama saya. Apa karena saya miskin? tidak sekaya Vika yang anak seorang pejabat. Kalau memang itu yang menjadi jawaban ibu sekarang saya paham. Bahwa harta dan tahta diatas segalanya. Saya juga paham kalau ibu ingin yang terbaik untuk Ammar."


"Mila, saya punya hutang budi yang sangat besar pada keluarga Vika. Dulu ayahnya Vika banyak sekali membantu perekonomian kami. Apalagi sejak ayahnya Ammar meninggal dunia. Cafe yang saya jalankan selama ini adalah kerjasama dengan mamanya Vika. Jadi saya mohon sama kamu, tolong ikhlaskan Ammar. Biarkan dia bahagia bersama Vika." Ibu Diana bersujud di kaki Mila.


Mila melihat sikap Bu Diana langsung mengangkat tubuhnya ibu dari kekasihnya. Dia tidak mau orang berpikir macam-macam melihat Bu Diana bersujud.


"Bu, saya tahu itu. Saya juga paham perasaan ibu pada anaknya. Maafkan saya yang masuk ke kehidupan Ammar, saya memang mencintai Ammar. tapi jika Ammar bukan untuk saya mau bagaimana lagi."


"Mila kamu ngomong apa?" suara Ammar pun terdengar dari belakang Mila.


"Mar, seperti yang kamu dengar tadi. Saya ikhlas kalau kamu dengan Vika. Terimalah Vika, Mar. Karena restu ibu itu adalah doa yang baik dalam suatu hubungan."


"Apa kau tidak mencintaiku lagi, Sarmila?"


"Aku mencintaimu, Amar. tapi kita tidak bisa bersama."


"Aku akan memperjuangkan cinta kita. Aku akan menikahimu. membatalkan perjodohan dengan Vika. Meyakinkan mama dan keluarga besar agar bisa menerima kamu."


"Bukan itu masalahnya."


"Apa Mila?"


"Kamu bukan lelaki yang ada di istikharahku. Sejauh apapun kita Melangkah kalau Tuhan tidak menakdirkannya kita. Aku minta maaf, kamu teruskan saja perjodohan dengan Vika."

__ADS_1


"Nggak! kamu pasti bohong, kan Mila. Kamu mau menyerah terserah. Tapi aku tidak akan menyerah memperjuangkan kamu."


"Aku mencintai Danu, Mar. Bukan kamu!" Mila berbicara lantang sehingga banyak yang menoleh kearah mereka.


__ADS_2