
"Saya sudah melakukan permintaan anda. untuk membuat mereka mengulur waktu di sana. Tapi sepertinya batas kesabaran mereka sudah habis. Semalam mereka pamit untuk pulang ke Bengkulu. Saya tidak bisa menahan." jelas pemilik suara di seberang sana.
Perempuan penerimaan telepon tampak mengeluarkan kekesalannya. Rencananya untuk membuat Diana menderita perlahan-lahan bisa gagal kalau Ando dan Ammar pulang. Rencana membalaskan sakit hatinya pada adik iparnya sudah pasti gagal.
Langkah kakinya memasuki sebuah gudang. Lemari tua yang dia yakini menyimpan banyak hal pun jadi sasaran. Termasuk mencari berkas penitipan putranya. Malah dari info yang dia dapat, Diana bekerja sama dengan istri baru Tamrin.
Suara kasak kusuk di sebuah ruangan terdengar jelas. Seperti sedang membongkar sesuatu. Kertas dalam berbagai bentuk pun berserakan di lantai memenuhi sudut ruangan di dekat lemari. Seorang wanita berhijab pun masih asyik memeriksa satu persatu lembaran demi lembaran. Rasa fokusnya terhenti saat mendengar suara bel pintu berbunyi.
"Ini siapa yang ganggu pekerjaanku." umpat wanita itu.
Dia keluar dari ruangan saat mendengar bel rumah berbunyi. Dengan tatapan ketusnya tubuhnya berdiri di depan pintu. Suara pintu terdengar pelan. Cukup kaget melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Ando?" lelaki itu tersenyum lalu menyalami wanita yang dia hormati.
"Makwo." sapa Ando
"Ammar." sapa Makwo Rubiah.
Lelaki yang duduk di kursi roda itu menyalami wanita di hadapannya. Wajahnya yang terlihat muram. Tak ada rona bahagia karena pulang ke rumah.
"Bang, aku antar ke kamar" Ando mendorong kursi roda milik Ammar.
Ammar menggeret kursi rodanya masuk ke kamar. Tadinya Ando mau mengikutinya kakaknya, sayangnya Ammar menolak memilih masuk sendiri.
"Bang, Ando tahu yang kamu rasakan. Tapi kan itu baru menurut dokter. Kita masih bisa mencari pengobatan yang lebih bagus dari rumah sakit kemarin. Ando janji akan mengusahakan kesembuhan Abang dan juga mama." Ando berjongkok sejajar dengan posisi Ammar.
"Tidak, Do. Abang tidak mau menyusahkan kamu lagi. Sudah cukup kamu banyak mengorbankan diri karena abang. Mungkin nasibku yang harus seperti ini." Ammar masih meratapi nasibnya.
Satu bulan yang lalu, Dokter menyatakan ada infeksi yang sangat parah di kaki Ammar. Dokter pun menyatakan untuk bisa berjalan normal rasanya jauh dari ekspetasi.
"Maaf, kalau menurut pemeriksaan, kaki kakak anda kemungkinan ada infeksi dari dalam. Dimana pemborokan luka bakar yang sulit di sembuhkan. Kalau masalah tidak mengganti wajah kakak anda. Dan hanya perbaiki wajahnya. Saya rasa masih bisa. Tapi kalau kakinya, maaf saya angkat tangan."
Ando menggebrak meja kerja dokter. Dulu saat awal-awal mereka datang. Dokter sempat menjanjikan kesembuhan total kakaknya. Tapi setelah dua bulan mereka berobat, dokter malah berkata kebalikannya. Apalagi dokter di depannya adalah kerabat baik dari makwo Rubiah. Apalagi kata makwo Rubiah dia sudah membayar dokter tersebut untuk operasi Ammar.
"Waktu itu anda pernah bilang sama saya. Anda akan melakukan penanganan paling terbaik di rumah sakit ini untuk abang saya. Tapi apa yang anda bilang sekarang, anda malah menyerah. Atau sebenarnya penanganan terbaik seperti yang di janjikan memang tidak pernah ada.
Sudah berapa banyak biaya yang saya kerahkan untuk semua ini. Anda juga selalu meminta biaya yang lainnya dan sekarang semua itu hanya permainannya anda, pak dokter."
"Iya, biaya itu memang benar adanya. Dan saya juga tidak menipu Anda. Tapi hasil ini sudah di diskusikan dengan beberapa dokter ahli lainnya. Dan mereka sependapat dengan saya, kalau kaki kakak anda memang tidak akan sembuh.
__ADS_1
Anda mau menuntut silahkan. Saya tunggu itikad anda. Jangan mentang-mentang sudah membayar lebih anda bisa mendahului pemeriksaan kami. Saya memang sudah berusaha mengusahakan alternatif terbaik di rumah sakit ini. Tapi kalau yang diatas mengatakan tidak bisa, saya bisa apa. Jika segala sesuatunya di paksakan yang rugi kamj. Termasuk nama rumah sakit ini." kata dokter tersebut.
Ando hanya menghempaskan nafasnya dengan kasar. Sia-sia juga dia harus berlama-lama di rumah sakit ini. Mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Meninggalkan mama yang sakit, melepaskan gadisnya demi sang kakak.
Dia menemui sang kakak dengan perasaan hampa. Ammar sebenarnya tahu kalau dia tetap akan di kursi roda selamanya. Dia juga sudah pasrah atas semua yang menimpanya. Cuma satu yang dia minta. Kembalikan ingatannya, akhir-akhir ini banyak bayangan bayangan yang dia sendiri tak paham apa maksudnya.
"Do, abang mau pulang. Abang mau di dekat mama." ucap Ammar lirih.
"Tapi, bang. Bagaimana dengan..."
"Abang mau kita pulang. Banyak hal yang perlu kita hadapi daripada bertahan di sini"
Kalau sudah Ammar keputusan seperti itu dia hanya bisa menuruti. Percuma juga kalau mereka tetap bertahan di sana. Nggak ada hasilnya."
Di masa sekarang
Ammar memperhatikan dengan seksama setiap benda yang ada di kamarnya. Siapa tahu ada yang membantu membangkitkan ingatannya. Tak ada photo yang berjejer di dinding kamarnya. Hanya ada photo wisudanya bersama mama dan papanya. Yang Ammar ingat, saat dia selesai papanya masih ada. Sekitar lima tahun dia bekerja di Lampung. Saat itu memantapkan hatinya pada Fera.
Tapi sayangnya, temannya itu menolak dirinya. Alasannya simpel, persahabatan mereka lebih berharga dari apapun. Alasannya juga dia sudah terlanjur sayang pada Ammar seperti saudara sendiri.
Ammar membuka lemari, masih mencari tahu apa yang bisa dia asah untuk ingatannya.
"Boneka angry bird? sejak kapan aku koleksi boneka? emangnya aku perempuan?" Ammar tertawa melihat ada boneka di dalam lemari tengahnya.
"Enak saja, enggaklah!"
"Tapi itu yang buat aku makin cinta sama kamu" wajahnya tersenyum pada wanita di hadapan.
Boneka angry bird langsung terhempas dari pangkuan Ammar. Kedua tangannya memegang kepala yang terasa sakit. Bayangan bayangan itu berputar. Membuat dia terus memegang kepalanya.
"Do,...." pekik Ammar.
"Ando...." Ammar mengulangi panggilannya.
"Ya Allah, bang." Ando langsung memindahkan kakaknya ke atas ranjang.
Beberapa jam kemudian Ammar sudah lumayan tenang. Meskipun dia tidak bisa tidur. Paling tidak rasa sakit di kepalanya berkurang.
"Do, ini ada perawat mama kamu datang." panggil makwo Rubiah.
__ADS_1
Ando pun menemui perawat mamanya. Lelaki itu menyapa ramah karena memang belum pernah bertemu. Beda dengan Danu yang tahu kalau Ando adalah adik Ammar.
"Danu, jika kamu tidak keberatan. Saya minta mulai sekarang kamu merawat keponakan saya. Dia sama dengan Diana kasusnya. Saya akan bayar kamu lima kali lipat."
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa double pekerjaan. Saya sudah punya istri. Saya juga mau meluangkan waktu untuk keluarga kecil saya. Maaf, Bu."
"Saya akan bicara sama kepala rumah sakit, kamu masih honorer kan disana. Kamu juga sedang memperjuangkan agar menjadi pegawai tetap di rumah sakit, kan. Jangan sampai reputasi kerja anda rusak karena hal itu." Ando mendengar ucapan Makwo Rubiah seperti nada mengancam. Tentu dengan kuasa uang yang di miliki Makwo Rubiah.
Ando mengantarkan Danu ke kamar kakaknya,
Danu kaget melihat siapa yang akan dia rawat.
Danu mendekati pasiennya dan mencoba bertanya.
"apakah kamu ingat padaku?" Tanya danu
"Kamu siapa?" Jawab Ammar itu.
"Aku ... Aku ..." Danu tidak bisa melanjutkan kata
"Aku adalah perawatmu sekarang" Danu melanjutkan bicaranya.
"Ya Allah, aku minta maaf. Aku sudah janji sama Mila untuk lebih banyak waktu buat dia. Maafkan aku, Mila."
...****...
Sejak Vika sakit banyak yang sudah terkorbankan. Salah satunya harta milik mendiang suaminya mama Ida. Rumahnya yang besar peninggalan suaminya pun sudah di jual.
Mama Ida membawa Vika berobat ke Jakarta sudah satu bulan ini. Dari semua asisten rumah tangga bekerja dengannya hanya Yuni yang dia bawa ke Jakarta. Sama dengan nasib Diana, Ida pun sudah mulai sakit-sakitan.
Yuni yang sudah bekerja di keluarga Ida sejak Vika masih kecil. Perempuan asal Linggau itu berjalan memasuki sebuah kamar di tempat paling sudut. Membawa makanan untuk si empunya kamar.
Tampak seorang perempuan duduk di kursi dekat jendela. Duduk sambil bernyanyi kecil. Dari pengamatan Yuni, anak majikannya sudah lebih baik dari sebelumnya. mbak Yuni pun mengambil kursi untuk menyuapi perempuan muda tersebut.
"Non, makan, ya?"
"Enggak mau! aku mau Ammar, dia janji nikahi aku."
"Non makan dulu, kalau makannya lahap mas Ammar bakal datang ke sini."
__ADS_1
Akhirnya Mbak Yuni berhasil membujuk Vika untuk makan.
"Aduh, non Vika pintar. Makannya habis." Mbak Yuni bertepuk tangan sebagai apresiasi untuk Vika.