
Sehabis pulang dari kerja, Danu mendatangi kediaman Ammar. Bukan untuk bertemu dengan adik sepupunya melainkan mengunjungi sang ibu. Beberapa hari yang lalu Ando mengatakan kalau ibu Diana akan kembali ke rumah mereka. Sudah pasti ibu Rubiah tidak bisa bertahan lebih lama di sana. Bu Rubiah mau pulang ke Padang. Akan tetapi ada satu keinginan ibunya.
Danu memarkirkan motornya di halaman kecil rumah ibu Diana. Setelah menyimpan helm di dalam jok motor Danu pun mengucapkan salam pada si empunya rumah.
"Anak ibu kesini, ibu kangen sama kamu, Nak? sudah sejak kamu antar Ammar pulang tidak pernah datang kesini lagi,"
"Danu sudah aktif kerja, kadang pulang sudah sore. Kasihan Mila sedang hamil pas pulang menyiapkan semua keperluan aku. Makanya aku baru sempat datang sekarang, Bu. Kok sepi rumahnya? Ammar dan Ando mana?"
"Mereka lagi di resto. Ibu merasa kurang enak badan jadi mereka yang gantikan ibu. Ammar juga sedang terapi kakinya di rumah sakit ummi. Di tunggu sama Aris salah satu mantan staf counternya,"
"Bagaimana kondisi ibu saat ini? aku dengar ibu mau pulang ke Padang,"
"Sedikit mendingan, Nak. Apalagi kalau kamu datang, ibu merasa dapat obat.
Ibu mau pulang ke Padang, pulang membawa kamu sekalian berobat disana. Hanya kamu yang ibu punya, Nak. ibu pulang kesini cuma buat cari kamu,"
"Aku harus bicarakan sama Mila dulu, Bu. pasalnya itu rumah peninggalan neneknya Mila. Sarah dan suaminya ada rumah, terus Lala tidak bisa di tinggalkan. Memang sekarang ada ayah Rohim, tapi tetap saja Lala harus ada perempuan dewasa yang menuntunnya,"
__ADS_1
"Kesannya kamu yang harus menurut sama dia, Nak. istri itu kiblatnya suami, bukan suami yang menurut sama istri, ibu saja harus meninggalkan Padang demi ikut ayah kamu. Ibu harus meninggalkan nenek kamu yang mengurusi kakekmu.
Kamu terlalu lembek sama Mila,Nak. Nggak ada wibawanya. Maaf, bukan ibu mau ikut campur. Tapi bagaimanapun kamu kepala rumah tangga,"
"Bu, Mila tidak pernah minta macam-macam sama aku. Mungkin kalau aku ajak pindah pun dia mau nurut. Hanya saja aku yang melihat situasi keluarga Mila yang tidak memungkinkan untuk ditinggal. Adik-adiknya Mila masih membutuhkan seseorang dewasa diantara mereka. Sementaranya aku sekarang masih menjadi pengurus utama panti selain Bu Nurmala. Itu juga yang menjadi alasan aku belum bisa membawa Mila ke luar kota. Kecuali kalau ibu mau ikut kami tinggal disini,"
"Usaha ibu sudah lama ditinggalkan selama disini. Memang ada asisten yang mengurusi semuanya. Tapi tetap saja semua harus di pantau, Nak. Ibu punya nazar mewariskan semua yang ibu punya pada kamu. Ibu buka usaha agar suatu saat ibu bisa menemukan kamu. Bertahun-tahun ibu mencari kamu, tapi tidak ada kabarnya. Dan sekarang ibu sudah bertemu sama kamu, ibu ingin kamu ikut,"
"Iya, nanti aku bicarakan sama Mila," kata Danu.
"Lalu kalau ibu pulang ke Padang. Bagaimana dengan rumah ini, bukan Ammar harus ada yang mengawasi, kasihan Ando harus mengurus kakaknya sekaligus ibunya yang sakit. Danu tidak bisa ikut membantu Ando, sudah di wanti sama Wisnu,"
"Orangtuanya Wisnu yang mengadopsi Danu waktu remaja. Mereka menunjang pendidikan aku hingga tamat kuliah perawat. Kenapa aku ambil perawat? karena saat SMA ibu angkatku sakit, aku juga sering sakit, maka aku ingin mempelajari bagaimana mengurus orang sakit. Itu sebagai baktiku pada mereka. Aku di sekolahkan setara dengan Wisnu anaknya. Sekolah yang bagus,"
"Alhamdulillah, Nak kamu dapat orang tua yang sayang sama anak angkatnya. Di luar sana banyak ibu dengar cerita tentang anak yang di adopsi tetapi diperlakukan kayak pembantu. Miris sekali. Seorang anak yatim-piatu berharap memiliki orang tua yang utuh, namun ternyata siksaan yang dia dapat,"
"Ada sih, Bu. Teman seangkatan aku meninggal karena di kurung dalam kamar mandi. Itu pas aku masih kelas lima SD. Semua anak yang ada di panti sempat trauma saat beberapa orang tua baru mau adopsi anak. Maka saat aku tamat SMA satu persatu anak seangkatanku besar di panti serta sudah pada punya pekerjaan tetap. Waktu aku ada yang adopsi mereka sempat protes karena takut nasib ku sama dengan teman kami dulu. Alhamdulillah apa yang mereka takutkan tidak terjadi,"
__ADS_1
Danu menceritakan semua pengalaman hidupnya selama ini. Bagaimana dia sempat di olok-olok temannya saat menjadi anak panti. Bagaimana dia bertahan hidup saat penyakit ganas menggerogoti tubuhnya. Bagi Danu banyak hal yang bisa membuat survive dari kanker. Dukungan orang-orang yang sayang padanya.
Menjaga pola hidup sehat tidak mudah bagi sebagian orang, apalagi jika seseorang telah mengidap kanker. Selain karena stres juga karena stigma di masyarakat bahwa kanker adalah penyakit yang mengerikan.
Baginya, Leukimia bukanlah penyakit yang mengerikan, karena ia berprinsip semua orang pasti meninggal, baik yang menderita kanker ataupun tidak. Artinya, semua orang itu sama, persoalan hidup atau mati itu urusan Tuhan.
Mengatur pola makan dengan baik, rajin menggerakkan badan walaupun dengan aktivitas sederhana di rumah seperti beres-beres dan memasak. Ia mengaku teknologi yang berkembang saat ini secara tidak langsung membuat orang menjadi malas bergerak. Artinya bagaimana kita menganggapi penyakit tersebut.
"Bu, aku pamit ya, sudah mau magrib. Mila pasti menunggu aku di rumah. Biasanya jam segini dia sudah berkutat di dapur. Mila itu anaknya kuat, Bu. Walaupun morning sickness melanda dia tetap mengerjakan tugas seperti istri seharusnya. Bahkan saat aku kambuh dia sigap sekali. Ibu coba sesekali main ke rumah buat mengenal Mila dari dekat,"
Danu tahu kalau ibunya kurang setuju dengan Mila. Tapi dia tidak menyerah, semampunya Danu akan mendekatkan Mila dan ibunya. Agar tidak ada perang permusuhan diantara mereka. Kalau Mila pasti welcome sama ibu Rubiah. Tapi beda dengan Rubiah. Dia masih enggan main ke rumah Mila.
"Aku tahu ibu masih jaga jarak sama Mila. Padahal Mila sering nanya kenapa ibu nggak pernah main ke tempatnya. Memang harusnya Mila yang kesini, tapi ibu tahu kan Mila masih trauma sejak tahu ammar masih hidup,"
"Itu alasan dia saja, Danu. Bilang saja dia belum move on dari Ammar. Kalau memang itu menjadi alasannya fix Mila masih ada rasa dengan Ammar. Kamu tahu tidak kisah Ammar dan Mila, bagaimana Ammar kabur dari pernikahan dengan Vika, dan dengan santainya dia datang ke pesta pernikahan Vika,"
"Aku tahu, Bu. Bahkan sebelum Mila dan Ammar putus aku sudah mengenal mereka. Ammar yang masih menjalin hubungan dengan Mila, malah bertunangan dengan Vika padahal mereka belum putus. Ibu Diana juga pernah memaki-maki Mila karena merasa tidak selevel dengan Mila.
__ADS_1
Lalu apakah ibu akan meneruskan sikap ibu Diana kepada Mila? bukannya ibu pernah cerita sama aku bagaimana ibu Diana memperlakukan kita, dulu. Aku pikir ibu bisa belajar dari pengalaman,"