
"Assalamualaikum," suara sapaan salam terdengar di depan pintu kediaman Diana.
Suasana di dalam kediaman tersebut terasa hening. Tampak seorang pemuda sedang memakai sarung tangan. Lelaki itu meninggalkan sang mama yang sudah tiga hari tidak bisa bangun dari pembaringan.
"Ma, Ando buka pintu dulu, ya. Mama sudah segar, sudah mandi. Sepertinya ada tamu." pamit Ando pada mamanya.
Diana hanya mengangguk kecil. Semalam dia di vonis struk setengah badan. Bibirnya sedikit miring membuatnya susah bicara. Ando mengurusi mamanya dengan telaten.
Sudah satu minggu Ammar belum ada kabar beritanya. Ando sudah bolak-balik ke kantor polisi meminta laporan kehilangan kakaknya. Tapi dia merasa pihak kepolisian hanya mengulurkan waktu.
"Kau bolak-balik kalau tidak bawa apa-apa ya percuma, Do." kata Erlan teman satu kerjanya.
"Maksudnya bagaimana?" Ando masih belum paham.
"Polisi itu mau ada timbal baliknya, Do. Kamu nggak ada kasih tips sama mereka. Sekarang mana ada polisi yang nggak butuh duit. Kamu lihat mereka yang sibuk tilang motor atau kendaraan. Kalau mereka cuma minta bayaran tanpa sidang, itu artinya mereka butuh duit bukan untuk sekedar menertibkan lalu lintas."
"Enggak semua polisi seperti itu, Lan. Ada juga yang baik. Tapi saat ini apesnya kita menemukan yang seperti itu. Kalau pakai sogok menyogok aku malas. Lebih baik aku fokus sebar info tentang keberadaan bang Ammar." kata Ando.
Ando teringat pada obrolannya bersama Erlan, teman kerja satu dealernya. Erlan menganggap kalau Ando tidak memberikan upah untuk proses penyelidikan. Menurut Ando seharusnya tidak boleh seperti itu. Dimana mereka harus memberikan contoh yang baik di mata masyarakat.
Tindakan polisi yang meminta uang untuk menghilangkan barang bukti serta menghentikan proses pidana dapat dilaporkan atas dasar dugaan manipulasi atau rekayasa perkara.
Pelaporan atas hilangnya Ammar seharusnya sudah ada dalam daftar catatan kecelakaan di daerah tersebut. Tapi Ando malah mendapatkan mereka terkesan malas mengusut keberadaan abangnya.
Proses pencarian merupakan salah satu bagian dari upaya paksa pada tahap penyelidikan yang menjadi wewenang penyelidik atas dasar perintah dari penyidik.
Pencarian dilakukan untuk mencapai tujuan penyelidikan yakni agar dapat ditentukan apakah suatu peristiwa yang diduga sebagai sebagai kasus lakalantas.
"Assalamualaikum," sapa dua pria berseragam coklat.
"Waalaikumsalam, ada yang bisa saya bantu, pak?" sapa Ando.
"Apa benar ini rumah saudara Ammar?" tanya salah satu pria berseragam coklat bername tag "Subchan".
Ando membulatkan matanya, kalau polisi datang ke rumah berarti sudah ada titik terang keberadaan abangnya.
"Apakah abang saya sudah di temukan?"
"Saudara Ammar sudah satu minggu berada di rumah sakit M. Yunus. Kebetulan saat dia dirawat ada yang mengenali korban. Saudara Ammar mengalami kecelakaan motor akibat rem blong." lapor pak polisi.
"Ya Allah, terimakasih, pak." Ando menyalami petugas kepolisian.
__ADS_1
Ando mengabari kabar bahagia itu kepada mamanya dan Makwo Rubiah. Dua wanita satu generasi sedang berada di kamar mama Diana. Makwo Rubiah sedang menyuapi adik iparnya pun bertanya kenapa Ando tampak heboh.
"Ada apa, Do?"
"Makwo, di depan ada polisi katanya bang Ammar sudah ketemu."
"Alhamdulillah, sekarang Ammar dimana?"
"Di Rumah sakit M.Yunus. Ando kesana dulu bareng petugas kepolisian. Makwo di rumah saja temani mama." Ando menyalami dua wanita secara bergantian.
"Aaaaaa.." ucap Diana.
"Iya, Diana. Ammar sudah ditemukan. Biar Ando yang mengecek ke rumah sakit. Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya keponakanku sudah di temukan semoga dia bisa pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Tanpa kurang suatu apapun."
Rohim sudah berada di ruang rawat pria yang dia temukan. Membaca beberapa berita terupdate dari belahan dunia. Wajah lelaki yang berada di sampingnya masih di tutup dengan perban. Karena luka bakar yang sangat serius. Kakinya masih di gips. Rohim tidak berani memutuskan tentang operasi luka bakar di kaki lelaki itu. Dia bukan keluarganya. Terlalu lancang jika mengiyakan permintaan dokter.
"Pak Rohim, keluarga dari pasien sudah datang." kata salah satu petugas kepolisian yang berjaga di depan pintu kamar.
"Oh, ya, Pak. Alhamdulillah kalau begitu." Rohim kembali melabuhkan bokongnya di kursi rumah sakit. Tangannya kembali menari-nari di atas layar pipih membalas pesan dari putri sulungnya.
"Ayah masih lama pulangnya, ini ada bude Lia mau ngomong sama ayah katanya penting."
"Ayah sebentar lagi pulang, Mila. Kalau bude Lia nggak mau menunggu jangan di tahan. Biarkan saja dia pulang."
"Tadi katanya kalau keluarga lelaki ini sudah mau bertemu. Tapi dia sampai sekarang belum sadar. Ayah kasihan lihat anak ini. Kalau lihat dari wajahnya kayak pemain sinetron Manusia Harimau yang sering ayah nonton kalau sedang di tempat kerja."
"Hahahaha... Ayahku ternyata penyuka sinetron juga."
"Kadang-kadang, nak. Sepertinya keluarganya sudah datang. Ayah tutup dulu."
Rohim menutup komunikasinya dengan Mila. Dia sedikit heran kenapa Dahlia ingin bertemu. Apa wanita itu mau kembali ke Lampung. Kenapa harus mencari dirinya.
***
Hari ini sidang mengenai pernikahan Sarah dan Anjas. Bude Lia dan Fera sudah beberapa hari tinggal di rumah Mila ikut membantu mengembangkan ide untuk konsep acara. Fera yang pernah kerja di Wedding Organizer mengerahkan kemampuannya untuk membantu.
"Sar, kamu mau konsep apa?"tanya Fera
"Apa ya mbak? Kayaknya out door keren."
"Janganlah out door. Bengkulu kan panas, ya kali orang pada betah acara luar ruangan." Protes Eva.
__ADS_1
"Kak Mila ada ide nggak?" Yang ditanya hanya diam saja.
"Kaaak!Halooooowww!" Sarah mengagetkan Mila
"Ehhmmm ... beda ya yang tadi abis ngedate" goda Sarah
Mila beranjak dari kamar Sarah. Mila sholat istikharah agar meminta petunjuk soal jodohnya, apalagi usianya sudah masuk 30-an.
"Kak Mila," panggil Fera setelah menunggunya sehabis sholat.
"Iya,Mbak" Mila membereskan alat sholat
Fera duduk di sebelah Mila di kamar Mila. Rumah yang berbahan semen itu. Tampak cahaya menyelip pada jendela yang berbentuk sisir. Mila melipat alat shalatnya. Suara ibu-ibu di belakang membantu menyiapkan bahan-bahan makanan untuk pesta pernikahan Sarah dan Anjas.
"Kamu nggak papa " tanya fera memastikan
"Nggak papa mbak"
Mila menceritakan tentang lamaran Danu dan awalnya Mila menolak tapi karena dukungan orang orang sekitar, Mila mencoba untuk membuka hati untuk Danu. Sejak waktu lamaran Anjas, orangtuanya Anjas lebih menyukai Sarah daripada dirinya.
Mila susah percaya sama laki-laki. Bagi Mila kalo ada laki laki yang mendekatinya dia tidak ingin pacaran tapi langsung menikah. Dia capek yang namanya pacaran, Tiga bulan Anjas dan juga Ammar membuatnya trauma dengan yang namanya pacaran.
"Berapa lama kak Mila pacaran dengan Ammar?"
"Dua bulan lebih, Mbak?"
Fera jadi teringat waktu Ammar sempat melamarnya, tapi keluarga Ammar tidak terima karena ada intan. Fera tidak mungkin meninggalkan intan dan mengandalkan ibunya. Fera lebih memilih Ammar tetap jadi sahabatnya, daripada jadi suaminya, meskipun dia tahu intan sudah suka dengan Amar.
Fera memeluk Mila yang mulai berkaca, Fera menyarankan Mila buka hati untuk Danu. Jangan sampai hanya karena seorang Ammar, Mila Sampai lupa umur nya sudah cukup waktunya untuk menikah.
"Jangan lama lama, kalo nggak suka tolaknya secara halus. Ingat umur kamu udah kepala 3, lo" saran Fera
"Bukannya mbak Fera juga belum menikah?"
"Aku janda. Suamiku meninggal kecelakaan saat kami satu bulan menikah. Ammar tahu itu"
"Oh, maaf mbak. Kata Vika mbak belum menikah"
"Memang keluarga disini sengaja tidak kami kabari. Saya nikah siri" Fera mulai berkaca mengingat pernikahannya.
"Calon Mbak yang di Lampung itu?"
__ADS_1
" Beno? Kami sudah putus. Dia bilang kalau aku menikah nanti, Intan di titip sama Ibu saja. Aku nggak mungkin membebankan semuanya ke ibu."
Mila tak berani bertanya banyak dengan Fera. Mila bangun dan mengajak Fera keluar kamar dan berbaur dengan orang orang yang sibuk dengan pernikahan Sarah dan Anjas.