
“Ayuk sudah sadar?” sapa wanita muda itu.
Mila membuka matanya pelan-pelan. Pandangan pertamanya tertuju pada dinding putih. Di edarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dimana dia? Mereka siapa? Mila membangkitkan tubuhnya, kepalanya masih terasa berat.
“Aku dimana?” tanyanya.
“Di rumah kami, Yuk.” Jawab seorang lelaki berdiri di samping wanita muda itu.
“Kalian siapa?”
“Saya Yudha dan ini istri saya Yanti. Kami tadi melihat Ayuk seperti tak sadarkan diri di arah jalan besar. Karena tidak ada orang yang lewat, jadi kami berinisiatif bawa Ayuk pulang.”
“Maaf, kalau saya merepotkan kalian.”
“Ah, Idak apo, yuk. Kecek istri aku, Ayuk ko kakaknya Lala bukan. Kebetulan adik kami satu sekolah dengan Lala.”
(Tidak apa, kak. Kata istri saya, kakak ini saudaranya Lala bukan. Kebetulan adik kami satu sekolah dengan Lala)
“Iyo, yuk. Aku pernah nengok ayuk datang kesekolah pas rapat wali murid. Makonyo aku tahu. Soalnya kecek adik saya ibunya Lala sudah meninggal dunia)
(Iya, kak. Saya pernah lihat kakak datang ke sekolah waktu rapat wali murid. Makanya saya tahu. Kata adik saya ibunya Lala sudah meninggal dunia).
“Iyo, saya Ayuk nyo Lala. Terimakasih kalian sudah menolong saya. Saya rasa kondisi saya sudah baikan. Jadi saya harus pulang takut keluarga saya cemas.” Kata Mila.
“Iko lah malam, yuk. Besok pagi kami antar ke rumah. Malam ini Ayuk nginap di tempat kami saja. Lagian masih hujan besar, yuk.”
“Terimakasih kalian orang baik. Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Rezeki yang melimpah. Maaf ini daerah mana?” Mila belum bisa melihat keluar dimana dirinya berada.
“Ini di UNIB Belakang, yuk. Dekat kampus UNIB Tiga. Kami punya usaha di tanah patah. Kebetulan kami menemukan Ayuk tidak jauh dari tempat usaha kami.”
__ADS_1
Mila teringat dengan keluarganya. Dia pun mengambil handphone di tas nya. Tapi ternyata tas nya pun tidak ada. Apakah ada yang merampok dirinya. Dia sudah mencoba ingat, tapi tetap saja zonk.
“Maaf, apa tadi kalian melihat tas saya?”
“Saat kami menemukan Ayuk tadi. Sudah dalam keadaan tangan kosong. Tidak membawa apa-apa.” Jelas Yanti.
“Ya Allah, jangan-jangan aku kerampokan. Atau mungkin ada yang mengambil kesempatan karena aku pingsan sebelum kedatangan kalian.”
“Ayuk, tenang saja. Nanti kami suruh kerabat usut. Tentunya berdasarkan cctv jalan tempat kami menemukan Ayuk.”
“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.”
Kedua pasangan suami-istri itu meninggalkan Mila sendiri di kamar belakang. Rumah yang kecil dan sederhana. Mila bangkit dari tempat tidur lalu keluar dari kamar. Lampu ruang depan yang langsung berdekatan dengan dapur. Mila menebak ini adalah rumah bedengan dempet. Itu karena ada dinding pembatas dengan rumah lain.
Langkah kakinya kembali memasuki kamar. Mila melihat jam dinding menunjukkan sudah pukul sembilan malam. Apakah keluarganya mencemaskan dirinya? Entahlah, kalau Lala, Eva atau tulang Boro mungkin berpikiran seperti itu. Tapi kalau Sarah atau Nenek Seruni? Mila enggan bersuudzon. Akan tetapi pemikiran itu terus mengganggunya.
Tangannya menapakkan ke dinding. Seakan ingin berwudhu tapi takut ke kamar mandi sendirian. Akhirnya Mila memilih tayamum saja. Pastinya niat untuk beribadah. Sepelik apapun hidup kita di dunia. Jangan lupakan sholat. Itu yang selalu di tanamkan Aminah kepada anak-anaknya. Itu yang selalu Mila ajarkan ke adiknya baik pada Sarah dan Lala.
Dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT. Mengeluhkan kegelisahannya, karena dia yakin hanya Allah yang maha mendengar.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuasaan-Mu (untuk menyelesaikan urusanku) dengan kodrat-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.
Ya Allah, hanya engkau yang maha mengetahui jika urusan ini baik buatku, dalam ridhomu, maka mudahkanlah semua urusan ini.
Jika memang engkau tidak meridhoi hal ini, untuk kehidupanku, maka jauhkanlah semua ini dariku. Berilah satu titik terang untuk jalan keluar urusan ini. Aku ikhlas jika hal memang di gariskan untukku.
Sebagai umat muslim yang taat, sudah sepatutnya kita berharap ridho kepada Allah SWT, satu di antaranya dengan beribadah.
Menangislah kepada yang Maha kuasa di malam hari yang paling gelap di saat orang lain sedang tertidur nyenyak. Lihatlah rahmat-Nya menyentuhmu dengan menakjubkan.
__ADS_1
****
Waktu terus berputar. Mila membuka matanya ketika mendengar azan subuh. Saat Mila hendak ke kamar mandi dia melihat sepasang suami istri tersebut mempersiapkan dagangannya dengan gerobak besi. Ternyata mereka buka warung kecil yang menyerupai gerobak. Tersedia juga air panas dalam termos stainless untuk kopi.
"Kalian sudah lama jualan?" tanya Mila.
"Baru, yuk. Suami aku kemarin kerja di pabrik Karet Kembang Seri, tapi kena pengurangan pegawai karena efek pandemi. Dulu waktu awal pandemi kami buka di sekitar kampus. Terus sekarang ada berkurang peminatnya. Jadi kami sempat berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya." cerita Yanti
"Ayuk nak ngopi apo teh?" tawar Yanti.
"Nggak usah, Ti. biar aku buat sendiri? oh ya sehabis ini kalian langsung jualan atau bagaimana?" tanya Mila.
"Kami langsung jualan, yuk. Dak apa-apa kan kalo Ayuk nak tunggu di rumah."
"Saya mau pulang. Kasihan keluarga saya menunggu."
Yanti langsung menoleh kearah Yuda.
"Bang, antar ayuk Mila ke rumahnya dulu. Nanti saja buka lapaknya."
"Oke."
Mila kembali masuk ke dalam rumah. Dia baru ingat kalau belum sholat subuh. Setelah meminta Yuda menunggu sholat terlebih dahulu. Mila sebenarnya penasaran kenapa pasangan itu belum ada sholat sama sekali. Namun di tepisnya prasangka itu. Lebih baik fokus dengan urusan sendiri.
Setelah selesai sholat Mila pun bersiap-siap untuk pulang. Dia hanya bisa bawa badan, karena tas nya hilang. Padahal di dompetnya ada uang bayaran bantu posyandu kemarin. Untungnya catatan hasil kerjanya dia langsung serahkan ke Danu.
Mila akhirnya sampai di depan rumahnya. Tampak rumah kecil itu terlihat lenggang. Sepi seperti tak berpenghuni. Mila mengetuk pintu rumahnya. Lama tidak ada respon.
Ceklek!
__ADS_1
Decitan suara pintu terbuka dan suara langkah membuat Mila penasaran. Tampak sosok lelaki paruh baya berdiri di depan pintu membuat Mila terdiam sejenak. Sosok yang bertahun-tahun meninggalkan dirinya dan ibunya. Kini berdiri di depan mata.
Ayah!