Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 44


__ADS_3

Rohim mendapat tugas untuk mengangkut barang bekas resepsi pernikahan di rumah seorang mantan pejabat. Kabar yang dia dengar kalau acaranya gagal karena pihak pengantin pria tidak datang. Setelah mendengar ceritanya Rohim rada kesal.


"Kalo itu yang terjadi sama anakku, tak bunuh itu laki laki itu!" ucap Rohim merasa geram.


"Emang bang Rohim punya anak?" tanya Edo kondektur truk yang di bawa Rohim


"Ada, cewek semua, 3 malah" ucap Rohim sambil fokus pada setirannya.


"Wah boleh tuh" Edo langsung sumringah.


"Apaan?"


"Daftar jadi mantu, di terima nggak bang?"


"Ogah!"


"Cepat ntar keburu hujan"


"Oce bang"


"Keren ya bang,bisa jalan ke keliling pantai."


"Lah emang kamu belum pernah ke pantai panjang?"


"Belum,bang"


Edo sudah 2 bulan kerja bareng Rohim, semenjak Rohim menemui nenek Seruni, Rohim belum pulang lagi ke Lampung. Bagi Rohim sekarang saatnya dekat dengan ketiga putrinya.


"Bang, itu apaan ya" Edo menunjuk kepulan asap di tak jauh dari sawangan area jalan Ciliwung.


"Mana?" Rohim mencari arah yang di tunjuk Edo.


"Itu!" Edo menunjuk sampai bibirnya maju 3 cm.


"Yuk turun, siapa tau kita bisa bantu" ajak Rohim.


"Jangan,bang. Takut ini dah mau Magrib" Edo menahan tangan Rohim agar tidak turun.


"Penakut"


Rohim tetap turun dari mobil untuk melihat ada apa di sana. Rohim memanggil Edo untuk ikut turun, dengan rasa takut Edo turun. Ada sebuah motor yang sudah hangus terbakar. Edo langsung bersembunyi di belakang Rohim.


"Bang kata orang disini angker, pernah ada mati sampai sekarang belum di temukan"


Rohim menertawakan ketakutan Edo, karena menurutnya itu cuma cara masyarakat Supaya tidak main ke tempat sepi. Edo yang di ledek kesal tapi tidak mau jauh jauh dari Rohim.

__ADS_1


Parah! Itu yang Rohim lihat kondisi motor tersebut, tapi tidak terlihat ada korban.


"Bang, ada yang terhimpit pohon"


"Astaghfirullah! kayaknya dia kebakar juga."


"Do, telpon polisi. Biar aku telpon ambulance!"


"kok polisi, bang?"


"Udah cepetan telpon" gertak Rohim dengan nada tinggi


Edo menelpon polisi, memberitahukan ada kecelakaan di sekitar jembatan Kualo. Tak lama ambulance datang, para warga yang tak jauh dari tempat kejadian pun berdatangan. Sebagian para warga membantu mengangkat pohon kecil yang menghantam tubuh korban.


Rohim pun dimintai keterangan, ada beberapa wartawan yang ikut meliput di tempat kejadian.


"Wah,bang.banyak wartawan"


"diem aja, jangan ikut narsis"


"Ah abang. Nggak seru"


"Tidak ada tanda pengenal,pak" kata salah seorang anggota polisi.


Rohim punĀ  diminta ikut polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Sebelumnya Rohim menelpon bos nya terkait kejadian yang dia temui.


Kabar gagalnya pernikahan Vika dan amar tersebar luas, dari pihak keluarga Amar dan keluarga Vika membicarakan masalah ini, terkait psikologis Vika yang seharian mengurung diri di kamar.


Bude Lia yang mengetahui hal itu, ingin sekali bicara sama Vika, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Bude Lia menemui Ida membicarakan perihal Vika


"Ini salah mbak, ngapain bawa Mila kesini?"


"Loh, kok salah saya?Nggak ada urusannya sama mila"


"Ada mbak, Mila itu mantannya amar"


"Mantan? kan sudah mantan."


"Siapa yang bilang, pasti Mila kan?"


"Udah mbak! Mbak pulang saja ke Lampung"


Bude Lia kesal, secara nggak langsung dirinya sudah di usir Ida. Bude Lia meminta Fera membereskan barang barang karena mereka akan mengungsi di rumah Mila.


Fera mengingatkan kalo sekarang sudah malam pamali datang ke rumah orang. Bude Lia akhirnya mengalah, dia kesal ida menyalahkan dirinya karena membawa Mila ke pesta nikahan Vika.

__ADS_1


"Udahlah, Ma. Jangan diambil hati, Tante Ida kan lagi banyak pikiran. Harusnya ibu yang ngerti"


Fera juga heran kenapa amar tidak datang, terjadi sesuatu kah pada pria itu, semoga saja tidak terjadi apa-apa.


Fera masuk ke kamar Vika mengecek keadaan adik sepupunya. Pintu tidak di kunci, lampu kamar terlihat gelap. Fera terus memanggil nama Vika. Terdengar suara tangisan di kamar mandi. Fera langsung memasuki kamar mandi.


"Ya Allah, Vika." Pekik Fera mendapati adik sepupunya yang kacau di kamar mandi. Masih menggunakan gaun pengantin. Vika terus menangis.


"Kenapa semua orang jahat sama aku! Kenapa Ammar tega melakukan ini sama aku! Kalau dia dari awal tidak mau menikah jangan kasih aku harapan. Kak Fera jahat mengundang Mila kesini, Mila pasti sudah menertawakan aku sekarang. Itu kan yang kalian inginkan! " Setelah meluapkan perasaannya, Vika langsung tak sadarkan diri.


"Tante Ida!" pekik Fera.


Orang yang berada di ruang depan berlari ke kamar Vika. Melihat Vika yang kacau memakai baju pengantin, mama Ida menangis. Dia tidak menyangka kalau endingnya seperti ini. Di peluknya Vika yang sudah basah kuyup.


"Maaar... Ammar...." Igau Vika.


"Dasar laki-laki tidak tahu di untung! di kasih hati minta jantung!" mama Ida memandang nanar kearah bude Lia. Tatapan tajam seperti akan menerkam.


"Semua ini karena kak Lia! kalau kak Lia tidak nekat mengundang Mila tidak akan jadi begini! Maksud kak Lia apa! Ngapain kak Lia dekat dengan keluarga itu!"


"Karena Mila itu Alia! kamu ingat anakku yang dulu pernah tinggal sama aku! itu Mila! wajar aku dekat dengan keluargaku sendiri!"


"Kalau begitu kalian pulang saja kesana! ke tempat yang kalian bilang keluarga. Karena itu bukan keluargaku. Keponakan aku cuma Fera buka Mila."


Bude Lia mengajak Fera untuk ikut pulang ke rumah Mila.


"Kak Lia saja yang pergi! jangan bawa ponakan dan Intan, cucuku."


****


Mila duduk di teras rumahnya. Merenungkan yang terjadi seharian ini. Andai beribu andai bisa dia putar kembali. Dia tidak mau datang ke acara itu. Dia tidak


menyangka ammar bisa senekat itu. Meninggalkan acara pernikahannya. Mila menarik nafas dalam-dalam.


"Maaf,"Suara bariton itu sudah terdengar di sampingnya.


"Maaf untuk apa, Danu? semua sudah kejadian. Kalau saja aku menolak undangan bude Lia pasti tidak akan begini jadinya. kalau saja ...." Mila tidak bisa melanjutkan kata-katanya. saat ini hatinya masih terasa sesak.


Sebuah tangan menggenggam erat. Seakan meyakinkan gadis itu kalau dia tidak sendiri. Pemilik mata coklat itu menoleh kearah sosok di sampingnya.


"Setiap manusia pasti akan melewati masa seperti ini, Mila. Masa dimana keterpurukan hadir, masa dimana ada hal yang membuat kita bisa tersenyum lagi. Tuhan tidak akan menguji hambanya di luar kemampuan. Tuhan ingin umatnya selalu ingat padanya baik sedih maupun senang.


Kamu sedih karena merasa bersalah soal gagalnya pernikahan Ammar. Padahal itu bukan salah kamu. Salah Ammar yang tidak konsisten dalam bersikap.


Ada aku disini, ada ayah dan kedua adikmu, ada Eva dan pamannya. Kamu tidak sendirian Mila."

__ADS_1


Setiap manusia memang diciptakan berbeda-beda dan Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan. Karena itu, semua itu kembali lagi kepada diri kita, bagaimana kita bisa menyikapi semua ujian itu dan mengambil segala hikmah yang ada.Dalam kehidupan, manusia tidak akan pernah luput dari ujian. Terkadang, adanya ujian tersebut membuat manusia merasa berat dan mengeluh dari ujian yang menghampirinya.


__ADS_2