Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 111


__ADS_3

Sore hari rumah Mila tampak lengang. Sepi tak ada orang. Hanya dia sendiri, sementara suaminya belum pulang dari kerja. Lala menginap di kontrakan ibu Dahlia, katanya mau main sama Intan. Mila melihat Lala sangat sayang sama intan. Mungkin karena dia bungsu.


Mila menelpon Sarah, tentu dia ingin tahu kabar adiknya. Sudah hampa dua minggu Sarah tidak memberi kabar. Biasanya Sarah main ke rumah sehabis pulang dari kampus. Tapi sejak di jemput Anjas, adiknya sudah tidak pernah memberi kabar.


"Mungkin Sarah sudah bisa beradaptasi dengan mertuanya. Sejak beberapa hari Sarah tidak bisa di hubungi entah kenapa kepikiran dia? jarang-jarang aku punya firasat seperti ini. Ya Allah lindungilah adik-adikku di mana pun berada.


Lindungi Lala dalam setiap aktivitasnya, lindungilah Sarah dari permasalahan rumah tangganya. Walaupun aku tahu Anjas tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi entah kenapa aku merasa gelisah terus," kata Mila.


"Kak," suara Lala terdengar dari ruang depan. Mila yang tadi di dapur pun beranjak ke ruang depan. Tampak Lala selonjoran di depan televisi.


"Kok, pulang. Katanya mau nginap?"


"Tadi di rumah mereka ada kak Vika. Lihat dia aku jadi malas disana, kak. Kita tidak lupa bagaimana sikap kak Vika, dia jahat sama kak Mila. Dia sering menghina kakak, dan aku nggak terima dia muncul lagi buat nyakitin kakak," suara Lala sedikit terisak.


"La, kak Mila tahu apa yang kamu rasakan. Tapi tidak baik terlalu membenci seseorang hanya karena yang dulu. Lagian kakak kan nggak sama Ammar. Kakak punya mas Danu, yang sekarang jadi suamiku. Vika tidak perlu takut dan dia bisa berjuang lagi sama Ammar," kata Mila.


"Tapi kak Ammar masih suka sama kak Mila,"


"Suka atau tidak, dia harus terima kalau kakak sudah punya mas Danu. Kakak sudah istri orang, jadi dia nggak bisa misahin kakak dari suami kakak," Mila masih memberikan pengertian pada adik bungsunya.


"Satu kakak pesankan, jangan tanamkan dendam dalam diri kita. Dendam itu adalah penyakit yang bisa berakar ke penyakit lainnya,"


Lala sedikit tertawa "Kayak virus saja,"


"Iya, dendam bisa menjadi Virus, dari benci, iri dengki, dan penyakit hati lainnya. Bahkan dendam itu bisa menjadi penyakit lebih berbahaya. Salah satu jadi pembunuh. Kamu ingat pesan ibu dulu,"

__ADS_1


"Ingat, tidak masalah kalau banyak orang yang membenci kita. ada satu yang sayang sama kita, yaitu Allah," kata Lala.


"Adek kakak pintar," Mila memeluk sang adik.


"La, kakak boleh tanya sesuatu, sebenarnya sudah lama kakak mau membahas ini. Tapi kamu selalu bilang tidak ada masalah apa-apa,"


"Kalau kak Mila mau nanya soal kak Sarah lagi, menurut Lala tidak usah di ungkit lagi. Lala lihat kak Sarah sudah mencoba membenahi diri. Jangan karena yang sudah berlalu bisa menghancurkan proses kak Sarah untuk menjadi lebih baik.


Kak Mila lihat selama dia pulang sama kita, kak Sarah banyak diam, bangun lebih pagi, walaupun dia masak masih nggak enak. Itu juga termasuk proses kan kak?"


"Iya, kakak tahu. Cuma yang bikin kakak penasaran, apakah yang membuat Anjas sampai hampir dua Minggu tidak mendatangi istrinya. Bahkan mas Danu dapat info saat menjemput Sarah di tempat banjir, Sarah melewati sendirian. Mana mereka masih bungkam lagi, sebagai saudara wajar kalau kakak ingin tahu bagaimana kronologi sebenarnya?"


"Sudahlah kak, tidak usah di perpanjang lagi. Itu urusan mereka. Kecuali kalau mereka mencelakai kak Sarah baru kita turun tangan. Aku mau sholat ashar, dulu. Kakak sudah sholat?"


"Terakhir pas ada ibu, kak. Waktu Lala masih kelas dua SD. Saat ibu pertama kali pulang dari Hongkong. Nenek pernah bilang ibu berangkat lagi setelah sempat janji tidak mau pulang ke Hongkong. Waktu Lala umur tiga tahun. Sebelum ada ibu kan Lala cuma sering sholat sendiri saja. Tapi sejak ibu pulang kita jadi sering Sholat berjamaah kan kak," Mila mengangguk kecil.


"Sekarang kita sholat dan mendoakan ibu agar mendapat tempat terbaik di sisinya,"


"Kak Mila kita doakan nenek Seruni juga, ya. Seburuk apapun sifat nenek, kita tetap mendoakan hal yang baik padanya. Semoga nenek di jauhkan dari siksaan api neraka,"


"Iya, La. Kita juga akan doakan nenek seruni," kata Mila.


Setelah mereka sholat, Mila mendengar ceramah mushola yang menggema dari mikrofon masjid.


Dari Ummu Salamah ia berkata; Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah SAW datang ke rumah kami untuk menjenguk jenazahnya. Saat itu, mata Abu Salamah tengah terbeliak, maka beliau pun menutupnya. Kemudian beliau bersabda, “Apabila ruh telah dicabut, maka penglihatan akan mengikutinya dan keluarganya pun meratap histeris. Dan janganlah sekali-kali mendoakan atas diri kalian kecuali kebaikan, sebab ketika itu Malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan.”

__ADS_1


Setelah itu, beliau berdoa, “allahummaghfir liabi salamah warfa’darajatahu fil mahdiyyin ‘alamiin, wafsah lahu fii qabrihi wa nawwir lahu fiihi”.


(Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan petunjuk-Mu dan gantilah ia bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Ampunilah kami dan ampunilah dia. Wahai Rabb semesta alam. Lapangkanlah kuburnya dan terangilah dia di dalam kuburnya).” (HR Muslim)


Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak, dan kawan yang terpercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia berikut segala isinya. Dan sesungguhnya Allah menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka.” (HR Ad-Dailami).


Selesai sholat ashar, ada sebuah mobil berhenti di depan rumah Mila. Dua bersaudara itu bertukar pandang, masih asing dengan mobil tersebut.


"Itu siapa, kak?"


"Nggak tahu, La. Mungkin numpang parkir, kan katanya nanti malam Ratna mau hantaran," kata Mila


"Owh, eh itu bukannya kak Ando, ya?" Lala meneliti apa yang dia lihat.


"Iya,ya, ada apa dia kesini?"


"Yasudah kita sambut saja dulu,"


Suara salam terdengar di depan pintu. Lala membuka pintu menyalami serta mempersilahkan tamunya masuk.


"Kak Mila saya kesini mau jemput kakak buat buka bersama di rumah kami. Ini permintaan kak Danu dan ibu Rubiah. Maaf terkesan mendadak, tapi kalau kak Mila keberatan nggak apa-apa,"


Mila sempat terdiam sejenak. Dia masih grogi kalau harus bertemu ibu mertuanya. Pertama kalinya ibu Rubiah mengajak buka bersama. Dulu, dia sempat berpikir kalau ibu Rubiah tidak suka dengan dirinya. Ternyata dugaannya salah.


"Ternyata ibu menerimaku, Alhamdulillah ya, Allah. Semoga ini langkah baik untuk hubungan aku dan mertuaku," Batin Mila.

__ADS_1


__ADS_2