Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 71


__ADS_3

Danu akhirnya pulang ke rumah setelah dari sekolah Puput dan Lala. Tubuhnya terasa lemas, memilih merebahkan diri di atas ranjang. Mila yang sedang di dapur mendengar ada orang masuk dan membuka pintu. Langkahnya langsung menuju ke arah suara.


"Mas sudah pulang?" tanya Mila.


Danu hanya mengangguk kecil. Dia menyembunyikan wajahnya di balik guling. Respon Danu hanya datar saja. Suaminya bahkan sudah langsung terbang ke dunia mimpi. Danu terlihat pucat. Mila menganggap kalau suaminya kelelahan.


Tak lama suara adzan Maghrib berkumandang. Mila membangunkan suaminya. Mengingatkan apapun dengan kondisi badan sholat jangan tinggal. Danu pun bangkit meninggalkan kamar. Karena kamar mandi mereka hanya satu.


Mila kembali ke dapur. Menyiapkan makan malam karena sedang tidak sholat dia bisa melanjutkan aktivitas lainnya. Mila membuka televisi, kebetulan sedang tayang drakor bertema Putri Duyung. Sambil menunggu suaminya selesai sholat dan makan bersama. Sementara Lala sudah makan sore tadi, karena harus minum obat.


Danu pun keluar kamar. Tubuhnya masih terasa lemas. Tapi dia paksakan karena menghargai Mila yang sudah masak.


Sambil menyiapkan piring dan memindahkan nasi serta lauk pauk untuk suaminya. Mila pun mengajak lelaki itu mengobrol sejenak.


"Bagaimana pasiennya tadi?" Tanya Mila


Danu terdiam, dia tidak mungkin cerita tentang siapa yang jadi pasiennya tadi.


"Bu Diana sepertinya progresnya lambat. Sudah dua bulan aku kerja tapi dia tidak menunjukkan perkembangan. Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu. Bisa jadi karena anaknya jauh jadi tidak semangat. Dan aku melihat saudaranya ibu Diana seperti ada sesuatu. Entah apa itu aku tidak tahu, yang."


"Jangan suudzon sama orang lain, Mas. Yang mungkin kamu lihat hanya covernya saja. Bisa jadi saudaranya itu baik dan sayang sama ibu Diana."


"Tadi anaknya pulang. Dan sudah memakai kursi roda. Kasihan jadinya, ibu Rubiah harus mengurus dua orang lumpuh dan stroke bersamaan."


"Emang anaknya Bu Diana itu laki-laki atau perempuan sih, Mas. Kalau dia perempuan juga dan masih muda mending kamu berhenti saja. Dengar kamu merawat ibu-ibu saja aku nggak tenang, apalagi kalau perempuan muda."


Danu tersenyum mendengar penuturan istrinya. Dia senang di cemburui seperti itu.


"Laki-laki" jawab Danu sambil mendaratkan satu sendok nasi plus lauknya.


"Kasihan Bu Diana ya, Mas. Seharusnya anaknya yang mengurusnya di masa tau. Tapi malah anaknya juga sakit." Danu masih terdiam.


Danu masih sibuk dengan santapannya di dapur. Mila pamit untuk melihat keadaan Lala. Namun entah kenapa dia malah masuk ke kamar. Membuka lemari. Pandangannya berfokus pada susunan kertas di bawah lipatan baju.


Penasaran akhirnya dia membuka isi kertas. Melihat catatan kesehatan yang tertulis atas nama "Danu Putra". Sebelum dia belum sempat membaca keseluruhan Danu sudah merebutnya dari tangan istrinya.


Mila curiga ada yang disembunyikan oleh suaminya, tapi rasa curiga itu di tepisnya, mungkin berkas itu bersifat rahasia, Mila merasa terlalu lancang sudah membuka catatan itu.


Lala merasa bosan seharian di kamar. Dia pun duduk di depan televisi.

__ADS_1


"Kok bangun?" Mila mendapati adiknya terlentang di depan televisi.


"Bosan kak di kamar terus. Wah, itu legend the blue sea bukan kak. Yah, malah habis." Lala senang ada drakor favoritnya tayang. Mumpung sedang sakit dan tidak ada kegiatan lain. Tadi dia sudah sholat Maghrib. Karena lemas, Lala pun hanya bertayamum.


Biasanya kalau hari biasa Lala dan juga Mila sholat Maghrib di masjid. Kadang cuma Lala yang pergi ke masjid terdekat. Sudah pasti dia tidak akan sempat menonton acara seperti yang dia lihat sekarang.


...****...


Waktu terus berlalu, dari pagi hingga malam. Sekarang sudah pagi kembali. Mila sudah berkutat di dapur mempersiapkan sarapan untuk suami dan adiknya.


"Mas, sarapan dulu," Kata Mila memanggil suaminya yang belum bangun.


"Kak, aku mau sekolah. Rasanya badanku sudah mendingan."


"Enggak, kamu masih harus istirahat. Kakak tadi sudah bilang sama guru kamu di grup WhatsApp, kalau kamu masih belum sehat."


"Tapi, kak ... aku bosan di rumah. Nggak apa-apa lah aku sekolah. Kalau agak drop kan bisa tidur di UKS."


"Pokoknya kamu istirahat di rumah saja. Sekarang kamu sarapan dan minum obat. Kak Danu bilang sebentar lagi ada dokter Wisnu yang memeriksa kamu. Nih, kakak buatin oseng tempe kesukaanmu"


"Tumben kak Danu Belum bangun," Lala langsung duduk di meja makan dan mengambil satu piring nasi.


Lala memperhatikan tanda merah besar di leher kakaknya.


"Itu leher kakak kenapa? merah gitu"


"Di gigit kumbang," jawab Mila sekenanya.


Mila dan Lala masih asyik mengobrol di meja makan. Terdengar suara salam dari depan pintu. Lala menebak itu suara kakaknya. Emang beberapa hari ini Sarah terus meminta Mila untuk masak.


"Assalamualaikum,kak Mila"


"Hmmm pasti kak Sarah nih minta lauk lagi" cibir Lala.


Mila sudah siapkan rantang berisi lauk untuk Sarah dan Anjas. Semenjak pindah rumah Sarah sering tidak sempat masak.


"Waalaikumsalam, Sarah. Ayuk masuk. Kakak tadi sudah masak, tapi maaf kakak belum sempat masak buat kamu. Jadi kamu makan disini saja. Anjas mana?"


" Belum bangun, kak. Aku duluan soalnya ada kuliah jam sembilan. Makanya aku sempatkan kesini dulu."

__ADS_1


" Eh, ada Sarah, nggak masak lagi, Sar." Danu yang sudah bersih dan siap pergi kerja.


" Iya, kak. Maklum masih repot" Sarah rada malu karena tiap kesana pasti di tanya itu lagi sama Danu.


"Hmm.... Tapi bukannya di dekat tempat usaha Anjas ada warung kecil. Yang jual cantik pula. Biasanya kalau istrinya nggak pernah masak suaminya suka jajan di rumah." kata Danu.


"Bang Anjas suka sama masakan kak Mila, kak Danu. Lahap benar kalau kak Mila yang masak. Ya, secara dulu kan mereka hampir menikah."


Danu menoleh ke arah Mila. Dia baru tahu kalau Anjas adalah mantannya Mila.


"Kak Sarah ngapain bahas kayak gitu?" kata Lala ketus pada kakak keduanya.


"Faktanya begitu. Ya kan kak Mila?" Sarah mengerlingkan ke arah Danu. Tentu saja dia mau merespon reaksi kakak iparnya. Apalagi setelah tahu kakak iparnya sering pulang malam.


"Ya kalau Anjas itu mantan Mila biarin saja. Kan Mila lebih milih aku. Aku lah pemenangnya. Sarah, jangan memancing di air keruh. Nanti kamu yang malah gigit jari." kata Danu sambil tersenyum penuh arti.


"Nah kan dia nggak cemburu, patut di curigai, kak Mila." bisik Sarah.


"Sebaiknya kamu pulang saja, Sarah. Urus rumah tangga kamu jangan usil sama orang lain." kata Mila.


Sarah cuma bisa manyun, dari dulu Danu kayaknya rada nyinyir sama dirinya. Sarah pulang sambil membawa rantang berisi lauk pauk yang di buatkan Mila untuknya.


"Ambil lauk lagi sama Mila." Anjas melihat istrinya pulang bawa rantang


" Iya, Bang,"


Sarah masuk ke dalam rumah memindahkan lauk yang di buatkan Mila tadi, ada oseng tempe ada ayam goreng ada sup buntut.


"Ini mah makanan favorit Lala semua" omel Sarah


"Yang penting di buatin, yang." Balas Anjas ketika mendengar Omelan Sarah


"Kalo Mila yang masak, pasti enak" lanjut Anjas memakan sop buntut buatan Mila.


"Oh jadi buatanku nggak enak" Sarah mempelototi suaminya.


"Enak kok, tapi lebih enak buatan Mila"


Anjas tetap cuek dan asyik dengan makanannya.

__ADS_1


Sarah kesal setiap bawa masakan Mila pasti suaminya bilang begitu.


__ADS_2