Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 51


__ADS_3

Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”


Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.


...*****...


Pernikahan merupakan momen dalam kehidupan yang sangat ditunggu-tunggu dan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan tersebut mengalir bukan hanya bagi kedua insan yang menikah, namun juga bagi keluarga dan para sahabat yang menyaksikannya.


Pernikahan adalah salah satu momentum yang paling ditunggu dalam kehidupan normal seseorang. Ketika jodoh sudah datang dan dua keluarga sudah memberi restu maka akad nikah sudah menanti dirimu. Siapapun akan berbahagia ketika belahan jiwa yang selama ini selalu dinanti kini akan segera kita sanding di pelaminan.


Seseorang yang siap menikah berarti ia juga sudah siap menghabiskan seluruh hidupnya bersama pasangan tersebut. Tidak hanya kelebihan, dalam kehidupan pernikahan mereka juga akan menemukan kekurangan dari masing-masing pasangan. Oleh karena itu, mereka harus ikhlas dan ridha menerima bahwa pasangannya bukanlah orang yang sempurna.


Setelah resepsi yang menyita waktu dan tenaga. Sarah dan Anjas memasuki kamar pengantin mereka. Tentu saja mereka akan berisitirahat. Sarah mengambil segelas air putih yang sudah di sediakan panitia pesta. Dia pun mengambil satu gelas air putih untuk suaminya.


"Sayang," tangan Anjas menggenggam erat jemari Sarah.


Sarah merasa gelagapan saat sosok Anjas sudah berjarak satu centi dengan dirinya. Sesekali menahan salivanya. Jantungnya berdetak kencang. Apakah dia akan melakukan malam pertama dengan suaminya? sekarang saja masih jam lima sore. Rasanya masih terlalu cepat untuk melakukan kewajiban seorang pengantin baru.


"Istriku," Anjas mendekati Sarah. Mereka duduk di pinggir ranjang pengantin.


"Mas, aku ..." Anjas tahu kalau Sarah masih merasa gugup.


"Aku mau bersih-bersih tapi rasanya segan, ya. Di luar masih rame," kata Anjas.


"Sama, Mas. Aku juga belum berani ke kamar mandi. soalnya disini kamar mandinya cuma satu. Jadi harus bersabar."


"Iya, tidak apa-apa. Kan ada kamu yang menemani aku disini. Terimakasih, ya sudah mau jadi istriku. Tadinya aku takut kamu tidak mau menerimaku. Setelah yang terjadi antara aku dan kak Mila."


"Kak? kok lucu mas mendengar kamu panggil kak Mila dengan sebutan kak. Rasanya gimana gitu? tapi memang dia sudah jadi kakakmu juga. Begitu juga sama Rudi, ya walaupun aku pacaran sama dia sejak SMA. Tapi aku lihat Rudi sudah bisa menerima kalau mantannya ini sekarang kakak iparnya. Mulai sekarang kita tidak usah melihat kebelakang lagi. Kita sudah menjadi kesatuan yang erat. Ikatan yang hanya maut yang memisahkan."


Anjas mengecup kening istrinya. Rasanya sudah tidak sabar mereguk indahnya malam pertama bersama sang istri. Tapi mengingat belum malam, Anjas pun harus menahan diri dulu.

__ADS_1


Sarah mendengar kalau namanya di panggil dari luar. Masih menggunakan gaun kebaya untuk resepsi kedua setelah akad. Gadis itu membuka pintu kamarnya. Tampak Eva dan seorang wanita berdiri di depan pintu kamar.


"Sarah, mbak perias mau membersihkan bekas make up kamu. Sekalian mengambil gaun pengantinnya." kata Eva.


"Oh, iya mbak silahkan masuk." ajak Sarah.


Anjas melihat ada beberapa perias masuk ke kamar pengantin mereka. Dia hanya duduk menunggu giliran. Salah satu pegawai salon yang berjenis kelamin laki-laki pun mengajak Anjas ganti baju di ruangan lain. Karena keterbatasan ruangan di rumah Sarah.


Ibu Melani pun ternyata ikut menunggui menantunya mengganti baju. Karena perias itu adalah orang pesanannya. Tentu dia sangat puas dengan hasil kerja sang perias.


"Mbak ini yang memang dasarnya cantik, jadi di riasnya enak.


kalau mbak yang satu lagi memang wajahnya standar. Tapi di rias dia terlihat cantik."


"Mbak yang satu itu kakak saya. Setiap orang standar cantiknya beda-beda. Jadi jangan pakai perbandingan." Protes Sarah. Dia tidak suka cara menilai perias itu. Mbak perias langsung meminta maaf. Dia bukan maksud membandingkan tapi menilai apa yang dia lihat.


Selesai membersihkan diri Sarah pun sudah mengenakan dress polos warna pink muda. Walaupun sudah melepaskan riasan, wajah Sarah masih terlihat cantik. Begitu juga dengan Anjas, dia tampan meskipun hanya mengenakan kemeja batik besurek. Sepasang suami istri yang baru saja sah itu duduk di tengah para tamu yang masih datang silih berganti.


"Masih ada acara lagi?" sahut Sarah kaget.


Dia pikir setelah seharian akad dan resepsi acaranya sudah selesai. Tapi ternyata masih ada acara lain yang harus dia ikuti. Jujur dia sudah lelah dan bisa istirahat. Tapi nyatanya dia masih harus diikut kan acara lagi.


...*****...


Sementara Mila dan Danu masih berada di kamar. Keduanya masih canggung untuk saling berdekatan. Mila duduk di pinggir ranjang kamar nenek Seruni. Karena pernikahan yang dadakan itu keluarga tidak mempersiapkan kamar pengantin untuk Mila dan Danu.


Sementara Danu duduk membelakangi Mila di sudut ranjang. Baik Mila maupun Danu tidak menyangka status mereka sudah berubah dalam sekejap. Padahal tadinya dia hanya tamu undangan sementara Mila tadi hanya sebagai keluarga pengantin.


"Mas"


"Iya, Mila."

__ADS_1


"Mas,"


"Iya, istriku."


"Yasudah mas yang duluan."


"Kamu saja yang duluan."


"Anu, Mas ... aku ..." Danu mendengar suara Mila seperti gugup. Lelaki itu datang mendekati Mila. Membungkukkan badannya serta memegang tangan Mila.


"Terimakasih ya, Mila. Kamu sudah mau menerima aku sebagai suamimu. Walaupun aku tahu kalau kamu mungkin masih setengah hati sama aku. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik semampuku. Jikakau aku ada salah tolong tegur saja. Aku tidak akan marah.... Aku ...."


Danu masih ingin berbicara banyak pada Mila sedikit terganggu saat dering Handphonenya berbunyi. Dahinya mengkerut saat melihat dari mana asal telepon.


"Halo, Danu. Katanya pergi undangan kok nggak balik lagi ke rumah sakit. Dokter Wisnu dari tadi nyari kamu, Lo."


"Aduh, Gito, maaf aku tidak bisa datang. Aku sudah nikah tadi. Masih ada acara di tempat mertuaku."


"Hah! nikah! Yang benar saja kamu, Danu. Kok nggak pake undangan. Masa dokter Wisnu yang katanya adik kamu tidak tahu kakaknya nikah. Kamu tidak melakukan sesuatu kan sama anak gadis orang. Sampai nikah dadakan gitu."


"Panjang ceritanya, yang pasti aku tidak mungkin pulang ke rumah sakit sekarang. Maaf, ya." Danu pun menutup telepon dari teman sejawatnya.


"Siapa, Mas?"


"Gito teman sejawat aku. Karena tadi aku kan cuma pamit pergi undangan."


"Kamu menyesal?" Danu melihat raut Mila mendung.


"Enggak, aku tidak pernah menyesal dengan semua ini. Aku malah takut kamu yang menyesal."


"Kalau sudah terikat dalam garis takdir aku akan terima, Mas. Membuka lembaran baru bersama kamu. Memulai semuanya dari awal."

__ADS_1


__ADS_2