Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 75


__ADS_3

Satu Minggu kemudian


Ketika sampai di sekolah Lala mendapat banyak cerita dari beberapa teman. Salah satunya tentang Puput yang di skors dari sekolah. Puput yang di keluarkan dari tim basket.


Lala berjalan menuju kelas bertemu dengan Aris di depan kelas. Aris seperti mendapat lotre saking senang bestie nya sudah masuk sekolah.


"Akhirnya kamu masuk juga, La. Kamu sudah tahu kan berita yang santer akhir-akhir ini. Kamu pasti kaget kalau ternyata Puput di keluarkan dari tim basket." Aris terus menyerepet tidak peduli reaksi datar dari Lala.


Gadis usia 13 tahun itu hanya melipat tangannya diatas dada. Dengan rambut yang berkepang dua. Lala masih mendengarkan cerita dari Aris, teman baiknya sejak duduk di bangku sekolah dasar.


"Reaksi kamu gitu amat, La! Yasudahlah kita masuk ke kelas. Itu lonceng sudah berbunyi." Aris menarik tangan Lala masuk ke dalam kelas.


Lala pun hanya bisa mengikuti tarikan tangan Aris. Lala duduk di kursi kelasnya. Begitu juga dengan Aris yang duduk di seberang tempat duduk Lala. gadis muda itu sibuk memeriksa buku yang dia bawa.


"Apa ada PR?" tanya pada Tessa teman sebangkunya.


"Nggak ada, La. Kemarin ada kuis. Kata Bu Marina kamu disuruh menemui di ruang guru."


"Iya, nanti waktu jam istirahat." kata Lala.


Para siswa pun mulai berkonsentrasi dengan apa yang di tuliskan gurunya.


"Lala kamu sudah sembuh?" tanya Bu Susi. Lala mengangguk pelan. Semua mata tertuju pada dirinya, beberapa dari mereka malah ada yang menatap sinis kearah Lala.


"Emang dia sakit, kan dia ngambek gara-gara di kasih udang." sahut salah satu teman sekelasnya. beberapa anak pun ikut menertawakan lala.


Guru pun menenangkan keributan di dalam kelas. Lalu kembali berfokus pada gadis di depannya.


"Lala beberapa hari yang lalu saya mengadakan kuis. Saya mau nanti kamu ke ruang guru membicarakan soal kuis yang tertinggal."

__ADS_1


"Maaf, Bu. Tapi tadi saya diminta Bu Marina untuk menemui beliau terkait ujian kemarin. Apa bisa kuisnya sekarang saja." tawar Lala.


"Maaf juga Lala, di sini saya yang guru. Bukan kamu. Jadi kamu harus ikut aturan saya kalau mau saya kasih nilai bagus."


"Maaf, Bu." Lala hanya bisa menunduk mendengar gertakan gurunya.


...***...


Suara kumandang adzan ashar mulai terdengar. Menuntun umatnya untuk menjalankan kewajiban layaknya seorang muslim sejati. Mila melirik jam di handphonenya. Biasanya suaminya sudah pulang dari dinas nya. Sudah satu minggu ini Danu mengurangi jadwal perawatnya.


"Bu Diana di bawa sama keluarga aslinya di Kepahiang. Padahal disini pengobatannya lebih lengkap. Tapi aku aneh sama dia, kok kayak nggak ada kemauan sembuh. Dan aku merasa dia ada tekanan di sana. Semoga cuma perasaanku saja, Sayang."


"Terus ibu Rubiah sama anaknya Bu Diana, bagaimana? katanya anaknya Bu Diana juga stroke." tanya Mila.


"Sekarang tugasku sama anaknya. Ibu Rubiah masih disini. Tinggal sama dua keponakannya. Katanya dia menunggu tes DNA anaknya keluar. Katanya dia sudah ketemu anaknya dan menunggu hasil tes DNA."


"Aku nggak bisa komentar soal anaknya. Belum ada dipertemukan juga. Baru dengar cerita dari keponakannya saja." kata Danu.


"Mas, Dimana alamatnya?" Danu mengangkat kepalanya saat Mila menanyakan alamat pasiennya.


"Untuk apa?"


"Buat antar kan kamu makan siang."


"Tidak usah. Disana aku sudah disiapkan makan. Nggak perlu pakai antar makan siang."


Danu pamit pada Mila. Mila memakaikan jaket untuk suaminya. "Sekarang musim hujan, Mas. Nanti kamu sakit lagi."


"Terimakasih, sayang. Aku berangkat dulu." Mila menyalami tangan suaminya.

__ADS_1


Danu baru saja sampai di tempat ibu Diana. Suasana rumah tampak lenggang, apalagi setelah ibu Diana di bawa keluarga kandungnya di daerah Kepahiang.


Danu melihat Ando membersihkan kamar mamanya. Dia pun membantu pemuda itu mengangkat beberapa barang.


"Terimakasih, mas Danu. Saya merasa kamu sepertinya familiar sekali wajahnya. Apa kita pernah bertemu?" tanya Ando.


"Mungkin pernah. Tapi saya juga tidak ingat." Kilah Danu.


"Oh iya, Apa yang harus saya lakukan sekarang?" Danu masih bingung dengan kegiatan sejak ibu Diana sudah tidak tinggal di sana lagi.


"Ajak abang saya jalan-jalan ke counter. Eh, maaf, sebenarnya counter sudah tidak buka lagi. Makwo Bia membuka kedai Minang sebagai gantinya. Tapi seperti cafe. Ajak kesana saja. Siapa tahu bisa membangkitkan ingatannya."


...****...


Lala baru saja bangun tidur siang. Hari ini dia harus pulang cepat karena habis ikut dua kuis susulan. Dia di kagetkan suara Muntah-muntah di kamar mandi. Lala menggedor pintu kamar mandi, takut sang kakak kenapa-kenapa.


"Kak Mila nggak apa-apa?" panggil Lala dari luar. Tak ada tanda Mila memberi respon Lala pun meneleponnya Danu. Sayangnya tidak diangkat.


Beberapa saat kemudian Mila keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Cara berjalannya sempoyongan. Lala panik saat Mila seperti mau ambruk. Dengan sigap Lala memapah Mila membawa ke kamar mandi.


"Ya Allah, badan kak Mila panas. Bagaimana ini?" Lala panik. Hanya dia sendiri yang berada di rumah.


"Apa aku telepon kak Sarah? tapi jam segini dia pasti masih di kampus." Lala mengambil air dan handuk untuk mengompres dahi Mila secara rutin.


"Apa jangan-jangan kak Mila hamil, ya?Aku harus bagaimana ini?


Kak Eva, iya kan ada kak Eva. Kak Mila, aku panggil kak Eva dulu, ya?" Mila menahan tangan Lala. Entah kenapa dia enggan di tinggal sendirian.


"Temani kakak, La." Seketika Mila kembali berlari masuk kamar mandi. Lala yakin kalau kakaknya tengah berbadan dua.

__ADS_1


__ADS_2