
Ammar masih menunggu momen bagaimana dia mengungkapkan kalau hati nya sedikit terbuka pada Mila. Tapi sikap Mila yang masih datar-datar saja membuatnya ragu. Apakah dia akan di terima Mila? atau mungkin gadis itu menolak dirinya.
Mila begitu senang saat mendengar kabar Vika yang menerima lamaran Ammar. Padahal Ammar saja belum bicara soal lamaran pada keluarganya.
"Pak, eh maaf. Karena saya bukan lagi pegawaimu jadi nggak ada kan saya panggil ammar saja." kata Mila.
Ammar hanya menganggukkan. Sekarang dia dilema, karena sudah pasti Mila akan menolak dirinya. Mila sangat sayang pada Vika. Ammar yakin kalau dia ungkapkan sekarang gadis itu akan menolaknya.
"Ya Allah, saat ini yang aku rasakan ingin serius dengannya. Tapi kenapa ada saja hambatan." batin ammar.
Ammar masih terdiam meskipun duduk di sebelah Mila. Mila melihat ekspresi Ammar tanpa ekspresi tampak mengkerutkan dahinya. Bukankah Ammar sangat mencintai Vika. Kenapa lelaki itu tampak tidak bahagia.
"Mar," sapa Mila.
"Eh, iya." Ammar tergagap saat tepukan bahu terasa kencang.
"Pak, ini malam Lo. Nggak baik melamun. Nanti kesambet. Oh ya besok saya mau pulang ke Bengkulu. Nenek saya sakit, kasihan adik saya masih kecil harus ngurusin nenek saya sendiri." kata Mila.
Ammar dan Mila berjalan-jalan sekitar kompleks perumahan. Ammar dan Mila masih terdiam sambil beriringan jalan. Mila tak tahu apa yang harus mereka bahas. Begitu juga Ammar, dia juga bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
Alunan angin menyibak rambut Mila yang panjang. Rambut yang hanya batas sebahu dengan kuncir kuda. Di tambah poni depannya. Meskipun usianya sudah masuk 30 tahun.
Tubuh Mila yang sedikit berisi tak memperlihatkan usianya. Beda dengan Ammar yang sudah 29 tahun, tapi terlihat lebih dewasa dari usianya. Ammar yang betah dengan brewok tipis di wajahnya. rambutnya yang cepak bak ABRI.
"Pak," Mila mencairkan suasana. Daritadi mereka seperti orang bisu.
"Mila saya..." Kaki Mila terhenti di depan pagar rumah bude Lia.
"Saya sudah sampai. Terimakasih bapak sudah mau berteman dengan saya saat berada di Lampung. Semoga setelah sama-sama di Bengkulu kita bisa menjalin pertemanan lebih baik dari sebelum." kata Mila.
"Mila, saya ..." Ammar merasa bibitnya terus terkunci saat bersama Mila.
"Saya masuk ya, Mar." Mila pamit untuk masuk duluan.
"Saya cinta sama kamu, Mila." Batin Ammar.
"Kenapa perasaanku ini ya Allah? enggak, Mil. Dia itu milik Vika. Kamu tidak usah memikirkan lelaki yang bukan milikmu.
__ADS_1
Ah mungkin karena beberapa hari ini saya sering bersama Ammar. Jadi kebawa perasaan. Tenang Mila, nanti setelah Fokus pada kesehatan nenek. Kamu akan melupakan dia." batin Mila.
Mila sudah berada di kamar. Dia mulai membereskan barangnya untuk keberangkatan besok. Setelah selesai mengepak barang Mila menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. Besok dia akan meninggalkan kota metro, melupakan rencananya mencari ayahnya.
Teringat pada malam lamaran dengan Anjas. Dimana seharusnya malam itu menjadi momen bahagianya, tapi ternyata salah. Dia bukan wanita impian Anjas.
Itu yang di katakan Rudi saat menemui dirinya. Rudi bilang Anjas mendekati Mila karena sudah lama suka sama Sarah. Bukan hanya Mila yang kecewa. Rudi pun kecewa, karena ternyata Sarah mengatakan sudah lama menyukai Anjas sejak SMA. Dan sekarang mereka sebentar lagi akan menikah.
Sementara Ammar duduk di salah satu kursi taman dekat perumahan bude Lia. Pikirannya masih gamang soal pernyataan Vika tentang lamaran itu. Dia duduk mengatupkan kedua tangannya. Tangannya membuka ponsel lipat tapi masih menimbang-nimbang. Dia malas berdebat dengan mamanya. Tapi dia juga tidak mau menerima Vika sebagai calon istrinya.
"Aku sangat mencintainya, ma.'' kata Ammar yang sudah menghubungi mama Diana.
"Apakah latar belakang keluarganya jelas? apa pendidikannya. Setarakah dia denganmu, Nak. Mama takut dia tidak bisa mengimbangi kamu."
"Aku yakin, ma. Dia bisa mengimbangi kita. Aku juga tidak bisa menerima Vika. Karena dia sudah menolak aku."
"Menolak bagaimana, Mar. Justru Vika dan mamanya datang ke rumah membahas tentang rencana pernikahan kalian. Mama tidak mau tahu. Kamu pulang ke Bengkulu, kita bicarakan lebih dalam lagi."
"Benar tuh, kak. Vika itu bibit bebet bobot nya sudah terjamin. Sedangkan cewek yang kakak bilang kami saja belum kenal." sahut Ardo nimbrung di telepon.
"Iya, ma. Besok Ammar akan pulang." Jawab Ammar lirih.
"Ya Allah, aku harus bagaimana?" Ammar masih membatin. Dalam hati kecilnya dia mengatakan hatinya sudah terkikis pada Vika. Dimatanya Mila itu beda dengan Vika. Meski awalnya dia hanya mendekati Mila untuk melupakan Vika. Sekarang dia benar-benar jatuh cinta pada Mila.
Ammar ingat kalau motornya di parkirkan depan rumah bude Lia. Segera dia kembali kesana, melihat lampu kamar Mila masih menyala. Entah keberanian apa yang menyergapnya. Dia berdiri di depan jendela kamar gadis itu.
"Mila kamu sudah tidur?" kata Ammar.
Tak ada tanggapan apa-apa. Tebakannya Mila sudah tidur, bisa jadi memang Mila tak suka kegelapan.
"Mila, aku tahu kamu pasti belum tidur. Tidak apa-apa, aku juga tidak bisa tidur, Mila. Kamu tahu saat ini kegelisahan yang terdalam bukan soal Vika. Ya, aku memang pernah suka sama Vika. Pernah mengejar Vika mati-matian walaupun endingnya di tolak."
"Mila kamu tahu bagaimana perjuangan Romeo mendapatkan cinta Juliet. Bahkan rela mati demi pujaan hatinya. Kamu pernah dengar Qais yang sampai gila karena cintanya pada Layla. Dan antara aku ... antara rasanya mau mati dan gila karena perasaan ini. Perasaan yang tumbuh setelah beberapa hari kebersamaan kita. Mila, aku berharap kalau kamu mendengarnya susul aku di depan gang kompleks. Tapi kalau kamu tidak menyusul tandanya kamu menolak aku."
Mila belum tidur. Dia mendengar semua yang di ucapkan Ammar. Hatinya berperang. Jika dia menerima Ammar itu tandanya dia menyakiti Vika. Mila lebih baik mempertahankan persahabatannya daripada perasaannya.
Mila masih bimbang. Tak munafik dia mulai terketuk dengan Ammar. Dia sendiri tak paham kenapa bisa kebawa perasaan pada Ammar. Mila pun membuka jendela, sudah tak ada siapapun.
__ADS_1
Mila teringat teleponan Vika tadi. Dimana teman baiknya sangat bahagia dengan perjodohan itu.
"Assalamualaikum,mil"
"Waalaikumsalam,Vika. Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik. Lagi apa?"
"Aku mau siap-siap pulang ke Bengkulu.
"Loh udah mau pulang?"
"Iya, nenekku sakit."
"Yang sabar, Mila. Tapi aku salut kamu masih mau pulang demi nenekmu. Bukankah dia sangat membencimu?"
"Seburuk-buruknya, dia tetap nenekku, Vika."
"Eh, by the amar sering nggak maen ke tempatmu"
"Jarang, kenapa? Perasaan kamu rajin banget nanyain amar. Nah looo, udah jatuh cinta ya sama Amar."
Lama Vika tidak membalas pesan Mila.
" Sepertinya iya,mil. Kami ternyata di jodohkan. Malam kemarin aku dan mamaku sekedar mampir. Eh mereka malah membicarakan rencana kelanjutan pernikahan kami."
"Efek CBK tuh" goda Mila
"Apa tuh?"
"Ciuman belum kelar , wkwkwk"
"Masih ingat aja" jawab vika.
Mereka tertawa bersama, setidaknya Vika merasa plong mengeluarkan uneg unegnya, begitu juga Mila jadi mendapat hiburan untuk melepaskan beban pikiran karena neneknya sakit.
Setelah mengingat soal percakapan tadi, Mila hanya menarik nafas dalam-dalam. Dia memilih menutup pintu jendela kamarnya. Menutupi tubuhnya dengan selimut. Di paksakan matanya terpejam.
__ADS_1