
"Mas," Mila masih betah menempel manja di kamar bersama suaminya.
"Iya, sayang," Tangan Danu membelai rambut Mila menyingkirkan helaian panjang hingga telinga terpampang sempurna.
"Aku boleh nanya?"
"Waktu dan tempat silahkan, sayang. Kamu mau nanya apa sih? kalau soal program anak aku mau nya banyak. Dua belas kalau bisa. Biar bisa ngalahin gen halilintar." Mila tertawa mendengar celotehan suaminya.
"Itu sih enak di kamu, riweh di aku, lagian kita kan bukan keluarga mampu. Tapi semampunya, Mas. Aku sih mau nya dua saja. Kalau bisa yang pertama laki. Kalau Tuhan kasih anak cewek yang pertama juga tidak apa-apa, Mas,"
"Kenapa kamu mau anak pertama laki-laki? kebanyakan wanita mau nya anak pertama perempuan. Kalau memang Tuhan mau kasih lebih banyak dari dua kan nggak apa-apa. Biar rumah tambah rame."
"Iya, Mas. Aku juga nggak masalah. Tapi yang aku mau bahas bukan ini," Mila menggeser tubuhnya dari pundak suaminya.
"Kok geser? gini aja tidak usah pindah posisi,"
"Wisnu bilang mas menolak kemoterapi, kenapa di tolak? ya memang biayanya tidak sedikit, tapi siapa tahu dengan adanya BPJS atau Askes punya mas Danu atau punyaku kan ada keringanannya,"
"Wisnu menawarkan di Malaka. Jauh banget itu, kalau bisa di Bengkulu kenapa harus keluar negeri atau ke luar kota. Aku nggak mau harus jauh-jauhan sama istriku ini," Danu menjentik hidung Mila.
"Ya, kamu kan tidak biasa jauh dari aku. Sama aku juga bakal rindu sama kamu, Mas. Tapi demi kesehatan kamu, demi aku, kamu harus berobat. Biar aku yang kerja atau cari uang untuk tambahan," jelas Mila. Dia tidak masalah kalau ikut banting tulang mencari biaya tambahan untuk pengobatan suaminya.
"Nggak ada. Biar aku yang kerja, kamu tetap di rumah. Itu tugas aku sebagai kepala rumah tangga," Mila menyorot mata tajam Danu. Tampak suaminya merasa terbebani dengan permintaan Mila sebagai tulang punggung sampingan. Merasa di tatap, Danu mencubit pipi istrinya.
"Aduh, kok kuku kamu tajam, Mas," Mila sedikit kesakitan ketika ujung kuku Danu mengenai kulit wajahnya.
Danu hanya tertawa geli mendengar omelan istrinya.
"Eh, malah ketawa. Kebersihan itu sebagian dari iman. Dan kamu malah melihara kuku kayak gini. Bentar aku ambil gunting kuku," Mila meninggalkan ranjang lalu membuka laci riasnya.
Setelah menggunting kuku Danu, Mila merapikan cara duduknya. Matanya memandang ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam setengah sepuluh pagi.
"Mas, aku belum masak," ucap Mila sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Nggak usah masak, tadi ibu SMS katanya dia mau kesini. Bentar? kayaknya ada yang aneh disini? kok sepi ya, Lala mana?"
"Lala di rumah Sarah di Kandang limun. Sejak mas masuk rumah sakit dia sudah nginap disana," jelas Mila.
"Pantas ada yang kurang,"
"Oh jadi kalau Lala tidak ada jadi kurang semangat ya, Mas," Danu tertawa melihat kecemburuan Mila.
Lelaki itu terus mencubit pipi istrinya.
"Enggak gitu juga, Sayang. Dia kan adikku juga. Sama kayak Sarah, sama kayak Wisnu dan anak-anak panti. Mereka semua keluargaku. Nggak ada yang aku pilih kasih atau terlalu aku sayangi,"
"Tapi Lala dulu pernah bilang sama aku, kalau suamiku ini adalah patokan buat cari pasangan nanti. Itu kan berarti dia pernah berharap sama kamu,"
"Sudah nggak bagus suudzon, kalau mau .... Yang kamu kenapa?" Danu bingung melihat Mila berlari keluar kamar. Dengan langkah tertatih dia mengikuti kemana istri pergi.
Mila masuk ke kamar mandi. Entah kenapa perutnya terasa tidak enak, apa ini efek asam lambungnya. Mungkin saja begitu, dia pun akhirnya mengeluarkan isi perutnya yang hanya berupa air saja. Pasalnya Mila belum ada makan apapun.
Mila keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Danu memapah Istrinya duduk di meja makan. Mengambil segelas air putih. Danu pun memijit pundak istrinya dengan minyak kayu putih. Lagi-lagi Mila berlari ke kamar mandi. Mengeluarkan isi perutnya berupa air bening.
"Jangan-jangan kamu hamil, sayang?" Mila menoleh kearah suaminya. Tampak binar harapan di wajah Danu. Mila takut kalau dia hamil tapi berstatus janda. Kata-kata Wisnu soal waktu usia Danu membuatnya enggan berharap soal kehamilan. Kalaupun tadi membahas soal anak pada lelaki itu, hanya itu bahan obrolan semata.
"Enggak, Mas. Waktu aku drop kemarin juga Lala sempat ngira aku hamil. Nyatanya malah asam lambung," kilah Mila.
"Oh, kemarin yang periksa kamu siapa?" tanya Danu.
"Bidan Ratna, tuh rumahnya di seberang," tunjuk Mila.
"Yasudah, kamu tunggu sini," Danu berjalan keluar rumah.
Tak berapa lama Danu berjalan kembali tanpa bidan Ratna.
"Ada?" Danu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia sudah berangkat dinas, sejak pagi tadi," ucap Danu sambil menghempaskan tubuhnya di kursi ruang tamu.
"Yasudahlah, Mas. Kan aku sudah bilang. Ini hanya efek asam lambung,"
...****...
Sebuah mobil memasuki area jalan sepakat, daerah Sawah Lebar, Kota Bengkulu. Daerah yang merupakan permukiman padat penduduk. Lokasi yang dekat dengan kampus swasta ternama di Bengkulu. Seorang wanita paruh baya memandang area jalanan besar. Disampingnya ada lelaki muda yang terus melihat arah jalanan. Seperti merasa devaju dengan suasana di daerah itu.
Tiba mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Dengan teras penuh aneka tanaman. Wanita paruh baya itu langsung turun sambil menenteng bawaan yang banyak. Sedangkan lelaki yang membawa mobil turun mengeluarkan kursi roda.
Wanita paruh baya itu adalah Rubiah, ibu kandung dari Danu. Bia juga ingin menjalin silaturahmi sekaligus pendekatan pada anak kandungnya. Walaupun dia pernah di tolak sama Danu saat di rumah sakit. Tidak membuat dia menyerah untuk menunjukkan kasih sayangnya pada Danu.
"Assalamualaikum," sapa Bia di depan pintu rumah.
"Waalaikumsalam," jawab sang empunya rumah.
Suara pintu terbuka diikuti munculnya Mila di depan pintu. Mila hendak menyalami Bia tapi wanita itu langsung memanggilnya Ando dan Ammar. Mila hanya terpaku karena tamunya malah mengabaikan dirinya.
"Mas, ada ibu Rubiah," kata Mila.
"Ngapain dia kesini?" ucap Danu ketus.
"Mas, dia ibu kamu, Lo, nggak bagus begitu,"
"Tapi aku masih kecewa sama mereka, membuang aku ke panti. Mereka hidup bergelimang harta sedangkan aku hanya ..." Mila menutupi bibir suaminya.
"Aku tahu, Mas. Nggak mudah menerima hal ini. Menerima orang yang sudah melahirkan kamu, bukankah dia sudah menceritakan kalau kamu yang hilang bukan di buang,"
Untuk bisa memaafkan, kita harus lebih dulu bisa memahami bahwa semua orang adalah manusia biasa yang sudah pasti tak akan luput dari sifat lupa dan salah. Tidak mungkin untuk berharap manusia untuk tidak menyakiti atau mengecewakan karena memang manusia tak bisa lepas dari alpa dan kesalahan.
Adalah hal yang terkadang sulit untuk dilakukan oleh seseorang. Untuk bisa memaafkan orang lain, seseorang bahkan bisa melalui proses yang panjang. Oleh karena itu, tidak semua bisa memaafkan orang lain.
"Mas, aku minta terima ibu Rubiah sebagai ibu kandungmu. Seperti kamu dulu meminta aku membuka pintu maaf pada ibu Dahlia,"
__ADS_1