Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 43


__ADS_3

Suasana di rumah Vika


Hari ini di kediaman Jamaludin, mantan pejabat eselon zaman Agusrin Najamuddin. Sudah ramai dengan orang yang lalu lalang di sekitar rumah. Janur kuning pun sudah di tegakkan di kompleks gunung bungkuk kecamatan ratu agung.


Pegawai toko milik Ammar dan juga anak buah cafe milik mama Diana pun sudah berada di lokasi acara. Mereka membantu menyiapkan acara yang sudah di nanti bagi dua keluarga itu. Akad nikah Ammar dan Vika.


Sama seperti Ammar, suasana di kamar Vika pun sudah heboh. Persiapan calon pengantin, Vika duduk bercermin di kaca rias, hari ini adalah hari sakral, dimana dia akan menjadi nyonya Ammar Nur Zidan, air matanya mulai tumpah.


" Mbak kok nangis, ntar make up nya luntur mbak" kata si perias


" Maaf mbak saya terharu" jawab Vika.


Fera masuk ke kamar Vika mengecek persiapan adik sepupunya. Sebelumnya dia mencari mamanya untuk menjemput Mila dan keluarganya. Fera tahu kalau Mila masih perang dingin dengan Vika. Tapi bude Lia tetap akan mengajak Mila karena ingin dekat dengan anaknya.


Bude Lia sudah di jemput Danu untuk ke rumah keluarga Mila. Bude Lia membawa intan pergi ke rumah Mila.


Fera duduk di samping Vika. Melihat adik sepupunya akan menikah ada rasa haru yang menyelip di hatinya. Vika yang dulu saat kecil selalu mengintai dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Apalagi lelaki yang akan menikahinya adalah sahabatnya sendiri, Ammar Nur Zidan. Usia Fika dan Fera hanya selisih satu tahun. Fera lebih tua dari Vika.


"Selamat, ya. Vika. Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Ammar. Aku harap kamu benar-benar berjuang membuat Ammar bisa mencintai kamu." kata Fera.


"Berjuang? aku tidak perlu berjuang kak. Dengan dia menerima menikahiku saja itu sudah menandakan dia juga punya perasaan sama." jawab Vika.


"Ya, aku tahu itu. Tapi kamu tidak lupa kan kalau Ammar itu ..."


"Bisakah kita tidak melihat ke belakang, kak. Aku tahu kakak akan membawa nama Mila. Emangnya aku tidak tahu kalau kakak juga mengundang penikung itu. Kalau Mila punya malu dia tidak akan mau datang."


"Kamu takut kalau Ammar tidak jadi menikahimu hanya karena Mila. Mila sekarang sudah punya Danu. Dan mereka juga akan menikah dalam waktu dekat ini. Jadi buang prasangka bencimu pada Mila."


"Fera, Vika mau bersiap-siap sebentar lagi keluarga Ammar datang." mama Ida langsung memotong pembicaraan mereka. Mama Ida menatap sinis kearah keponakannya.


Akad yang akan berlangsung sebentar lagi. Tiupan angin sore menerpa kulit mengiringi langkah kaki. Rona bahagia terpancar pada wajah salah satu mempelai tersebut. Insan yang akan menempuh sebuah hidup yang baru. Debaran yang kuat karena sebentar lagi status mereka sudah berbeda.


...****...


Di rumah keluarga Mila.


Mila duduk di depan cermin. Wajahnya masih polos tanpa make up. Satu keluarganya sibuk mau berangkat ke pernikahan Ammar. Sementara dia masih enggan datang ke acara itu. Terdengar Sarah sibuk memilih gaun yang pas untuk di couple kan sama Anjas. Lala yang sibuk minta di dandani oleh Sarah.


"Mila," sapa Eva yang sudah memakai setelan dress pesta.


"Iya, Va."

__ADS_1


"Kamu belum siap? Danu dan bude Lia sudah menunggu di depan."


"Kalian saja yang pergi. Aku dirumah saja." Mila merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kenapa? kamu takut ketemu sama Ammar. Atau kamu takut kalau Ammar tidak jadi menikahi Vika."


"Dua-duanya, Eva. Aku tidak mau jadi penghancur pernikahan mereka. Aku tidak mau ...."


"Kamu bilang tadi malam kamu di lamar Danu, kan? nah, ini saatnya kamu buktikan pada mereka kalau kamu sudah move on. Buktikan pada Vika dengan menggandeng Danu kamu tidak akan mengganggu Ammar."


"Nggak segampang itu, Va."


"Sudah, sekarang kamu duduk, biar aku yang merias kamu. Ini kamu harus cantik di depan Danu bukan untuk Ammar." Eva memaksa Mila untuk kembali ke meja rias.


"Kenapa kalian begitu semangat mendekatkan aku dan Danu?"


Pertanyaan yang dilayangkan Mila bukan tanpa alasan. Sejak Danu muncul dalam kehidupannya semua orang mulai sibuk mendekatkan mereka. Padahal mereka baru kenal dengan Danu. Beda dengan Eva dan Mila yang sudah tahu Danu saat mereka kecil dulu. Sementara Sarah dan Lala belum lama ini mengenal Danu.


"Karena aku tahu Danu itu tulus sama kamu."


"Darimana kamu tahu Danu itu tulus?"


"Sekarang kalau kamu tidak mau pergi tidak apa-apa. Berarti biar kami saja yang datang ke acara itu." kata Eva meninggalkan Mila sendiri di kamar.


Semua sudah bersiap masuk ke mobil. Eva, Sarah dan Lala. Sementara Rohim tidak ikut karena dia ada pekerjaan. Tulang Boro yang menjaga rumah melihat Mila sudah berganti pakaian cantik.


"Kamu ikut, Mila?" tanya tulang Boro. Mila mengangguk lalu pamit pada pamannya.


"Alhamdulillah, kak Danu nggak jadi jones. Yuk kita berangkat." seru Sarah.


"Anjas tidak ikut?" tanya Eva.


"Kak Anjas nyusul di tempat acara. Dia ada perkerjaan sebentar."


"Duuuuh, nyonya bos ojek pengkolan." ledek Eva.


...****...


Mobil yang kendarai Mila dan keluarga besarnya sampai di pelataran rumah Vika. Diikuti mobil milik keluarga Ammar berhenti di belakang mobil vans Danu. Mobil yang di pakai Danu adalah mobil operasional milik panti.


Kedatangan Mila menjadi bahan pembicaraan para staf counter Ammar. Anggapan bahwa Mila tidak tahu malu menampakkan diri di kediaman Vika mengalir dari mulut ke mulut. Bahkan salah satu dari mereka menceritakan keburukan Mila pada anak buah mama Diana.

__ADS_1


"Jadi dia mantannya pak Ammar? nggak cantik amat. Masih kalah sama non Vika. Level nya masih jauh."


"Ngomongin siapa?" tanya salah satu pegawai mama Diana yang bernama Tati.


"Itu mantannya bos Ammar." jawab Sandra.


"Itu kan Sarmila. Anaknya selingkuhan suaminya Bu Aminah." Sambung Tati.


"Kamu kenal?" tanya Sandra.


"Siapa yang tidak kenal Sarmila. Yang diasuh sama istri sah padahal dia anak selingkuhan. Wajar saja neneknya benci sama Mila. La wong bukan cucu kandungnya. Di kompleks kami kisah Mila itu sudah viral dari dulu."


Tante Ida yang melihat Mila langsung sinis dengan mata tajam dan rahangnya yang menegang


"Masih punya muka kamu kesini?"


"Saya diajak,..bude Lia" jawab Mila gugup, berkali-kali menggigit bibir bawahnya.


Tante Ida kaget sebegitu baiknya bude Lia sama Mila dan keluarga, padahal baru saja mengenalnya.


Rombongan langsung berangkat, Vika dengan percaya diri berjalan turun dari tangga. Semua tamu takjub melihat kecantikan Vika.


Sementara Ando yang mengiringi motor Ammar kehilangan jejak amar dan motornya, Ando yang khawatir Karena motornya bermasalah dan takut terjadi sesuatu pada Ammar.


" Mungkin lewat jalan pintas" pikir Ando


Ando melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi pernikahan. Mama dari tadi sewot karena kehilangan jejak amar.


Setiba rombongan Ammar lokasi acara, mereka tidak menemukan Ammar disana. Semua di instruksikan untuk duduk di kursi tamu. Vika yang cemas menelpon Ammar tapi tidak aktif.


"Apakah acaranya bisa dimulai?" kata bapak penghulu


"Tunggu sebentar, pak. Mungkin ada kendala di jalan" Vika menahan pak penghulu


"Saya masih ada jadwal di tempat lain"


"Pokoknya tunggu dulu!" Vika mulai menangis.


Semua menyabarkan Vika. Tapi terlambat Vika terlanjur marah dan mengamuk, dia mengusir semua tamu undangan. Matanya semakin marah melihat ada Mila diantara para tamu.


"INI KAN YANG KAMU MAU MILA!" Pekik vika melabrak Mila.

__ADS_1


__ADS_2