
"Abang yakin mau kesana?"
Ammar menggangguk kecil. Dia sudah mantap akan pergi ke rumah Vika. Meminta maaf atas yang dia lakukan dulu pada mantan tunangannya.
"Tapi mereka tidak tinggal di rumah itu lagi," Ando mencoba mengingatkan lagi.
Ammar meraup nafas dalam-dalam. Dia juga tahu kabarnya Vika tidak sekaya dulu lagi. Cafe hasil kerjasama antara mamanya dan Tante Ida pun kabarnya di jual. Kabarnya untuk menutupi pengobatan depresi Vika.
"Iya, aku juga tahu itu. Kita juga tidak pergi sendiri, Do. Ada yang akan mengantarkan aku ketemu sama Vika. Ini kesempatan aku, Do. Sebelum nanti terjadi sesuatu setelah donor sumsum tulang belakang,"
Ando duduk di samping abangnya. Menikmati udara pagi dengan secangkir teh hangat. Dua bujangan bersaudara itu berbincang-bincang ringan mengenai rencana mereka hari ini. Di temani baytat kue andalan kota mereka.
"Bang,"
"Iya, Do," ammar menjawab sembari menggigit satu irisan kue tat.
"Abang nggak ada terpikir mau balik lagi sama Vika," ucapan Ando membuat Ammar sedikit tersedak.
"Kalau aku masih punya muka tebal dan Vika mau nggak apa-apa. Yang jadi masalah aku yakin Vika nggak akan mau. Perempuan mana yang mau jatuh ke jurang yang sama, nggak ada. Jangankan Vika, Mila saja sudah balik kanan,"
"Bang, aku juga kaget saat tahu kak Mila sudah menikah. Mungkin memang tidak berjodoh sama abang. By the way, ini yang abang tunggu mana sih? dan siapa yang mau ikut kita ke tempat Vika?"
"Pokoknya kamu tunggu saja, Do. Sekarang aku mau mandi sebelum temanku datang," kata Ammar bangkit dari tempat duduk. Tangannya meraba dinding meraih tongkat penyangga kakinya. Ando dengan sigap membantu sang kakak masuk ke dalam rumah.
Ibu Diana duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Dia sudah tampak segar dari biasanya. Pagi sebelum berangkat ke restoran ibu Rubiah sudah membersihkan adik iparnya. Memandikan, menyiapkan baju untuk Diana. Walaupun dia masih sakit hati atas perlakuan Diana di masa lalu, Rubiah tetap telaten mengurusi Diana.
"Mama sudah wangi," puji Ando.
"Mama mau ikut ke rumah Ida," jawab Diana.
"Nggak usah, Ma. Biar bang Ammar dan Ando saja,"
"Enggak, Do. Mama juga salah dalam hal ini, memaksa kehendak pada abangmu. Kalau saja .."
"Sudah, Ma. Yang lalu biarlah berlalu, bang Ammar hanya mau menyelesaikan masalahnya sama Vika. Bentar Ma, kayaknya ada telepon," Ando mengangkat telepon dari ibu Rubiah.
"Iya, Makwo,"
"Do, kamu ke BIM, ya,"
"Aduh, Makwo, maaf nggak bisa. Aku mau antar bang Ammar menemui Vika,"
"Makwo sekarang di BIM, ada Mila dan juga Danu disini. Mila ikut kontes masak, terus makwo lihat para karyawan mengajak Vika ikut nonton. Soalnya yang jadi juri masak adalah Revolusi. Kamu ingat kan sama Revolusi. Chef baru yang kerja di restoran kita,"
"Hah, iyakah. Kok bisa dia jadi juri?" Ando masih belum paham.
__ADS_1
"Nanti Makwo ceritakan. Yang pasti kamu kesini gantikan Makwo,"
"Oke, aku akan bawa bang Ammar kesana,"
Cahaya matahari tampak menyilaukan sinarnya. Diiringi dengan hembusan angin pagi, meskipun kota Bengkulu terkenal panas. Tapi bagi dia kota kelahirannya jauh lebih panas dari Bengkulu.
Sambil menyandang tas selempang bermotif rajut dia pun turun dari kuda besi yang mengantarkannya ke tempat tujuan.
Dia pun memencet bel pintu diiringi ucapan salam. Memberi tanda dia sudah datang sesuai janjinya dengan Ammar.
Suara pintu terbuka menyambut kedatangannya. Seorang lelaki muda cukup kaget dengan kedatangannya.
"Kak Fera?" sapanya.
"Apa kabar, Do?" sapa Fera.
"Alhamdulillah, kak. Mau cari bang Ammar kan?" Fera menggangguk sambil ikut masuk ke dalam rumah.
"Apa kak Fera yang mau menemani bang Ammar menemui Vika?"
"Iya, tapi kayaknya nggak jadi ke rumah Vika, tadi dia menelepon katanya sekarang berada di BIM, kayaknya momennya nggak pas untuk membahas soal mereka,"
"Tante Diana," Fera menyalami Diana.
"Fe. ..Ra ...."
"Al ... ham dulilah, Fe ... Ra,"
"Mama masih belum lancar bicara, Kak. Tapi ini sudah mendingan ketimbang dulu saat baru sakit," jelas Ando.
"Tante yang semangat, ya. Rajin-rajin latihan kaki atau senam wajah. Kakak ipar Fera seorang perawat Tante, jadi sedikit tahu lah,"
"Pasti Danu," sambung Ando.
"Da...Nu ..." Diana masih terbata-bata.
"Mama tidak tahu, ya kalau ibu nya kak Fera adalah ibu kandung kak Mila," Diana menggelengkan kepalanya. Begitu banyak kejutan yang dia terima akhir-akhir ini. Begitu sempit dunia sehingga masih muter-muter di lingkup yang sama.
"Sudah, sampai, Fe," sapa Ammar melihat keakraban mama dan sahabatnya.
"Sudah, belum lama. Tapi kita tidak jadi ke rumah Vika, dia sekarang ada di BIM, katanya nonton demo masak diajak teman-temannya,"
Fera menuntut jalan Ammar setelah berpamitan dengan mama Diana. Berpapasan dengan Mbak Nani yang bertugas mengasuh mama Diana. Mbak Nani adalah salah satu staf restoran milik ibu Rubiah. Karena Ando dan Ammar akan berpergian, ibu Rubiah meminta anak buahnya menemani adik Iparnya.
"Mbak Nani saya titip mama, Ya. Kalau soal makanan untuk mama sudah di siapkan di lemari. Soalnya mama belum bisa makan santan dan pedas," Nani mengangguk tanda paham dengan penjelasan Ando.
...****...
__ADS_1
Acara demo masak berlangsung meriah, Mila dan keluarga hadir karena Mila terdaftar sebagai peserta. Amar dan Ando pun hadir karena jadi tamu undangannya Revo.
Penampilan Chef Revo di atas panggung pun mendapat perhatian penuh dari para hadirin yang datang. Sebagian besar di antaranya tampak sibuk mengabadikan momen dengan kamera.
Sementara Vika masih asyik berbaur dengan teman masa kerjanya dulu. Sejak dia pulang ke Bengkulu, salah satu teman masa kerjanya kembali menghubungi. Menjalin silaturahmi yang sempat retak.
Vika tidak tahu siapa chef terkenal yang bekerja di restoran ibu Rubiah. Dia hanya tahu kalau ada acara demo masak yang juga melibatkan salah satu anak buah restoran tersebut.
Dari jauh sepasang mata memandang sosok manis yang duduk di salah satu kursi. Sosok manis yang asyik memainkan handphonenya. Sosok manis yang sedang tersenyum sendiri dengan dunia mayanya.
"Wi," sapa Revo.
"Iya, Chef. Bisakah aku bicara berdua dengan dia,"
"Eh, chef mau kenalan sama Vika ya. Oke deh, aku suruh teman yang lain kasih ruang buat kalian,"
Revo berjalan menuju gadis idamannya. Sosok yang membuatnya nekat menyebrang ke pulau Sumatera. Sosok yang membuat jantungnya tidak pernah tenang saat dekat mau pun berjauhan.
"Apa kabar?"
Vika yang tadinya asyik dengan gawainya menoleh ke arah suara. Tubuhnya perlahan-lahan berdiri sejajar dengan lelaki di hadapannya. Kaget? tentu saja, tidak menyangka di pertemukan dengan lelaki yang sudah membuatnya tidur tak tenang.
"Re ...Vo..."
Revo berjalan menuju kearah Vika lebih dekat lagi. Masih dalam mode terpaku seakan kaki nya terkunci untuk melangkah ke arah lain. Tangannya serasa mandi keringat. Mereka pun berdiri tanpa berjarak lagi.
Revo meraih kedua tangan Vika. Genggaman erat hingga membuat Vika menundukkan kepalanya.
"Kak Vika, aku punya kejutan buat kamu,"
"Kejutan?" Vika mengernyitkan dahinya.
"Pak Revo, acara sudah di mulai. Para juri lain sudah bersiap-siap,"
"Oh, ya, terimakasih,"
Vika memandang lelaki muda itu hingga hilang dari pandangan. Menyadari ada salah dengan perasaannya. Dulu dia pernah tergila-gila dengan sosok Ilham yang mirip Robert Pattinson. Hingga mengabaikan sosok Ammar yang care. Bahkan dia sengaja minta Ammar dekati Mila. Karena dia berharap Ammar tidak mengusiknya lagi.
Nyatanya salah, saat tahu Ammar benar-benar mencintai Mila. Vika merasa sakit hatinya, tidak rela kalau Ammar berpindah haluan. Dan karena cintanya pada Ammar membuat dia menghalalkan segala cara memisahkan lelaki itu dari Mila.
"Aku dulu jahat ternyata," batin Vika sambil menyeka air matanya.
...****...
Yuk mampir ke karya temanku
__ADS_1