Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 115


__ADS_3

Memasuki usia kehamilan dua bulan tidak membuat Mila merasa terbebani. Dia masih aktif menjalani kesibukan sebagai seorang istri serta seorang kakak. Apalagi Lala mulai di sibukkan dengan kegiatan sekolahnya.


Sebentar lagi sekolah libur karena mau lebaran. Minggu kedua di bulan April, karena lebaran tanggal 22-23. Desas-desus kalau tanggal 21 sudah ada yang lebaran terlebih dahulu.


Seperti biasa tradisi menjelang lebaran membuat aneka bolu, kue koja, kue aloha, dan Kue talam. Terakhir Mila bersama sang ibu juga di bantu Lala mempersiapkan menu lebaran.


Tahun ini sepertinya Mila tidak akan memasak apapun. Karena kata Danu, Bu Nurmala akan masak kue kering dan kue basah. Eva juga pernah bilang kalau mereka yang akan menyiapkan menu lauk pauk untuk lebaran. Mungkin efek dia sedang hamil sehingga banyak orang baik hati yang membantunya.


"Mau berangkat kerja, Uda," kata Mila.


Sejak kejadian buka puasa di rumah ibu Diana. Mila belajar mengenal adat keluarga suaminya. Mengganti panggilan Mas menjadi Uda. Masih terasa kaku tapi dia akan tetap belajar. Untuk masakan Minang Danu tidak menuntut istrinya harus bisa. Baginya lelaki itu apa yang di masak Mila sudah termasuk enak. Meskipun bukan menu Minang.


"Sayang, kalau kamu masih canggung tidak usah di paksakan. Mau di panggil sebutan Mas juga tidak apa-apa, atau mau di ganti honey bunny, my lovely, ayangku juga nggak apa-apa," kata Danu.


"Apaan sih honey bunny, pakai ayangku segala, kayak ABG aja, Uda. Kita ini sudah tua, malu ah pakai panggilan seperti itu. Nanti di ketawain Lala,"


"Ah, namanya juga anak kecil. Nggak usah di dengerin. Nanti pas dia jatuh cinta juga bakal gitu," ucap Danu.


"Aku harap Lala tidak usah pacaran dulu. Aku pengen dia sekolah yang benar. Kalau sibuk pacaran nanti sekolahnya berantakan. Kayak Sarah dulu pas SMP dekat sama teman sekelasnya, nggak lama pacaran sama Rudi juga. Waktu itu nenek Seruni sempat marah karena cucunya sudah punya pacar. Eh, pas tahu Rudi cucu temannya Datuk, nenek Seruni rada lunak dan mendukung hubungan Rudi sama Sarah,"


"Tapi jodohnya malah Anjas," ucap Danu.


"Orangtuanya Anjas dan Rudi menikah saat kelas tiga SMA. Sementara Rudi dan Sarah sudah pacaran dari kelas dua SMP, kata Sarah dia dan Rudi pas SMP masih TTM. Beneran pacaran pas SMA. Tapi nenek Seruni dan ibu Aminah menganggap mereka sudah pacaran pas SMP,"


"Sebentar, ini kayaknya Wisnu telepon, aku angkat dulu ya, sayang,"


Danu hendak keluar saat menerima telepon dari Wisnu. Tapi Mila menahan suaminya untuk keluar.


"Kalau memang tidak ada yang di sembunyikan angkat telepon di depanku saja. Kalau perlu speakerkan sekalian," Mila melipat tangannya menatap tajam suaminya.


"Sayang, ini masaiah kerjaan. Bukan masalah lain," Danu masih mengelak.


"Angkat disini!" Danu menarik nafas dalam-dalam. Mau tidak mau dia menuruti kemauan istrinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Wisnu ada apa?" Danu mengangkat telepon sambil menghidupkan speaker supaya di dengar Mila.


"Begini kak, tadi ada dokter Heidy dari Jakarta melakukan penyuluhan kanker darah. Dan ada beberapa pasien yang di bantu untuk kemoterapi di Darmais, rumah sakit Jakarta.


Aku tadi daftarin kak Danu untuk disana. Cuma ...."


"Cuma apa? apa aku tidak di terima disana?"


"Bukan, itu. Ternyata Kak Danu sudah di urus kemoterapi di rumah sakit Bukittinggi. Yang mengurus adalah ibu Rubiah. Apa beliau sudah membicarakan ini sama kakak?"


"Ibu mendaftarkan aku ke rumah sakit di Padang? dia memang pernah bilang mau ajak aku pulang ke Padang katanya mau cari pengobatan disana. Hanya ibu tidak bilang kalau aku sudah di daftarkan,"


"Jadi bagaimana?" tanya Wisnu.


"Hmmm ... aku bicarakan sama ibu dulu, ya? kalau memang dia sudah urus surat kemo untuk aku. Mau tidak mau harus ikut ke Padang,"


"Yasudah, kak. Lebih lanjut ajak ibu Rubiah ke rumah sakit sekarang. Katanya dokter Heidy akan bantu biaya kemoterapinya," Danu dan Mila saling bertukar pandang. Sebenarnya tawaran dokter Heidy cukup menggiurkan. Apalagi perekonomian mereka tidak mampu memenuhi biaya kemoterapi. Akan tetapi rasanya tidak enak melangkahi keinginan ibu Rubiah. Maka dari itu, mereka memutuskan bicara langsung dengan ibu Rubiah.


Setelah menutup telepon dari Wisnu. Danu dan Mila duduk di ruang tamu. Memikirkan bagaimana caranya menemui ibu Rubiah. Danu takut ada syarat berat yang diajukan ibunya. Apalagi kalau urusannya ke Mila.


"Tapi kalau ibu mau bawa aku tanpa kamu. Lebih baik tidak usah pergi sekalian. Kamu kan tahu aku tidak bisa semangat kalau kita berjauhan,"


Mila memegang erat jemari suaminya. Memberikan pengertian kalau yang dilakukan ibu Rubiah juga untuk kebaikan mereka juga.


"Sayang, aku tahu kecemasan kamu soal sikap ibu. Tapi belum tentu juga ibu berpikir seperti yang kamu duga. Siapa tahu malah sebaliknya, kamu pokoknya temui ibu dulu. Nggak bagus suudzon sama ibu sendiri,"


"Tapi sayang,.."


"Kamu mau kerja kan, sayang? ini sudah jam berapa? kayaknya kamu telat. Yuk, semangat kerjanya. Biar dedeknya senang," Mila meletakkan tangan Danu di atas perut buncitnya.


"Oh, ya sayang. Soal kue lebaran tidak usah kamu pikirkan. Itu urusan sama Eva dan ibu Nurmala. Yang penting kamu jaga kesehatan untuk anak kita,''


"Kamu juga, Sayang. Jaga kesehatan, jangan di porsir kerjanya. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, aku belum siap jadi janda,"

__ADS_1


Entah kenapa dia bisa bilang takut jadi janda. Berseliweran dalam ingatannya tentang perempuan yang di tinggal meninggal oleh suaminya. Bukan pertama kalinya Mila di landa ketakutan.


...*****...


"Istri kamu belum pulang, Anjas?" tanya Bu Melani.


"Belum, Bu. Kata Sarah dia ada kuliah di ganti jam tiga, jadi agak sore pulangnya,"


Bu Melani menarik nafas dalam-dalam. Pandangannya berarah pada bahan yang masih utuh. Harapannya supaya Sarah pulang bisa suruh menantunya masak. Bu Melani ada janji acara buka bersama di ikatan alumni sekolahnya. Akan ada pengajian di acara tersebut.


"Kalau begini gagal rencanaku ke acara bukber. Dasar menantu tidak tahu di untung," umpat Bu Melani.


"Ibu mau masak apa?" tanya Rudi.


"Banyak sih, tapi ibu mana bisa kerjain semua sendiri,"


"Biar aku bantu, Bu. Kalau menunggu Sarah bakal lama. Ada mata kuliahnya di ganti sore, takutnya dia lama pulangnya. Soalnya tadi kata teman ada ujian nanti,"


"Kok kamu nggak ikut?"


"Oh, aku nggak ambil mata pelajaran itu. Soalnya sudah lulus semester yang lalu. Kan Sarah ambil mata kuliah ulangan satu bidang, Dosennya rada killer. Alhamdulillah semester kemarin aku dapat C. Jadi nggak perlu ulang,"


"Jadi Sarah nilainya?"


"Sarah dapat E," kata Rudi.


"Astaga, tuh anak. Begitu yang bisa jadi calon ibu? boro-boro kasih contoh ke anak-anaknya. Otak dia saja pas-pasan, kalau ibu di posisi Sarah, malu masuk ke kampus. Buang-buang uang saja. Apalagi kalau dia sudah nikah, mending dia suruh berhenti kuliah daripada habiskan uang Anjas,"


"Sarah dapat E karena waktu itu ibunya sedang sakit, dia pernah jaga ibunya sampai tidak bisa masuk kuliah. Lagipula ujiannya dadakan tidak ada pemberitahuan sebelumnya.


Makanya nilainya bermasalah saat itu. Bukan hanya Sarah saja, temanku yang di rumahnya sedang ada musibah pun di dapat nilai E karena tidak datang.


Bukan Sarah saja, Lala pun sampai tidak masuk sekolah karena menginap di rumah sakit. Jadi Sarah tidak ikut ujian saat itu,"

__ADS_1


"Kamu masih bela Sarah, apa kamu masih suka sama dia?"


"Bukan bela, Ma. Tapi faktanya memang begitu,"


__ADS_2