
Masih flashback di rumah ibu Diana.
POV MILA
Aku dan Danu masuk ke dalam. Bersamaan dengan ibu Rubiah memintaku duduk di kursi ruang tengah. Sementara Danu masuk ke kamar ibu Diana. Mengecek keadaan mantan pasiennya. Begitulah Uda-ku selalu memperdulikan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Aku menyusul Danu masuk ke kamar ibu Diana, ikut menjenguk ibu dari mantanku, dunia ini rasanya sempit.
Aku pun menyusul bapak suami alias Danu. Kenapa bapak suami? kan dia ayah dari anakku, hehehehe ... biasa saja bacanya nggak usah tegang.
Baru sampai di depan kamar ibu Diana, berpapasan dengan Ammar yang sudah bisa memakai tongkat kaki. Nyaris tabrakan karena dia muncul tiba-tiba, aku mencoba ramah. Kulihat suamiku hanya tersenyum kecil menyusulku.
"Kok kamu nyusul?" tanya Danu.
Aku mencoba tersenyum ramah meskipun ada terselip takut reaksi suamiku.
"Aku nggak mungkin duduk saja, aku juga mau lihat keadaan ibu Diana,"
"Kamu masih grogi bertemu ibu?" aku menggelengkan kepala.
"Kalau ibu ngomong macam-macam lagi jangan dengarkan. Aku tetap di pihak kamu. Bukan maksud durhaka, tapi kalau memang posisinya ada yang salah aku pasti di pihak yang benar,"
"Sudahlah, Sayang. Aku juga nggak apa-apa, ibu masih di dalam, dan aku juga ingin menjenguk ibu Diana, dia mantan atasanku dulu,"
Aku duduk di depan ibu Diana. Menyapa wanita itu dengan baik.
"Mi... la..." suaranya masih terbata-bata.
"Aku manggilnya apa, Yang?"
"Etek," jawab suamiku.
"Etek Diana apa kabar?" sapa ku.
"Ba..ik, mi....la,"
"Etek bagaimana keadaannya sekarang?" tanyaku.
"Mama Alhamdulillah sedikit ada perkembangan, kak Mila. Dia sudah mulai bicara. Kak Mila tahu setiap pulang kantor kak Danu masih mencoba melatih mama. Walaupun tidak serajin dulu," Ando ikut bicara.
__ADS_1
"Alhamdulillah, semoga semakin membaik ya, Etek,"
"Terimakasih doanya kak Mila,"
"Etek kami mau ketemu ibu dulu, ada yang harus kami bahas," Ucap Danu sambil memintaku ikut dengannya.
"Ibu sepertinya sedang sholat Isya," kataku pada suamiku.
"Oh, aku ke WC dulu," pamit suamiku.
"Perlu aku temani?" tawarku.
"Yang aku malah betah di WC sama kamu," ucapnya sambil tertawa.
Mas Danu langsung mengeratkan tangannya memenuhi pinggangku. Seperti biasa otak mesumnya kumat. Aku hanya menunduk malu.
Aku kembali mengingatkan tujuan dia mau ke WC. Sekaligus memberi isyarat agar tahu kondisi dan tempat. Sejenak dia pun tertawa kecil aku pun ikut tertawa.
"Yasudah, katanya mau ke WC," aku kembali mengingatkan.
"Nah, kan, kalau ada kamu ikut lupa diri,"
Tak berapa lama ibu Rubiah muncul bersamaan dengan suamiku. Ibu minta kami berdua duduk di ruang tamu. Wajah ibu mertuaku terlihat teduh masih mengenakan mukena putihnya. Sikapnya terlihat sangat ramah.
"Ibu minta kamu kesini untuk membicarakan soal kemoterapi Danu,"
"Bu, kalau bisa kami mau kemoterapi di Bengkulu saja. Tidak usah jauh-jauh, Mila sedang hamil saat ini. Apalagi kehamilannya sudah memasuki enam bulan. Saya tidak bisa meninggalkan dia sendirian,"
"Justru karena itu, kamu dan ibu yang berangkat ke Padang untuk berobat. Disini Mila aman, ada kedua orangtuanya, sanak saudaranya, jadi kamu tidak usah takut kalau soal Mila,"
"Bu, saya ingin sekali mendampingi Uda Danu berobat. izinkan saya ..."
"Mila, izinkan saya mendampingi Danu selama berobat. Biar dia fokus, selama beberapa bulan ini kalian menunda pengobatan dengan alasan kehamilan kamu. Kalau saja dulu kamu mengizinkan ibu bawa anak saya ke Padang sehabis lebaran mungkin dia tidak akan seperti ini kondisinya,"
"Bu, ini bukan salah Mila, aku memang ingin mendampingi Mila selama hamil. Layaknya suami pada umumnya,"
"Tapi gara-gara dia kamu bahkan tidak mempedulikan diri sendiri. Kamu memang .."
__ADS_1
"Ibu!" suara Danu dengan lantang.
"Udaaaa..." Aku langsung sigap menahan tubuh suamiku yang agak ambruk.
"Kamu lihat, Mila. Kamu lihat bagaimana Danu langsung drop hanya untuk membela kamu," dadaku terasa sesak mendengar ucapan ibu mertuaku.
"Kamu tidak lupa, Mila. Gara-gara kamu Ammar cacat, terpisah dari keluarganya. Meninggalkan calon istrinya di hari pernikahannya. Dan aku tidak ingin anakku mengalami hal yang sama. ITU YANG MEMBUAT AKU TIDAK SETUJU DENGAN PERNIKAHAN KALIAN!"
"Makwo!"
"Ammar apa yang Makwo bilang benar 'kan?"
"Mila tidak salah, Makwo. Aku yang terlalu terobsesi sama Mila saat itu. Aku yang memutuskan tidak datang ke pernikahan bersama Vika. Karena apa? karena aku tidak cinta sama Vika. Mama memaksaku menikah dengan pilihannya karena untuk menunjang cafenya, demi balas budi! Makwo bukannya sudah tahu hal itu!"
"Ando bawa Danu kekamar Ammar. Biar dia istirahat di rumah, dan setelah itu antar Mila pulang!" titah Makwo Rubiah.
"Enggak, Makwo, kalau Makwo tidak menerima Mila menjaga suaminya. Biar Danu pulang bersama istrinya,"
"Mar, Danu itu anak saya,"
"Dan ini rumah saya," jawab Ammar lantang.
Kami akhirnya pulang ke rumah nenek Seruni. Membawa suamiku yang masih tidak sadarkan diri. Ku tatap wajahnya yang terlihat pucat. Kepalanya yang di letakkan di atas tumpuhan kakiku. Mengusap rambutnya yang mulai menipis. Lalu aku alihkan pandangan ke jalanan luar.
"Kak Mila jangan pikirkan soal Makwo Rubiah. Dia sebenarnya sayang sama kalian tapi gengsinya lebih besar. Coba kak Mila lebih sering main ke rumah. Di jamin Makwo luluh, atau mungkin kalau anak kalian lahir nanti akan mencairkan kebekuan hati Makwo Rubiah,"
"Kadang yang tua masih keras hatinya justru kesempatan yang muda membuka komunikasi terlebih dahulu. Misalnya kalau siang kak Mila main ke resto. Kata Makwo Rubiah, sebenarnya resto itu mau di serahkan sama kak Danu. Maaf, ya kalau aku membocorkan lebih awal," kata Ando.
"Enggak apa-apa, Do. Selama ini aku terlalu sibuk dengan kehidupan sendiri sampai lupa bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan ibu mertua sendiri. Tadinya aku pikir aku dan ibu Rubiah sudah baik-baik saja. Saat lebaran kemarin ibu sudah bersikap seakan menerima saya. Tapi nyatanya masih ada sedikit kebencian di hatinya,"
"Aku juga minta maaf kak Mila,"
"Kenapa kamu yang minta maaf? kamu nggak salah apa-apa, Do,"
"Aku minta maaf soal yang pernah aku lakukan sama kak Mila dulu. Saat kakak masih pacaran sama kak Ammar aku sering merendahkan kak Mila. Aku yang saat itu mendukung semua kelakuan mama,"
"Sudahlah, Do. Itu semua sudah berlalu. Aku juga nggak pernah benci sama kamu, cuma aku masih trauma dekat sama Ammar,"
__ADS_1
"Sebenarnya Bang Ammar masih mencintai Kak Mila. Dia cukup kaget saat tahu kalau kak Mila sudah menikah. Tapi kak Mila tidak usah takut, Bang Ammar sudah ikhlas. Dia bahkan sekarang fokus sama kesembuhan kakinya. Walaupun sudah beberapa dokter mengatakan kalau Bang Ammar tidak akan bisa berjalan normal,"