Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 79


__ADS_3

"Sudah pulang, Mas." sapa Mila saat Danu memasuki rumah.


Mila tadi sempat berpikir mau buka usaha lotek dan nasi uduk seperti dulu. Tapi dia hanya bisa bergerak sendiri. Eva sudah mulai sibuk dengan bisnis onlinenya. Meskipun kata Eva dia mau ikut gabung lagi sama Mila. Akan tetapi Mila tahu setiap hari ada banyak pesanan barang.


"Itu apa?" tanya Danu.


"Catatan buat stok jualan lotek sayur, Mas. Sekalian bahan untuk nasi uduk. Mas, aku boleh kan jualan lagi. Sebenarnya ini sudah rencana bulan lalu. Tapi ada saja halangannya."


Danu hanya manggut-manggut saja. Dia tidak masalah kalau Mila punya kegiatan sampingan. Hitung-hitung supaya istrinya tidak bosan di rumah. Sejak menikah aktivitas Mila hanya sebatas istri rumah tangga. Beresin rumah, masak untuk adik dan suaminya. Terkadang dia main ke panti, berbaur dengan keluarga suaminya.


"Boleh kok, sayang. Aku juga kangen makan nasi uduk sama lotek buatan kamu. Pasti enak. Di rumah sakit banyak yang nanyain nasi uduk kamu. Mereka ngira aku yang melarang kamu jualan. Padahal kan kita belum ada persiapan saja." Jelas Danu.


"Masa sih, Mas. Waktu aku antar bekal buat kamu di rumah sakit. Ada Mbak yang jualan pakai keranjang. Kayaknya dia laris. Soalnya pas aku pulang keranjangnya sudah kosong. Itu kalau aku yang masukkan ke sana kasihan Mbak nya nantinya. Nanti aku dikira mau saingan."


"Ya enggaklah, Sayang. Rezeki kamu dan rezeki mbak Sumi itu beda-beda. Nggak usah takut dianggap saingan atau tersaingi. Kalau kamu memikirkan begitu berarti tidak percaya rezeki yang di kasih Allah."


"Oh, ya. Bagaimana sambil belanja bahan. Kita juga belanja untuk masak di sana. Soalnya ..."


"Sari pulang ke Manna, kan Mas? ibu sudah bilang kok. Makanya dia sedikit keteteran mengurus Rara. Mas, apa kamu sudah bilang sama ibu. Buat adopsi Rara. Aku sudah bicara sama Lala dan dia setuju Rara tinggal sama kita."


"Sudah. Tapi sepertinya pihak ibunya Rara keberatan."


"Kalau mereka keberatan, kenapa tidak mereka saja yang mengasuh Rara?"


"Karena ekonomi mereka di bawah kita. Jangan untuk mengurus Rara, syukur-syukur mereka dapat uang makan. Waktu aku SMA, Bu Nurmala pernah ajak aku untuk datang ke tempat keluarga Rara. Waktu itu ya Rara belum lahir. Anak panti masih tujuh orang. Sekarang malah 20 orang."


"Jadi waktu kamu SMA sudah balik lagi kesana, Mas? bukannya kamu pernah bilang kamu tinggal sama orangtuanya Wisnu sampai tamat kuliah."


"Aku memang masih tinggal sama orangtua angkatku. Tapi sering main sama keluarga panti. Wisnu juga sering ikut sama aku. Sudah seperti keluarga sendiri. Waktu ke keluarganya Rara aku juga ajak Wisnu yang masih SMP. Nggak ada yang di batasi sama ibu angkatku." Danu mengenang masa remajanya dulu.


"Kamu beruntung, Mas. Punya orangtua angkat seperti mereka. Baik dan sayang sama kamu. Aku jadi rindu sama ibu. Ibu Dahlia apa kabarnya ya? kenapa dia mulai jarang menghubungi aku. Apa dia tidak rindu sama aku?"

__ADS_1


"Telepon saja. Kamu ada kontaknya kan? ya kalau kamu menunggu respon dia duluan yang ada saling salah paham. Apa salahnya kamu duluan yang menelepon ibu Dahlia?"


"Iya, Mas. Aku akan telepon dia nanti. Kita persiapan untuk ke rumah ibu Nurmala. Ke panorama dulu, ya." Danu mengangguk.


Langkah kakinya berjalan menuju kamar mandi. Danu merasa pusing, Tapi dia tetap memaksakan berdiri. Tangan kanannya menahan dahan pintu. Tanpa dia sadari tetesan darah sudah menunjukkan titik titik di lantai.


"Mas, kamu dima ..." Mila berdiri di depan pintu.


"Darah? darimana ini?" Mila berjalan mengikut rentetan darah. Hingga terhenti di depan kamar mandi.


"Mas, Kamu nggak apa-apa?" Mila menggedor pintu kamar mandi.


"Mas, Ya Allah mas Danu kenapa ada darah disini? Mas!" Mila menggedor kamar mandi. Tetap saja tak ada suara.


Mila bingung harus minta tolong sama siapa. Pada akhirnya dia melihat salah satu tetangga yang melintas. Dengan bantuan para tetangga, akhirnya kamar mandi pun di gedor.


"Ya Allah, Mas!" pekik Mila menemukan suaminya pingsan di kamar mandi.


Tak lama Lala pun datang bersama Eva. Beruntung memang sekolahnya sedang pulang cepat.


Mila dan Eva sedang menemui dokter Wisnu. Sementara Lala menjaga Danu. Entah kenapa melihat rambut Danu ada yang gugur Lala pun mengambil guguran rambut. Bersamaan dengan Mila yang melihat posisi Lala membuatnya salah paham.


"Lala, kamu ngapain?" suara Mila seperti meninggi.


"Anu, kak. Itu" Lala sudah ketakutan mendengar suara Mila.


"Kakak tanya kamu ngapain seperti itu di dekat suamiku?"


"Rambutnya gugur kak, aku cuma bersihkan." kata Lala masih ketakutan.


"Sudahlah Mila, dia kan cuma membersihkan rambut Danu. Nggak ada yang aneh." Eva mencoba menjadi penengah.

__ADS_1


"Kamu suka kan sama suami kakak? jangan-jangan benar kata ..."


"Mila!" Eva tidak suka mendengar tuduhan Mila pada Lala.


"Sekarang bukan waktunya berdebat soal itu kak. Mending kakak temenin suami kakak." Elak Lala.


Mila masih syok dengan apa yang dia lihat tadi, Mila tidak menyangka kalo Lala seberani itu. Sesekali dia mengucapkan astaghfirullah. Mengusap wajahnya dengan kasar.


Setelah dua jam Danu pun akhirnya sadar. Mila yang masih setia menunggunya "Sayang," Ternyata Danu sudah sadar. Mila mencoba menenangkan hatinya yang tadi sempat kacau.


"Mas"Mila mencoba membetulkan posisi duduk suaminya.


"Kok bisa di rumah sakit,mil?"


"kamu pingsan di kamar mandi."


"Pingsan! Terus apa kata dokter?"


"Belum ada keterangan dari dokter, Mas. Sebenarnya Mas sakit apa? ini bukan pertama kalinya aku menemukan mas pingsan dan mimisan."


"Aku hanya kecapekan." Jawab Danu sambil memegang tangan Mila.


Mila mencari Lala yang sejak tadi tak nampak batang hidungnya. Apakah adiknya marah padanya? bisa jadi. Dia merasa bersalah sudah menuduh adiknya. Tapi masih terbayang di benaknya bagaimana cara Lala di dekat suaminya tadi.


"Va, Lala mana?" tanya Mila.


"Tidak tahu, Mila. Kamu kenapa sih tadi? nuduh Lala untuk hal yang tidak mungkin dia lakukan. Dia masih SMP, mana mungkin mau nikung kamu. Lala itu bukan Sarah."


"Iya, aku salah. Makanya aku cemas mikirin Lala. Dia ngambek dan pulang sendiri. Selama ini kan dia tidak pernah serba sendiri. Pikiran aku lagi kacau,Va"


"Sangat kacau kamu, Mila. Kamu tidak lihat Lala sangat ketakutan. Ini baru satu hari suamimu di rumah sakit. Bagaimana kalau berhari-hari."

__ADS_1


__ADS_2