Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
PART 143


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Sesuai instruksi dokter, Mila pun berbaring di brankar pasien. Dia pun tersenyum saat gel melampisi perut buncitnya. Sebuah alat pun bergerak menari diatas perutnya. Senyum dari sang dokter tampan pun membuat dirinya sedikit salah tingkah.


"Hai, maaf aku ganggu. Soalnya kepo mau lihat calon keponakan." Wisnu muncul dari balik pintu praktek dokter Ramlan.


"Astaga, Wisnu. Kan kamu bisa lihat pas dia lahir nanti." omel dokter Ramlan.


Danu yang sedang memunggungi istrinya ikut berbalik menoleh pada pemuda itu. Wisnu hanya sekedar garuk-garuk kepala sesekali nyengir kuda.


"Makanya nikah!" semprot Danu sambil tertawa.


"Astaga abang, please deh! itu mulu yang di bahas. Apa salahnya kalau aku mau lihat keponakanku?"


"Sudah, saya mau periksa Bu Mila dulu!" Ramlan pun menjalankan tugasnya sebagai dokter kandungan.


"Kamu lihat itu sayang, anak kita nggak bisa diam. Aktif sekali sama kayak ibunya." ucap Danu ketika di rumah sakit.


Danu memegang layar monitor memperlihatkan hasil USG kandungan istrinya. Rasa haru menyeruak di dalam hatinya. Tatapannya tidak lepas dari sosok mungil yang sebentar lagi akan hadir di dunia ini. Mila memperhatikan ekspresi suaminya sempat terheran-heran. Kenapa lelaki itu terlihat sedih. Apakah Danu memang waktunya tidak akan lama.


"Uda," Mila menggenggam erat jemari Danu. Keduanya saling menguatkan.


"Aku tampak cengeng, ya?" suara serak Danu di selingi tawa meskipun terkesan memaksa.


"Enggak, kok. Wajar itu ekspresi bahagia karena sebentar lagi akan jadi orangtua. Sebentar lagi akan ada yang panggil ayah dan bunda."


Danu kembali memutar pandangan ke layar monitor. Air matanya menetes ketika melihat sosok kecil menggeliat di dalam kantong janin istrinya.

__ADS_1


Sebenarnya tidak ada rencana untuk USG. Karena hari ini jadwalnya kemoterapi Danu. Usia kandungan Mila sudah memasuki tujuh bulan. Danu bersyukur selama hamil Mila tidak ada ngidam yang aneh-aneh. Mungkin calon anak mereka paham keadaan ayahnya sedang tidak begitu baik.


"Anak kalian sepertinya perempuan. Karena tidak terlihat ada sosisnya. Jadi saya menyimpulkan kalau anak bapak perempuan." jelas dokter Ramlan.


"Kepala janin umumnya telah berada di bagian bawah rahim dengan posisi siap lahir.Idealnya, gerakan janin disebut normal apabila Anda merasakan setidaknya 10 gerakan dalam 2 jam. Namun, Anda bisa juga merasakan 10 gerakan dalam waktu kurang dari itu.Pada usia tujuh bulan, kehamilan organ tubuh bayi sudah terbentuk sempurna, beberapa organ vital seperti hati, limpa, dan paru-paru juga sudah mulai bekerja pada minggu ini." jelas dokter Ramlan.


"Sayang, kamu punya teman nanti. Ada yang bisa kamu ajak masak bareng, dandan bareng. Ada yang bisa bantu kamu di rumah kalau dia remaja nanti." suara Danu masih serak tapi tendengar bersemangat.


"Benar ibu Rubiah bilang perutku bulat. Biasanya anak perempuan." kata Mila.


Dokter Ramlan pun meminta Mila harus menjaga asupan makanan.


"Bisa mendapatkan asupan zat besi dari tahu, kacang-kacangan, sayuran lberdaun hijau gelap, roti gandum, telur, daging sapi, hingga makanan laut (hati-hati terhadap makanan mentah dan banyak mengandung merkuri). Asam folat adalah makanan saat hamil 7 bulan yang tak boleh dilupakan.Jangan Lupakan Asam Folat.


Asam folat adalah makanan saat hamil 7 bulan yang tak boleh dilupakan. Asam folat merupakan nutrisi penting dalam pembentukan sel otak. Suplemen prenatal (masa sebelum kelahiran) dengan asam folat, penting bagi kecerdasan Si Kecil meski dalam kandungan." Jelas dokter Ramlan.


"Terimakasih, Dok." kata Danu.


"Abang siap?" tanya Wisnu. Danu mengangguk kecil sambil memejamkan mata. Alat medis kembali menyapa kulitnya. Sesekali menarik nafas dalam-dalam. Tak lama dia sudah tertidur berada dalam pengaruh bius.


Dari kaca pintu rumah sakit Mila melihat proses kemoterapi suaminya. Saat ini sudah kali keempat Danu menjalani kemoterapi. Mila selalu mendampingi suaminya baik kemoterapi atau sekedar kontrol.


"Progres yang baik, Danu. Kondisi tubuhmu sudah lebih baik dari sebelumnya." ucap dokter Huda.


Dulu dokter sempat pesimis dengan kondisi tubuh Danu. Penilaian dokter segiat apapun Danu berobat tidak akan ada hasilnya. Sekalipun harus menjalani kemoterapi berkala. Namun Danu bukan lelaki yang gampang pesimis. Semua pengobatan dia jalan baik medis maupun non medis. Itu yang membuat dia bisa bertahan sampai saat ini.


Ini kemoterapi yang ke lima, Mila melihat Danu menahan kesakitan, sungguh dia tidak tega. Tapi demi kesembuhan semua itu harus di tempuh.

__ADS_1


Mila kembali duduk di kursi tunggu. Air matanya menetes membasahi pipinya. Sungguh dia sudah tidak kuat melihat tubuh suaminya di tempelkan alat medis. Kepalanya menunduk mengusap perut buncitnya.


"Nak, ayahmu di dalam sedang berjuang. Mempertaruhkan nyawanya untuk bisa bersama kita. Dia ingin kamu punya orangtua utuh. Dia ingin kamu diantar ke sekolah sama ayah. Dia juga ingin kamu bangga punya ayah yang gagah. Bantu ibu untuk tetap kuat ya, Nak. Biar ayahmu juga bangga sama ibu karena bertahan di sisinya."


"Kak Mila," suara itu menyapa dirinya.


"Fera, kenapa di sini?" tanya Mila.


"Aku menemani mama sedang kontrol kesehatan. Bukan sakit parah hanya check up saja." kata Fera.


"Ibu mana?" Mila mencari ibu Dahlia yang sudah pasti ikut dengan Fera.


"Tadi ke toilet. Kak Mila ngapain disini kontrol kehamilan ya?" tebak Fera di balas anggukan kepala dari Mila.


"Sendirian? kak Danu mana?" tanya Fera.


Mila menunjuk di mana Danu sedang melakukan kemoterapi. Fera kaget, pandangannya beralih ke Mila. Meminta penjelasan dari kakaknya.


"Danu menderita leukimia stadium empat." ucap Mila lirih.


"Leukimia!" Fera makin kaget mendengar penuturan kakak sambungnya.


"Se .. sejak kapan, kak?"


"Danu sebenarnya sudah menderita leukimia sejak kecil, Fera. Tapi Alhamdulillah Allah masih memberikan umur yang panjang. Berbagai pengobatan sudah dia lalui. Dan sampai sekarang dia masih bertahan. Cuma kadang dia sering drop."


Fera langsung memeluk kakaknya. Sungguh dia tidak menyangka bingkai kehidupan Mila begitu menyedihkan. Di tinggal kekasih berkali-kali, setelah ada yang serius malah sakit. Kalau Fera berada di posisi Mila belum tentu sekuat ini.

__ADS_1


"Kenapa kak Mila tidak pernah cerita? paling tidak kami bisa membantu kakak untuk pengobatan Danu. Paling tidak beban di pundak kakak sedikit berkurang."


"Apa ibu dan pak Rohim tahu soal ini?" Mila menggangguk mengiyakan pertanyaan Fera.


__ADS_2