Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 56


__ADS_3

Sore ini bude Lia datang berkunjung ke kediaman nenek Seruni. Tentu saja meminta Mila dan Danu untuk ikut tinggal di Lampung bersama mereka. Bukan ini momen yang dia tunggu selama ini. Rasanya sudah cukup dia bersabar menunggu mengungkap bahwa dia adalah ibu kandung Mila. Sudah lama dia mencari waktu menjelaskan tentang semua ini.


Mobil yang di tumpangi Lia sudah sampai di gang sepakat. Karena angkot tidak bisa masuk ke dalam mau tidak mau Lia dan Fera beserta intan berjalan menuju gang.


"Sebenarnya mama itu terlalu lama mengungkapkan semua ini sama kak Mila. Waktu yang sangat panjang selama mama disini tidak mama manfaatkan. Seharusnya mama kan bisa kerjasama dengan ayahnya kak Mila, memberitahukan soal identitas kalian." kata Fera.


"Mama tahu, Fera. Tapi setiap mama mau bilang sama mereka ada saja yang membuat aku bungkam. Nyaliku selalu ciut,Fera."


"Jangan sampai kak Mila mendengar kisah tentang mama dari orang lain. Itu akan susah membuat Mila menerima orang yang selama ini dianggap sudah membuangnya,"


Langkah kaki bude Lia terhenti. Sedari tadi Fera terkesan mematahkan semangatnya.


"Cukup Fera! sedari tadi kamu terus bicara seperti itu. Apa kamu takut punya saudara lain?"


"Aku bicara kemungkinan terburuk. Mama terlalu optimis kalau kak Mila mau ikut sama mama. Kalau kak Mila masih kecil mama bujuk 1 kali saja pasti nurut. Tapi ini sudah dewasa, sudah kepala 3,"


"Tapi kan belum kita coba. Kamu sudah bilang kemungkinan terburuk. Mama nggak paham lagi sama pikiran kamu"


Sore ini di kediaman nenek Seruni tampak ramai berkumpul sanak famili. Ada Eva dan tulang Boro, ada ibu Nurmala, ada Bu Melani dan Rudi, Sarah dan Anjas. Semua berkumpul di rumah untuk menjalin tali silaturahmi keluarga.Ditambah dengan kedatangan bude Lia, Intan dan Fera. Semakin membuat eratnya hubungan keluarga mereka.


Sarah merasa sepertinya ini waktunya membicarakan soal kepindahan mereka untuk lebih mandiri. Sarah meminta Mila bicara sama ayah mereka. Sarah merasa ayah Rohim akan lebih mendengarkan Mila ketimbang dirinya.


"Tidak ada yang akan keluar dari rumah ini!" Rohim tiba-tiba memberikan ultimatum kepada kedua putrinya yang sudah menikah.


Bude Lia terkejut dengan pengumuman dari Rohim. Menurutnya tidak akan mungkin dua keluarga berbaur jadi satu.


Sarah kelihatan keberatan dengan permintaan ayahnya, sementara Mila tetap akan di rumah sampai Lala menemukan pasangan. Mila tidak mungkin meninggalkan Lala cuma berdua dengan ayahnya.


"Gimana dengan kamu, yang?" kata Sarah dengan suaminya.

__ADS_1


"Ada benarnya kata ayah, yang. Nggak mungkin kita meninggalkan Lala," Kata Anjas.


"Tapi rumah ini terbatas, bang. Kamar cuma dua, kamar kami dan kamar nenek Seruni. Kalau kita tinggal disana bagaimana dengan Lala. Dia tidur di mana. Satu hal, bang. Salah satu dari kita harus ada yang mengalah. Kak Mila harus mengalah dan tinggal disini,"


Sarah kesal Anjas malah mengikuti kata ayahnya. Bagi Sarah dia masih was-was kalo suaminya dan Mila masih satu rumah walaupun Mila sudah punya suami.


Soal Lala, bagi Sarah kalo itu sudah tugas ayahnya untuk menjaga adik bungsunya, dia dan Mila harus melanjutkan status sebagai istri, bukan jadi baby sisternya Lala. ( Sarah egois banget)


Bude Lia berencana akan pulang ke Lampung dalam beberapa hari ini, tiket pesawat sudah di pesan. Tugasnya sudah selesai, sudah ada yang akan menjaga Mila. Rohim mempersilahkan kalo Dahlia mau pulang ke Lampung, Rohim juga berencana pulang ke Lampung karena dia punya urusan disana. Maka itu, Rohim minta selama dia pergi mereka tetap di rumah, agar Lala tidak sendiri.


"Sebelum bude pulang, ada yang ingin bude sampaikan ke kalian"


"Apa itu bude?" tanya Sarah


"Tentang ibu kandung Sarmila" jawab bude Lia.


"Mila jika ibu kandungmu datang dan mengajakmu tinggal bersama, apa kamu mau ikut sama dia?" tanya Bude Lia sambil menggenggam tangan Mila.


GEBRAAAAKKK!


Rohim memukul meja "Lia! Ini bukan waktunya bahas hal ini!!! Kamu itu tamu, nggak etis ikut campur urusan keluarga kami"


"Saya belum ngomong apa apa kok kamu sudah marah!" Bude Lia kesal.


Rohim membubarkan rapat dan memberi ancaman pada Dahlia, kalo masih bahas hal ini dia tidak segan segan mengusir Dahlia dari rumah.


"Kamu nggak berubah! Masih egois seperti dulu!" Rohim pergi meninggalkan Dahlia yang masih kaget.


Dahlia menemui boro menceritakan masalahnya, boro setuju dengan pemikiran Rohim kalo masalah ini jangan di ungkit dulu. Boro takut Mila jadi drop kalo tahu dirinya anak di luar nikah.

__ADS_1


Dahlia kesal tidak mendapat dukungan dari boro. Akhirnya dia minta Fera mempercepat waktu pulang mereka. Dahlia tidak ingin lama disini. Padahal dulu Boro lah yang mendukung Dahlia untuk mengungkapkan siapa dirinya.


"Bude, siapa ibu kandungku?" Tiba tiba Mila bertanya


"Bude kenapa bungkam, apa ibu kandungku itu masih malu mengakui aku anaknya. Iya kan bude, dia bersikap seolah tidak ada apa-apa. Seperti itukah naluri seorang ibu?"


Dahlia bingung harus jawab apa, dia tidak mau Rohim marah karena membongkar semua rahasia Mila.


"Tanyakan saja pada ayahmu. Bude cuma tamu, bude orang lain disini"


" Bude bukan tamu. Bude itu kakaknya ibu berarti orang tua kami Juga. Bude jangan pergi" Mila memeluk bude Lia.


"Dia bukan kakak ibumu. Dia cuma saudara tiri!" Suara Rohim mengagetkan  Mila dan Dahlia.


"Mau kamu apa, Lia! Kamu mau bilang ke Mila kalo kamu ibu kandungnya. Kamu mau bilang ke Mila kalo kamu hamil di luar nikah!"


"Rohim! tidak sepatutnya kamu bicara seperti itu didepan anakmu. Itu sama saja kamu sudah melukai perasaannya. Inikah sikap sayang seorang ayah pada anaknya, Hah! kalau begitu Mila dan Danu ikut aku ke ke Lampung"


Mila kaget!


Mila tidak menyangka kalo gosip yang dia dengar selama ini ternyata benar. Bahwa dirinya adalah anak haram.


"Cukup! aku bilang sudah cukup! aku tahu kalian tidak sudi menerima aku. Ayah meninggalkan ibu Aminah untuk mencari ibu kandungku hanya untuk memulangkan aku. ibu kandungku membuang aku dan menikah dengan lelaki lain. Itu yang kalian bilang sebagai orangtua. Kalian semua egois!"


Mila berlari ke kamar. Danu mengejar istrinya kedalam kamar. Danu yang sedari tadi melihat drama keluarga Mila mencoba menenangkan istrinya.


"Kamu beruntung, masih punya orang tua lengkap. Lah aku dari bayi di panti nggak tau apa benar aku yatim piatu atau memang di buang oleh kedua orang tuaku." Kata Danu.


Mila menyandarkan bahunya di pundak suaminya. Tangan Danu mengelus rambut istrinya, seakan menguatkan perasaan istrinya.

__ADS_1


"Sejak kecil orang-orang selalu menghina aku. Apalagi sejak ayah pergi meninggalkan ibu saat hamil Lala. Semua menuduh kearah aku. Termasuk nenek Seruni. Apakah hidupku selalu seperti ini. Di kelilingi orang egois seperti mereka," Danu tidak bisa berbuat apa apa. Mungkin butuh waktu Mila  untuk menerima kenyataan ini.


"Satu yang harus kamu ketahui, kamu tidak sendiri Mila. Tidak ada yang egois atau tidak peduli sama kamu. Aku peduli sama kamu, dari dulu. Dari sejak kita masih sama-sama sekolah. Ada orang-orang di sekitarmu yang juga peduli sama kamu. Eva, Lala, Sarah, Anjas, mendiang ibu Aminah, ayah Rohim, dan keluarga lainnya. Ayah dan ibu kandungmu pasti punya alasan lain melakukan semua ini."


__ADS_2