Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 68


__ADS_3

"Kenapa di bawa pulang?" tanya Sarah ketika kerumah kakaknya.


"Nggak apa-apa, lebih bagus istirahat di rumah saja. Biar hemat biaya. Dan kita lebih fokus kalau dirumah." jelas Mila.


"Kan ada tabungan ibu, Kak. Gunakan saja. lagian itu gunanya tabungan untuk kita bertiga. Untuk kakak, aku dan juga Sarah. Apa kakak merasa berat mengeluarkan biaya untuk adik kakak sendiri."


Mila hanya diam saja. Dia bukan tidak mau keluar biaya untuk adiknya. Masih ada kebutuhan lain yang lebih wajib. Lala juga lebih fokus istirahat kalau di rumah.


"Kak Danu mana?" Sarah celingak-celinguk mencari kakak iparnya.


"Kerja." jawab Mila.


"Ini sudah Magrib, kak. Masa masih kerja. Jangan-jangan dia punya cemceman baru."


"Sarah! kamu apaan, sih!" Eva tidak suka dengan tuduhan Sarah. Meskipun sebenarnya dia agak setuju dengan pendapat Sarah. Tapi tidak harus di ungkapkan di depan orangnya.

__ADS_1


"Ya kan, kalau laki-laki tidak bisa di hubungi terus tidak pulang sampai jam segini. Apa coba namanya?kakak harus tegas sama suami kakak. Jangan mau di injak-injak seperti ini."


"Nggak ada yang di injak-injak, Sarah. Mas Danu kan perawat di rumah orang. Ngurusin orang lumpuh sama seperti dia kerja atas nenek Seruni dulu. Sudahlah, Sarah. Adik kamu mau istirahat." Mila meminta orang-orang meninggalkan kamar Lala.


Mila duduk di teras depan. Menanti suaminya pulang. Seharusnya jam segini pria itu sudah pulang. Matanya melirik kearah jam di handphone sudah masuk hampir isya.


"Assalamualaikum," suara bariton muncul di berjalan menuju pintu rumah. Tanpa menyadari kalau istrinya sudah menunggu di teras samping.


Mila melihat Danu duduk melepaskan sepatunya. Wajah penuh kelelahan, tadinya ada beberapa pertanyaan yang hendak dia utarakan. Kenapa tidak bisa di hubungi? kenapa pulang selarut ini. Terlebih saat suaminya mematikan telepon tadi siang. Semua yang ingin dia luapkan atas kerisauannya. Mila mendekati Danu mengambil ransel dan sepatu Danu lalu memasukkan ke tempat asalnya. Tanpa ada sapaan seperti biasanya.


"Mas mandi dulu biar segar badan, aku sudah siapkan makan malam. Aku sudah makan. Lala juga sudah makan tadi."


Mila hanya berlalu tanpa bertanya atau apapun pada Danu. Itu sudah membuat Danu merasa aneh dengan sikap Istrinya. Mungkin sedikit keromantisan akan membuat dia luluh. Nyatanya saat Danu menutupi punggung istrinya, Mila langsung melepaskan diri.


"Sayang, kamu kenapa seperti ini? Apa aku ada salah sama kamu? kalau pun iya, aku minta maaf. Apa kamu marah karena aku tidak bisa di hubungi tadi. Handphone ku lowbatt, untung saja tadi aku ketemu Wisnu, dan dari Wisnu, aku tahu kalau Lala masuk rumah sakit. Tapi saat aku sampai di sana, kalian sudah pulang. Please, kamu jangan begini."

__ADS_1


Danu sudah berusaha menjelaskan pokok permasalahannya. Tapi Mila masih membungkam.


"Tapi kenapa kamu mereject telepon aku, Mas. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Apa maksudnya? kamu pikir aku menelepon kamu buat ganggu kerja? Aku hanya mengabari soal Lala masuk rumah sakit. Dan kenapa kamu masih sempat tempat Wisnu bukannya langsung pulang."


"Telepon? iyakah? tapi kalau ada pasti aku angkat." Mila mengerutkan dahinya. Seakan perkataannya dianggap bohong. Mila mengambil handphone dan memperlihatkan ada banyak panggilan untuk Danu.


"Aku cas dulu. Handphoneku lowbat." Danu mengambil handphonenya.


Danu mencari chargernya. Dia membuka tas nya karena biasanya selalu membawa charger. Tapi nyatanya barang itu tidak di temukan.


"Astaga, aku baru ingat. Chargerku ketinggalan di rumah ibu Diana."


Diana? nama perempuan lain malah keluar dari mulut suaminya.


"Sayang, kamu kok masih marah? aku sudah jelasin yang sebenarnya."

__ADS_1


"Malam ini kamu tidur di luar!" Mila mengunci kamarnya dan pindah ke kamar Lala.


__ADS_2