
POV RUBIAH
1988, Desa belakang balok, Bukittinggi.
Siapa yang tidak bahagia, ketika sang pujaan hati menyatakan keseriusannya pada kedua orangtuaku. Itu yang aku rasakan saat Thamrin melamarku di depan kedua orangtuaku. Di depan sanak saudara yang saat itu berkumpul setelah resepsi pernikahan salah satu sepupuku.
"Amak, Abak, saya Tamrin Nazaruddin mau minta izin untuk melamar Rubiah, anak Amak dan Abak satu-satunya. Saya memang bukan orang bepitih gadang. Saya hanya dari keluarga yang cukup mampu tapi bukan berkecukupan."
"Nak, Tamrin, saya dan istri saya. Tidak masalah dengan kehidupan ekonomi keluarga kalian. Saya melihat kamu anak yang baik, pekerja keras, taat agama. Itu poin yang cukup untuk melepaskan Bia pada lelaki seperti anda. Kalau saya dan istri saya menyerahkan semuanya pada Bia. Bagaimana Bia, apakah kamu menerima nak Tamrin sebagai calon suamimu." Aku hanya mengangguk kecil.
Tentu saja aku menerima lelaki itu. Meskipun awalnya kami di jodohkan, dia sempat keberatan dengan perjodohan kami. Apalagi kami satu tempat kerja di sebuah koperasi kecil.
Aku Rubiah, anak asli Minang dari sebuah daerah kecil. Besar di sebuah desa kecil penghasil Sanjay balado. Saat ini memang hanya ayah ibuku yang membuka usaha keripik khas Minang itu.
Siapa yang tidak kenal ayahku Datuk Zulkifli, meskipun tinggal di daerah kecil kota Bukittinggi. Kami Alhamdulillah menjadi pengusaha pertama di desa kami, usaha Sanjay balado. Meskipun di daerah lain sudah banyak yang punya usaha serupa. Tapi untuk desa kami baru ayahku yang membukanya.
Belakang Balok adalah salah satu desa/kelurahan di Kecamatan Aur Birugo Tigo Bale, Kota Bukittinggi, provinsi Sumatera Barat. Itulah tempat tinggal kami di Bukittinggi.
Kerupuk Sanjay adalah sejenis penganan kerupuk dari singkong yang diparut tipis lalu digoreng dan diberi garam sebagai penyedapnya. Kerupuk ini amat populer sebagai makanan oleh-oleh khas Nagari Sanjai, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Daerah ini berjarak tiga kilometer dari pusat Kota Bukittinggi. Hidangan ini merupakan hasil dari industri rumah tangga masyarakat.
Kami hidup berkecukupan. Berkecukupan dalam arti bisa membuka ladang kerja untuk orang lain. Berkecukupan dalam arti bukan dari keluarga paling kaya di tempat kami. Tapi Alhamdulillah kami bisa membantu para tetangga untuk membuka lapangan kerja.
Perkenalanku dengan bang Tamrin bukan sekedar kebetulan. Salah satu keluarganya mengenalkan bang Tamrin, bisa diartikan kalau ada unsur perjodohan. Bang Tamrin ibunya asli Rejang, sedangkan ayahnya asli Minang. Adik bang Tamrin banyak, salah satunya Tarhandi atau biasa di panggil Handi ada yang bilang itu adik beda ibu. Karena ayah bang Tamrin punya banyak istri. Tamrin adalah anak dari istri keduanya, sementara Handi berasal dari istri ketiga.
Awalnya bang Tamrin menolak perjodohan itu. Aku hanya pasrah saja. Tidak bisa memaksakan hati bang Tamrin. Meskipun kami saling mengenal saat masih zaman putih abu-abu. Tapi hanya sekedar saling mengenal saja karena dia angkatan diatas ku.
Tapi belakangan dia datang untuk mendekati aku, kabarnya gadis pujaannya sudah menikah dengan lelaki lain. Aku sempat ragu dengan sikapnya yang tiba-tiba baik dan ramah. Selama ini dia sering memandang aku rendah. Mungkin karena dia anak orang kaya.
"Mungkin ini terdengar mendadak. Tapi bantu aku belajar mencintaimu, Bia."
"Benar, Abang mau menerima saya apa adanya" lelaki di hadapanku menggangguk. Membuat aku yakin menerima cintanya.
"Abang indak amuah pacaran, dek. Abang nak ajak adek buat jadi istri. Kita bisa pacaran setelah menikah."
"Tapi lai Abang amuah tingga di kampuang ketek ko."
"Istri itu harus ikut suami, dek. Jadi Abang maunya kamu tinggal di lingkungan abang. Abang bakal bawa kamu pulang ke Bengkulu. Dimana orangtuanya ada disana."
"Terus yang kemarin datang samo Abang bukan orangtua."
"Itu makwo dan pakwo Abang. Kakak dari ayah. Seperti kata makwo dan pakwo juga kata orangtua adek. Kita sudah di jodohkan dari bayi, sesuai wasiat kakek kita."
"Terimakasih, bang. Mau menerima gadis kampung seperti saya." Aku hanya menunduk lemah.
Pernikahan kami berlangsung sederhana. Tidak ada pesta musik dan segala macam. Hanya ada penghulu dan sanak saudara. Bang Tamrin menjanjikannya bakal diadakan pesta diadakan tempat orangtuanya. Aku percaya saja, ada atau tidak adanya pesta tidak masalah. Karena aku dan dia sudah sah dimata agama.
__ADS_1
Aku dan bang Tamrin pun meninggalkan kota yang sudah membesarkanku. Berbekal restu dan doa dari keluarga besar. Kami pun berangkat ke Bengkulu melalui dengan menggunakan bus antar pulau. Aku berharap akan ada kebahagiaan di bersama suamiku. Selang esoknya kami sampai di terminal Simpang Nangka, katanya ini masih daerah. Masih ada dua jam lagi untuk sampai di kota Bengkulu.Pertemuan pertamaku dengan keluarga suamiku terbilang tidak baik. Mereka memandang rendah karena aku dari kampung. Walaupun kota Bengkulu saat itu masih di penuhi hutan. Bahkan lebih ramai kampungku sebenarnya. Tapi aku harus yakin kalau suamiku tidak berpihak pada mereka.
"Ini bini kau, Tamrin. Mano kau nengoknyo, masih cantik calon adik kau si Diana." kata Bu Hasna, ibu mertuaku.
"La ini calon yang di pilih Atuk." Bela suamiku.
"Alah, Atuk kau kan lah meninggal. Ngapo pulo kau nak nurut nian kendak Atuk? Idak akan Atuk kau nak idup lagi."
"Hasna! Idak boleh kau ngomong macam itu. Itu orangtua saya, mertua kau! macam dak diajar mulut kau!" berang Ayah mertuaku.
Aku di boyong sama bang Tamrin masuk ke kamar.
"Bia, maafkan ibu tiri abang, ya. Ibu kandung abang sudah meninggal dunia saat abang masih SD. itu tadi ibunya Handi."
"Tidak masalah, bang. Mungkin karena baru ketemu. Lama-lama aku bisa kok menyesuaikan diri bersama mereka."
Tiga tahun pernikahan kami, belum juga di beri keturunan. Tiga tahun pernikahan kami di cerca pertanyaan soal keturunan. Bang Tamrin masih tetap sabar. Dia masih berpihak kepadaku. Hingga pertengahan tahun 92 aku di beri amanah pada Allah. Bang Tamrin kala itu semakin sukses dengan karirnya. Dia menganggap kehamilanku membawa berkah.
Namun itu tidak berlangsung lama. Saat anakku Abdi yang kala itu berusia satu setengah tahun di vonis dokter menderita leukimia. Dunia seakan runtuh, kala itu dokter belum memvonis berapa lama anakku bertahan. Dia hanya bilang masih gejala awal, masih bisa di tangani. Pada zaman itu kemoterapi termasuk mahal. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menempuh penanganan seperti itu.
Setelah mengetahui penyakit Abdi, Bang Tamrin mulai berubah. Dia jadi jarang di rumah dengan alasan sibuk. Saat itu aku maklumi. Perlu dana yang besar untuk pengobatan Abdi. Bang Tamrin tidak pernah memperlihatkan kekecewaannya atas apa yang menimpa Abdi.
Alhamdulillah, hingga usia Abdi tiga tahun dokter mengatakan stamina dan imun Abdi semakin membaik.
Saat itu aku juga Diana masih tinggal dengan mertua. Diana yang masih menjadi menantu kesayangan ibu mertuaku. Yang selalu di puji apapun yang di lakukannya.
Diana, adik iparku sedang hamil anak keduanya. Dia pun memantau aktivitas dua anak yang berbeda usia. Ammar berusia satu setengah tahun sementara Abdi tiga tahun.
"Diana, Uni mau masak. Bentar lagi bang Tamrin pulang. Bisa tolong pantau Abdi dan Ammar?"
"Bisa, Uni." Aku pun tenang meninggalkan anakku dalam asuhan Diana.
" Amaaaak!" Aku yang sedang menggoreng pun mematikan kompor.
"Ya Allah, Abdi kamu kenapa?" Kulihat tengkuk leher anakku terluka.
"Tadi Abdi lihat ranting pohon mau jatuh. Makanya Abdi dorong Ammar supaya tidak kena. Tapi malah aku di pukul sama etek Diana." Kulihat tengkuk Abdi mengeluarkan darah.
"Sakit, Mak" Tangis kencang Abdi semakin kencang saat aku membersihkan lukanya.
"Aih, kena cak itu aja, lah nangis. Manja nian anak uni tu."
"Kau tu pulo ngapo anak ambo di pukul. Nyo kan nolong Ammar. Kalau idak itu anak kau yang keno."
( Kamu tuh kenapa pukul anak saya. Dia kan menyelamatkan Ammar. Kalau tidak Ammar yang kena)
__ADS_1
"Keno apo, anak ambo di dorong sampai jatuh. Ibu mana yang idak marah."
(Kena apa? anakku di dorong sampai jatuh. Ibu mana yang tidak geram)
Entah drama apa yang akan terjadi dalam hidupku. Tak ada yang membelaku. Ku bawa Abdi ke rumah sakit untuk pengobatan. Aku tidak peduli dengan cibiran keluarga besar suamiku.
Di tengah dokter menangani Abdi, aku pun diminta menunggu diluar. Kudengar suara Abdi menangis kesakitan. Rasanya ingin menerobos ruang periksa. Namun aku pun hanya bisa berdoa agar anakku baik-baik saja.
Netraku beralih ke sepasang wanita dan lelaki yang masuk ke sebuah praktek dokter. Langkah kakiku menuntun ke arah pintu yang bertuliskan Obgyn. Aku yakin lelaki tadi adalah bang Tamrin.
"Siapa wanita itu yang bersama bang Tamrin?”
Ceklek!
"Bia..."
"Bang, kenapa abang disini, siapa wanita ini?"
"Uda, ini siapa?" tanya wanita itu.
"Uda? kamu manggil dia Uda?"
"Lah iyolah. Iko Uda aku, suamiku." jawab wanita itu.
"Suami? ini juga suami saya. Kami sudah punya anak umur tiga tahun."
"Oh, ini bini abang yang dari kampung. Yang di bilang ibu Hasna."
Ibu Hasna? ya Allah mereka tahu tapi hanya diam saja.
"Bang, aku minta talak!"
"Baik! aku talak kau, Bia. Kamu sekalian bawa anak kamu yang penyakitan!"
Setelah dia mengusir aku dan Abdi. Aku pulang membawa Abdi yang selesai di obatin dokter. Aku tidak bisa langsung pulang ke kampung tanpa menyelesaikan urusan perceraian. Apalagi kata mertuaku Bang Tamrin masih sibuk sama kehamilan istrinya.
Handi adik iparku sempat menawarkan bantuan menitipkan Abdi di sela kesibukan mengurus urusan perceraian. Dan ini yang menjadi malapetaka, Abdiku malah di opor sana sini. Hingga dia hilang dan Diana tanpa rasa bersalah bilang kalau anakku adalah beban buat keluarga mereka.
Di masa sekarang
Rubiah memandang Diana yang tertidur pulas setelah di beri obat oleh Danu. Tatapan penuh kebencian di rasakan wanita itu. Tatapan penuh dendam mengingat masa lalu yang pedih.
"Diana, sebenarnya aku tidak suka kembali ke rumah ini. Rumah yang penuh kepahitan, rumah yang dimana kalian memperlakukan aku layaknya pengemis.
Kalau tidak aku berencana mencari Abdi, karena hanya kamu saksi kunci atas hilangnya anakku." kata Bia.
__ADS_1
"Buat apa Uni mencari anak penyakitan itu. Dia kan sakit, siapa tahu dia sudah meninggal. Mana ada orang mengidap kanker bisa bertahan hidup lama." Kata Diana saat masih sibuk mempersiapkan pernikahan Ammar.