
Tiga Bulan Kemudian
Danu merasa tubuh mulai drop lagi. Dia takut jika harus meninggal dunia sebelum melihat anaknya lahir. Dia ingin melihat sang anak tumbuh besar dan mendapat perhatian penuh dari kedua orang tuanya. Pada akhirnya Danu menemui Ammar. Danu merasa tubuhnya gampang drop akhir-akhir ini.
Ammar rencananya mau ke rumah sakit. Mengurusi soal donor sumsum tulang belakang. Setelah itu dia berencana mau ke Singapura atas rekomendasikan salah satu kerabatnya. Bukan hanya Ammar yang akan berangkat. Mama Diana dan juga di ikut sertakan untuk pengobatan. Dan ini atas usul ibu Rubiah. Apalagi ingatannya sudah kembali. Dia bisa melanjutkan hidup setelah kakinya sembuh.
Awalnya amar ingin pamit sama Danu,tapi ternyata ada hal penting yang ingin disampaikan Danu terkait soal Mila.
"Mar, kalo aku pergi kamu bisa kan jaga Mila." Amar kaget. Dia tahu kalau Danu sakit keras. Akan tetapi permintaan Danu sangat berat.
"Apa maksudnya ini? Kamu mau meninggalkan Mila."
"Aku merasa waktuku sedikit lagi. Mila itu ..."
"Nggak!Kamu itu egois sekali. Setelah kamu rebut Mila dari aku, sekarang kamu mau ninggalin dia." Amar emosi.
"Karena aku tahu kalau kamu masih cinta sama Mila. Makanya aku minta hal ini sama kamu. Aku mau berobat ke Padang bersama ibu Rubiah, kondisi kehamilan Mila tidak memungkinkan untuk ikut bersamaku. Jika terjadi sesuatu sama aku, kamu harus janji untuk menggantikan aku,"
"Tidak, Danu. Aku kenal Mila sekali mantan baginya tidak ada cerita untuk membuka hatinya lagi. Aku akan donorkan sumsum tulang belakang buat kamu, Danu. Kalau kamu menjadikan alasan penyakit, cuma pengecut yang bisa melakukan hal ini,"
Seandainya kakinya bisa berdiri mungkin Ammar sudah menghajar Danu. Dia memang mencintai Mila, tapi dia tidak suka kalo ada yang bikin Mila menangis.Ammar heran bukankah hidup mereka sudah bahagia, kenapa Danu berpikir mau meninggalkan Mila.
Danu memandang ke lain arah. Sungguh tidak ada maksud untuk mempermainkan Mila. Dia hanya ingin memberikan kebahagiaan untuk istrinya. Dia takut kalau nantinya semakin parah hanya akan menyusahkan Mila.
"Kalau kamu memang cinta sama Mila. Tolong bahagiakan dia. Tolong jangan sakiti dia, permintaan kamu tadi sudah termasuk menyakitkan perasaannya. Aku sudah ikhlas pada hubungan kalian, dan jangan buat rasa ikhlasku jadi mubazir," suara Ammar meninggi.
"Dan aku harap jangan bahas soal kematian lagi, Danu. Lama-lama aku jadi muak sama kamu yang merasa sok menderita, banyak di luar sana yang lebih parah dari kamu. Tapi mereka masih optimis dalam menjalani kehidupan. Kamu punya ibu yang care, dia mampu membiayai pengobatan asal kamu juga optimis bukan pesimis,"
Danu hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Padahal kedatangannya membahas soal penyakitnya. Tapi malah kena marah sama Ammar.
"Kamu tenang saja. Aku pasti akan menepati janji untuk mendonorkan sumsum tulang belakang. Ini aku lakukan demi Mila. Bukan demi kamu," Danu akhirnya pamit meninggalkan rumah ibu Diana.
Flashback on
"Kak Mila," suara panik dari Rudi
__ADS_1
"Iya, Rudi kok kamu yang angkat telepon suamiku. Mas Danu mana?"
"Tadi kami membangunkan kak Danu, tapi tidak ada pergerakan. Nafasnya ada tapi lemah," Adu Rudi.
"Ya Allah, kamu serius, Di?"
"Ngapain aku main-main kalau soal begini, Kak. Sekarang kak Danu di tangani oleh dokter," lapor Rudi.
Seperti yang di ketahui sebelumnya. Kalau Danu, Anjas dan Rudi menjaga ayah Rohim yang drop di loket kerja Anjas. Para menantu pun bertugas menjaga ayah mertua mereka.
Hingga keesokan harinya saat Rudi dan Anjas membangunkan menantu tertua. Tidak ada respon dari Danu.
Rudi pun memanggil dokter untuk mengecek keadaan Danu. Beberapa petugas pun membawa Danu ke ruang ICU. Karena menurut dokter Danu bukan sekedar pingsan.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Danu?" tanya Anjas.
"Aku tidak tahu, kak. Kan dokter belum mengabari terkait kondisinya. Kita tunggu saja," Elak Rudi. Dia bisa saja cerita sama kakaknya. Namun dia tetap berteguh janji menjaga rahasia Danu.
"Dari semalam dia pucat sekali. Aku melihat Danu minum obat lebih dari tiga macam. Aku rasa itu bukan sekedar vitamin," Rudi menanggapi pertanyaan Anjas hanya dengan menaikkan bahu.
"Iya, suster," Anjas dan Rudi berdiri.
"Dokter mau bicara sama keluarga inti saudara Danu,"
"Saya sudah hubungi istrinya. Sebentar lagi dia datang," kata Rudi.
"Apa kalian tahu ada penyakit parah di tubuhnya?" Anjas menggeleng. Rudi pun ikut-ikutan menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya ..."
"Dokter apa yang terjadi sama suami saya?" suara Mila memotong pembicaraan dokter pada dua pria tersebut.
"Anda keluarganya?"
"Saya istrinya," jawab Mila.
__ADS_1
"Bisa bicara sebentar?" ajak dokter.
"Bisa dok, sebenarnya suami saya kenapa?"
"Suami anda mengidap leukimia akut. Apa anda sudah tahu?"
"Saya sudah tahu, Dok," jawab Mila.
"Anda sudah tahu stadium berapa penyakitnya?"
"Sudah, dok,"
"Apa sudah melakukan kemoterapi atau pencangkokan sumsum tulang belakang?"
Mila menggeleng" Belum, dok? kami masih beradu keputusan dari mertua saya,"
"Saya minta secepatnya melakukan tindakan ini. Sebenarnya sudah terlambat, karena status kankernya sudah stadium akhir. Tapi apa salahnya mencoba,"
FLASHBACK OFF
Sejak dia di temukan pingsan di rumah sakit saat menjaga ayah Rohim. Mila lebih ekstra untuk menjaganya. Mengingatkan minum obat, seminggu sekali mendatangkan Wisnu untuk memeriksa. Padahal usia kehamilan Mila sudah masuk lima bulan akhir. Dia hanya periksa ke puskesmas terdekat. Kadang di temani Danu atau di temani sama Lala.
"Uda, aku minta kamu resign dari pekerjaan. Aku takut kalau lelah sedikit saja bisa fatal," pinta Mila.
"Kalau aku resign, terus kita dapat uang makan dari mana?"
"Aku kan bisa jualan di depan rumah. Kamu bisa bantu aku tanpa harus menguras tenaga,"
"Jangan sekarang, ya. Aku belum bisa melepaskan pekerjaan ini. Menjadi perawat adalah cita-citaku. Sudah bertahun-tahun aku mendedikasikan diri dalam pekerjaan ini,"
"Tapi status kamu masih honorer. Seharusnya kamu sudah diangkat menjadi staf tetap. Tapi nyatanya, Uda tolong dengarkan aku kali ini saja," Mila memohon pada suaminya. Bukan karena dia tidak puas dengan status pekerjaan Danu. Akan tetapi dia juga ingin Danu fokus untuk kesehatannya.
"Aku cuma ingin kamu fokus sama pengobatan itu saja,"
Danu dan Mila berpelukan. Suara isak tangis wanita itu membuat Danu semakin merasa bersalah. Hingga kepikiran untuk menemui Ammar. Di rasa itu hal yang tepat untuk kebahagiaan Mila.
__ADS_1