Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 133


__ADS_3

"Bang!" Sarah berteriak senang berlari kearah suaminya.


Anjas yang baru saja keluar dari kamar mandi tentu saja kaget. Mendapat pelukan dadakan dari Sarah. Dia juga penasaran apa yang membuat istrinya bahagia.


"Ini, aku sudah masuk dua minggu tidak haid," ucap Sarah riang.


"Itu artinya bisa kemungkinan aku bisa hamil, Bang," ucap Sarah penuh haru.


Anjas mengajak istrinya masuk ke kamar. Dulu Sarah menolak hamil karena masih fokus kuliah. Tapi saat itu Anjas maklumi umur Sarah sudah masuk 21 tahun. Masih banyak waktu untuk memikirkan soal anak.


Setelah mereka sempat pisah ranjang. Anjas pernah menalak satu untuk Sarah. Setelah nasihat yang di lontarkan Rudi dan ayahnya. Anjas pun membuka lembaran baru bersama Sarah.


Pada akhirnya istrinya berubah perlahan-lahan. Ya walaupun perubahan sikap mamanya tidak percaya dengan Sarah. Anjas memaklumi sikap mamanya, mungkin masih membekas di hati mama Melani atas sikap Sarah selama ini.


Mama Melani yang dulu memilih Sarah daripada Mila. Anjas pun tidak menampik saat itu dia pun punya rasa sama Sarah. Walaupun dia pun merasa bersalah pada Mila dan Rudi.


"Sarah," Anjas memulai pembicaraan ketika mereka sudah berada di kamar mereka.


"Iya, Bang,"


"Kamu sudah siap punya anak?" tanya Anjas. Di balas anggukan dari Sarah.


"Bukannya kamu mau fokus kuliah. Bukannya kamu pernah bilang kamu sudah pakai KB saat itu,"


"Enggak jadi, Bang. Aku pernah baca kalau pakai KB sebelum punya anak bakal lama hamilnya. Memang aku sempat mau menunda momongan. Tapi kalau nanti pas aku sudah tamat kuliah terus umur bakal terus berjalan kan makin lambat hamilnya. Makanya aku tidak jadi mengkonsumsi KB," cerita Sarah.


"Terimakasih, Sayang," Anjas menggenggam jemari Sarah dengan erat.


"Bang, sejak aku tinggal di rumah kak Mila, banyak hal yang jadi renungan. Termasuk salahku sama Lala, bahkan saat Lala masuk rumah sakit karena pingsan di makam ibu. Gadis itu tidak sedikitpun dendam sama aku,"


"Abang, mau kerja?" tanya Sarah sambil menyiapkan baju kerja suaminya.


"Enggak, aku mau ajak kamu ke rumah sakit. Kan mau periksa apakah kamu hamil apa enggak," Anjas mengelus perut istrinya.


"Sarapan dulu, Bang. Tadi aku masak lemea terong Belanda. Mau nya tadi masak tempoyak tapi aku ingat kalau abang alergi durian.

__ADS_1


Maaf ya, Bang. Aku belum hapal pantangan abang, tadi untung mama sempat ingatkan,"


"Sarah, maafin mama, Ya. Soalnya sikapnya selama sama kamu,"


"Bang, aku tahu mama masih kecewa sama aku. Ya, secara ini aku yang menjadi menantu yang tidak tahu diri. Mama yang baik sama aku, kak Mila yang memilih mengalah sama aku. Aku ..."


"Jas, kamu pergi kerja saja," suara mama Melani dari luar kamar.


"Iya, Ma. Anjas hari ini libur, nanti Rudi dan ayah Rohim yang mengawasi loket,"


"Jas, ingat mertua kamu itu baru sehat. Nanti kalau dia kenapa-kenapa lagi bagaimana? kamu juga yang repot,"


Sarah menoleh kearah suaminya.


"Bang, ada benarnya kata mama. Sebaiknya abang masuk kerja. Soal periksa kan masih ada hari esok. Ayah kan baru sehat, lagian aku baru telat haid. Belum tentu aku hamil, kalau memang sudah rezeki pasti di kasih sama Allah," ucap Sarah menyerahkan handuk.


"Sarah," panggil Anjas.


"Iya, bang. Kenapa lagi?"


"Jangan urut perut kamu, nggak bagus kalau menurut aku,"


"Kenapa abang tidak mau kayak adiknya Ira. Adiknya Ira perutnya di kuret karena bayinya tidak bisa di selamatkan. Kata Ira, adiknya di suruh mertuanya untuk urut biar kelahiran lancar. Tapi ternyata malah bermasalah di rahimnya.


Yang aku ingin kamu kalau mau hamil pakai cara alami saja. Nggak usah pakai cara ini itu biar cepat hamil, berikhtiar boleh tapi jangan melangkahi kehendaknya,"


"Iya, bang," jawab Sarah.


"Sekarang abang mandi, kan mau berangkat ke loket," Sarah mengalungkan handuk ke leher suaminya. Sarah kaget saat Anjas menarik tubuhnya di atas ranjang.


"Kenapa aku jadi semangat gini, ya, Sayang," muka Sarah memerah.


"Bang,.." suara Sarah yang lirih membangkitkan gairah lelaki Anjas.


"Ini masih pagi, Bang,"

__ADS_1


"Justru kalau masih pagi bagus untuk buat anak. Katanya kamu siap hamil," Anjas langsung membuka kancing piyama Sarah. Terlihat bukit kembar tanpa bra, memang kalau menjelang tidur Sarah tidak memakai bra-nya


Ciuman Anjas dari bibir menjalar ke arah Bra milik istrinya. Bak bayi yang sedang di beri ASI oleh ibunya, Anjas menghisap rakus membuat Sarah mengerang hebat. Anjas pun menatap bangga atas reaksi istrinya. Sarah pun tadi tak ingin bersuara namun apa yang dilakukan suaminya membuat hasratnya ikut naik.


"Bang, aaaashhhh," Desah Sarah sambil meremas "adik" milik Anjas.


"Hmmm, kamu mancing, ya," Anjas memberikan tatapan nakal ke istrinya.


Sudah puas menjalar ke seluruh tubuh istrinya. Anjas pun berbisik pada Sarah.


"Semoga ini bisa menjadi bibit unggul untuk anak kita," Anjas pun menancapkan milik ke lobang milik Sarah. Tangan Sarah mencengkeram erat ke rambut suaminya. Sesaat keduanya terhempas diatas ranjang. Mereka seperti kelelahan akibat pergumulan panas.


"Sepertinya istriku lelah sekali," Anjas mengecup dahi istrinya.


Langit sudah semakin tinggi, Sarah membuka matanya menatap ke sekeliling kamarnya. Anjas sudah tidak ada di kamar. Tebakan Sarah suaminya sudah berangkat kerja terlebih dahulu. Rasa perih di bagian sensitifnya membuatnya susah berdiri. Tapi Sarah memaksakan diri, tidak enak pada ibu mertuanya.


Setelah memakai baju, Sarah keluar kamar. Suasana rumah terlihat sepi. Sarah menebak kalau ayah mertuanya pasti pergi ke kebun di Tugu Hiu. Sudah pasti mama mertuaku ikut. Rudi pasti ada di kampus.


"Enak, ya sudah numpang sama mertua malah bangun siang," suara Bu Melani terdengar jelas di ruang tamu.


"Maaf, Ma," jawab Sarah menundukkan kepalanya.


"Itu tadi ngapain kamu di kamar. Kamu harusnya bantu saya di dapur tadi. Saya juga banyak kerjaan, Sarah! nggak harus menjadi pelayan kamu!"


"Maaf, Ma. Saya sudah berusaha nurut sama mama. Jadi istri yang baik untuk bang Anjas. Saya juga masih belajar sama mama, bagaimana mama menjadi istri yang baik untuk papa. Tadi kan saya di minta ke kamar sama bang Anjas. Bukankah istri harus kiblat sama suaminya, tapi kenapa mama masih benci sama saya,"


"Karena saya sadar sudah salah pilih menantu. Kalau saja Anjas nikah sama Mila pasti sudah di urus dengan baik. Tapi nyatanya kamu malah jauh dari keinginan saya. Harusnya Anjas itu menceraikan kamu, dan akan saya kenalkan pada anak teman saya. Sudah S2, mapan hidupnya,"


"Dan kalau kamu mau di akui sebagai menantu nanti sore kamu akan ikut urut lagi bareng mama,"


"Ma, bang Anjas melarang...."


"Kamu jangan banyak alasan! Anjas pasti nurut sama mama. Apalagi kamu habis berhubungan sama Anjas. Itu malah lebih bagus," Sarah menelan salivanya. Baru saja suaminya melarang ikut urut. Masa dia harus melanggar perintah suaminya.


"Ma, apa kita konsultasi sama dokter?"

__ADS_1


"Enggak perlu! mahal! urut saja cuma keluar modal paling besar 50 ribu. Nah kalau konsultasi dokter harus keluar uang ratusan ribu. Belum lagi obatnya. Pokoknya jangan banyak alasan,"


By the way kalian mau nya Sarah nurut sama mertua atau kembali jadi menantu bar-bar


__ADS_2