Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 52


__ADS_3

"Sayang, aku harus pulang ke panti. Baju-bajuku ada disana." kata Danu setelah mengganti bajunya sehabis pesta.


"Hmmm... aku ikut ya, Mas. Biar aku bantu beresin baju kamu di panti. Tapi, apa tidak bisa di tunda besok saja. Ini sudah malam, mas. Bisa jadi orang di panti sudah tidur."


"Masa aku seperti ini saja. Rasanya tidak nyaman istirahat pakai baju dinas saja."


Danu bukan cari alasan. Sewaktu pergi ke acara pernikahan Sarah, Danu berangkat dari rumah sakit. Bukan dari rumah. Saat dia mengabari kalau akan menikahi Mila pada ibu Nurmala. Wanita yang membesarkannya itu merestui. Meskipun ibu Nurmala tidak bisa hadir saat akad. Tapi saat walimah tadi ibu dan beberapa anak panti pun datang.


Dan sialnya Bu panti lupa bawa baju milik Danu. Sekarang setelah Bu Nurmala pulang Danu baru sadar dia tidak punya baju ganti.


"Sebentar, Mas." Mila membuka lemari pakaian ayahnya. Banyak kaos yang terlipat rapi dalam lemari. Mila memilih kaos polos berwarna hitam dengan celana training berwarna merah. Sebenarnya dia merasa lucu saat suaminya memakai celana yang memakai karet di bawah. Berasa lihat film Aladin.


"Ini baju ayah, ya. Muat juga ternyata." Danu memandang dirinya pakai kaca. Beberapa kali bolak balik merasa tidak biasa sama celana itu. Biasanya kalau di rumah dia memakai celana pendek.


"Apa mas nggak suka celananya? Bagaimana kalau ini saja?" Mila mengeluarkan celana pendek bermotif pahlawan laba-laba.


"Itu untuk pakai di luar?"


"Iya, ayah biasanya pakai ini sambil santai di teras."


"Nggak usah, aku pakai ini saja." Tolak Danu.


"Mas tunggu sini atau mau ikut keluar. Aku mau ambil baju ganti di kamar sebentar."


"Aku ikut keluar saja." Mila pun keluar kamar diikuti Danu yang langsung berbaur sama bapak-bapak di teras.


"Danu," panggil Rohim.


Danu menoleh kearah ayah mertuanya. Sementara Mila mengganti bajunya. Dua lelaki beda generasi itu duduk di kursi plastik sisa acara. Tenda sudah dilepas. Panitia pun sudah pada pulang. Masih ada tetangga yang duduk kumpul sambil main "Dom".

__ADS_1


"Saya berterimakasih karena kamu mau menerima anak saya apa adanya. Jujur rasanya saya masih belum percaya kalau Mila sudah punya suami sekarang. Mila itu anak saya yang tidak banyak neko-neko. Anaknya sangat berbakti. Kamu tidak lupa kan bagaimana nenek Seruni memperlakukan Mila. Menanamkan kebencian dalam dirinya.


Akan tetapi, Mila tetap merawat nenek Seruni. melepaskan pekerjaan demi mengurus neneknya."


"Saya tahu, ayah. Saya tahu sekali bahkan itu sudah berlangsung saat kami masih sekolah. Saya tidak lupa kadang Mila menahan tidak jajan. Saya masih ingat, ayah."


"Apa sebelumnya kamu dan Mila sudah saling mengenal?"


"Ayah masih ingat Aliong, cina Islam yang dulu mengontrak di sebelah sana. Saya adalah anak angkatnya. Saya dulu berteman dengan Mila, di pertemukan lagi saat nenek di rawat."


Rohim sedikit kaget mendengar cerita Danu. Memang kalau jodoh tidak ada yang tahu. Rohim sangat kenal sama Aliong, seorang toke sawit. Aliong pernah memberikan pekerjaan sama Rohim. Tapi belum satu bulan, Rohim harus pergi mencari Dahlia.


"Aliong itu orang baik, dia tidak pernah pandang bulu dalam bergaul. Kamu beruntung punya orangtua seperti mereka."


Mila sedang duduk membaca majalah pinjaman sama Lala. Memang majalah itu bukan genre Mila. Tapi entah kenapa dia terus merasa gelisah. Sementara suaminya masih betah di luar. Tadinya Mila mau ambil baju daster kencana ungu. Namun, Eva malah memberikan baju tidur satin berwarna putih.


Mila menelan salivanya. Baju yang bertali satu berbahan tipis bahkan tembus pandang. Sedikit bergidik ngeri, Mila melempar bajunya di atas tempat tidur. Di pandanginya baju tersebut.


"Jika tidak ada halangan atau udzur seperti sakit atau sedang mengalami masalah tertentu yang membuat tubuh dan batin tidak bisa melayani keinginan suami, maka wajib hukumnya bagi istri menyanggupi permintaan suami untuk berhubungan intim,"


"Apa aku harus memakainya? Kok aku malu ya? tapi kan katanya kalau tidak melayani suami jadi dosa. Tapi kan aku cuma tidak mau memakai baju itu."


Pada akhirnya Mila tetap memakai baju itu. Ini sebagai baktinya kepada suami. Lama dia menunggu suaminya, rasa kantuk pun tak bisa di hindari. Mila tertidur tanpa menunggu suaminya.


Ceklek!


Danu berjalan memasuki kamarnya. Ada rasa bergetar saat hendak masuk ke kamar mereka. Dia melihat Mila tertidur pulas diatas ranjang. Sekarang dia sudah menikah. Ada rasa haru menyelinap di hatinya.


"Dia istriku."

__ADS_1


Danu berjalan mendekati ranjang. Pelan-pelan takut Mila terbangun. Danu menganggap Mila pasti sangat lelah. Apalagi setelah rentetan acara pernikahan mereka. Sama dengan dirinya yang merasakan lelah yang luar biasa.


Danu sudah sampai di atas ranjang. Hatinya berdegup kencang saat sudah merebaknya tubuhnya di samping Mila. Beberapa saat Mila memutarkan tubuhnya. Mereka saling berhadapan, saling bertatapan lama. Mila sebenarnya tidak bisa tidur.


"Apakah kau sudah siap mengarungi rumah tangga bersamaku?" Mila menganggukkan kepalanya. Tubuh Danu semakin dekat membuat Mila semakin tidak karuan.


Danu perlahan mencium kening istrinya. Wajah keduanya saling mendekat tak berjarak. Mila menggenggam ujung dasternya. Tampak kegelisahan melanda dirinya. Tapi ini adalah suatu keharusan, dia siap menyerahkan semua miliknya pada suaminya.


"Lakukanlah tugasmu, mas." bisik Mila.


Tanpa menunggu lama Danu langsung melabuhkan kecupan kecil di bibir Mila. Kecupan yang menjelma lebih dalam. Danu mengganti bantal dengan lengannya.


Jari Danu mulai liar. Masih dalam pertukaran saliva. Tangan Danu bermain di tali pengait bra. Danu melepaskan pagutannya, lama dia menatap wajah wanita yang baru saja dia nikahi. Ada rasa bangga karena bisa memiliki Mila seutuhnya. Tangan Mila kembali menarik dirinya. Seolah meminta untuk menyelesaikan tugasnya.


"Aku mencintaimu, Mila. Jadilah milikku seutuhnya." bisik Danu.


"Aku juga mencintaimu, mas. Aku berikan seutuhnya milikku untukmu."


Keduanya kembali saling berpagutan. Kini sudah menjalar ke leher dan sebagian tubuh Mila yang lain. Erangan demi erangan pun terdengar dari bibir tipisnya. Bahkan bukit kembar pun sudah di nikmati lelaki itu.


Baju-baju berserakan di lantai. Dua kaki polos saling bergesekan di lantai. Dua anak manusia pun masih asyik menunaikan kewajibannya sebagai suami-istri.


"Sayang, aku mau keluar." bisik Danu.


"Mau kemana, Mas?"


"Mau menjadi suami idaman buat kamu." balas bisiknya.


Wajah Mila memerah. Ketika Mila masih terlena Danu langsung menancapkan miliknya. Menerobos dinding pertahanan milik istrinya. Rasa perih terasa amat sangat sakit. Mila menangis karena miliknya sudah bobol. Lebih kagetnya dia melihat cairan berwarna merah mengucur mengenai tubuh Danu.

__ADS_1


"Terimakasih, sayang."


__ADS_2