Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 32


__ADS_3

Ketika langit mulai berputar mengelilingi bumi. Tak terasa pergantian poros waktu mulai bergulir. Detik-detik hengkangnya sang surya dari tugasnya yang akan di gantikan sang dewa malam.


Sarah duduk di teras rumah tempat mereka menginap. Masih terasa jantungnya berdetak kencang melihat kearaban kakak dan calon suaminya. Cemburu? bisa jadi. Normal kan kalau dia masih merasa cemburu. Sama seperti saat Anjas datang mengapel sang kakak. Ada panas membara yang dia rasakan.


Padahal dia sendiri yang meminta Anjas mendekati Mila. Sarah menyandarkan kepalanya di dinding tiang rumah. Sesekali memejamkan matanya. Baru saja dia merasa tenang, dia sedikit terganggu saat ada getaran di sakunya. Sarah mengerutkan dahinya setelah tahu siapa yang meneleponnya.


"Kak Eva? ada apa dia menelepon?" Sarah langsung mengangkat telepon dari Eva.


"Ada apa, kak?"


" Sarah, cepat pulang nenek kena stroke."


"Astaghfirullah, serius, Kak. Kenapa bisa begitu?"


"Kakak tidak tahu. Pagi-pagi kami menemukan nenek sudah pingsan di depan pintu kamarnya. Berkat Danu, nenek sudah bisa di tangani oleh dokter Asmi di Tiara Sella."


"Tapi bukannya Tiara Sella tidak menerima BPJS. Bagaimana bisa bayarnya, kak."


"Kamu tidak usah pusing. itu biar kami yang urus. Tolong kabari sama yang lain."


"Iya kak, aku akan kabari yang lainnya."


Setelah menutup telepon dari Eva. Sarah langsung mencari orang-orang yang bisa dia kabari. Tentu bukan kabar yang baik.


Sarah mencari Lala dan Mila mengabari soal nenek. Sarah menangis karena tidak menemukan Mila dan Anjas di tempat pertama tadi. Ternyata mereka lagi makan bakso berdua di depan gang.


Sarah marah dia masih merasa di tikung oleh kakaknya" kakak, bisa nggak perginya harus berdua banget."


"Kamu kenapa nangis? aku cuma mau berteman baik dengan calon kakak iparku apa itu salah"


"Kalo dia cuma kakak ipar sih nggak masalah, tapi dia dulu .... " Anjas menarik Sarah pergi dari depan Mila.


"Tapi apa,Sarah? karena aku mantannya Dia, lupa kamu siapa yang merebut" Mila mulai emosi.

__ADS_1


"Jadi kakak mau ambil kembali yang pernah jadi milik kakak" Sarah tidak mau kalah.


"Nggak kok, sar. Ambil saja. Aku sudah minat lagi"


"Kak ..." Sarah masih emosi.


Anjas langsung membawa Sarah masuk ke dalam. Dia harus menjelaskan kalau perasaannya sudah benar-benar move on dari Mila. Karena memang awalnya dia mendekati Mila agar bisa lebih dekat dengan Sarah. Gila memang, dia tahu Sarah kekasih adik tirinya. Tapi entah kenapa jantungnya berdetak kencang saat bersama dengan gadis itu.


"Sarah, tolong dengarkan aku. Aku dan Mila tidak memiliki hubungan apapun. Bukankah Mila sudah punya Ammar dan aku sudah punya kamu. Jadi apa yang kamu takutkan tidak akan terjadi."


"Tapi bukannya kamu mendekati aku karena permintaan mama Melani."


"Tidak, sayang. Aku sudah lama mencintaimu. Memang selama aku hanya bisa memendam perasaan melihat kamu dan Rudi."


"Bohong, kalau kamu memang punya perasaan sama aku, kenapa melamar kak Mila padahal kalian baru pacaran tiga bulan sudah ajak serius. Dan aku sudah lebih dari enam bulan tidak ada kejelasan."


"Anjas kamu kemana?" baru saja dia menanyakan keseriusan lelaki itu. Sekarang malah di tinggal pergi. Sarah pun balik ke kamar dengan perasaan kesal.


"Kak Sarah!" terdengar suara Lala dari luar kamar.


"Kak Sarah, Kak Anjas! kak Anjas!" pekik Lala dari luar.


Sarah berlari keluar kamar. Mendengar Lala menyebut nama Anjas, Sarah menebak terjadi sesuatu pada kekasihnya. Walaupun dia sedang kesal tentu ada rasa penasaran juga. Kakinya berdiri di teras rumah. Tak ada siapapun. Hanya ada dirinya dan Lala.


"Kak Anjas kenapa?" tanya Sarah.


Lala hanya menariknya meninggalkan area rumah. Sarah hanya pasrah mengikuti adiknya. Entah mau di bawa kemana. Dia ikut saja.


Mereka berhenti di sebuah lapangan luas. Suasana masih lenggang, tak ada orang, Sarah menoleh kearah Lala, sayangnya adik bungsunya sudah tak nampak batang hidungnya.


"Lalaaaa..!"


Sarah memandang di sekelilingnya. Lapangan luas dan juga sepi. Tangannya mengusap lengan, ada rasa kengerian.

__ADS_1


Sebuah tangan melingkar di pinggang Sarah. Gadis itu kaget, seketika tubuhnya berbalik. Senyumnya mengembang ketika wajah mereka tak berjarak. Menahan degupan jantung yang terasa kencang. Sesaat keduanya merenggangkan pelukan. Saling menunduk malu-malu.


"Sarah, mungkin ini terdengar konyol. Tapi saat ini aku benar-benar merasakan degupan jantung yang semakin kencang. Bersamamu sudah banyak menciptakan banyak cerita.


Dari sedih, senang, ngambek dan mungkin masih banyak hal yang tidak bisa ku ungkapkan satu persatu. Awal cerita yang kita mulai berasal dari air mata orang-orang yang kita sakiti.


Tapi aku sudah mengantongi permintaan maaf dari mereka. Kak Mila sudah merestui kita. Rudi pun begitu. Sekarang kita akan memulai semuanya. Membuka lembaran baru."


Anjas melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju seorang lelaki paruh baya. Lelaki yang usianya masuk 60 tahun. Lelaki yang disayangi calon istrinya.


"Ayah, saya Anjasmara. Mau minta izin sama ayah, untuk melamar Sarah, putri kedua ayah. Saya janji akan menjaga Sarah dengan baik. akan memperlakukan Sarah dengan baik."


"Nak, Anjas. Kalau ayah terserah Sarah. Kalau kalian sudah mantap menuju ke jenjang yang lebih serius ayah akan dukung. Bagi ayah, yang penting anak-anak ayah bahagia. Dari Mila, Sarah dan Lala."


"Terimakasih ayah, insyaallah saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Sarah. Saya juga minta maaf sama kamu Mila, karena pernah menyakiti perasaan kamu. Saat bersama kamu saya mencoba belajar mencintaimu, tapi maaf ternyata aku lebih kuat mencintai Sarah. Walaupun saat itu hanya pasrah kalau ternyata tidak berjodoh."


"Aku kan sudah bilang. Kalau aku akan maafkan kamu kalau kamu menunjukkan keseriusan sama Sarah. Bukankah kalian menunggu ayah demi momen ini." Mila berjalan menuju Sarah.


"Sarah, kakak ucapkan selamat ya, dek. Kamu sudah menemukan lelaki yang serius. Kakak sudah restui kalian, semoga ini jadi yang pertama dan terakhir ya, dek." Mila memeluk Sarah.


Sarah mendengar ucapan Mila langsung menangis. Selama ini dia merasa bersalah karena menerima lamaran Anjas. Dia juga merasa bersalah karena mencintai mantan kekasih kakaknya.


"Maafin, Sarah selama ini, kak. Sarah sadar kalau selama ini banyak salah. Sarah sudah merebut mantan kakak. Maafin Sarah yang kadang masih di liput kecemburuan saat kakak sama Anjas. Padahal Sarah tahu kakak setia dengan pasangan kakak sekarang."


Mila melepaskan pelukannya dari Sarah. Di tatap adiknya, Mila mengelus pucuk rambut Sarah.


"Bagi kakak, kebahagiaan kalian lebih utama. Melihat kamu tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kamu kuliah dan menjadi sarjana. Kamu mendapatkan pendamping yang baik. Melihat lala selesai sekolah dan sukses. Itu sudah cukup bagi kakak.


Ya soal kakak dan Anjas, itu mungkin belum jodoh, dek."


Saudara kandung berbagi masa kecil yang sama, orang tua yang sama, dan rumah yang sama. Hasilnya, kakak adik berbagi banyak kenangan, harapan, dan impian yang sama. Bahkan sebagai anak-anak, kakak adikmu mungkin akan melakukan apa saja untukmu.


Note : ini Bab yang kemarin di perbarui lagi. Bab yang semalam sedang diajukan penghapusan.

__ADS_1


__ADS_2