Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 110


__ADS_3

"Assalamualaikum," suara lelaki muda terdengar dari luar pintu.


Bu Melani pun riang menyambut putranya. Setelah mempersiapkan menu masakan untuk putra kandungnya Bu Melani menyerbu pintu depan. Dia bahkan tidak peduli suaminya melintas di depannya. Baginya yang utama adalah Anjas.


"Anak ibu yang ganteng sudah pulang," wajah Bu Melani sumringah.


"Iya, Ma. Aku pulang," Anjas melerai pelukan mamanya lalu menoleh ke belakang.


"Sayang, sini," ajak Anjas.


Sarah berjalan menuju suaminya. Sambil menundukkan kepalanya. Dia takut pada ibu mertuanya. Sarah terus menggenggam ujung sandang tas nya.


"Mau apa kamu bawa dia lagi kesini? bukannya kamu sudah talak dia. Kok gampang banget kamu balik lagi sama dia. Mama nggak mau makan hati punya menantu seperti dia," suara Bu Melani meninggi.


"Maafkan Sarah, Ma. Sarah tahu apa yang selama ini aku lakukan salah, Sarah tahu selama ini bukan menantu idaman Mama bahkan jauh dari sempurna. Sarah mau belajar menjadi istri yang baik sama mama. Izinkan Sarah memperbaiki diri menjadi kebanggaan mama dan menjadi istri yang baik untuk bang Anjas," Sarah sudah bersujud sambil menciumi tangan ibu mertuanya.


Bu Melani melepaskan tangannya dari genggaman Sarah. Rasa percayanya pada Sarah pun sudah hilang sejak tahu kelemahan istri anaknya. Entah apa yang terbesit di pikirannya. Sehingga tiba-tiba dia menjadi baik pada Sarah.


"Sarah," Bu Melani menaikkan tubuh menantunya yang masih bersujud.


"Mama tahu, kok. Kamu masih tahap belajar untuk menjadi istri Anjas. Apalagi kamu masih kuliah, mama minta maaf kalau selama ini bersikap keras sama kamu," Bu Melani melirik Anjas yang berdiri di samping suaminya.


"Jas, ajak istrimu ke dalam. Kalian bersihkan diri lalu kita buka bersama bareng. Mama juga minta maaf atas sikap tadi, soalnya kaget dengan kedatangan Sarah," Anjas mengajak Sarah masuk ke dalam. Sarah masih menunduk takut, dia merasa ada feeling tak enak atas kemunculan suaminya dan juga mama mertuanya. Akan tetapi pikiran itu langsung di hempaskan. Berharap firasatnya tidak sesuai yang dia takutkan.


Anjas menutup pintu kamar. Tampak Sarah masih membereskan barang bawaannya. menyusun ke lemari kecil milik suaminya.


"Bang, duluan saja kalau mau keluar. Aku beresin ini dulu,"


Sarah tampak mengerutkan dahinya melihat isi lemari berantakan. Setahu dia Anjas itu sangat rapi dalam segala hal. Tumben sekali jadi kacau begini.

__ADS_1


"Sebentar lagi buka puasa, Sayang. Kamu nanti lanjutkan kerjanya. Kita keluar dari kamar sama-sama. Nggak enak sama mama kalau cuma aku yang keluar," Sarah akhirnya menuruti permintaan Anjas. Sebenarnya dia mau pulang ke rumah yang di Kandang Limun. Tapi Anjas malah membawa pulang ke rumah Rawa Makmur. Sarah belum berani protes. Diajak rujuk saja baginya sudah Alhamdulillah.


Selama dia tinggal di rumah Mila, tidak ada yang tahu kalau dia sudah di talak oleh Anjas. Hanya saja Eva dan juga Mila selalu menanyakan kenapa Anjas tidak pernah menjemput Sarah. Dia pun beralasan kalau Anjas pulang ke rumah Rawa Makmur karena rumah di kandang Limun sedang dalam perbaikan karena efek banjir. Setelah itu mereka tidak lagi bertanya macam-macam.


Hingga tadi siang Anjas muncul dengan alasan ingin memperbaiki rumah tangga mereka. Anjas pun hanya mengatakan itu di depan Sarah, tidak di depan keluarga besarnya. Anjas hanya mengatakan kalau sementara dia mengajak Sarah pulang ke rumah ibu Melani sembari menunggu perbaikan rumah mereka.


Flashback on


"Kenapa Bang Anjas tidak bilang yang sebenarnya pada mereka?" Tanya Sarah saat membereskan barangnya di kamar Lala.


"Karena itu ranah pribadi rumah tangga kita. Selama kita masih bisa menyelesaikan masalah itu sendiri jangan melibatkan orangtua," jelas Anjas.


"Tapi bagaimana dengan mama Melani? maaf, bukan apa-apa, selama kita tinggal di sana aku merasa mama Melani sudah banyak ikut campur dalam rumah tangga kita. Tapi ..." Sarah tidak melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa, ..."


"Tapi mungkin karena memang kelakuan aku yang membuat beliau seperti itu. Aku minta maaf kalau selama kita menikah belum bisa jadi istri yang baik untuk Abang. Sebenarnya apa yang membuat abang tiba-tiba datang menjemput Sarah. Bukannya Abang sudah..."


"Enggak, Bang. Kamu adalah suami yang baik dan terlalu baik. Aku saja yang tidak tahu di untung,"


"Sudah, nanti keburu Maghrib tadi Ira SMS katanya ibu masak khusus buat kita," Anjas meminta Sarah menyelesaikan pekerjaannya.


"Kalian nggak buka di rumah saja, Nak," sapa Dahlia melihat keponakannya serta suami keponakan sudah membawa barang.


"Maaf, Ibu Lia dan ayah Rohim. Saya dan Sarah harus pulang sekarang, tadi mama SMS dia sudah masak banyak untuk kami. Lain kali kami ikut berbuka puasa bersama kalian, ya kan, sayang," Sarah hanya mengangguk kecil.


"Sarah, kamu baik-baik disana ya, Nak. Belajar jadi istri yang baik untuk suami kamu. Dan kamu Anjas tolong didik Sarah dengan baik, kita semua tahu kalau Sarah sering up dan down, jadi kamu juga harus belajar memahami dia. Mendidik anak manja seperti Sarah butuh waktu yang lama, Ibu pernah seperti ini saat menghadapi mamanya intan, Dian Safitri. Nggak mudah, tapi Alhamdulillah perlahan-lahan Dian bisa kok merubah diri. Asal ada kemauan pasti ada jalan,"


"Terimakasih, Bu. Kami pamit dulu," Sarah dan Anjas menyalami semua keluarga besar Mila.

__ADS_1


"Sarah, ini lauk pauk untuk mertua kamu. Ya walaupun nggak seenak buatan mereka. Tapi ini anggap sebagai buah tangan dari keluarga kita," Mila menyodorkan rantang tiga tingkat kepada Sarah.


"Terimakasih, Kak," Sarah langsung memeluk kakak tertuanya. Terdengar isakan kecil dari hidung Sarah.


"Kok, nangis?"


"Sarah minta maaf kalau selama ini selalu nyusahin kak Mila. Walaupun Sarah sudah merebut Anjas dari kakak, walaupun aku sering ngomelnya nggak jelas, sering minta lauk pauk sama kakak walaupun sudah menikah. Tapi sekalipun kakak tidak pernah marah sama aku, tidak pernah membalas apa yang aku lakukan selama ini,"


"Sarah, kakak tidak pernah marah ataupun dendam sama kamu. Kakak sudah paham baik buruknya kamu, jadi nggak usah diingat yang lalu. Ambil hikmah dalam setiap kejadian,"


Setelah adegan pamit penuh dramatis, Sarah dan Anjas pun undur diri dari hadapan keluarga Mila. Mereka pun sudah tak nampak dari pandangan orang-orang.


Flashback off


Setelah selesai buka bersama di kediaman ibu Melani. Merekapun bersiap-siap sholat Maghrib dan akan teraweh bersama di mushola terdekat. Sedangkan Sarah di minta ibu mertuanya untuk tetap di rumah. Sebab Rudi di perkirakan bakal pulang malam.


"Rudi, kata nya ada buka bersama di kampus," sahut Bu Melani.


"Buka bersama jurusan kan puasa kelima kemarin? aku juga ikut acaranya waktu itu," batin Sarah sedikit kaget. Buat apa Rudi pakai bohong segala. Kurang enak apa masakan Bu Melani, sampai harus buka di luar segala.


"Iya, Bu,"


Sementara Anjas dan pak Ahmad sudah lebih dulu berjalan ke mushola. Bu Melani masih asyik dengan gawainya.


"Jadi besok Bi Suri nggak usah datang ke rumah dulu. Soalnya sekarang pemasukan sepi, orang bayar kontrakan mulai banyak yang macet. Bahkan pemasukan sedang menipis. Saya tidak bisa menggaji bi suri saat ini,"


"Yah, Bu. Padahal kalau saya kerja bisa dapat pemasukan. Soalnya anak saya sudah berhenti kerja, tempat usaha dia bekerja sudah tutup,"


"Nanti kalau saya minta bantuan kamu pasti di hubungi lagi. Untuk saat ini mohon maaf banget saya belum bisa membantu kamu,"

__ADS_1


"Kan ada Sarah, apa guna punya menantu tapi masih ada pembantu," batin Bu Melani.


__ADS_2