Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 131


__ADS_3

..."Untukmu yang selalu kusebut dalam doa, izinkan aku menjadi bagian dari hidupmu. Membingkai cinta untuk ku kenang sepanjang hidupmu,"...


...~Danu~...



00 di rumah sakit M. Yunus.



Sudah berapa jam tubuh Danu di pasang alat-alat medis. Bahkan saking lamanya Mila memilih keluar dari ruang. Dia tidak kuat berada di sana. Bahkan dia pun tidak tega melihat tubuh suami tertusuk dengan jarum-jarum tersebut.


Mila berjalan tanpa arah mengelilingi rumah sakit nomor satu di kota bunga raflesia tersebut. Melihat beberapa orang berjalan sambil di bantu seorang suster. Melihat beberapa orang malah di temani orang-orang tersayangnya. Entah itu orangtua, sanak saudara, ataupun pasangannya. Iri tentu, tapi bukan berarti dia tidak bersyukur.


"Kak Mila," sapa Wisnu yang mendapati kakak iparnya melamun di koridor rumah sakit.


"Wisnu, apa Uda Danu sudah selesai pemeriksaannya," Wisnu mengangguk.


"Dia tadi nanyain kak Mila, ternyata disini rupanya,"


Setiba di ruangan tempat suaminya berada. Para suster sedang melepaskan satu persatu alat medis yang menempel di tubuh Danu. Lelaki itu terlihat sumringah ketika Mila sudah kembali.


"Kamu kemana sih, Sayang. Jangan jauh-jauh, dong" Danu merengek manja.


"Aku ngantuk,jadi aku bawa jalan-jalan dekat sini. Nggak jauh kok cuma keliling rumah sakit,"


Mila duduk di samping Danu. Mila menggeser posisi duduknya lebih dekat. Memegang tangan dan kaki suaminya bekas tusukan alat medis.


"Apakah pemeriksaannya sudah selesai?" suster mengangguk lalu meninggalkan Mila, Danu dan Wisnu.


"Bang, kalau mau bicarakan sama ibu Rubiah aku hubungi sekarang," sahut Wisnu sambil memeriksa berkasnya di laci belakang tubuhnya.


"Buat apa?"


"Gini, Bang. Permintaan kemoterapi di rumah sakit mulai meningkat. Tentu harus diiringi kelengkapan fasilitas. Pihak pengelola rumah sakit mau menambah alat yang lebih canggih lagi. Kalau sudah begitu, Bang Danu kemo disini saja,"


"Kalau aku mau, ya disini saja. Tapi Ibuku sepertinya pengen yang fasilitas lebih bagus,"


"Kak Mila ikut?" Wisnu mengalihkan pandangannya ke wanita di samping Danu.

__ADS_1


Mila menggelengkan kepalanya.


"Loh, kok nggak ikut?" Wisnu masih heran sama jawaban kakak iparnya.


"Nanti dia nggak fokus berobatnya,"


"Aku janji bakal fokus asal kamu ikut. Sekalian lahiran di sana," mohon Danu.


"Jadi bagaimana, aku telepon Bu rubiah, ya? dia yang paling semangat dari beberapa bulan yang lalu," Wisnu masih memegang handphone.


Mila dan Danu saling bertukar pandang. Mereka pun mengiyakan permintaan Wisnu. Tak berapa lama Wisnu pun sudah tergabung pembicaraan lewat udara dengan ibu Rubiah.


"Ibu rubiah sudah di perjalanan ke rumah sakit," Wisnu menutup teleponnya.


"Bang, kak Mila, aku ada urusan sebentar, nggak apa-apa aku tinggal disini," keduanya menganggap kecil. Wisnu pun meninggalkan ruang prakteknya.


Mila mengelilingi ruang kerja Wisnu. Tampak photo alumni kampusnya berjejer di nakas kerjanya. Melihat-lihat beberapa bacaan bertema rumah sakit. Sampai dia tidak menyadari di pinggangnya sudah melingkar tangan.


"Sayang," Mila menoleh sapaan suaminya. Pintu ruang praktek sudah tertutup dan terkunci.


"Kok di kunci, sih? kalau Wisnu kembali bagaimana?"


"Ah, kamu mah. Nggak mikir ini tempat orang," rutuk Mila.


"Mungkin apa yang aku lakukan saat ini terlihat lebay dan konyol di mata kamu. Tapi satu yang aku mau, setiap waktu itu sangat berharga buat kita. Buat aku, Buat kamu dan anak cucu kita nanti. Jika memang sudah waktunya nanti, aku hanya mau ingat yang baik saja,"


"Jika memang bagi kamu waktu itu sangat berharga. Kenapa kamu tidak mengambil kesempatan untuk berobat, apa kamu mau di cap suami yang tidak punya usaha sekalipun atau kamu mau aku yang menjadi pihak yang di salahkan. Aku capek, sejak kecil orang selalu menganggap aku buruk. Apa karena aku anak haram! apa karena aku ..."


Danu mendekap Mila untuk menenangkan perasaan istrinya. Selama ini dia bukan terlalu santai, tapi ada hal yang harus dia selesaikan sebelum waktunya tiba. Tidak menyangka di sisa umurnya di pertemukan dengan jodohnya serta di pertemukan dengan ibu kandungnya.


"Kamu percaya kekuatan doa, Sayang. Kenapa aku bilang begitu? karena aku bisa seperti berkat doa-doa orang yang sayang sama aku. Doa ibu kandungku, doa ibu Nurmala yang selama ini membesarkan aku, doa almarhum kedua orangtua angkatku. Dan doa istriku yang cantik ini.


Aku tidak pernah pesimis dengan semua yang terjadi. Aku yakin jika Allah mengatakan kun fayakun. Maka terjadilah,"


Doa ialah permohonan kepada Tuhan. Doa juga dimaknai sebagai napas orang beriman. Hal ini berarti, doa bak napas, sama pentingnya dengan napas itu sendiri.


Meski terkesan sepele, doa memiliki kekuatan yang luar biasa besar. Melalui doa inilah kita bisa menyapa hadirat-Nya. Kita bisa merasakan keberadaan Tuhan dalam kehidupan kita.


Apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan dan harapkan, kita bisa sampaikan kepada Tuhan melalui doa, kapan pun dan di mana pun.

__ADS_1


"Iya, aku percaya,"


suara ketukan pintu membuat keduanya sedikit berjarak. Danu beranjak menuju pintu ruang praktek.


"Anakku," peluk Rubiah.


"Ibu sama siapa kesini?" tanya Danu.


"Sama Ando, kamu bagaimana kabarnya, Nak. Ibu rindu sama kamu, tapi ibu malas ke rumah kamu,"


"Bu, aku lagi malas berdebat. Sekarang kita tunggu Wisnu dulu. Ibu duduk dulu, biar aku hubungi Wisnu," Rubiah melemparkan pandangan ke arah lain. Padahal jelas-jelas di depannya ada Sarmila, menantunya.


Sementara Mila mencoba tebal muka. Tidak peduli kalau ibu mertuanya bersikap seperti itu. Dia mencoba tebal muka.


"Biar aku yang telepon Wisnu, Uda temani ibu saja," Mila menarikan jemarinya di layar pipih tersebut. Tak berapa lama suara itu terdengar dari sana.


"Iya, Kak. Aku sebentar lagi ke sana,"


Beberapa saat kemudian Wisnu sudah berdiri di depan keluarga pasiennya.


"Jadi setelah ini apa tahapan selanjutnya?"Ibu Rubiah mulai berbicara.


"Saya mau menyampaikan kalau permintaan kemoterapi mulai tinggi di rumah sakit ini. Jadi akan ada kelengkapan alat untuk menunjang proses kemoterapi.


Kalau ibu Rubiah mau saya akan mengurus untuk memulai kembali proses kemoterapi yang sempat terhenti beberapa bulan yang lalu. Tidak perlu ke luar kota. Cukup di sini saja.


Tapi kalau ibu mau ke luar kota saya akan kasih surat rujukan untuk ke rumah sakit di Padang," ucap Dokter Wisnu.


"Kalau bisa secepatnya urusan bisa langsung selesai," jawab ibu Rubiah terkesan memaksa.


"Tidak bisa bu, masih ada prosedur pemeriksaan yang masih di jalani bang Danu. Paling minggu depan hasilnya bisa keluar,"


Rubiah mengedarkan pandangan secara bergantian antara Danu dan Mila. Padahal dia sudah menelepon Dokter Musa yang di kata paling kompeten di rumah sakit kota Padang. Rubiah pun tidak bisa meninggalkan toko oleh-olehnya. Kalaupun dia pulang ke Padang usaha rumah makan bisa dia titipkan pada Ando.


"Baiklah, Mila. Aku percayakan Danu sama kamu, Nak,"


...*****...


Yuk mampir ke karya temanku

__ADS_1



__ADS_2