
"Apa ini karena Danu?" Mila menghentikan langkahnya. Bisa-bisanya lelaki itu mengkambinghitamkan Danu.
"Kenapa bawa Danu?" Mila menatap Ammar dengan kesalnya.
"Ya karena sejak dia masuk dalam hubungan kita ..."
"Kapan dia pernah masuk dalam hubungan kita? yang ada kamulah yang memasukkan wanita lain ke hubungan kita. Kamu memasukkan Vika dalam hubungan kita."
"Sudahlah, Mar. Aku capek dengan semua ini. Aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kita."
"Tidak. Aku mau kamu bersabar sedikit, Mila." Mila meninggalkan Ammar dengan linangan air mata.
Sementara Fera dan bude Lia sudah sampai di depan gerbang rumah sakit. Bude Lia mau menjenguk nenek Seruni. Dia tahu pasti nanti akan di usir lagi. Tapi demi Mila, Lia rela memasang badan untuk anaknya.
Setelah menaiki tangga dimana lokasi kamar rawat beradi lantai atas. Fera, Intan dan bude Lia pun sampai di depan pintu kamar rawat nenek Seruni. Tak lupa mengetuk pintu menandakan ada yang datang.
Suara decitan pintu terdengar. Perlahan-lahan terbuka. Ada seorang gadis muda yang menyambutnya. Gadis muda itu langsung memeluk bude nya dengan bahagia.
"Bude kapan sampai di Bengkulu?" tanya Lala.
"Bude sudah seminggu di Bengkulu." jawab bude Lia.
"Kok nggak mampir?"
"Bude ada urusan. Keponakan bude mau nikah bulan depan." jelas bude Lia.
"Rohim!" Dahlia menyapa lelaki yang pernah dia cintai. Rohim yang merasa di panggil pun menoleh. Dahlia memandang sosok yang ada di depannya.
wajahnya tidak berubah hanya saja gurat keriputnya mulai tlerlihat.
" Siapa ya?"
__ADS_1
Apa dia tidak mengenaliku lagi. Apa wajahku berubah, si boro aja masih mengenaliku,masa dia tidak ingat.
" Dahlia! Kamu kah?",
Iya aku Dahlia, Alhamdulillah dia mengingatkanku.
Dahlia duduk di dekat Rohim. Seperti teman yang sudah lama tidak bertemu. Dahlia ingat kata Boro, kalau rohim sudah lama berpisah dengan Aminah. Apalagi tujuannya mencari dirinya.
Kenapa setelah puluhan tahun baru bertemu sekarang. Takdir Allah, tidak ada yang tahu.
"Mama" Fera menyapa mamanya yang asyik mengobrol dengan lelaki lain.
"Ini kenalkan Anakku Fera, dan ini cucuku intan"
Rohim menyalami Fera dan Intan. Sebuah pertemuan yang mengejutkan. Nenek Seruni yang sudah hanya bisa menatap pilu kearah keduanya. Api kebencian yang masih bercakar di hatinya belum padam. Dimatanya Dahlia dan Rohim yang sudah membuat anaknya menderita.
Dahlia duduk di samping nenek Seruni. Meskipun wanita di hadapannya tidak pernah baik sepanjang Lia mengenalnya. Tapi dia tetap wanita yang pernah di nikahi ayahnya. Tangan Lia menggenggam erat jemari yang sudah nampak tulang belulangnya.
"Ibu apa kabar? maaf, ya Lia baru bisa jenguk sekarang. Ibu cepat sembuh, ya. Lia ajak cucu dan cicit ibu kesini. Fera, intan, salam dulu sama nenek dan poyang."
"Assalamualaikum," suara di depan pintu kamar rawat.
"Mila," seru Fera.
"Mbak Fera." Mila pun tak kalah senang bertemu Fera.
"Tante Mila," sapa gadis kecil itu.
Mila langsung memeluk Intan. Rasa rindunya pada gadis kecil sudah tak terbendung. Mila memeluk Intan dengan erat, menahan air mata yang menetes di pipinya.
"Tante, om Ammar mau nikah sama bude Vika dua minggu lagi. Padahal intan mau nya Tante yang sama om Ammar." mimik sedih terpancar di wajah Intan.
__ADS_1
"Intan, Tante Mila sama om Ammar tidak jodoh, nak. Om Ammar jodohnya sama Tante Vika." nada berat terdengar dari suara Mila.
"Terus jodoh Tante Mila siapa?" Tanya intan dengan polosnya.
"Sama om boleh nggak?" suara bariton muncul di belakang Mila.
"Nggak boleh Tante Mila bolehnya sama om Ammar!"
"Intan kamu nggak boleh bicara seperti itu sama orang yang lebih tua." Tegur Fera.
"Maaf, ma." Intan langsung berdiri di depan Bude Lia.
Masih dalam suasana pertemuan mengharukan antara dua insan yang pernah saling mencintai. Setelah sekitar satu jam mereka di sana, bude Lia pamit. Dia juga mau menjenguk ibunya Ammar. Mendengar hal itu Mila kaget. Pantas saja dia terus bertemu dengan Ammar. Rupanya ada Tante Diana yang di rawat.
"Saya boleh ikut, bude." kata Mila.
"Jangan, Mila. aku nggak mau lihat kamu sakit nantinya. Pasalnya Vika sering disana." kata Fera.
"Bener, yang di bilang Fera. mending kamu nggak usah kesana. Daripada kamu sakit hati lihat keberadaan Vika." sahut Eva.
"Aku nggak apa-apa. Lagian aku nggak pernah memusuhi Vika. Terserah dia mau mikir tentang apa. Aku sudah biasa di benci dan di hina. Niat aku menjenguk, walaupun bagaimanapun Bu Diana kan ibu dari atasanku."
Mila akhirnya tetap ikut dengan bude Lia, Fera dan Intan. Suara salam sebagai tanda ada tamu. Vika yang sedang menyuapi Tante Diana segera membuka pintu. Kakinya membeku saat tahu siapa yang datang. Seandainya bukan di rumah sakit rasanya mau dia labrak si Mila. Masih punya muka datang menjenguk ibunya Ammar.
Vika menarik Mila keluar dari kamar rawat Tante Diana. Setelah berada di simpang tangga rumah sakit. Vika sedikit mendorong tubuh Mila.
"Masih punya muka kamu, Sarmila. Atau tidak punya malu. Kamu tahu kan aku dan Ammar mau menikah. Apa perlu saya jelaskan lagi, SAYA DAN AMMAR MAU MENIKAH DUA MINGGU LAGI. SAYA JELASKAN DUA MINGGU LAGI."
Mila melipat tangannya dengan santai. Dia mencoba menepis perasaan hatinya. Sesak dan sakit, itu sudah pasti. Sosok wanita di depannya adalah teman baiknya. Sekarang mereka seperti musuh hanya karena seorang lelaki.
"Kamu kenapa sih, Vika? segitunya benci sama aku. Apa karena Ammar? sekarang saya tanya yang suruh Ammar dekati saya, siapa? kamu kan. Yang suruh Ammar jemput saya hingga menyusul ke Lampung juga kamu, kan.
__ADS_1
Sekarang kamu sok playing victim. Merasa tersakiti, tapi kamulah yang menyakiti. Kamu menerima Ammar karena Ilham sudah punya kekasih. sementara Ammar sempat hancur karena di tolak sama kamu.
Kamu begitu tahu Ilham sudah punya pasangan. malah langsung menerima Ammar. Kamu jadikan Ammar sebagai pelarian."