
Malam ini adalah malam ketiga setelah Ammar terpaksa menerima Vika sebagai calon istrinya. Ammar harus menerima kenyataan kalau Fera dan bude Lia juga ikut memusuhinya. Tak masalah kalau itu sebagai resiko yang harus dia terima.
Suasana di kediaman Ammar terasa lenggang. Hanya jeritan jangkrik menemani rasa galaunya. Apakah dia harus menerima Vika? atau kembali memperjuangkan Mila. Ammar masih belum bisa memutuskan.
Kalau bisa waktu di putar kembali. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bersama Mila. Kalau perlu dia akan mengajak Mila menikah dengan atau tanpa restu dari mamanya. Kenapa begitu? bukan maksudnya dia mau durhaka sama mamanya. Tapi setelah tahu kalau Vika menerimanya hanya karena Ilham sudah menikah dengan wanita lain. Itu artinya dia adalah pelarian di mata Vika.
Flashback on
"Kamu tahu, aku sudah lama suka sama kak Ammar. Sudah lama, kak. Saat itu aku masih terombang-ambing antara kakak dan Ilham. Saat itu aku masih di kuasai rasa cintaku pada Ilham.
Awalnya aku pikir saat kak Ammar mendekati kak Mila, aku bisa melupakan kak Ammar. Dan seiring dengan waktu, kita bahagia dengan pasangan masing-masing.
Tapi ternyata enggak, kak. Aku merasa sesak saat kak Ammar menyatakan perasaan sama Mila di depan counter. Aku merasa sesak saat melihat kak Ammar jalan di benteng Marlborough sambil menggenggam tangan Mila."
"Tapi kamu sudah mempermainkan perasaan saya. Kamu suruh saya mendekati Mila, dan saya benar-benar jatuh cinta sama Mila. Saat itu memang tujuan utamaku hanya mendekati Mila seperti permintaanmu, Vika.
Seiring dengan waktu, aku merasa Mila itu beda. Beda dari kamu, beda dari perempuan yang pernah aku temui. Dia bukan wanita yang gampang seperti kamu. Kamu enak setelah ditinggal Ilham lalu mendekatiku. Meracuni pikiran mama dan adikku. Kamu juga menjelekkan Mila di depan orang banyak.
Mau kamu apa, Vika? Mila itu sudah anggap kamu sudah seperti saudara, Vika."
"Kalau dia anggap aku saudara, dia pasti memikirkan ribuan kali untuk menerima cinta calon suami saudaranya, Kak Ammar. Dia pasti memilih menolak kamu. Karena sejak awal Mila sudah tahu tentang aku dan kamu. Tapi nyatanya... Dia malah menusukku dari belakang. Sakit, kak. Sakit melihat orang yang sudah dianggap saudara malah menyakitiku."
"Mila tidak salah, Vika. Aku yang pantang menyerah mendekatinya. Aku yang berjuang mendapat hatinya. Dia sempat menolakku tapi aku tidak menyerah. Dan tetap tidak akan menyerah." Ammar meninggalkan Vika di depan counter.
Flashback off
Dini hari Ammar terbangun. Matanya sudah tidak terpejam lagi. Tubuh jangkungnya melipat di sandaran dipan jati ranjangnya. Masih belum bisa memejamkan mata. Kakinya melangkah menuju jendela kamarnya. Taburan bintang di langit sangat mempesona. Bulan membulat dengan sempurna. Bagi Ammar itu momen paling langka dalam hidupnya.
"Kakak belum tidur?" Ando sudah berdiri di samping Ammar. Mereka satu kamar, jadi wajar saja kalau Ando bisa tahu keberadaan kakaknya.
"Kakak masih memikirkan Mila?" tanya Ando.
__ADS_1
"Menurut kamu?"
"Aku tahu bagaimana rasanya di posisi kakak. Di sisi lain ada wanita yang kakak cintai. Di sisi lain ada wanita pilihan mama. Tapi percayalah kak, justru restu orangtua paling utama. Pernikahan itu ibadah kak, kakak menerima Vika juga termasuk ibadah. Kenapa begitu? karena semua yang diawali oleh doa orangtua akan di ijabah Allah. Ando minta kakak pikirkan lagi matang-matang."
"Satu lagi, kak. Sholat istikharah supaya yang mengganjal di hati bisa terjawab."
Ando kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Saat Ammar berbalik, adiknya sudah berlabuh ke dunia mimpi.
"Do, kamu belum pernah di posisi aku? kamu tahu sampai saat ini di hatiku hanya ada Mila. Aku tetap bertahan memperjuangkan Mila."
"Istikharah, kak." sahut Ando walaupun terpejam.
Ammar mengabaikan permintaan Ando soal sholat istikharah. Dia takut kalau hasilnya menjauhkan dari Mila. Tubuh jangkungnya merebah di samping Ando. Memaksa memejamkan matanya. Sekilas Ando melirik kearah kakaknya. Menggelengkan kepalanya efek kekeras kepalanya Ammar.
Dengan mengabaikan sholat kamu akan selalu di hantui rasa gelisah.
...*****...
Suara decitan kamar terdengar menggaung di area rumah. Tatapannya beralih ke kamar di sampingnya. Biasanya ada cucunya di dalam kamar.
"Milaaaaa!" panggil Seruni.
"Mana ini, Mila! kita sendirian di rumah dia pasti keluyuran dengan teman prianya. Dasar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sama aja dengan Dahlia, selalu iri dengan apa yang di miliki Aminah.
Tentu Aminah orangnya santun, hormat sama orang tua. Anakku cantik, beda dengan Dahlia yang tomboy."
Nenek Seruni terus mengumpat menjelekkan mantan anak tirinya. Di matanya, Dahlia seperti iri dengan Aminah, tak pernah Dahlia ramah pada dirinya. Tak ada yang dia sukai dalam diri Dahlia. Alasan Seruni bisa menikah dengan ayah Dahlia karena harta.
"Ibu!" suara lembut itu menyapa Seruni.
"Aminah? itukah kamu, nak. Ibu merindukan kamu, Nak. Rohim dan Dahlia sudah kembali. Mereka mau menguasai harta ibu, nak."
__ADS_1
"Bu, yang kita dapatkan itu adalah milik Dahlia, Bu. Semua kekayaan yang ibu dapat sudah lenyap karena hasil yang di tidak halal. Hasil curian!"
"Enggak, Minah! itu punyaku! itu punyaku! mereka adalah penyebab ayah kamu sakit saat bekerja. Ayahnya Dahlia yang buat kamu jadi yatim. Maka sudah sepantasnya kita mendapatkan hak."
"Bu, sadarlah! Bu sadarlah!" beberapa saat Seruni membuka matanya. Tampak Boro dan Eva duduk di samping ranjang nenek Seruni. Keduanya tampak cemas sambil memijit kaki nenek Seruni.
" oooo.. wooo ..." gaya bicara nenek Seruni seakan berat mengangkat lidahnya.
"Cepat hubungi Danu! Bu, ibu, ibu kenapa?" Boro panik melihat nenek Seruni masih cadel bicaranya.
Setelah Eva menghubungi Danu, gadis itu kembali duduk di samping nenek Seruni sambil membawakan segelas air putih. Setelah menuntun satu teguk air mineral.
"Tulang rasa nenek Seruni ini kena stroke. Soalnya opung kamu juga begini dulunya."
"Ya Allah, Tulang mana Mila dan yang lainnya sedang liburan ke Kaur."
Nenek Seruni di boyong ke rumah sakit Tiara Sella. Eva masih mencoba menghubungi Mila dan yang lainnya. Tak lama tulang boro datang, di sambut Eva yang cemas dengan kondisi nenek.
" Sudah telpon Mila belum"
" Sudah tapi nomor mereka tidak aktif, tulang"
Keluarga ibu Seruni" suara dari perawat memanggil
Eva dan tulang boro mendekat, suster mengatakan kalo nenek keadaannya kritis. Harus diberi selang infus dan kemungkinan sadar hanya 20%.
" Cepat kabari mereka!"
" Iya, tulang boro!"
Eva masih sibuk menghubungi Mila dan Sarah. Sementara tulang boro menemui dokter minta penjelasan keadaan ibu angkatnya. Seperti kata perawat tadi kalo nenek Seruni akan koma dalam jangka waktu yang tidak bisa di tentukan.
__ADS_1