Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 127


__ADS_3

"Bu, apakah masih menyimpan daun bajakah?" telepon Mila.


"Sudah habis Mila, ibu titip sama Anjas. Kata Anjas sementara ayah Rohim bakal tinggal di rumah mereka di kandang Limun. Kayaknya Anjas sudah mulai sibuk merenovasi rumah mereka,"


Mila menarik nafas dalam-dalam. Dimana dia mencari daun bajakah untuk pengobatan suaminya. Kalau pesan di online dia takut kena tipu. Mila juga tidak punya pengalaman belanja online.


"Emang buat siapa obat itu, Mila?"


"Buat herbal aja, Bu," kilah Mila.


"Oh, tapi kalau buat persiapan sehabis melahirkan kamu hanya perlu makan jantung pisang saja. Nanti ibu buatin ramuan biar kuat menyusui. Nggak usah pakai obat-obat kayak gitu. Nanti berpengaruh sama ASI kamu,"


Mila hanya manut saja. Dia juga belum berani menceritakan keadaan suaminya pada keluarga besarnya.


"Kok, Uda Danu lama banget sih? mana makanannya sudah mau habis ini, apa terjadi sesuatu sama dia? aku harus periksa ke toilet," baru saja Mila beranjak dari mejanya, Danu muncul dengan wajah yang sangat pucat.


"Uda, ya Allah kamu pucat sekali, kita pulang ya?" Danu mengangguk.


Mila memapah Danu yang melemah. Setelah menyelesaikan pembayaran tentu dengan uang nya saat ini. Mila membawa suaminya keluar dari food court.


Dengan perut yang membesar dan tubuh Danu lebih besar dari Mila. Wanita itu sempat mendudukkan suaminya di depan pintu masuk mall. Mila merogoh handphone untuk menghubungi taksi online. Tadinya mau mengabari Ando atau Anjas. Dengan dalih tak ingin merepotkan orang lain, Mila memilih mengurungkan niatnya.


Mobil pun berhenti di depan gerbang parkiran Mall. Mila meminta masuk sayangnya taksi online menolak masuk. Alasannya kartu nya tinggal.


"Tolong, Pak. Suami saya sakit, saya lagi hamil tua," mohon Mila pada sopir taksi melalui sambungan telepon.


"Maaf, mbak saya tidak mau ambil resiko besar,"


"Yasudah, Pak. Susul saya di depan gerbang belakang BIM," Mila menahan nyeri di perutnya. Entah kenapa tiba-tiba anaknya mengajukan protes.


"Maafkan aku, Mila. Lagi-lagi aku terus menyusahkan kamu," batin Danu.


Tak berapa lama pak sopir pun memapah Danu membawa ke dalam mobil "Ya Allah, ibu nggak apa-apa?" pak sopir bertanya karena melihat Mila sama pucatnya dengan Danu.


"Saya tidak apa-apa,Pak. lebih baik bapak tolong suami saya, dia hampir pingsan tadi,"

__ADS_1


"Ya ampun, Pak. Seharusnya istrinya berlindung pada anda, lah kok ini malah istrinya yang melindungi suaminya. Dunia terbalik ini mah," pak sopir mengomeli Danu sambil memapah penumpangnya masuk ke mobil.


Di dalam mobil kepala Danu di rebahkan di paha Mila. Tangan Mila mengelus kepala suaminya. Tampaknya Danu sudah tertidur. Kepala Mila di sandarkan pada dinding kaca mobil.


Mila menatap jalanan penuh lalu lalang kendaraan. Melewati area pantai sepanjang perjalanan dari kaca mobil yang mengantarkannya pulang. Tatapan kosong dan kacau terlihat di wajahnyaMila berbinar ketika melihat banyak pedagang kaki lima yang berada di pipinggiran jalan yang dijalaninya.


"Ya Allah kapan semua ini kau beri ketenangan. Aku tidak minta yang mewah, aku hanya ingin suamiku sembuh, melihat anakku tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Aku tidak ingin seperti ibu yang berjuang sendirian membesarkan anaknya. Jujur aku belum siap jika memang hal itu akan terjadi,


Berilah keajaiban untuk suamiku, ya Allah,"


Mila hanya bermonolog, tak terasa air matanya menetes. Danu membuka sedikit matanya, melihat istrinya dengan wajah sembab.


"Kenapa aku hanya bisa menyusahkan kamu, Mila? kenapa Tuhan beri penyakit ini? aku ingin sekali sembuh untuk orang-orang yang menyayangiku. Untuk istriku, untuk anak kami, untuk ibuku juga. Maafkan aku, Mila. Maafkan aku,"


Sampai di rumah, Mila turun dari taksi terlebih dahulu. Berdua bersama sopir taksi memapah Danu masuk ke rumah. Ternyata ibu Dahlia dan Eva sudah berada di rumah. Ada terselip ketakutan dalam hati Mila. Takut kalau mereka mulai curiga atas kondisi Danu.


...****...


"Chef!" Ammar memanggil Revo ketika sedang berjalan berdua dengan Vika.


Ammar sebenarnya masih agak canggung setelah tahu yang akan di lamar Revo adalah Vika. Baik Vika maupun Ammar tidak ada yang memulai saling menyapa.


"Nggak masalah, kan di luar urusan kerja. Panggil saya bang Ammar saja, saya bangga lihat kamu di usia muda sudah punya prestasi seperti ini,"


"Bang Ammar bagaimana terapi kakinya. Maaf saya malah lancang nanya-nanya,"


"Nggak apa-apa, oh ya tadi Makwo Rubiah bilang, kamu akan diundang acara makan malam di rumah kami. Kalau berkenan boleh ajak calon istrinya,"


"Bagaimana, Sayang?" tanya Revo.


"Aku lihat schedule dulu, ya, tapi kalau kamu pergi sendiri tidak apa-apa kan?"


Vika menggenggam lengan kemeja Revo. Ada rasa tak enak berlama-lama di dekat Ammar. Jujur dia belum siap bertemu dengan Ammar. Sosok yang membuka luka lamanya.


Revo menyadari ada aneh pada sikap Vika. Dia mengira Vika masih belum siap bertemu orang banyak. Revo pernah dengar kalau dari mbak Yuni, kalau Vika trauma akibat calon suaminya tidak datang di pernikahannya. Sudah pasti bercampur di tempat ramai tidaklah mudah. Perlu kesabaran untuk beradaptasi.

__ADS_1


"Maaf, sepertinya saya dan Vika mau ada urusan lain, pak Ammar. Tidak apa-apa kan?"


"Nggak apa-apa, Revo toh masih bisa bertemu di resto. Saya juga mau pulang, tidak enak meninggalkan ibu saya yang sedang sakit," ucap Ammar.


Vika menoleh sesaat. Ucapan Ammar tentang ibunya sakit tentu mengusik hatinya. Seburuk-buruknya apa yang pernah di lakukan Ammar. Diana termasuk yang masih baik pada Vika. Hingga setelah Ammar di kabarkan tidak datang, Diana menerima cacian dan makian dari mama Ida. Vika ingat betul bagaimana Diana termasuk syok atas kejadian itu. Tapi Vika saat itu tak bisa berbuat apa-apa.


"Ya Allah, selama ini Tante Diana sangat baik sama aku. Kesalahan yang dilakukan Ammar saat itu juga membuat beliau down. Aku ingin sekali menjenguk Tante Diana, tapi rasanya belum bisa bertemu dengan Ammar," batin Vika.


"Jadi ibu bang Ammar lagi sakit? ya Allah saya turut prihatin,"


"Iya, tidak apa-apa. Ibu saya sakit karena saya pernah mengecewakan dia,"


"Yang sabar ya bang, Tuhan sedang menguji hambanya,"


Ting


✉️ Kak Fera


Vika, ada yang ingin bertemu dengan kamu.


✉️ Vika


Siapa kak?


✉️ Kak Fera


Kalau kamu tahu siapa dia apakah kamu mau menemuinya.


✉️ Vika


Kalau yang kakak maksud adalah Ammar. Maaf kak, aku belum bisa.


✉️ Kak Fera


Aku ngerti. Tapi mau berangkat ke Singapura. Dia ingin sekali bertemu sama kamu.

__ADS_1


✉️ Vika


Aku belum siap,


__ADS_2