
Di waktu yang sama, di rumah sederhana nenek Seruni. Beberapa orang mendatangi rumah kecil itu. Para tetangga tahu bagaimana penghasilan Mila yang tak seberapa, mencukupi kebutuhan kedua adiknya. Belum lagi kebutuhan neneknya yang sedang sakit. Ada yang memberi uang pada Lala, ada yang membawa sembako. Ada juga yang mengirimkan sayur masak. Mereka melakukan itu bukan semata rasa hormat pada nenek Seruni. Mereka semua juga tahu bagaimana nenek Seruni memperlakukan Mila. Sumbangan itu mereka berikan karena simpati pada Lala dan Mila.
Sebuah mobil pick up berhenti di depan kediaman Nenek Seruni. Mobil yang berwarna hitam tampak kotor dan berdebu. Sang pemilik mobil adalah seorang lelaki yang di lansir usianya sekitar 50-an. Gurat wajahnya yang kusam menandakan dia lelah setelah perjalanan jauh.
Lelaki itu memandang rumah yang tak berubah sejak terakhir dia pergi. Masih meninggalkan kesan sederhana. Sebuah kerinduan yang mendalam dia rasakan.
Pelan-pelan dia memasuki halaman rumah tersebut. Dia merasa beberapa orang berbisik-bisik membicarakan dirinya. Semoga itu hanya perasaannya.
Lelaki itu mengetuk pintu rumah nenek Seruni. Tak lama pintu di buka oleh Eva. Ada seorang lelaki tua yang datang. Seramah mungkin Eva menyapa tamu yang datang.
"Assalamualaikum Bu benar ini rumah Bu Seruni?
"Benar pak ada perlu apa?"
"Bisa tolong panggilkan Bu Seruni.
" Bapak ikut saya saja" Eva mengajak si tamu ke tempat nenek Seruni.
Sampai di kamar nenek Seruni, Eva mengatakan ada tamu yang mencari nenek.
" Assalamualaikum .... Ibu!"
"Ro .. him!" pekiknya kaget.
"Ayah!" Sarah langsung memeluk sang ayah.
"Ini .... Mila, ya." tebak lelaki itu.
"Ini Sarah yah,"
"Sarah, dimata ayahmu anaknya cuma Mila." kata nenek Seruni.
"Bu, maafkan saya." Rohim bersujud di kaki ibu mertuanya.
"Kenapa kau pulang!" Kata salah satu warga.
"Paling sudah tidak punya apa-apa, makanya kembali lagi." sahut yang lain.
"Hoooh, dia yang membuat Aminah menderita."
Laki laki itu diam saja. Dia pulang karena rindu ketiga anaknya. Rindu rumah, sudah cukup dia Luntang Lantung di tempat orang, mencari yang tidak pasti. Mungkin yang dia cari sudah melupakan kalo dia masih ada anak. Sepanjang perjalanan dia sibuk menyetir, untung bosnya memperbolehkan dirinya membawa mobil ke Bengkulu.
"Rohim!" lelaki menoleh kearah pemilik suara.
"Boro!" Rohim langsung memeluk sahabatnya baiknya.
Boro terdiam. Tak ada sambutan hangat dari lelaki itu.
"Kenapa kamu kembali?"
"Karena rumah ku disini, Boro. Aminah dan ketiga anakku adalah tempat aku pulang. Aku merindukan mereka."
"Setelah semua yang kau lakukan pada mereka?"
"Boro, kau kan tahu kepergianku ada alasannya. Kau kan tahu ..."
__ADS_1
"Tapi kamu tidak tahu kalau Mila yang kena dampak semua ini. Kamu tidak tahu kalau Aminah juga menderita akibat kepergianmu. Dia mengandung berjuang sendiri, tanpa seorang suami. Membesarkan tiga orang anak perempuan. Di tengah kebencian ibu mertuamu.
Dan sekarang tanpa rasa bersalah kamu kembali hanya karena rindu!"
"Aku ingin bertemu Aminah."
"Aminah sudah meninggal dunia enam bulan yang lalu."
"Dan sekarang Mila yang menjadi tulang punggung keluarga ditengah kebencian yang di tanamkan neneknya."
"Maafkan aku." Rohim menundukkan kepalanya.
"Maaf juga tidak akan membuat Aminah hidup kembali. Aku harap kepulanganmu bisa memperbaiki hubungan dengan anak-anakmu." Boro langsung masuk ke dalam rumah nenek Seruni.
Rohim pun mengikuti Boro masuk kedalam rumah. Bukan sebagai keluarga melainkan sebagai tamu. Rohim merasakan sikap orang-orang yang dingin padanya. Hanya Sarah yang menyambutnya dengan bahagia. Bukan bahagia karena bisa berkumpul dengan ayahnya. Karena dia butuh ayahnya sebagai wali nikahnya.
Lala juga memilih menghindar dari ayahnya. Dia sering mendengar keburukan ayahnya dari orang-orang sekitar. Dia ingat nenek Seruni membenci kakaknya hanya karena ayahnya. Itu sudah menjadi poin negatif buat Lala. Gadis remaja itu memilih masuk ke kamar daripada dekat dengan ayahnya.
"Lala temui ayah dulu!" panggil Sarah.
Tak ada sahutan. Sarah pun akhirnya memilih kembali ke ruang tamu. Berbaur dengan ayahnya, Eva dan Tulang Boro.
"Kamu mau menelepon siapa?" tanya Eva.
"Kak Anjas." jawab Sarah.
"Ya Allah Sarah. Kalau bucin jangan kelewatan. Harusnya yang kamu kabari itu Mila bukan Anjas."
"Sekalian, kak Eva."
"Ya, ampun kak Eva. Itu handphone aku. Ngapain di serobot." protes Sarah.
"Ya karena aku tidak percaya kamu bakal telepon Mila. Aku yakin kamu pasti hubungi Anjas dulu."
"Oh ya Mila tadi pergi kemana?" tanya Eva.
"Pergi sama kak Danu kayaknya." tebak Sarah.
"Owh, aku telepon Danu sekalian." Eva masih menguasai handphone Sarah.
"Biarin saja kak Eva. Kan sweet kalau mereka lagi berdua."
"Mila kan punya Ammar. jadi tidak mungkin dia akan pindah ke lain hati. Dia bukan kamu yang suka serobot punya orang." tuduh Eva.
"Sudah... sudah .... kalian malah berantem di depan tamu." kata Tulang Boro.
Rohim terdiam saat mereka menyebut dirinya tamu. Dia memang tamu karena ini adalah rumah mertuanya. Sedangkan rumahnya bersama Aminah masih satu kompleks dari rumah ini. Rohim meninggalkan ruang tamu. Berdiri menatap sebuah rumah yang terlihat lotengnya. Seorang wanita sedang menjemur pakaian diatas loteng.
"Kenapa rumah kami di tempati orang lain?"
"Karena sudah di jual nenek Seruni, om." Eva menyahut ucapan Rohim.
"Kenapa bisa di jual? apa mereka kekurangan biaya? bukannya aku sudah menitipkan uang pada Boro."
"Itu saya kurang paham, Om."
__ADS_1
...*****...
"Kakak sudah sadar?"
Wisnu berdiri di depan Danu yang sempat hampir oleng ketika kembali ke rumah sakit. Tangannya mencoba membantu lelaki itu supaya bisa bersandar di headboard rumah sakit. Kepalanya menggeleng.
"Kan aku sudah bilang jangan di forsir. Bukankah bulan lalu kakak baru habis kemoterapi."
Danu meringis sambil memegang kepalanya. Dia memang sudah lama mengidap penyakit berat. Tapi sejauh ini masih bisa dia atasi. Apalagi dia selalu rutin minum obat dan kemoterapi.
"Wisnu, sebenarnya aku seberapa parah?"
"Kakak itu sudah stadium dua. Jadi masih status siaga. Kalau kakaknya merasa lelah, jangan di paksakan.
Ini semua aktivitas kakak mau ikuti. Terus kapan kakak bisa quality time untuk diri sendiri. Kakak itu tidak boleh banyak melakukan hal yang berat."
"Kalau aku tidak menemukan donor tulang sumsum, apakah aku akan meninggal?"
"Masalah meninggal atau tidak bukan kuasa aku, kak. Yang jadi urusan aku adalah kakak harus semangat berobat. Kesempatan sembuh masih ada."
Danu mendengar ada telepon berdering di nakas ruangannya.
"Itu handphone kak Danu. sengaja aku letakkan di nakas karena sedari tadi berbunyi."
"Berbunyi?"
"Iya, nama Sarah terus berdering di handphonemu."
"Sarah? Tolong ambilkan handphone saya."
Danu langsung menelepon balik Sarah. Dia menebak kalau terjadi sesuatu pada nenek Seruni. Setelah beberapa menit kemudian, Sarah akhirnya mengangkat teleponnya.
"Ada apa, Sarah?"
"Ini kak Danu tadi sama kak Mila kan? dari tadi kami telepon tidak aktif. Mana hujan gede, aku punya firasat tidak enak, kak."
"Tadi Mila ke rumah Vika, katanya ada hajatan disana."
"Vika! oke terimakasih infonya kak"
Danu langsung mengambil jaketnya. Lalu meminjam motor milik Wisnu.
"Kak Danu mau kemana lagi?" cegah Wisnu.
"Aku ada urusan urgen!"
"Tapi kakak masih belum pulih."
"Tolong izinkan aku kali ini, Wisnu" mohon Danu.
Wisnu menarik nafas dalam-dalam. Dia pun mengangguk kecil. Berdebat dengan Danu pun rasanya percuma. Sudah pasti dia akan kalah.
"Oke,"
"Terimakasih, Wisnu."
__ADS_1