
Jarum jam terasa berputar begitu lama berjalan. Waktu demi waktu di rasa lambat. Dengan menatap jam dinding lamat-lamat, perhatikan gerakan setiap jarum jamnya, resapi bagaimana jarum itu bisa sampai bergerak, dari detik ke menit, dari menit ke jam, lalu kemudian pikirkan sementara apa yang terjadi di luar sana sementara kita membuang waktu dengan mengawasi waktu agar ia tidak lari bagai kuda. Niscaya waktu akan berjalan lambat.
Ada saat-saat dalam hidupmu ketika kamu bersenang-senang bersama orang yang kamu cintai, waktu yang kamu habiskan terasa begitu cepat berlalu. Kamu merasa sebelum kesenangan dimulai, waktunya telah berakhir. Sebaliknya, saat kamu menunggu sesuatu yang istimewa atau dalam kondisi sulit, waktu terasa lambat.
Nggak nyambung, ya. Intinya satu hal yang mereka rasakan. Sejak Rohim pulang dari Lampung, baik Mila, Sarah dan Lala belum pernah bicara sama ayahnya dari hati ke hati. Bicara bagaimana keadaan sang ayah sebenarnya, baik Sarah maupun Mila di sibukkan dengan urusan rumah tangga. Sementara Lala di sibukkan dengan kegiatan sekolahnya.
"Beberapa hari yang lalu ayah pernah minta kita kumpul di rumah. Dia bilang kalau nanti anakku lahir waktu kita semakin sedikit untuk ayah. Saat itu aku hanya sekedar mengiyakan, karena sejak Sarah di jemput Anjas, ayah sering nanya kenapa Sarah tidak pernah main ke rumah," kata Mila.
"Kak, maafkan aku. Bukan tidak peduli sama ayah, tapi kegiatan di rumah dan kampus sangat menyita waktu. Kata bang Anjas, ayah pulang pas selesai narik saja. Makanya mereka jarang bertemu,"
"Jas, kamu suruh ayah narik?" tanya Mila.
"Ayah yang mau kak Mila, padahal aku sudah suruh di loket saja, dibagian admin. Tapi ayah tidak betah di sana, tahu-tahu dia sudah bawa angkot," jelas Anjas.
"Sayang, kamu jangan salahkan Anjas. Mungkin memang benar kata Anjas, kalau ayah terbiasa beraktivitas makanya sekali di suruh diam saja tidak akan betah. Sama kayak kamu tetap berkerja meskipun sedang hamil,"
"Kamu, Sarah. Bukankah loket dengan kampus searah. Sudah pasti kamu sering mampir ke loket, jenguk kek ayah, ajak ngobrol kek, dia juga ingin berbagi cerita pada anak-anaknya. Kalau saja kakak punya kesempatan ngobrol sama ayah. Akan kakak lakukan, tapi kan ayah tinggal di loket milik Anjas. Harusnya kalian bisa punya waktu yang luang,"
"Kenapa kak Mila malah salahkan aku? aku memang jarang pergi ke loket, tapi bukan berarti aku tidak peduli sama ayah. Aku saja sampai di rumah harus bantu mama Melani, belum lagi tadi ada ujian dadakan di ganti kuliah sore. Lagian selama aku masih tinggal sama kalian, aku dan ayah sering ngobrol bareng. Walaupun yang dia bahas tidak jauh dari soal kak Mila,"
"Sudah ... sudah .... ini rumah sakit kalian malah bertengkar. Kalau soal cemas, kita semua disini juga sama. Apa yang terjadi sama ayah kalian adalah kehendaknya," Ibu Dahlia mencoba menengahi pertengkaran dua bersaudara tersebut.
"Astaghfirullah, astaghfirullah" Mila berucap istighfar berkali-kali.
"Maafkan kakak Sarah, bukan maksud mau nuduh kamu yang macam-macam, kakak tadi panik saat bang Jaka mengabari ayah pingsan di kamarnya. Kamu ingat kan ini juga pernah kejadian sama ibu Aminah. Kakak takut sekali, takut ayah juga pergi sama seperti ibu,"
Pintu ruang ICU pun terbuka. Tampak seorang lelaki ber jas putih keluar dari pintu tersebut. Semua berdiri untuk tahu apa yang di idap Rohim.
"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?" Mila langsung menanyakan keadaan ayahnya.
"Alhamdulillah, ayah anda jantung tidak terlalu parah. Bisa jadi efek kelelahan saja. Sebentar lagi beliau akan di pindahkan ke ruang rawatnya,"
"Jantung? jadi ayah saya ada penyakit jantung, dok?" tanya Mila.
"Sebenarnya tidak ada riwayat kalau yang kami periksa tadi sepertinya memang hanya faktor lelah efek usianya. Apakah ayah anda perokok?"
__ADS_1
"Kadang-kadang, Dok. Tapi bukan perokok aktif apa ada hubungannya sama rokok dok?"
"Iya, saya melihat ada masalah sama paru-parunya. Tapi kalau memang pasif masih bisa di cegah sejak dini,"
Setelah dokter menjelaskan tentang kondisi ayah Rohim. Tampak sang ayah masih tertidur diatas brankar pasien. Suara roda brankar terdengar memecahkan keheningan malam di sekitar rumah sakit. Mila dan keluarga besarnya pun mengiringi ayahnya memasuki kamar rawat bangsal 2.
"Mas, kamu antar Lala pulang. Ini sudah malam," kata Mila pada suaminya.
"Kamu juga pulang ya, sayang, ingat kamu juga harus jaga kesehatan. Urusan ayah biar aku yang jaga,"
Anjas pun meminta Sarah pulang ke rumah di Sawah Lebar, dia berdalih berjaga di rumah sakit bersama Danu.
"Sayang, kamu pulang ke rumah bersama kak Mila, ya. Aku antar ke rumah ayah saja, soal yang jaga di rumah sakit biar abang dan kak Danu saja,"
"Bang, kalau ada apa-apa kabari, ya?" Anjas mengangguk. Dia pamit sama Danu untuk mengantar Sarah pulang.
"Jas, kalau soal antar pulang biar aku saja yang antar mereka. Mumpung tadi aku bawa angkot untuk mengantarkan pak Rohim ke rumah sakit," kata bang Jaka.
"Ah, iya, terimakasih, bang,"
"Jas, ibu juga mau pulang ke rumah Eva, kasihan Intan menunggu di sana," kata ibu Dahlia.
"Yang perempuan pulang saja. Biar kami para lelaki yang jaga ayah Rohim," kata Danu.
Mila mendekati sang suami "Uda juga jangan terlalu capek, ya. Uda tahu sendiri kondisi diri, Mila nggak mau kamu kenapa-kenapa, nanti Mila suruh bang Jaka antar obatnya,"
"Kamu tenang saja, sayang. Ini obatnya sudah ada di tas. Nggak pernah ketinggalan," Danu menunjukkan kantong plastik hitam pada istrinya.
"Emang kamu sakit apa, Danu?" tanya ibu Dahlia.
"Cuma vitamin, Bu," jawab Mila.
Sungguh tak ada maksud mereka ingin merahasiakan apa yang di idap Danu. Tapi bagi Mila maupun Danu selama masih bisa diatasi. Jika mereka merahasiakan penyakit Danu yang terdiagnosa kanker darah, sudah pasti malah bikin orang-orang di sekitarnya sedih. Atau mungkin Mila akan di minta meninggalkan suaminya. Dan jika itu sampai terjadi dia tidak akan mau melakukannya.
"Oh," Dahlia enggan banyak bertanya. Meskipun dia penasaran kenapa Danu membawa obat sebanyak itu.
__ADS_1
Mila dan yang lainnya pamit untuk pulang. Walaupun dia sebenarnya ingin tetap di rumah sakit menjaga sang ayah. Akan tetapi mengingat dia juga sedang mengandung serta mengutamakan kesehatan anak di dalam kandungannya.
"Kak," kata Lala.
"Iya, La,"
"Sebenarnya ayah sakit apa? kata kak Fera, ayah sakit orang tua? emang umur ayah berapa sih kak?"
"Umur ayah 65, dek. Dia nikah sama ibu umurnya sudah dewasa. Sedangkan ibu saat itu belum tamat SMA," jawab Mila.
"Belum tamat SMA kok ibu nikah sih kak?"
"Karena zaman dulu kalau perempuan nikah di bawah 17 tahun sudah biasa, La," Ibu Dahlia ikut menjawab pertanyaan Lala.
"Zaman itu, bude dan ibu kamu sudah tidak punya biaya untuk sekolah lebih lanjut. Bahkan zaman dulu yang baru tamat SD atau tamat SMP anaknya sudah tiga atau empat,
Beda sama zaman sekarang yang sudah berwawasan tinggi. Sudah ada pencegahan untuk pernikahan dini buat anak di bawah umur," jelas ibu Dahlia. Lala hanya manggut-manggut saja. Sebenarnya dia belum terlalu paham pada penjelasan orang dewasa di sekitarnya. Tapi satu hal yang dia tahu, tidak bagus juga kalau menikah terlalu muda.
Orang-orang zaman dulu, baik orangtua atau kakek-nenek kita, adalah orang yang terpaksa dewasa. Mereka hidup di masa sulit sehingga mereka harus bekerja ekstra keras di usia muda. Kakek barangkali sudah berjualan jajanan ketika masih kecil, merantau jauh ketika usianya masih belasan tahun, melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, dan sebagainya. Nenek juga barangkali sudah belajar masak dari kecil, ikut membantu pekerjaan orangtuanya di sawah, menimba air sumur, ikut berjualan di pasar, dan sebagainya.
Masa sulit itu pula yang memaksa mereka untuk menikah muda. Pernikahan dianggap sebagai jalur yang meringankan beban mereka, setidaknya ada yang membantu bekerja dan anak-anak yang lahir nanti bisa ikut membantu pekerjaan juga.
Nikah muda berisiko lebih tinggi mengalami gangguan mental, baik itu gangguan kecemasan, stres, atau depresi. Kondisi ini umumnya terjadi karena ketidaksiapan dalam menjalani beban dan tanggung jawab yang diterima sebagai suami atau istri.Selain bisa berdampak buruk bagi kesehatan, pernikahan dini juga berpotensi memicu kekerasan seksual dan pelanggaran hak asasi manusia. Melalui peraturan perundang-undangan di Indonesia, batas minimal usia untuk menikah adalah 19 tahun, baik laki-laki maupun perempuan.
"Kak Sarah umurnya juga masih muda," timpal Lala.
"Tapi usia kakak sudah masuk kriteria, Kakak juga sudah tamat SMA,"
"Jadi syarat boleh nikah harus tamat SMA, ya."
"Iya, harus tamat SMA dulu," timpal Sarah.
"Kalau nanti Lala besar, nggak mau pacaran dulu, Kak. Lala mau jadi orang sukses dulu,"
"Nah gitu, La," Mila memeluk adik bungsunya.
__ADS_1