
Pagi ini Lala sudah bersiap-siap dengan seragam putih birunya. Di lengkapi dengan topi yang senada dengan baju. Gadis usia 12 tahun itu sudah bangun sebelum subuh. Masak nasi untuk sarapan bersama sang nenek. Masak air untuk minum.
Setelah suara adzan subuh, Lala pun mandi sekaligus berwudhu. Karena kalau sudah sholat serasa aman. Sejak tinggal dengan sang nenek, Lala sudah tidak mengeluh lagi. Dia terbiasa bangun pagi, memasak dan membersihkan rumah. Jujur dia tidak pernah di libatkan di dapur. Tapi Lala bukan anak yang berpangku tangan. Dia tetap di didik oleh kakaknya Mila untuk mencuci piring setelah makan. Cuci baju sendiri termasuk membersihkan rumah seperti menyapu dan mengepel. Lala menggosok bajunya untuk di pakai ke sekolah. Termasuk menggosok jilbab navy yang juga akan digunakan.
Suara orang berjalan membuat Lala menghentikan aktivitasnya. Setelah mencabut kabel seterika. Lala keluar dari kamar.
"Nenek mau makan? biar Lala siapkan. Maaf, ya. Lala agak lambat bangunnya tadi malam Lala ngerjain tugas. nanti juga pelajaran kedua ada ujian." kata Lala.
"Sudah. Nenek tidak apa-apa. Biar nenek siapkan sendiri. Lala siap-siap ke sekolah. Nanti kesiangan." kata nenek Seruni pada cucu bungsunya.
"Nenek," Lala sedikit takut-takut membicarakan hal ini pada sang nenek.
"Iya, ada apa?"
"Nek, Lala boleh minjam uang nenek nggak. satu juta."
"Banyak sekali, La. Buat apa?"
"Nek, sebenarnya Lala nggak bisa ikut ujian karena Lala tidak bisa bayar SPP. Terus Aris kasih Lala pinjaman uang sebanyak satu juta untuk bisa ujian. Kata Aris, mamanya nanya terus kapan Lala bisa ganti uangnya."
Nenek Seruni ingat kalau Mila memberikan uang pada Lala. Dia sendiri saat itu tidak mau tahu berapa jumlah uang yang di berikan Mila. Andai saja saat itu dia tidak cuek pada Mila, mungkin uang Lala sudah di tangannya.
"Bukannya kakakmu memberikan uang? kemana uangnya?" Lala hanya menunduk takut. Seruni melihat ekspresi cucunya mulai curiga.
"Jawab nenek, La! kemana uang yang di berikan Mila waktu itu."
Lala hanya meremas ujung kemeja sekolahnya. Seandainya dia cerita hal ini apakah neneknya akan membelanya.
"Lala!"
Lala tersentak ketakutan. "Sama ... kak Sarah." jawab Lala menangis. Dia menangis karena ketakutan akan amarah neneknya.
"Buat apa?"
Lala menggeleng. Dia sendiri tidak tahu buat apa kakaknya meminta uang padanya.
"Kapan kakakmu minta uang?" tanya Nenek Seruni.
"Kak Sarah datang ke sekolah, nek. Sebelumnya dia datang meminta uang bulanan. Terus lala bilang tidak bawa. Besok dia datang terus ke sekolah. Akhirnya Lala bawa. Maaf, nek." Lala masih sesenggukan.
__ADS_1
Nenek Seruni memeluk cucu bungsunya. Dia merasa marah karena Sarah sudah banyak berubah. Bukan lagi Sarah yang manis seperti yang dia kenal dulu.
"Ini semua gara-gara Mila. Seharusnya dia adil. Jangan Lala saja yang di kasih uang. Sarah juga harus dapat bagian. Sekarang Lala kan yang jadi korban." batin nenek Seruni.
"Sudah, kamu jangan sedih lagi. Kamu kan sudah dapat uang dari temanmu. Jadi selesai ujian nenek yang datang ke rumah Aris. Biar nenek yang ganti uangnya." Nenek Seruni menghapus air mata di wajah cucu kecilnya.
"Iya, nek. Terimakasih. Maaf, nenek. Lala sudah bikin nenek marah pagi-pagi. Lala siap-siap ke sekolah dulu." Lala mencium tangan sang nenek.
"La, nenek mau nanya? kamu jawab dengan jujur!"
"Apa, nek?"
"Dimana Sarah tinggal sekarang?"
"Kostan milik kak Anjas, nek." Jawab Lala.
"Kostannya beda tempat atau masih satu rumah?"
"Nggak tahu, nek. Lala belum pernah kesana. Kak Sarah cuma bilang kalau dia kost di tempat kak Anjas."
Ya Allah, kenapa cucuku seperti ini? ini pasti pengaruh dari Anjas dan keluarga. Aku percaya cucuku anak yang baik. Ini karena kesialan yang berasal dari Mila. dasar pembawa sial!" batin nenek Seruni.
Di kediaman keluarga Wijaya
Bu Melanie baru saja akan pergi ke ruko. Setelah memasak untuk suami dan kedua anaknya. Bu Melani harus mengawasi ruko yang tak jauh dari rumahnya. Ketika akan pergi Bu Melani berpapasan dengan Sarah yang akan bepergian.
"Sarah?" sapa Bu Melani
"iya, Bu."
"Rapi banget. Kamu mau kemana?"
"Tadi kak Anjas bilang mau lihat gaun pengantin, Bu."
"Astaga, Ibu lupa. Kalian kan sebentar lagi mau menikah. Ibu percaya apapun yang kamu pakai, tetap terlihat cantik."
"Ibu mau ke toko?" Rudi muncul di depan pintu rumah.
"Iya, Kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Aku mau ke kampus, Bu. Kamu nggak kuliah, Sarah?" sapa Rudi yang sekedar basa-basi.
"Lagi nggak ada jadwal." kata Sarah sambil memalingkan muka.
"Bu, biar Rudi antar." Bu Melani pun naik ke motor anaknya.
Setelah Bu Melani meninggalkan rumahnya bersama Rudi. Sarah pun memeriksa barangnya lagi. Seperti ada yang tinggal Sarah masuk kembali dan mengambil barangnya. Baru saja Sarah membuka pintu tampak sosok yang di seganinya berdiri.
"Ne...nek!"
PLAAAAAK!
Sarah meringis kesakitan ketika wajah mulusnya di tampar oleh neneknya. Nenek Seruni menarik cucunya dengan kasar. Suara amukan nenek Seruni mengagetkan seisi kostan. Semua berhambur keluar. Ingin tahu apa yang terjadi.
"Dasar cucu nggak punya akhlak! kamu punya rumah! kamu punya keluarga, punya adik, punya nenek! Tapi kamu malah tinggal di rumah lelaki yang bukan muhrim. Rudi itu mantan kamu, Anjas itu calon suami kamu. Dimana otak kamu!"
"Lepaskan, nek!" Sarah mendorong neneknya dengan kasar.
"Sarah, kamu..."
"Nenek tidak usah drama queen, deh. Disini saya berasa ada keluarga seutuhnya. Bukan neraka yang nenek ciptakan. Semua yang nonton kalian dengar, dia ini nenek saya, tapi dia suka menyiksa cucunya. Makanya cucu nya tidak ada betah tinggal sama dia."
"Sarah!" suara bariton itu muncul di tengah keributan.
"Rudi! kamu diam saja, ini bukan urusan kamu."
"Nek, Rudi antarkan nenek pulang, ya? percuma nenek bicara sama dia."
"Tidak usah! nenek bawa motor."
"Biar Rudi yang bawa. Pokoknya nenek tenang saja."
"Nek," Rudi membawa nenek Seruni ke dalam rumah. sebelum diantar pulang. Gurat amarah kekecewaan terpancar di wajah wanita paruh baya tersebut.
"Dia sejak kecil sudah ku penuhi kebutuhannya. Dia sejak kecil selalu ku unggulkan di banding Mila. Karena apa, Sarah dan Lala adalah cucu kandungku. Bukan Mila yang..."
"Maafkan Sarah, ya, nek. Dia masih labil anaknya. Masih belum paham apa yang dilakukan salah." kata Rudi.
"Nenek malu sama kalian, Sarah masuk kekeluarga kalian seperti parasit. Nenek sudah gagal mendidiknya."
__ADS_1