
"Kapan kamu bagi rapot, La?" tanya Mila.
"Sabtu besok, Kak. Katanya kak Danu yang mau datang perwakilan orangtua. Boleh kan kak."
Mila mengangguk menyetujui permintaan adiknya. Tak terasa sebentar lagi Lala sudah kelas tiga SMP. Tentu harus belajar lebih giat lagi.
"La, sebentar lagi kamu sudah kelas tiga SMP. Itu artinya waktu bermain kamu harus sedikit di kurangi. Kata Sarah dia ada kenal teman yang bisa masukin kamu ke bimbel."
"Bimbel? Nggak usah kak. Ngapain pakai bimbel segala. Lala akan belajar lebih giat lagi biar bisa masuk SMA farmasi. Lala pengen masuk ke sekolah itu, kak."
"Lala tenang saja, kakak punya tabungan untuk biaya bimbel kamu. Kakak juga pegang tabungan ibu untuk kebutuhan kalian berdua. Tapi karena Sarah sudah menikah, fokus kakak ya sama kamu, La."
Lala menggelengkan kepalanya. Masih banyak kebutuhan yang lebih penting dari biaya masuk bimbel.
"Nggak usah pakai bimbel, sayang." suara bariton ikut bergabung ke obrolan kakak beradik.
"Uda, kok nggak kedengar sampainya."
"Ya kalian asyik ngobrol, sih. Sayang, kamu tahu kan sama cakra, adikku yang di panti. Nanti dia yang aku jadi guru bimbel Lala. Gratis."
Lala pasrah jika kedua kakaknya sudah memutuskan sesuatu. Dia sebenarnya lebih senang belajar biasa bareng teman-temannya. Tidak pusing memikirkan biaya les ini itu. Toh, nanti sekolah bakal ngadain les sore. Sama seperti saat dia kelas enam dulu, pertengahan semester sekolahnya mengadakan les. Lala pernah keberatan untuk ikut. Akan tetapi dia kalah suara ketika mereka yang dewasa memintanya tetap ikut kegiatan itu.
"Ibu menelepon," seru Danu.
"Ada apa, ibu menelepon?" tanya Mila. Danu menggeleng.
"Assalamualaikum, Nak. Kamu apa kabar? ibu sekarang di Bengkulu. Hari ini ibu belum bisa kesana, baru sampai tadi malam bareng Ammar dan Ando. Tubuh ini masih terasa lelah."
"Iya, Bu. Tidak apa-apa, toh masih banyak waktu." kata Danu.
Setelah berkomunikasi dengan ibu Rubiah. Danu pun mendapat pesan dari Wisnu kalau ada yang mau donorkan sumsum tulang belakang. Pendonor meminta di rahasiakan identitasnya.
"Kapan bisa di lakukan operasinya?" tanya Danu.
"Kalau abang bisa tiga hari lagi akan kita lakukan."
"Baiklah, saya setuju."
Danu langsung menyampaikan kabar bahagia itu. Mila, Danu dan Lala saling berpelukan ala Teletubbies.
__ADS_1
"Ya Allah terima kasih," doa Mila.
"Sebenarnya kak Danu sakit apa sih? kok pakai sumsum tulang belakang?" tanya Lala dengan polos.
"Kakak menderita leukimia, La."
"Ya Allah, bukannya itu parah, Ya." Danu menganggukkan kepalanya.
"Tapi kakak ada kesempatan sembuh kan?"
"Insyaallah, La. Semua yang terjadi atas izin Allah. Kakak hanya mengikuti suratan takdirnya." kata Danu.
...*****...
"Saya mau mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Danu." kata Ammar pada dokter Wisnu di rumah sakit.
Wisnu tentu kaget, pasalnya dari pihak Mila dan Danu sudah membatalkan soal pendonoran itu. Karena Danu sudah menjalani kemoterapi beberapa bulan ini. Bahkan sudah dianggap selesai kemoterapi nya.
"Maaf, Pak Ammar. Tapi dari pihak Danu sudah membatalkan pendonoran itu. Danu juga progressnya sudah banyak kemajuan. Jadi saya rasa ..."
"Waktu saya tidak banyak, dokter. Saya tidak tahu kapan Tuhan bisa menjemput saya terlebih dahulu. Jadi saya mohon turuti permintaan terakhir saya." mohon Ammar.
"Ada pembusukan di kaki saya. Dokter di Singapura mengatakan pembusukan berefek masuknya sel kanker tulang. Dan mungkin sebentar lagi kaki saya akan di amputasi dua-duanya. Tidak ada lagi tujuan hidup saya. Yang ada saya akan menyusahkan adik saya." kata Ammar lirih.
Wisnu tidak bisa berkomentar apa-apa. Setiap manusia kadang punya permasalahan hidup. Seperti yang dia lihat di depannya, seorang lelaki yang sudah pesimis setelah di vonis kehilangan kedua kakinya. Ada juga yang masih punya semangat hidup meskipun banyak kekurangan fisik.
"Itu siapa?" tanya Wisnu pada perempuan yang duduk di luar.
"Itu sahabat saya, Fera. Adik sambungnya Mila. Saya sudah kenal sama dia sejak bangku kuliah. Begitu juga dengan mendiang kakaknya juga ibu Dahlia. Mereka keluarga kedua setelah orangtua dan adik saya."
"Hmmm ... Seharusnya anda tidak sepesimis pak Ammar. Masih ada orang-orang yang sayang dan perhatian pada anda. Jadikan mereka sebagai motivasi hidup." jawab Wisnu.
Ammar membalas ucapan Wisnu dengan senyuman khasnya. Baru dua hari dia berada di Bengkulu setelah pemakaman mama Diana. Rencananya dia mau menengok anaknya Danu. Sebelum minggu depan harus kembali ke Singapura melanjutkan pengobatannya. Akan tetapi ada yang harus dia lakukan sebelum kembali kesana.
"Saya akan diskusikan soal ini pada Danu dan kak Mila." kata Wisnu.
"Saya sudah membicarakan hal ini pada Makwo Rubiah, atau ibu Rubiah. Jika memang Danu setuju pendonoran ini, tolong jangan bilang kalau itu saya."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tidak apa. Itu permintaan terakhir saya, dokter." kata Ammar.
"Baiklah, nanti saya akan informasikan lagi soal donor sumsum tulang belakang. Pesan saya satu, jangan pesimis dengan apa yang anda alami. Di luar banyak yang lebih parah dari anda masih bisa bangkit."
Ammar keluar dari ruang praktek dokter Wisnu. Dia kembali harus duduk di kursi roda. Karena kakinya sudah tidak bisa di fungsikan lagi. Kalau dia boleh memilih tidak perlu kembali ke Singapura jika pada akhirnya harus merelakan kakinya di amputasi.
"Mar," suara Fera membuyarkan lamunannya.
"Iya, Fe."
"Tadi apa kata dokter?" tanya Fera.
"Nggak apa-apa, Fe. Cuma ya aku harus sering melatih kaki supaya tidak kaku." kilah Ammar.
"Ooooo .... Kamu jauh-jauh berobat di Singapura tapi masih periksa di sini. Atau sebenarnya ada hal yang lain mau kamu periksa. Apa masih memikirkan soal donor sumsum tulang belakang? Mar, kan aku sudah ..."
Ammar menaikkan tangan tanda meminta Fera berhenti bicara. Sesaat wanita itu diam karena paham kode yang di berikan Ammar. Namun lagi-lagi Fera menyuarakan pikirannya.
"Kalau memang kamu tidak mau cerita tidak apa-apa. Cuma aku tidak mau mendengar kamu pesimis lagi." jawab Fera tegas.
Ammar masuk ke dalam mobil yang biasa di pakai restoran untuk mengantar pesanan. Fera memilih duduk di samping sopir sementara Ammar di belakang sopir. Suasana di dalam mobil terasa hening. Baik Ammar dan Fera tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Kamu mau kemana, Mar? Pulang atau ...."
"Aku mau ke danau dendam tak sudah. Tapi tidak usah di temani. Aku ingin sendiri." kata Ammar.
"Kamu jangan aneh, Mar. Mana mungkin aku bisa meninggalkan kamu sendirian di sana. Jangan bilang ... Sudahlah. Kalau kamu mau aneh-aneh aku beneran tinggalkan kamu di sini sendirian. Bahkan tidak akan aku ceritakan pada Ando."
Ammar sudah berada di salah satu pondok di pinggir danau. Menikmati udara siang sepoi-sepoi. Fera memilih duduk di pondok lain untuk mengawasi Ammar. Matanya melirik ke gawai, waktu untuk menjemput Intan sebentar lagi.
"Mar,"
"Air kelihatannya tenang ya, Fe. Tapi jika kita mendekatinya ternyata menghanyutkan. Dokter di sana bilang kesempatan hidupku tipis. Aku sudah minta maaf sama Vika, sama Mila dan Tapi aku belum minta maaf sama mama. Aku tidak ada di saat detik terakhir mama pergi. Aku bahkan sempat marah sama mama setelah tahu Mila sudah di miliki Danu. Padahal aku yang buat mama sakit seperti ini." Tubuh Ammar bergetar hebat, Lelaki itu langsung menangis sejadi-jadinya. Fera langsung memeluk Ammar menenangkan sahabatnya.
****
Jika dalam seminggu saya belum bisa update Bingkai cinta untuk Sarmila dan After wedding, Tolong di maklumi. Besok saya dan suami berangkat pindah ke kota.
Apalagi senin anak sudah mulai masuk sekolah baru.
__ADS_1
Tetap terus pantengin kisah mereka, jangan lupa kirim vote, gift dan like. Ikut komentar juga sebagai partisipasi kalian mengiringi kisah mereka.