Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 100


__ADS_3

"Bang," sapa Rudi


Anjas duduk di depan rumah makan sebrang gerbang kampus. Saat ini dia masih enggan menemui Sarah. Perasaannya masih marah dengan kelakuan istrinya. Terdengar cengeng memang, akan tetapi ini yang di namakan syok terapi. Memberi pelajaran agar Sarah bisa berubah.


"Di, kamu sudah selesai kuliahnya,"


"Lagi pergantian mata kuliah, aku mikir abang pasti menunggu,"


"Sarah tidak masuk hari ini, Bang," kata Rudi kemudian.


"Di saat seperti ini dia masih mangkir kuliah," gerutu Anjas.


"Abang kenapa tidak ke rumah saja. Mengecek Sarah, bicarakan baik-baik. Jangan bawa emosi,"


"Kalau aku kesana nanti dia makin besar kepala,"


"Sama saja dengan abang, kan? Abang juga keras kepala. Dulu waktu aku minta abang meyakinkan diri untuk membuka hati pada Sarah, abang ngotot kan. Aku sudah ikhlas kalau Sarah sama abang. Tapi ternyata kamu malah seperti ini. Segala sesuatu kan harus di bicarakan dengan kepala dingin. Bukan dengan emosi," kata Rudi.


"Ya karena..."


"Karena mama yang mendesak kan, bang. Abang juga tidak pernah meyakinkan mama memperjuangkan kak Mila. Nah sekarang, abang harus menerima konsekuensinya. Baik buruknya pasangan kita, tinggal abang kepala keluarga yang mengarahkan Sarah seperti apa. Tidak ada yang instan, bang,"


"Kamu masih perhatian sama Sarah, apa kamu masih ada rasa sama dia? kamu belum ikhlas kalau Sarah nikah dengan abangmu ini?"


"Kok malah bahas itu sih, bang. Aku ngomong begini buat kebaikan kalian berdua. Sebagai pendengar aku memberikan saran yang menurut aku baik. Sebagai saudara aku menasihati kalian karena aku ingin rumah tangga kalian rukun, bukan karena ada hati dengan Sarah,"


"Tapi buktinya sampai sekarang kamu belum punya pasangan? itu tandanya ..."


"Kalian berdua sama saja! Sarah selalu iri ketika abang sering memuji kak Mila, dan sekarang abang malah nuduh aku ada rasa sama Sarah. Api ketemu api tidak akan padam, bang.


Abang usianya lebih tua dari Sarah, cobalah bersikap seperti seorang kakak padanya. Cobalah sedikit mengalah sekaligus menuntun. Abang ingat saat sedang demam di rumah mama. Ira yang diminta mama membantu merawat abang. Padahal ada Sarah di sana, pernah nggak abang pikir perasaan Sarah saat itu. Sampai dia memilih tidur di rumah kak Mila,"


"Dia nya juga tidak ada inisiatif, Di. Cuma diam saja. Sudahlah, Di, percuma kamu bela Sarah terus. Abang suaminya, aku yang tahu bagaimana mendidik istri," kata Anjas.


Rudi menarik nafas dalam-dalam. Dia sudah berusaha membantu mendamaikan rumah tangga kakaknya. Memang benar kalau Anjas sudah banyak mengalah pada Sarah. Tapi Anjas juga tidak berusaha mendidik istrinya dengan baik. Bahkan menurut Rudi, mamanya juga terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kakaknya.


"Di, kita mau ke posko bencana di perumnas UNIB, kamu mau ikut?" sapa Tobi yang datang membawa kotak sumbangan.

__ADS_1


"Bang, perumnas UNIB bukannya area rumah kalian?" tanya Rudi.


"Ya, nggak mungkin kena banjir di sana. Kan perumahan padat penduduk,"


"Lah ini memang di perumahan padat penduduk, kak, di arah tugu hiu kan ada kompleks perumahan. itu yang paling parah dari yang lain," Tobi ikut menjelaskan.


Mendengar hal itu Anjas menegakkan kepalanya. Teringat kalau rumah mereka merupakan jalan turunan. Apalagi rumah mereka dekat berdekatan dengan sawah. Bisa jadi ikut kena.


"Sarah!" batin Anjas.


Anjas beberapa kali mencoba menghubungi istrinya tapi tetap tidak aktif.


"Di, kita kesana," Anjas langsung berdiri.


"Abang duluan saja. Aku masih ada mata kuliah. Bawa motorku. Kasihan Sarah sendiri disana," kata Rudi. Anjas mengangguk lalu menghidupkan motornya.


Anjas melajukan motornya menuju kearah ujung daerah Kandang Limun. Pikirannya berkecamuk antara memikirkan bagaimana Sarah sendiri di sana, sementara dia juga sempat enggan menemui istrinya. Setelah melewati area perumnas UNIB terus lurus lagi sudah mau masuk Tugu Hiu. Motor pun berhenti di sebuah gang besar.


Langkahnya terhenti saat beberapa rumah sudah di penuhi lumpur pekat. Tentu saja motor akan susah berjalan kalau situasi seperti ini.


Anjas mendorong motornya sambil berjalan kaki. Dia pun melewati posko dimana Sarah sempat berlindung. Suasana posko pun sudah sepi, bisa jadi sudah pada kembali ke rumah.


...***...


"Sarah bagaimana, Mas?" tanya Mila ketika suaminya sudah kembali ke rumah sakit.


"Sarah sekarang di rumah kita, ditemani sama Eva. Pas aku kesana tadi, dia sendirian membersihkan rumahnya,"


"Emang Anjas kemana?"


"Kata Sarah, Anjas ada tamu di rumah mamanya. Kemungkinan Anjas tidak tahu kejadian di tempat tinggalnya. Handphone Sarah rusak kena air banjir,"


"Ya Allah," Mila mengelus dadanya.


"Apa kata dokter?" tanya Danu.


"Lala besok sudah bisa pulang. Kondisinya juga sudah mendingan. Dokter melarang Lala untuk puasa dulu, sampai obatnya habis,"

__ADS_1


Danu mendekati ranjang milik adik iparnya. Tampak Lala sudah lumayan segar. Gadis muda itu masih terlelap setelah pas sahur dia minta makan.


"Mas, aku mau ngomongin sebentar?" Mila menarik suaminya keluar ruangan.


"Ada apa?"


Mila mengeluarkan surat kepada suaminya. Tadi saat Danu pergi ke tempat Sarah, ada petugas kesehatan datang memeriksa Lala. Aroma obat yang menyengat indera penciumannya membuat Mila masuk ke kamar mandi. Tentu saja dia muntah efek kehamilannya.


"Kak sudah masuk berapa minggu?" tanya Lala.


"Kakak belum periksa, La. Nanti saja awal bulan rencana kami mau check," kata Mila.


'Mbak suster coba periksa kak Mila, aku pengen tahu anaknya perempuan apa laki-laki," kata Lala.


"Baik, dek. Tapi kamu di periksa dulu, ya?" Lala mengangguk.


"Sini mbak, saya antar ke Obgyn. Biar di periksa langsung,"


"Saya tunggu suami dulu, sus," tolak Mila.


"Kak Danu pasti lama pulangnya? katanya dia nengok tempat bencana banjir. Periksa saja kak, nggak apa-apa," Lala terlihat lebih ngotot ingin kakaknya di periksa.


"Tuh adiknya bilang apa, nggak apa-apa kok mbak, disana ada acara pemeriksaan gratis. Mbak bisa gabung biar saya daftarkan,"


Mila manut saja. Ada atau tidaknya suaminya tetap saja hasilnya sama. Setelah beberapa lama mengantri, akhirnya Mila dapat giliran periksa.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Ini dokter, saya mau periksa kehamilan. Mau tahu berapa usia kandungan saya. Soalnya belum pernah periksa, cuma berdasarkan hasil testpack saja,"


"Oke, bu. Silahkan ke bilik sana. Biar nanti ada suster yang menuntun anda,"


"Baring disini, ya, Bu,"


Mila merasakan sedikit geli saat dokter cantik memberikan gel di perutnya.


"Ini ada terlihat pergerakan bayi ya, Bu. Masih kecil terlihat, tapi sudah kelihatan aktif. Dari berdasarkan hasil USG, kandungan ibu masuk 4 minggu,"

__ADS_1


"Empat minggu, sayang," Jawab Danu terlihat senang. Mila hanya mengangguk kecil. Danu langsung memeluk sang istri. Lelaki itu berlutut di depan perut istrinya. "Anak ayah, cepat besar, ya,"


__ADS_2