Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 50


__ADS_3

Di hari yang sama.


Ando datang membawa mama Diana di dampingi makwo Rubiah. Sudah hari satu minggu setelah mendapatkan kabar soal penemuan Ammar. Makwo Bia, itu panggilan dari orang-orang terdekat hanya bisa menatap pilu melihat kondisi keponakannya. Dia tidak menyangka kalau nasib Ammar seperti itu.


Menurut dokter kaki Ammar mengalami luka bakar yang serius. Sebagian dari mereka menyarankan agar di amputasi saja. Mengingat keterbatasan alat untuk pengobatan lebih lanjut. Akan tetapi, Ando menolak kaki abangnya di amputasi. Dia yakin masih ada jalan lain selain amputasi. Toh banyak cerita yang dia dengar tentang pengobatan untuk korban yang terbakar. Ando akan terus berusaha membuat kakak dan ibunya sembuh sediakala.


“Do,” sapa Makwo Bia.


Ando masih duduk merenung tentang yang terjadi di keluarganya akhir-akhir ini. Kakaknya kabur dari kecelakaan, Mamanya tiba-tiba stroke akibat aset cafe di tarik sama keluarga Vika. Keluarga Vika bahkan menarik sebagian saham yang mereka tanam di counter Ammar. Sekarang tabungannya semakin menipis. Semua di pakai untuk biaya rumah sakit kakaknya dan pengobatan mama Diana.


"Kamu butuh biaya berapa, Do?" tanya makwo Bia.


Walaupun penampilannya sering dibilang kampungan sama mama Diana. Makwo Bia sebenarnya punya usaha di Padang. Makwo Bia membuka usaha makanan kecil seperti kerupuk Sanjay balado. Usaha yang dulu di rintis orang tuanya Bia, hanya saja dulu belum sebesar sekarang. Masih buka usaha rumahan, setelah suami makwo Bia menceraikannya.


Kesuksesan tak bisa diciptakan dalam waktu sekejap. Namun berproses sepanjang waktu, menguras tenaga dan pikiran. Jika bisa mengatasi hal itu, siapapun pasti bisa meraih kesuksesan sepanjang tak pantang menyerah ketika badai ujian datang.


Saat pulang ke kampung di Bukittinggi, Makwo Bia kembali menjalankan usaha kecil-kecilan milik orangtuanya. Apalagi sejak putra semata wayangnya hilang akibat perbuatan Diana. Bia pun mengalihkan kesedihannya untuk berbisnis kecil-kecilan. Memang sudah menjamur usaha Sanjay balado. Tapi setiap usaha mempunyai ciri khas sendiri. Saat itu di desa tempat tinggalnya hanya dirinya yang membuka usaha sanjay balado. Ada dua variasi yaitu pedas merah dan cabai hijau.


Bia memberi nama usahanya, Ummi Abdi, berharap suatu saat dia bisa menemukan anaknya meskipun dia masih pesimis. Semua sanak saudara dari suaminya seolah tidak mau tahu urusan hilangnya Abdi. Bia merasa sendiri, sebelum pulang ke Padang dia sudah bolak-balik kantor polisi. Tetap saja nihil.


Seperti pusat oleh-oleh Sumatra Barat (Sumbar) pada umumnya, Bia juga mengandalkan keripik sanjay sebagai daya tarik utama, di samping makanan lain.


Namun, yang membedakan dari pusat oleh-oleh lainnya, di sini pengunjung tidak sekedar disuguhi produk siap makan yang sudah terbungkus kemasan, melainkan juga ada beberapa tester dari produk-produk unggulan usahanya.

__ADS_1


Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa menyaksikan langsung proses pembuatan keripik sanjay. Mulai dari proses pemotongan ubi kayu yang menjadi bahan dasar keripik sanjay, hingga saat penggorengan di kuali yang berukuran sangat besar. Pegawai yang menangani proses produksi tersebut juga mengenakan baju adat Minang dengan versi yang lebih sederhana. Karena itu, tidak jarang banyak turis memilih berfoto dahulu dengan para pegawai berkostum adat ini sebelum berkeliling untuk belanja.


Itulah sekilas perjuangan Rubiah setelah bangkit dari keterpurukan hidupnya. Dia kembali ke Bengkulu untuk menghormati Diana sebagai saudara ipar. Tapi ternyata tidak banyak sanak saudara yang datang. Apa karena jarak, atau mereka sudah enggan bersilaturahmi. Bia enggan suudzon.


"Keluarga dari saudara Ammar," panggil suster.


"Iya, sus." Ando langsung menghampirinya suster.


"Sepertinya saudara Ammar sudah sadar. Tadi saat kami memeriksa tangan pasien bergerak, saat ini dokter sedang mengecek kondisi pasien."


"Alhamdulillah, terimakasih suster."


Dokter yang awalnya merasa pesimis dengan kondisi Ammar yang hampir tiga Minggu tidak sadar. Bahkan dokter sempat bilang kalau kesempatan hidup Ammar sangat tipis. Tapi sekarang dia melihat detak jantung lelaki itu kembali stabil. Hanya saja dia masih sangsi dengan efek luka bakar di tubuh pasiennya.


"Bagaimana keadaan abang saya, dokter?"


"Sungguh mukjizat, saya pernah menyampaikan ini pada bapak yang menemukan Ammar. Melihat benturan keras di kepalanya, luka bakar di kaki dan juga sebagian wajahnya yang cukup serius. Kami sempat pesimis atas kesembuhannya.


Polisi pernah bilang berdasarkan cctv yang mereka periksa. Saudara Ammar menabrak sebuah pohon besar bersama motornya. Dia sempat melepaskan diri dari api yang membakar motornya. Dia terjatuh di area lain dengan kondisi tubuh yang terbakar. Hujanlah yang meredam api di tubuhnya."


Ando mengingat sejenak. Memang setelah acara bubar cuaca pun menjadi gelap dan hujan panas. Mungkin kalau tidak ada hujan, tubuh Ammar akan terbakar total. Beberapa kali dia mengucapkan rasa syukur jika Tuhan masih memberikan umur yang panjang untuk Ammar.


Ando lemas, belum lagi mamanya yang stroke karena masalah amar yang hilang, sekarang Abangnya juga mengalami hal yang sama. Ando punya rencana akan menikah beberapa bulan lagi, apakah calon istrinya akan menerima keadaan ini.

__ADS_1


" papa ...?" Terdengar suara kecil dari balik alat bantu pernapasan.


Ando terkejut amar menanyai papa, papa sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Ammar kembali menanyakan mama nya, Ando bilang mama mereka ada di dekatnya.


"Bang, bangun bang. Ini aku Ando." bisik Ando di indera pendengaran Ammar.


"Papa ..." Ammar masih terus memanggil papanya.


"Apa abang bertemu papa di sana? bilang sama papa aku juga mama sangat merindukannya. Abang jangan mau ikut papa. Kalau Abang pergi terus mama juga sakit, Ando akan sendirian disini. Bangun, bang. Temani aku buat jaga mama."


"Do," sapa Makwo Bia.


"Bang, ini ada mama yang datang buat ketemu abang. Mama juga rindu sama abang. Sejak abang tidak datang ke pernikahan itu. Mama setiap hari menangis merindukan Abang. Mama terus bertanya kapan abang pulang.


Abang bangun, Ando janji kalau Abang sehat nanti. Ando bakal bantu abang memperjuangkan Mila. Ando bakal mempersatukan kalian."


Ando terus mengoceh di telinga Ammar. Tubuhnya bergetar hebat melihat keadaan abangnya yang lumayan parah. Wajah tampannya kini sudah basah dengan mata membengkak.


"Do, kita sudah seharusnya bersyukur. Allah masih memberikan Ammar kesempatan untuk kembali berkumpul lagi. Meskipun dalam keadaan seperti ini. Ini ujian kita, nak. Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuan. Pelan-pelan kita cari pengobatan untuk Ammar."


Ando langsung memeluk makwo Rubiah. Orang yang saat ini menjadi orangtuanya setelah mama Diana. Makwo Rubiah terus menguatkan keponakannya. Layaknya seorang ibu pada anaknya.


"Mungkin sebentar lagi saudara Ammar akan sadar. Hanya sepertinya, sebagian memori akan mundur. Sejenis amnesia, tapi dia hanya mengingat beberapa tahun belakangan." jelas dokter. Dokter pun pamit undur diri dari ruangan Ammar.

__ADS_1


__ADS_2