Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 116


__ADS_3

Begitu selesai mengikuti ujian mata kuliah, Sarah membereskan bukunya lalu di masukkan ke dalam tas. Dari kaca tempat belajarnya tampak langit mulai gelap. Apalagi Sarah tidak membawa payung. Tadi Anjas janji akan menjemput dirinya memakai mobil. Walaupun dia tahu suaminya nantinya membawa mobil angkot berwarna hijau.


"Sarah, kamu pulang sama siapa?" tanya Arta teman sekelasnya.


"Suamiku jemput kayaknya,"


"Wah, kamu beruntung ya punya suami siaga mau jemput istrinya, pasti bawa mobil keren,"


"Enggak, biasanya bawa angkot, aku duluan, ya," Sarah melambaikan tangan meninggalkan Arta dan teman yang lainnya.


"Tumben dia ramah, biasanya boro-boro," kata Eli.


"Biasanya dia ramah kok," Arta membela Sarah.


"Ya, karena sudah rujuk sama suaminya. Makanya dia ramah. Dulu kan dia hampir di ceraikan suaminya karena me- ratu di rumah mertuanya," cerocos Eli.


"Aduh, saya juga nggak ada waktu membicarakan orang lain. Saya pamit dulu soalnya sudah di jemput," Arta pamit pada teman-temannya.


"Huuuh! sok suci tuh orang," jawab Eli sewot.


Sarah mendapati mobil angkot hijau mendekati dirinya. Ternyata bukan Anjas yang jemput melainkan salah satu anak buah suaminya. Sarah memilih duduk di kursi penumpang daripada bersebelahan dengan sopir. Penampilan lelaki itu yang penuh dengan tato membuatnya bergidik ngeri.


"Dek Sarah, di depan saja, nanti saya dimarahi Anjas,"


"Tidak apa-apa bang Jaka, enak di belakang bisa lihat jalanan sambil selonjoran," tolak Sarah.


"Yasudah kalau begitu, saya nggak tanggung jawab kalau dek Sarah kenapa-kenapa," kata Jaka.


"Sudah bang Jaka bawa mobil saja. Bang Anjas tidak akan marah kalau saya diantar dengan selamat," kata Sarah.


Mobil melaju dari UNIB belakang menuju ke area pematang. Memasuki gang bandaraya menembus jalan rawa makmur. Seketika mobil sudah terhenti di depan perumahan jalan Merpati, Rawa Makmur.


"Terimakasih, bang. Ini ongkosnya," Sarah mengeluarkan uang sepuluh ribu pada bang Jaka.


"Nggak usah, Dek. Abang sudah di bayar sama Anjas,"


"Nggak apa-apa, bang. Buat jajan Kila, anak abang," Sarah menambahkan uang sepuluh ribu serta memberikan pada Jaka.


"Terimakasih, Dek," Jaka pun meninggalkan area perumahan Anjas.


Anjas berdiri di depan pintu menyambut kepulangan istrinya. Sarah berjalan menuju tempat suaminya, menyalami Anjas sebagai rasa hormatnya.

__ADS_1


"Maaf, ya, Bang. harusnya aku yang nyambut malah kebalik,"


"Enggak apa-apa, sayang. Kamu kan baru pulang kuliah, abis ujian pula. Jadi sekali-sekali abang pengen nyenengin istri,"


"Selama ini abang sudah banyak menyenangkan istri. Jadi sekarang aku yang menyenangkan kamu. £


Abang baru pulang dari kerja kan, sudah mandi belum? biar Sarah yang siapkan?"


"Tuan putri baru pulang?" sapa Bu Melani.


"Maaf, Ma. Aku pulangnya agak sore, soalnya..."


"Sudah jangan banyak alasan, cepat kamu siapkan buat buka puasa, ini sudah jam lima,"


"Iya, Ma," Sarah langsung pergi ke dapur menyiapkan menu buat buka puasa.


"Kamu siapkan yang benar, gara-gara kamu lama, saya tidak jadi bukber sama teman-teman, harusnya kamu tahu diri kalau tinggal di rumah mertua," Sarah hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya.


"Ma, jangan begitu. Sarah baru pulang dari kampus, masih untung dia mau langsung bantu," kata pak Ahmad.


"Papa bisa diam nggak, mama cuma mau mendidik Sarah. Biar dia jadi istri yang baik," kata Bu Melani.


Sarah menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya dia bisa saja menajamkan taringnya efek sikap ibu mertuanya. Bisa saja dia melawan karena dalam posisi ini memang bukan salahhya. Akan tetapi Sarah menyadari mengandalkan emosi tidak akan menyelesaikan masalah.


Terkadang emosi yang datang justru bisa mengacaukan yang ada. Maka penting untuk kamu mengelola perasaan agar tidak mudah terpancing emosi. Dekatkan diri dengan hal yang bisa memberikan motivasi untuk menenangkan diri. Dengan begitu kamu bisa berpikir lebih jernih dalam memutuskan tindakan selanjutnya.


Jangan mudah terpancing emosi oleh orang lain. Ketika ada seseorang yang ingin memancing emosimu, sebaiknya berilah senyuman kepadanyaTak peduli dia akan membalas senyummu atau tidak, yang terpenting ialah hal ini menunjukkan kalau kamu tidak terpancing emosi akibat ulahnya.


Suara sirine pertanda waktunya berbuka puasa. Semua keluarga berkumpul di meja makan. Sarah belum sempat mandi masih melayani keluarga suaminya. Sejatinya memang itu tugas seorang istri. Sarah menahan rasa gerah dan lengkap yang menerpa tubuhnya. Daripada dia kena omel ibu mertuanya.


Waktu berbuka puasa adalah momen yang paling ditunggu-tunggu menjelang datangnya bulan Ramadan. Menuju waktu tersebut, kita biasanya akan menyiapkan berbagai makanan dan minuman lezat untuk disantap setelah seharian berpuasa.


Di meja beberapa menu seperti lauk pauk, gorengan, es buah dan tentunya potongan buah semangka sebagai penutup hidangan. Sarah duduk di sebelah Anjas, ikut menikmati menu buka puasa.


"Abang mau apa? biar Sarah ambilkan,"


"Nggak usah, sayang. Biar abang ambil sendiri," Anjas mengambil satu gelas es buah.


"Ya, biarin saja, Jas. Emang tugas istri harus begitu," sahut Bu Melani.


"Mama ngomong tugas tapi juga tidak menjalankan. Itu papa dari tadi ambil makanan sendiri,"

__ADS_1


"Nggak usah ajarin mama, Jas. Kamu selesaikan makan dan shalat Maghrib. Nanti habis waktu dan ketinggalan teraweh,"


"Mama selalu begitu, sok ngasih nasehat orang tapi di kasih tahu nyolot,"


"Sudahlah, Bang. Lebih baik kamu siap-siap, abang tadi sudah mandi apa belum, nanti aku siapkan untuk pergi ke masjid,"


"Sayang kayaknya kak Mila telepon, aku angkat, ya?"


"Hmmm, apa mungkin tadi dia ada hubungi aku, makanya dia menelepon kamu,"


"Bisa jadi, nggak biasanya dia menelepon,"


"Angkat saja, bang,"


Anjas mengangkat telepon dari kakak iparnya. Sarah seperti menanti apa yang membuat kakaknya mendadak menghubungi mereka.


"Sayang, kata kak Mila ayah pingsan di kamarnya. Itu pun yang mengabari orang loket. Sekarang ayah di bawa ke rumah sakit Raflesia," kata Anjas kemudian.


"Yasudah, bang. Aku mandi dulu terus kita ke rumah sakit,"


"Ma, pa, maaf Sarah mau siap-siap dulu soalnya mau ke rumah sakit," Sarah pamit meninggalkan meja makan.


"Anjas juga ma, pa. Mau mengantar Sarah ke rumah sakit,"


"Tunggu!" panggil Bu Melani.


"Iya, Ma,"


"Kenapa kamu nggak bilang sama mama kalau mertuamu sering tidur di loket,"


"Anjas kamu siap-siap, nanti kemalaman," Anjas pun beranjak masuk ke kamarnya.


Beberapa saat kemudian Sarah dan Anjas sudah mau berangkat ke rumah sakit. Ada rasa cemas membelenggu pikiran Sarah. Walaupun dia tidak terlalu dekat dengan sang ayah. Akan tetap yang namanya hubungan darah ikatannya kuat sekali.


Sesampainya di rumah sakit, tampak Mila, Danu, Lala, Fera dan ibu Dahlia sudah berdiri di depan ruang ICU. Rona wajah cemas menyelimuti semua yang ada disana. Tampak bang Jaka juga ada disana.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sarah.


"Tadi pas saya mau ambil motor di loket, saya mau pamit pulang sama pak Rohim. karena tidak ada sahutan saya cek ke kamar belakang. Saya menemukan pak Rohim pingsan sambil pegang dada kirinya. Makanya saya ambil handphone pak Rohim untuk menghubungi anaknya yang bernama Mila," cerita bang Jaka.


"Ya Allah, sembuhkanlah ayah hamba," doa Sarah.

__ADS_1


__ADS_2