
"MILA!"
Danu langsung berlari mendekati istrinya. Mila terus mengeluh kesakitan. Dia kebingungan mau minta tolong pada siapa. Apalagi lokasi pantai jauh dari rumah warga.
"Sakit!" pekik Mila.
Mila terus mengerang kesakitan. Rasanya tulangnya mau rontok semua. Tubuhnya lemas. Seketika kakinya mengeluarkan cairan bening. Mila yakin itu adalah ketuban. Tidak kuat berdiri Mila pun sudah ambruk sebelum Danu menggapai tubuhnya.
Danu yang melihat kondisi istrinya bingung mau minta tolong pada siapa. Mengingat lokasi pantai memang jauh dari jangkauan perumahan warga. Padahal tadi Mila tidak mengeluh kesakitan, tiba-tiba mendadak mengerang kesakitan.
"Kamu bertahan aku akan cari bantuan. Eh, bagaimana mungkin aku meninggalkan kamu sendirian di sini. Ya Allah aku harus bagaimana?"
Danu membulatkan matanya saat cairan bening keluar dari paha istrinya. Dia menebak ketuban Mila sudah keluar.
"Ya Allah, ketubannya keluar!" Danu makin panik.
"Udaaaa ... Sakit sekali!"
"Kamu harus kuat, sayang. Astaga kenapa tidak telepon Wisnu saja." Danu mengeluarkan handphone menghubungi dokter Wisnu.
"Wisnu tolong susul kami ke pantai UNIB depan. Kaki tadi lewat jalur simpang pom bensin. Mila sepertinya mau melahirkan. Tolong cepat kesini bawa ambulan." perintah Danu di saluran telepon. Setelah menutup teleponnya, Danu mendapati Mila sudah tak sadarkan diri.
"Sayang, Sayang, Sarmila!" Danu terus berusaha membangunkan istrinya.
Tentu saja Mila tidak mendengar panggilan suaminya.
"Sayang, aku mohon bangun!" Tetap tak ada reaksi.
Beberapa lama kemudian suara ambulan terdengar mengaung di jalan besar. Danu merebahkan Mila di pinggir. Lelaki itu memberi kode mobil ambulans tentang keberadaannnya. Mobil pun berhenti tetap di hadapan Danu. Petugas rumah sakit sudah mengangkat tubuh Mila memindahkan ke atas brankar. Diikuti Danu yang mengiringi dengan motor. Tadinya dia mau masuk ke dalam. Lalu teringat kalau dia sudah meminjam motor milik satpam rumah sakit. Karena Wisnu tidak ikut, mau tidak mau Danu pun harus mengiring istrinya walaupun beda kendaraan.
"Kamu harus kuat sayang. Jika terjadi sesuatu sama kamu dan aku. Siapa yang akan menjaga anak kita?" batin Danu.
Sesampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ruang UGD. Tentu saja memeriksa Mila yang masih tak sadarkan diri. Alat-alat medis pun sudah melengkapi tubuh wanita itu. Danu tidak di persilahkan masuk karena ada tindakan medis. Dari luar Danu menghempaskan tubuhnya di kursi tunggu. Beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bu, Danu sekarang di rumah sakit. Mila mau melahirkan." Danu memberi laporan pada mertuanya melalui sambungan telepon.
"Iya, Ibu dan Fera akan kesana. Kami akan kabari sama yang lainnya." jawab ibu Dahlia.
__ADS_1
"Terimakasih, Bu." Danu pun menutup teleponnya.
Dia pun mengabari kabar yang sama pada Ibu Nurmala dan ibu Rubiah. Dan ternyata ibu Rubiah sudah dalam perjalanan pulang ke Bengkulu. Mengabarkan berita duka tentang meninggalnya ibu Diana.
"Danu, ibu langsung membawa jenazah Diana ke Kepahiang. Di mana keluarga besarnya ada di sana. Ando sudah ada di tempat duka. Kata Ando Ammar mungkin besok mau pulang bareng Emir. Maaf, ibu tidak bisa kesana melihat Mila. Selamat ya, sebentar lagi kamu akan jadi ayah."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, semoga ibu Diana di tempatkan yang terbaik di sisi-Nya. Danu juga turut berdukacita atas meninggalnya etek Diana. Sampaikan sama Ando ucapan belasungkawa Danu."
"Iya, nanti ibu sampaikan. Ibu tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Bu." Danu pun menutup sambungan telepon.
Ceklek!
Dokter sudah keluar dari ruang UGD. Danu pun langsung menyambangi dokter untuk tahu perihal istrinya.
"Bagaimana istri saya, Dok?"
"Begini, Danu. Sebenarnya Istri anda masih bukaan tujuh. Jarak waktu melahirkan juga belum waktunya, mungkin sekitar satu atau dua jam baru bisa di lakukan tindakan. Tapi, ...."
Danu mendongakkan kepalanya. Apa terjadi sesuatu pada istrinya. Sampai-sampai wajah dokter berubah.
"Istri anda ketubannya sudah pecah. Jika harus menunggu bukaan selanjutnya saya khawatir sama keselamatan ibu dan janinnya. Maka dari itu saya minta persetujuan anda untuk melakukan tindakan operasi sesar. Karena kalau tidak bayinya akan meminum sisa air ketuban. Dan itu bisa bahaya."
"Apapun, Dok. Jika itu memang yang terbaik lakukan saja. Yang penting istri dan anak saya selamat." Mohon Danu.
"Baik tolong tanda tangan sebagai tanda anda menyetujui operasi ini. Dan langsung urus administrasinya." kata dokter.
"Pokoknya tolong selamatkan istri dan anak saya, Dok. Masalah administrasi bisa saya urus. Tapi bisakah anda melakukan operasinya secepatnya. Saya kan sudah tanda tangan." Dokter hanya diam lalu masuk ke dalam ruang UGD.
Danu mengecek uang di m-bankingnya. Tubuhnya melemas karena saldonya menipis. Sejak kemoterapi banyak yang pengeluaran mereka. Termasuk untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau uang nya tidak cukup bagaimana dokter mau menangani operasi Mila.
Dalam masalah ini dia bingung minta bantuan sama orang lain. Bahkan permasalahan penyakitnya saja tidak pernah dia katakan pada keluarga Istrinya. Hanya waktu yang pada akhirnya membuka semuanya. Mau tidak mau Danu dan Mila terbuka pada keluarga yang lain.
"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan demi menyelamatkan istri dan anakku."
"Bang," suara bariton menyapa dirinya. Danu pun memeluk adik angkatnya. Terdengar susutan hidung membuat Wisnu pun ingin tahu apa yang terjadi. Danu menceritakan apa yang baru saja dialaminya.
__ADS_1
"Jadi Dokter Ramlan minta abang untuk bayar administrasi dulu. Padahal abang sudah tanda tangan setuju penindakan Operasi." Wisnu sedikit kaget setelah tahu permasalahan yang sebenarnya.
"Iya, BPJS aku habis masa aktifnya. Belum sempat di urus. Jadi aku mau pakai ...."
"Gini saja, biar aku yang bicara sama dokter Ramlan. Pokoknya aku usahakan kak Mila bisa langsung di operasi sekarang juga." kata Wisnu.
Danu hanya mengangguk kecil. Wisnu berjalan memasuki ruangan lain. Mungkin akan membicarakan terkait penanganan Mila. Beberapa saat kemudian tampak ibu Dahlia, Fera dan juga Sarah. Mereka langsung menghampiri Danu, ingin tahu bagaimana kabar Mila selanjutnya.
"Bagaimana keadaan kak Mila?" Tanya Sarah.
"Saat kami jalan pagi di pantai, Mila tiba-tiba mengeluh kesakitan. Seperti tanda akan melahirkan. Dokter bilang ketubannya mau kering, karena Mila masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dokter memutuskan untuk sesar. Menurut kalian bagaimana?"
"Kalau itu memang keputusan dokter, kita ikut saja." kata ibu Dahlia.
"Fera, tadi ibuku bilang kalau ibu Diana meninggal dunia. Sekarang dalam perjalanan ke kampung halaman di Kepahiang."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucap mereka bersamaan.
Salah satu perawat mencari Danu. Memberitahukan kalau operasi untuk Mila sudah bisa di lakukan. Danu berucap syukur. Dia akan berterimakasih pada Wisnu. Dia juga mengutarakan kegembiraannya pada keluarga istrinya.
"Biasanya sesar berlangsung paling lama satu sampai dua jam. Ya Allah semoga Mila dan anak kami selamat." kata Danu.
(Pengalaman othor waktu operasi sekitar satu jam lebih)
Suara lengkingan dari dalam ruang operasi membuka semua orang menoleh ke pintu. Suara yang mereka yakini bahwa anak Mila sudah lahir. Bu Dahlia dan ibu Nurmala yang baru saja sampai saling memeluk. Cucu mereka sudah lahir ke dunia.
"Danu, kamu dengar, Nak." seru ibu Nurmala.
"Iya, Bu. anakku sudah lahir. Cucu ibu perempuan." ucap Danu lirih.
Seorang suster keluar dari ruang operasi.
"Suami dari ibu Sarmila?" panggil suster.
Danu segera mendekati suster. Diajak masuk ke ruangan untuk melihat bayi dan ibunya. Menurut dokter, Mila masih belum sadar.
"Selamat anak Anda perempuan." kata dokter.
__ADS_1
Danu menatap haru sosok mungil berlumuran darah masih dalam gendongan suster.
"Bapak, anaknya di bersihkan dulu, ya." pamit suster.