
Pagi hari adalah waktu yang cukup istimewa. Bukan hanya karena sinar matahari yang cantik dan udara yang segar, namun pagi hari juga bisa jadi permulaan yang sangat menentukan bagaimana seseorang menjalani harinya hingga petang nanti.
Pagi jadi momen yang mengawali hari baru. Selain itu, pagi juga jadi waktu yang paling tepat untuk menyusun rencana, serta mengumpulkan semangat untuk beraktivitas seharian penuh.
Pagi hari jadi momen membuka lembaran baru di setiap harinya. Artinya, satu hari yang lalu telah berhasil dilalui. Entah mudah atau sulit, tetap ada berkah yang harus disyukuri. Karena pagi seolah jadi kesempatan baru untuk menjalani hari yang lebih baik dibanding sebelumnya.
Mila menghirup udara segar. Tersenyum pada cahaya terang yang menyinari bumi. Sudah satu minggu usia pernikahannya. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Mila memiliki suami yang mencintainya. Keluarga yang masih peduli padanya.
Seperti biasa Mila bangun pagi sebelum subuh. Memasak nasi, masak air dan memasak lauk pauk. Setiap pagi selalu jadi andalan telor ceplok sama tempe mendoan. Itu adalah makanan Favorit Lala. Mila sudah hilir mudik di dapur sendirian. Sarah sejak semalam menginap di rumah mertuanya. Mereka tetap kekeuh mau pindah ke rumah kontrakan milik ibu Melani.
Meskipun ayah Rohim sudah menahan Sarah. Meminta putri tengahnya tinggal disalah satu bedengan milik nenek Seruni. Sarah tetap memilih ikut dengan suaminya. Rohim juga tidak bisa memaksa.
"Yah," sapa Mila saat melihat ayahnya datang sehabis sholat subuh.
"Sudah bangun, nak?" Mila menyambut ayahnya dengan mencium tangan.
"Sudah, yah. Lala kan sekolah, Mas Danu ada dinas pagi jadi aku harus masak untuk sarapan mereka. Ayah mau Mila buatin apa? kopi apa teh?"
"Kopi saja," jawab Rohim setelah mendaratkan tubuhnya di kursi kayu.
Mila mendengar suara jeritan teko di kompor. Rohim memperhatikan Mila sangat gesit mengurus rumah tangga. Netranya teringat pada Aminah, istri pertamanya. Walaupun dia menikahi Aminah tanpa cinta, karena persahabatan kedua orangtua mereka. Padahal orangtuanya tahu Rohim sedang menjalin hubungan dengan Dahlia. Rohim yang sempat mengatakan pada kedua orangtuanya hubungannya dengan Lia sudah jauh. Tapi mereka tidak percaya. Anggapan mereka Rohim hanya mencari alasan saja
Pada akhirnya Rohim dan Aminah menikah walaupun tanpa cinta. Bahkan malam sebelum pernikahan, Rohim dan Dahlia diam-diam kembali bertemu. Saling melepas rindu untuk yang terakhir kalinya. Sayangnya untuk kesekian kalinya mereka kembali kebablasan. Melakukan hal yang terlarang.
"Yah, ini kopinya," sapa Mila membuyarkan lamunannya.
"Terimakasih, nak," ucap Rohim.
__ADS_1
"Mila,"
"Iya, yah,"
"Maafin ayah dan ibu kandungmu. Ayah tahu kesalahanku meninggalkan ibu dan kalian bertiga sangat fatal. Sampai nenek Seruni melampiaskan ke kamu, nak.
Ayah mencari ibu kamu bukan karena ingin lepas tanggung jawab. Ayah hanya tidak mau memisahkan anak dan ibu kandungnya. ibumu menitipkan kamu sama ayah karena dia luntang-lantung di luar sana. Bekerja serabutan, kamu sering di titip sana sini. Mungkin dia merasa kalau sama kami, kamu aman ada yang mengurus,"
"Maafkan Mila juga, yah. Sudah berburuk sangka sama ayah. Mila sadar, kalau masih tinggal sama ibu kandung Mila, pasti Mila nggak akan bisa sekolah sampai sekarang. Walaupun aku cuma SMK hanya batas kelas dua saja," sesal Mila.
"Ayah harap kamu mau menemui ibu kandungmu. Sebelum ibumu pulang ke Lampung, dan ayah," Rohim menunduk sesaat, mengatur nafas dalam-dalam. Membicarakan pada anak-anaknya soal rencananya kembali ke Lampung untuk kembali bekerja.
"Ayah kenapa? apa ayah mau menikah dengan bude Lia? Mila setuju kalau ayah mau bersatu dengan bude Lia. Yang penting ayah bahagia,"
"Ayah mau kembali ke Lampung, Mila. Ayah sudah tenang kamu dan Sarah sudah punya seseorang yang akan menjaga kalian. Ayah harus meneruskan pekerjaan ayah yang tertinggal disana. Makanya ayah minta sama kamu dan Sarah untuk tetap tinggal di rumah ini. Supaya Lala ada yang menjaga," ucap Rohim sambil menyusutkan hidung.
"Lala, kamu sudah bangun, dek. Sekarang kamu mandi terus sarapan," kata Mila mengalihkan pembicaraan.
"Ayah, mau pergi lagi. Ayah mau meninggalkan kami lagi. Lala minta maaf kalau selama ini suka mengacuhkan ayah. Lala perlu waktu, Yah. Tapi Lala mohon jangan pergi lagi dari kami," Lala terisak sambil memeluk pinggang Rohim. "Lala baru saja merasakan punya ayah,"
Rohim membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan Lala. Tinggi Lala yang sebatas pinggang Rohim.
"Lala, ayah tetap orangtua kami apapun yang terjadi. Ayah harus kerja, nak. Rasanya sudah berbulan-bulan ayah sudah meninggalkan pekerjaan ayah disana. Sebenarnya ayah punya usaha disana. Rencananya mau ayah pindahkan ke sini. Tapi setelah ayah survei, ternyata usaha ayah belum cocok disini,"
Danu melihat drama keluarga istrinya ikut terharu. Selama dia disini kekeluargaan mereka sangat erat. Saling membantu, saling menyayangi, dan dia merasa iri. meskipun dia besar di panti asuhan serta penuh kasih sayang. Tetap saja bukan berasal dari keluarga kandung.
Danu kembali lagi ke kamar. Mengambil handuk karena jam tujuh dia harus tiba di rumah sakit. Menurut keterangan dari pihak rumah sakit, Danu kembali menjadi perawat untuk orang lumpuh.
__ADS_1
...*****...
Kediaman keluarga Vika
Suasana rumah terasa lenggang. Hanya terdengar lantunan suara orang mengaji, suara seorang anak kecil yang duduk di hadapan Alquran.
Gadis kecil itu adalah Intan. Dia berinisiatif mengaji di dekat Vika. Intan sebenarnya belum paham tentang hal yang di derita Vika. Tingkah Vika yang kembali seperti anak kecil membuat Intan menemukan teman bermain.
"Intan... Intan ... Ini bajunya cantik, aku mau punya baju ini. Biar cantik di depan Ammar," cerocos Vika.
Intan melepaskannya mukenanya serta menutup Al-Qur'an nya. Seperti dapat teman bermain. Intan pun mengambil boneka Barbie nya.
"Tapi baju ini kan kecil sama Tante? kenapa harus cantik sama om Ammar, kan itu punya Tante Mila,"
"Enggak! Ammar punya aku!"
"Enggak dia punya Tante Mila!" Intan tidak mau kalah.
Vika dan Intan akhirnya bergelut saling jambak-jambakan. Fera yang berada di luar mendengar tangisan Intan di kamar. Tampak Vika mengungkung tubuh Intan yang masih kecil. Sudah pasti Intan akan kalah, karena tubuh Vika lebih besar.
"Ya Allah, Vika kamu apa-apaan sih! ini intan masih kecil. Masa kamu keroyokan sama anak kecil," Fera memelototi Vika. Vika langsung menciut melihat amarah Fera.Vika mengusir Fera dan Intan untuk pergi dari kamarnya.
Di dalam kamar, Vika terus teringat ucapan Intan tentang Mila dan Ammar. Tubuhnya menyudut di ujung lemari. Menutup kedua telinganya, seakan masih tidak terima.
"ENGGAK! AMMAR ITU BUAT AKU! MILA YANG JAHAT KARENA SUDAH MEREBUT AMMAR DARIKU! JAHAT! JAHAT!"
Vika yang depresi mengambil gunting. Bayangannya tentang Mila dan Ammar tertawa bahagia membuatnya semakin panas.
__ADS_1
"Kalau aku tidak bisa dapatkan Ammar. Kamu juga tidak bisa, Mila! Kamu harus mati! Hahahaha.... hahahaha.... hahahaha,"