
Kalian pernah di kejar kejar takut rasa kehilangan. Kalian pernah takut orang yang kalian cintai akan berpaling ke laki-laki yang pernah di cintainya, itulah yang aku rasakan sekarang. Ketakutanku kalau Mila tahu siapa pasienku, ketakutanku kalau ingatan Ammar kembali dan mencari Mila. Ah, aku seperti pengecut yang berlindung di belakang istriku.
Saat aku melihat pasienku adalah Ammar yang hilang saat menikah, terpikir untuk berhenti menangani Pria ini. Karena semakin banyak kesempatan sembuh, semakin besar peluang dia kembali pada Mila.
Apakah Mila akan menerimanya?
Apakah Mila masih mencintainya?
Pertanyaan bodoh ini berkecamuk di dalam pikiranku?
Kalo dia cinta pada Amar mungkin dulu dia sudah menolak saat aku mengajaknya menikah di nikahan Sarah.
Kalo dia cinta pada Ammar mungkin pernikahan kami tidak akan bertahan lama.
Aku percaya Mila wanita setia.
Danu memandang langit-langit dinding kamar. Terpikir soal Ammar yang hilang ingatan. Terpikir soal masa lalu istrinya dan pasiennya. Tadi dia mengajak Ammar jalan-jalan sekitar jalan Suprapto. Sambil mengitari area pusat perekonomian kota Bengkulu. Siapa tahu bisa menyembuhkan Ammar.
Hal itu karena dia melihat barang-barang kenangan milik Mila masih ada di kamar Ammar. Bahkan photo Mila masih terpajang di kamar lelaki itu. Danu ingin sekali bilang dia lah yang memiliki Mila seutuhnya sekarang. Bukan Ammar atau pun Anjas. Tapi setiap ingin mengatakan yang sebenarnya mulutnya seakan terkunci.
Danu menarik selimut menutupi tubuh istrinya. Akhir-akhir ini hujan berulang kali membasahi kota Bengkulu. Tidak biasanya udara kota terasa dingin. Kadang meskipun hujan tetap saja panas. Kota Bengkulu terkenal dengan udara tropisnya. Karena dikelilingi oleh pesisir pantai.
"Mila minta maaf kalau belum memberitahukan soal siapa pasienku saat ini. Iya aku memang bilang sama kamu kalau sekarang aku bekerja membantu anaknya ibu Diana. Aku juga pernah bilang kalau anak ibu Diana sudah berumur 40-an. Tapi sebenarnya tidak, aku takut kamu kembali di dekati dia. Aku takut, Mila."
Danu mengecup kening istrinya. Lama dia tidak melepaskan kecupannya. Mila merasa basah di dahinya perlahan-lahan membuka matanya. Senyum terbit di bibir pemilik suara bariton itu.
__ADS_1
"Mas," cicit Mila.
"Iya, sayang." Suara Danu terdengar lirih.
"Kamu belum tidur?" Kepala Mila berpindah di bawah ketiak Danu.
"Yang kamu lihat?"
"Yang aku lihat kamu mau ganggu tidur aku. Ini sudah jam dua malam. Istirahat, Mas. Bukannya besok kamu kerja."
"Kamu nyanyikan aku kek bacain cerita kek. Biar aku bisa tidur. Atau kita olahraga saja, kan kalau capek kita bisa nyenyak istirahatnya."
Mila mendengar kata olahraga sudah bisa menebak arah mana pembicaraan Danu. Wanita itu memilih berbalik dari punggung suaminya. Sudah dua malam suaminya ngajak olahraga 4 kali ronde. Ujung-ujungnya Danu seperti kelelahan.
"Enggak apa, sayang. Kalau begitu besok aku libur kerja saja. Biar bisa menemani kamu di rumah."
"Enggak usah, Mas. Kamu kerja saja aku kan ada Eva. Biar dia saja yang menemani. Lagian aku kan ada obat dari bidan Ratna. Jadi, Mas. .."
"Aku tetap besok minta izin kerja. Aku mau luangkan waktu full buat kamu. Sejak kita menikah aku belum pernah punya waktu seharian atau kita keluar kota untuk liburan. Di Curup ada Vila punya keluarga angkatku.
Kita ambil vila di bukit jipang. Kamu tahu kan bukit jipang" Mila menganggukkan kepalanya.
*****
Waktu terus bergulir. Langit terang benderang kembali menyapa. Mila pun sudah mempersiapkan sarapan untuk adik dan suaminya. Danu tentu saja belum bangun.
__ADS_1
"Kak Danu belum bangun?" tanya Lala
"Belum, kamu hari ini mau ikut kakak nggak?"
"Kemana?"
"Ke panti. Kata ibu Nurmala dia lagi sedang kurang sehat. Jadi tidak ada yang jaga Rara. Rencananya kakak mau ajak Rara untuk di rumah. Bagaimana?"
"Rara adik kak Danu yang di panti itu? bawa aja kak biar aku ada temannya. tapi Lala nggak bisa ikut kesana. Nanti ada ekskul Pramuka, Lala mau ikut"
"La, tapi kan kamu masih belum sehat. Tidak usah ikut begituan"
"Biar saja Lala ikut. Itu bisa buat ketahanan tubuhnya. Jangan terlalu banyak di larang nanti jatuhnya dia nggak bisa apa-apa. Soal Rara kita saja yang kesana. Barusan aku sudah minta izin supaya tidak masuk kerja. Dan mereka pun mengizinkan."
"Terserah kamu saja, Mas. Tapi tetap aku nggak akan izinkan Lala ikut Pramuka. Sekarang banyak kejadian karena ekskul tersebut. Aku nggak mau Lala kenapa-kenapa."
Lala yang tadinya baru makan dua sendok tiba-tiba meninggalkan ruang makan. Tak lama terdengar pintu di buka. Mila melihat keluar, Lala dan tas nya sudah tidak.
"Aku antar Lala dulu." Danu langsung mengambil kunci motornya.
Danu mengejar Lala yang sudah berada di ujung gang. Tentu saja mau memberikan pengertian pada adik iparnya tentang kecemasan Mila. Danu paham bukan maksud Mila mau mengekang adiknya, tapi karena kondisi Lala yang belum stabil. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi setelah ini. Tapi perlunya waspada sejak dini.
"Kakak pasti di suruh kak Mila kan?"
"Enggak, kan emang biasanya kakak yang antar kamu. Lagian anak perempuan nggak bagus berangkat sendiri. Apalagi kalau dalam perasaan yang tidak tenang. Sudah kakak antar kamu. Nanti sepulang sekolah kamu kakak jemput, kita masak-masak di panti." Lala hanya mengangguk kecil.
__ADS_1