
Kehidupan terus berjalan. Orang-orang yang di tinggalkan tetap melanjutkan hidup. Yang pergi bukan berarti di lupakan. Hanya saja menjadi kenangan di masa yang akan datang. Seperti saat ini, Restoran ibu Rubiah tetap di jalankan Ando. Di bantu Danu dan juga Rudi.
Mila saat ini sedang menikmati masa-masa menjadi seorang ibu. Masa di mana melihat pertumbuhan Sada yang masih berusia lima bulan. Tawa ceria gadis kecilnya menjadi pengobat di kala lelah bekerja.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sada sudah tertidur bersama Lala. Sepertinya Lala tidak pernah mau melewatkan waktu bermain bersama keponakannya. Lala sering main ke rumah, kadang juga menginap kalau ayah Rohim sedang sibuk membawa barang. Dulu Mila pernah meminta Lala tinggal dengan mereka. Sayangnya ayah Rohim menolak. Alasannya simpel, Lala adalah tanggung jawabnya sekarang sampai dewasa dan menikah nanti.
Sore ini perut Mila serasa lapar. Maklum masa menyusui bawaannya lapar tersebut. Saat menyusui, produksi hormon oksitosin dan prolaktin meningkat. Peningkatan kadar kedua hormon ini diperlukan agar tubuh Busui bisa memproduksi ASI yang dibutuhkan oleh Si Kecil. Namun, efek lain yang bisa terjadi akibat peningkatan kadar hormon tersebut adalah meningkatnya rasa haus, lapar, dan mengantuk.
Mila membuka beberapa bahan untuk diolah menjadi cemilan. Tanpa dia sadari ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Sudah dia tebak siapa yang jahil mengganggu kegiatannya. Dia tidak protes tapi terkesan menikmati apa yang suaminya berikan.
"Banyak banget masaknya, Sayang?"
"Buat suamiku yang tercinta. Pasti capek kerja ngurusin resto makannya aku kasih hadiah."
"Buat aku? Tumben?"
"Aku masak kok di bilang tumben?"
"Kalau aku mau hadiah yang lain bagaimana?" mata Danu mengerling genit.
"Hadiah yang lain? Oh ada kamu aku bebaskan main sama Sada sepuasnya." kata Mila sambil melanjutkan masakannya.
Danu memeluk Mila dengan mesra, lalu perlahan mencium tubuh Mila.
"Aku ingin kita kasih Sada adik"
"Uda, aku itu masih menyusui, Sada. Baru juga lima bulan, kamu dah minta yang aneh-aneh."
"Emang kalau kasih Sada adik, aneh ya?"
"Aneh karena belum masanya. Sudah, aku mau masak. Aku lapar banget, nih."
Dia bukan tidak mau melaksanakan kewajiban. Tapi sekarang dia masih menyusui Sada. Tentu belum bisa memfokuskan memberi adik. Mila melepaskan pelukan Danu. Kembali fokus dengan masakannya.
Bukan Danu namanya kalau tidak menyerah. Lelaki itu justru mendudukkan Mila diatas pahanya. Mulai menyentuh sudut bibir Mila. Kali ini tak ada jarak diantara mereka. Danu menarik dagu Mila, dan menciumnya. Kali ini Mila tak bisa menolak, ciuman itu semakin panas dan menyeret mereka ke dalam kamar.
Mila sudah berada di bawah kungkungan tubuh Danu. Bisikan maut yang membuai dirinya. Tangan Danu sudah menjalar ke tali kancing daster yang di kenakan Mila. Tampak benda kenyal membuat salivanya semakin tertelan. Keringat mengucur di dahinya. Istrinya masih masa menyusui salahkan jika dirinya meminta hak sebagai suami.
"Sayang, aku mencintaimu." bisik Danu.
__ADS_1
"Uda, aku juga mencintaimu. Terimakasih sudah mau menerima aku apa adanya." jawab Mila.
Keduanya masih asyik bergelut di bawah selimut. Tubuh polos mereka tertutup dengan selimut bermotif bunga.
"Ooeeeee...." suara kencang dari kamar sebelah.
"Sada sepertinya bangun." kata Danu.
"Bukan sepertinya tapi sudah bangun. Aku ke ...." Mila merasa tubuhnya masih di tahan.
"Kan ada Lala yang menemani Sada. Aku belum selesai nih. Tanggung, ... sayang!" Danu kaget Mila sudah memakai bajunya.
Mila dan Danu langsung memakai pakaian, mereka berlari ke kamar sebelah. Tampak Lala mencoba menenangkan bayi kecil itu. Mata Lala membulat melihat kedua kakaknya berpenampilan kusut.
"Kakak dari mana saja, kayaknya Sada lapar."
"Tadi kan Sada lagi tidur, jadi kakak ke dapur masak" kelit Mila
"Tapi kok dari dapur kusut banget,kayak orang bangun tidur. Jangan bilang kalian tidur siang. Please deh, kan ibu Dahlia pernah bilang ibu menyusui pamali tidur siang." omel Lala.
"Ah, bawel kamu,la. Ntar kalo udah nikah kamu akan paham." Danu mendorong Lala keluar dan mengantarkan Lala kembali ke kamarnya.
"Anak kecil jangan banyak dumel!" protes Danu.
"Lala bukan anak kecil lagi, kak. Sudah naik kelas 3 bentar lagi mau ujian akhir jadi sudah mau masuk ABG." Lala masih tidak terima di panggil anak kecil.
Mila mendengar perdebatan antara adik dan suaminya hanya tertawa kecil. Lama-lama Lala sudah masuk ke sifat Sarah. Cerewet, tidak suka di ejek atau sudah termasuk berani. Semoga saja Lala tidak menurunkan sifat buruk Sarah yang ingin di menangkan terus.
"Tapi posisinya apa yang di mau Sarah dan Lala selalu di turuti sama nenek Seruni. Karena mereka cucu kandungnya. Beda sama aku hanya menerima apa yang di berikan ibu Aminah, dan juga tulang Boro sebagai pengganti ayah."
"Kehidupan itu terus berputar. Kadang diatas kadang juga di bawah. Alhamdulillah aku masih berada di antara orang-orang yang baik. Punya keluarga lengkap meskipun ayah dan ibu tetap tidak mau bersama. Mungkin karena ayah masih setia sama ibu Aminah dan ibu Dahlia setia sama mendiang suaminya."
"Sada sudah anteng, Nak. Maaf ya, tadi ayah kamu jahil sampai lupa anak cantik ibu lapar. Bulan depan anak ibu udah MPASI ya, tapi ibu akan tetap memberi kamu ASI eksklusif sampai satu tahun.
Astaga ibu tadi belum sempat makan. Tuh, kan gara-gara ayah kamu." Mila masih berkomunikasi dengan putri kecilnya.
Selesai menyapih Sada, Mila mengganti Pampers yang terasa lembab. Setelah membersihkan putrinya. Mila kembali ke dapur. Cacing di perutnya terus berdemo. Mencoba meneruskan pekerjaannya tadi. Nyatanya dia menemukan beberapa menu di bawah tudung saji. Padahal seingatnya tudung saji tadi kosong.
"Ini pasti kerjaan Uda Danu." batin Mila.
__ADS_1
Mila melihat Danu sudah beristirahat masih menggunakan Koko dan sarung. Dia baru ingat sekarang sudah jam Maghrib. Bahkan sudah hampir Isya. Mila pun menunggu jam sholat supaya bisa berjamak. Sambil menunggu Mila pun membersihkan diri karena habis bergumul dengan suaminya.
"Da, sholat isya yuk?" seharusnya dia tidak boleh menyentuh karena sudah wudhu. Tapi alangkah baiknya dia mengajak suaminya sholat bersama.
"Sudah isya ya, sayang." Danu terbangun menanyakan sudah jam berapa.
"Sudah, Uda. Mumpung Sada masih sama Lala." Mila pamit wudhu di kamar mandi dalam. Bergantian dengan Danu karena sempat buang angin.
Ushalliy fardhal-ashri arba'a raka'atin mustaqbilal-qiblati ada-an ma'muman lillahi ta'ala.
Artinya: “Aku berniat sholat fardhu Ashar empat rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta'ala.”
...*****...
"Bagaimana keadaan kamu, Da?" tanya Dahlia pada adik iparnya.
Ida yang duduk di sudut ranjang hanya tersenyum kecil. Sejak dia di boyong sama Fera dan Dahlia, sejak saat itu dia merasa sudah banyak merepotkan keluarga kakak iparnya. Ida sadar selama ini terlalu membenci Dahlia, tidak puas karena pilihan sang kakak wanita punya anak tanpa suami. Dia ingin kakaknya dapat yang lebih. Sepanjang sang kakak masih hidup kebencian menjalarnya. Apalagi setelah dia tahu Mila adalah anak Dahlia.
"Alhamdulillah, mbak Lia. Terimakasih sudah mau merawat dan memberikan tumpangan tempat tinggal. Aku janji setelah sehat akan mencari kontrakan." kata Ida lirih.
"Tidak usah, Da. Kamu kan keluarga inti Fera. Jadi keluargaku juga. Jangan merasa kami disini menganggap kamu beban. Kami senang kalau di rumah rame."
"Bagaimana keadaan Vika, Mbak?" tanya Ida.
Setelah Ida kesehatannya membaik, Dahlia dan Fera menceritakan tentang Vika yang menikah di KUA. Tentang Revo yang berjanji akan membahagiakan Vika walaupun tidak bergelimang materi. Tapi Dahlia tahu uang Revo banyak. Apalagi lelaki itu terkenal sukses menjadi selebgram kuliner.
"Kami tidak tahu. Setelah menikahkan Vika di KUA mereka pun pulang ke kontrakan Revo. Tapi terakhir Fera kesana, mereka sudah pindah dari sana." jelas Dahlia.
"Vika pasti marah sekali sama aku, Mbak. Aku baru tahu Ridwan itu kakaknya Devi, mendiang istri bang Jalal. Mereka masih sakit hati dengan perbuatan aku dulu. Padahal kalau aku tidak sedang berbadan dua saat itu mungkin tidak mau sama bang Jalal." kata Ida.
"Sudahlah, Da. Yang lalu biarkan berlalu. Kalau Vika memilih pergi itu sudah jadi keputusan dia, dan biarkan dia menjalani kehidupannya yang baru. Kita tidak perlu menanamkan dendam atau membencinya. Kamu cukup mendoakan dia agar hidupnya lebih baik."
"Iya, aku sadar selama ini di butakan oleh harta. Padahal Revo sangat serius sama Vika." kata Ida.
"Sekarang kita sholat, yuk. Kamu sepertinya sudah banyak kemajuan. Sudah lancar mengaji dan sholatnya. Aku mau nengok cucuku. Kamu ikut, ya." ajak Dahlia.
"Aku malu sama Mila, Mbak. Dulu aku yang membuat dia di benci karena ingin memisahkan dia dan Ammar. Aku tahu Ammar terpaksa menerima Vika, karena Diana dan aku sepakat melalukan berbagai cara."
"Ida, anakku itu bukan orang pendendam. Aku kenal Mila, dia di didik oleh keluarga adikku menjadi anak yang kuat, santun pada orang lain. Dan jika kamu bertemu dengan Mila, dia akan welcome sama kamu. Sama seperti dia menerima Diana serta Vika yang sudah banyak menyakitinya."
__ADS_1